4.1 Penyekapan

1775 Kata
Shika memelotot saat kedua matanya mendapati dua sosok mengerikan yang muncul dari kegelapan. Tangannya tidak sempat memasukkan ponsel itu ke sakunya, saat salah satu makhluk itu menyeringai dengan senyum mengerikan. Moncong panjangnya dialiri air liur yang terus menetes seiring kaki-kaki besar dan kotornya menginjak rerumputan hijau. “Ma-makhluk apa itu?’ tanya Shika dengan nada bergetar, suaranya parau, dan tubuhnya benar-benar membeku di tempat. “Ka-kadal?” lanjutnya tidak percaya. Semakin Shika pandangi, makhluk itu tampak semakin mengerikan dengan bentuk yang tidak biasa. Dua makhluk mengerikan itu berupa kadal raksasa setinggi dua meter yang berjalan menggunakan dua kaki. Kulitnya yang hijau ditutupi baju jirah warna perak dengan duri yang tumbuh di pundak dan punggungnya. “Ap-apa, apa, ap-apa makhluk itu juga me-mencari buku di tanganku?” tanyanya terbata. Tubuh Shika menggigil luar biasa sambil mencoba mundur beberapa langkah. Ludahnya terasa sangat serat di kerongkongan. “Itu bukunya,” ucap salah satu kadal dengan bahasa seperti geraman yang tidak Shika pahami sama sekali. Kadal itu berdiri dengan tegap dan gagah. Suaranya berat dan terdengar mengerikan. Saat berbicara, mulutnya mengeluarkan lendir ungu lengket yang menjijikan. Bukan lagi terkejut yang Shika rasakan sekarang, tapi juga rasa takut dan putus asa menyerangnya dari berbagai arah. Otaknya tiba-tiba buntu, dia tidak bisa memikirkan apa pun. Ketakutan akan makhluk menyeramkan itu seolah-olah membuatnya membatu. “Aku ingin segera mencabik-cabik tubuhnya, melumatnya, meminum darah segarnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan,” ucap kadal satunya sambil menjilati bilah pedang panjang berbahan tulang berukuran besar. “Kita hanya memerlukan bukunya, tapi tidak dengan makanan itu.” Di bawah cahaya rembulan, Shika bisa melihat bentuk dan rupa makhluk itu dengan jelas. Kedua matanya hijau dengan iris seperti mata ular berbisa. Di antara baju jirah peraknya, terdapat sisik-sisik hijau yang tampak keras dan mengilap. Shika yang masih berdiri di hadapan dua kadal itu semakin memelotot saat salah satu kadal itu menunjuknya dengan bilah pedangnya. Dia merasakan tangannya bergetar hebat, sampai-sampai kedua kakinya tidak bisa digerakkan dengan benar. “Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Manusia itu tampak sangat lezat,” balas kadal yang tadi menunjuk Shika dengan pedang. Dua makhluk mengerikan itu berbicara tanpa memedulikan ekspresi Shika yang tampak sekali tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, sekaligus sedang merasakan ketakutan luar biasa. Alih-alih memikirkan bahasa apa yang sedang digunakan dua kadal itu, Shika lebih khawatir pada nasibnya sekarang. “Ambil bukunya dan santap makanannya,” balas si kadal botak sambil terkekeh-kekeh. Air liur warna ungu menetes dari moncongnya. “Tapi, bukankah gadis itu pemilik bukunya? Apa Master menginginkannya?” Keringat dingin mengaliri seluruh tubuh Shika. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia merasa ada balok-balok es yang ditaruh agar tubuhnya membeku dan tidak bisa digerakkan. “Ja-jangan mendekat,” ucap Shika nyaris berbisik. Dua kadal itu masih berdebat, mempermasalahkan hal kecil. Shika merasa ada keberanian yang muncul dalam dirinya setelah meyakinkan diri jika dua makhluk itu tidak akan menyadari pergerakkannya. Hawa panas mendadak memenuhi d**a dan hatinya terasa mencelus ketika salah satu kadal mengaum kencang karena kalah berdebat degan kadal satunya. Shika mendadak seperti es yang mencair karena kepanasan. “Aku harus, ak-aku harus pergi dari sini.” Akan tetapi, ketika Shika baru mundur satu langkah, dua kadal itu berhenti menggeram, lalu menoleh dengan mata memicing. “Kau mau ke mana?” tanya kadal berambut merah sambil mencoba mendekat. Namun, si kadal botak mendahuluinya. “Biarkan aku yang mengurusnya,” sambarnya sambil bergerak sangat cepat ke arah Shika yang masih mematung. “Tidak,” ucap Shika dalam hati sambil memelotot. Dia berharap kaki-kakinya bisa digerakkan agar dia bisa segera lari dan menjauh dari dua makhluk mengerikan itu. Dalam beberapa jenak, Shika benar-benar merasa kehidupannya akan berakhir hanya dalam hitungan detik. Akan tetapi, sebelum kadal botak itu menyentuh wajahnya dengan jar-jarinya yang kotor dan tajam, Shika mendengar bisikan entah dari mana yang menyuruhnya berjongkok dalam hitungan sepersekian detik. Dia merasakan kehadiran aura aneh yang mengendalikan tubuhnya. Di hitungan sedetik sebelum kadal itu mencengkram kepalanya, Shika teringat pada mimpi dan cita-citanya untuk menemukan benda legendaris itu. “Tidak, aku tidak boleh mati di sini,” gumamnya sambil menggeleng. Dia baru sadar jika tangan kotor kadal itu baru saja melewati kepalanya. “b******n!” umpat si kadal botak sambil mengeratkan moncongnya kuat-kuat. Shika merasakan hatinya mencelus begitu saja Kedua matanya kembali memelotot sambil mencoba mundur untuk menjauh. “Jangan dekati aku!” teriak Shika saat melihat dua kadal itu memelesat untuk menyerangnya lagi. Namun, teriakkan Shika selanjutnya seakan-akan mengirimkan gelombang aneh yang membuat dua makhluk itu terhenti di udara. “Hentikan!” teriak Shika. Kadal-kadal itu mendadak berhenti, seakan-akan ada tali tidak kasat mata yang melilit tubuh mereka dari berbagai arah. “Ah! Apa ini?” teriak kadal berambut merah terkejut. Dia mencoba melepaskan diri dari ikatan tidak kasat mata itu, tapi tidak berhasil. Tubuhnya melayang, tergantung. Shika tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi satu-satunya hal yang diinginkannya, terbebas dari dua makhluk menyeramkan itu dengan selamat. Ketika melihat dua kadal itu terhenti di udara, Shika memelotot. “Ap-apa yang terjadi?” tanyanya kebingungan. Namun, itu Shika manfaatkan untuk melarikan diri. Dia meraih buku yang tergeletak di rumput, berusaha berdiri, lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan lokasi. Dua kadal itu menggeliat di udara, berusaha melepaskan diri. Saat melihat Shika mulai berlari menjauh, kadal berambut merah memicingkan matanya sambil melemparkan bilah pedang di tangannya ke arah Shika dengan kekuatan penuh. Shika yang merasa ada ancaman dari belakang tubuhnya, bebalik dan mendapati bilah pedang yang dilemparkan kadal itu memelesat ke arahnya. Dalam hitungan detik, Shika memejamkan mata sambil berteriak, “Tidak!” Akan tetapi, sebelum pedang itu menancap di tubuhnya, sebuah gelombang aneh berwarna hijau kebiruan memelesat dari langit dan menghantam dua kadal itu seperti sebuah kilat petir menyambar batang pohon. “Hah?” Shika tidak sempat mengetahui apa yang sedang terjadi saat gelombang itu mementalkannya ke arah pohon bersamaan dengan ledakan besar yang membuatnya tidak sadarkan diri. Sementara dua kadal itu hangus di atas rerumputan yang bergoyang dan bilah pedang tergeletak di dekat tubuh Shika. * Beberapa hari setelah kejadian itu, Shika benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi kepadanya. Saat terbangun dari pingsannya, dia sudah berada di Bandung, tepat di kamarnya. Satu-satunya hal yang dia ingat, adegan ketika dia dibawa pulang oleh pamannya menggunakan ambulan. Pagi ini dia sedang duduk di bawah pohon kersen sambil mencari informasi tentang Haruit, sebuah benda sakti yang bisa mengendalikan kehendak makhluk hidup. Sebagai seorang guru senibudaya, dia mengagumi benda-benda antik untuk dikoleksi. Dan, Haruit adalah satu dari sekian banyak benda yang ingin Shika miliki. Namun, itu adalah benda yang langka, nyaris dikatakan mustahil untuk didapatkan. Bagi Shika, kata mustahil adalah sesuatu yang harus dipecahkan menjadi kata ketidakmustahilan. “Selamat siang, Bu,” sapa seorang gadis berkacamata bulat besar, dia memiliki rambut ikal mengembang yang terbawa arus angin. Shika harus menyipitkan matanya sebelum bisa melihat sosok itu dengan jelas. “Wira?” balas Shika setelah netra cokelat madunya mengurangi intensitas cahaya yang masuk dan membuat sosok gadis yang berdiri di hadapannya terlihat dengan sempurna. “Iya.” Gadis itu tersenyum. Lesung pipinya terbentuk sempurna. “Ada apa?” tanya Shika, lalu menaruh ponselnya di atas paha. “Sebenarnya saya menunggu pelajaran Senibudaya. Saya terlalu bersemangat untuk belajar sampai harus mencari Ibu. Tapi, saya malah melihat Ibu di sini. Jadi, saya putuskan untuk ....” Wira menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, dia terlihat meragu. “Memutuskan untuk menyapa Ibu dan menanyakan banyak hal lagi seperti saat di kelas, kan?” tebak Shika, yang disahuti anggukan oleh Wira. Senyum simpul mengembang di bibir Shika, lalu menyuruh gadis berambut ikal itu duduk di sampingnya. Shika tidak melanjutkan percakapan itu, dia hanya sibuk bermain ponsel sambil membaca artikel tentang benda-benda mitologi dan mistis. Wira yang merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan gurunya tidak tahan untuk bertanya. “Jadi, apa yang sedang Ibu lakukan?” tanya Wira pada akhirnya. Shika yang mendengar pertanyaan itu langsung berhenti membaca dan menoleh kepadanya. “Jika Ibu katakan sedang mencari sesuatu yang mustahil, apa kamu akan percaya?” tanya Shika sambil tersenyum setelah menjawab, seolah-olah tidak ada masalah dengan kata “mustahil” yang sering diucapkan orang-orang. “Mustahil yang orang katakan itu bagaimana?” tanya Wira. “Sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi di dunia nyata.” “Hal yang Ibu cari, salah satunya?” Wira bertanya lagi, semakin terlihat penasaran. “Ibu percaya hal itu?” “Hal apa?” jawab Shika sedikit terkejut karena anak muridnya mengatakan sesuatu yang mengejutkan. “Maaf, Bu. Ada yang ingin saya katakan sebenarnya.” Wira memintal ujung seragam putihnya di atas paha. “Jadi?” tanya Shika. “Saya ingin bilang jika selama ini saya memperhatikan Ibu. Saya juga mencoba mencari benda yang Ibu cari. Benda yang orang lain katakan sebagai legenda, bahkan tidak ada yang memercayainya sama sekali. Tapi, tapi ….” Wira tampak sangat bersemangat, sampai-sampai ada kobaran api di bola matanya. “Saya percaya kalau benda itu ada!” Senyum terbaik yang Shika miliki tercurah begitu saja pada Wira yang kini sedang menatapnya dengan manik tebakar. “Sudah Ibu duga. Bukan hanya Ibu yang tertarik dengan benda itu. Kamu percaya, bukan? Kamu yakin benda itu nyata, kan?” Wira mengangguk pasti. “Tapi, saya tidak yakin jika perpustakaan di Indonesia tahu tentang benda itu. Tidak pernah ada sepertinya,” balas Wira sambil menunduk lesu. Semangat yang sejak tadi berkobar tiba-tiba menyusut padam seiring ucapannya tentang ketidaktahuan informasi benda itu. “Tapi Ibu kenal seseorang yang mengetahui benda itu, lebih dari siapa pun,” ucap Shika bangga. Dia teringat pada Luis. “Benarkah?” tanya Wira Antusias. “Benar. Seperti Timun Mas, Tangkuban Perahu, Malin Kundang, semua itu tidak nyata bagi sebagian orang, terdengar hanya dongeng-dongen anak kecil. Tapi, untuk orang-orang yang percaya dan gigih, hal-hal mustahil itu ada, Wira. Hidup! Ibu yakin Haruit juga ada.” “Tapi, bagaimana cara Ibu mendapatkan Haruit?” tanya Wira terdengar ragu. “Ibu sedang memikirkan caranya. Jika kamu bersedia untuk membantu, Ibu dengan senang hati mengizinkan.” Shika menepuk pundak Wira pelan, seolah-olah berkata hal mustahil jika ditaklukan dengan kegigihan dan kepercayaan semua akan berakhir dengan hasil yang maksimal. Meski terlihat ragu, Wira mencoba untuk tersenyum menanggapi ucapan Shika. Dia tidak ingin menyakiti perasaan guru kesayangannya itu. “Aku akan membantu mencari benda itu, Bu.” “Ingat, jika berhasil menemukannya, kita akan jadi orang pertama yang berhasil membuktikan jika benda itu benar-benar ada.” Shika tersenyum lebar, lalu mematikan layar ponselnya. “Iya, Bu.” Wira mengangguk. Baik Shika maupun Wira, tidak pernah mengetahui satu hal, jika selama pembicaraanya tentang benda legendaris itu, ada sosok berpakaian kasual yang sedang duduk di belakang pohon kersen sambil menguping apa yang tengah mereka bahas. Orang itu memata-matai keduanya. “Jadi, dia mencari Haruit, ya?” gumam orang itu sambil menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN