Setelah pertarungan itu, matahari mulai menyusut di barat, mendorong senja untuk datang menggantikannya berjaga.
Shika yang masih tidak percaya hanya diam mematung. Semua teka-teki yang diucapkan laki-laki tikus itu membuatnya kebingungan.
Lelaki tikus itu mulai beranjak dari posisi setengah bertekuk lututunya, lalu berdecak sebal. Shika saking terkejut dengan semuanya, sampai tidak menyadari jika bangkai dua orang tadi sudah hilang karena menguap.
“Jangan bilang jika kau datang dari masa lalu? Orang-orang dari zaman kerajaan seperti dalam cerita kolosal?” tanya Shika, menutup satu mulutnya karena terkejut. Awalnya lelaki itu mengira jika Shika akan mengatakan soal hantu atau semacamnya.
Lelaki tikus itu mengernyit tidak paham dengan apa yang dikatakan Shika. Dia memutar bola matanya ke atas, lalu mengembuskan napas pelan. “Berhenti mengoceh hal yang tidak jelas. Jangan bertingkah dan ikutlah denganku!” bentak lelaki itu dengan kesal.
“Hei!” sambar Shika merasa tidak terima dibentak oleh lelaki itu. “Jangan bicara seenaknya seperti itu padaku!”
“Jangan hanya karena kau bisa memicu energinya, aku akan bersikap sopan dan mengubah cara bicaraku.” Lelaki itu mendengus kesal, lalu kembali menarik napas. “Aku harus segera bertemu dengan temanku!”
“Jelaskan siapa dirimu? Dan, apa hubungannya dengan orang-orang tadi?” Shika masih memegang buku kulit pohon itu dengan tangan kirinya. Sesekali si lelaki menoleh, mencoba mencerna apa yang terjadi dan mencari hubungan si gadis dengan buku Susunan Dasar yang selama ini dicarinya.
“Ikutlah denganku agar tugasku selesai. Dan, jangan membuatku semakin sulit, Nona!” Lelaki itu mendengkus lagi dengan kesal.
“Sebentar, sebentar! Sepertinya aku terbentur saat keluar dari gudang kakek. Apa itu tadi, Sang Terpilih? Dan, siapa kau? Bukankah kau hanya seekor tikus? Bagaimana bisa menjadi seorang manusia?” Shika mencecar lelaki itu dengan semua pertanyaan yang ada di kepalanya sejak tadi.
Lelaki itu kembali memutar bola matanya dengan malas. “Jangan membuatku semakin sulit dan berlama-lama di sini,” balasnya itu geram.
Shika tampak berpikir, lalu dia menoleh pada buku di tangannya. “Ehm, buku ini. Kau bisa menjelaskan dulu apa sebenarnya buku ini, lalu namamu, dan alasan kau datang kepadaku.”
“Kau menyebalkan,” gumam si lelaki.
“Apa?” tanya Shika merasa tidak terima setelah mendengar gerutu lelaki itu dengan jelas.
“Aku tidak harus menjelaskannya kepadamu.” Bana mengembuskan napas dengan kesal, seolah-olah tidak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang.
Shika mengernyit. “Bagaimana aku bisa percaya kepadamu jika kau tidak menceritakan satu hal pun padaku?”
Laki-laki itu terdiam dengan wajah masam. Tampaknya dia sudah sangat kesal dengan sikap Shika. “Dewi memilihmu,”
“Siapa Dewi?” tanya Shika masih tidak paham dengan situasinya. Sekarang bertambah lagi satu keping puzzle yang harus dia susun sampai menjadi gambar utuh.
“Tidak ada lagi yang harus kukatakan kepadamu,” balas si lelaki dingin dan datar.
“Kau belum menjawabku. Siapa namamu?” tanya Shika.
Laki-laki itu diam.
“Jangan begitu. Kau yang membawaku ke dalam kekacauan ini. Bertanggungjawab lah!” desak Shika tidak terima.
“Aku harus kembali secepatnya.”
“Setidaknya biarkan aku tahu siapa dirimu,” desak Shika. Dia memicingkan mata, menilik laki-laki itu dari atas kepala sampai ujung sandalnya. “Kau berpakaian aneh dan ….”
“Berhenti mengoceh,” balas si lelaki kesal.
“Aku akan terus berisik sampai kau memberitahuku siapa namamu.”
“Bana,” katanya.
“Bana? Itu namamu? Aneh.”
“Aku harus segera pulang,” ucap Bana kesal.
“Tentu saja aku mau. Aku juga ingin segera pulang. Kau harus tanggung jawab karena membawaku lari-larian sampai ke sini.” Shika memasukkan buku itu ke saku belakang celana panjangnya. Bana yang melihat hal itu mengernyit dan menarik napas cukup panjang. Dia benar-benar kesal dengan tindakan Shika.
Shika yang sadar dengan perubahan ekspresi Bana langsung bertanya, “Kenapa?”
“Tidak ada orang yang berani menaruh buku itu di p****t. Berani sekali kau.” Bana mencibir dengan wajah sinis dan mulut tersungging ke samping. Dia mengurut pelipisnya pelan dan bergumam jika Dewi sudah salah pilih orang.
“Apa masalahmu?” Shika kembali menyahuti.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” sahut Bana, kedua tangannya tumpang tindih di depan d**a. Manik hijaunya menyala di kegelapan.
“Pertanyaanku lebih banyak dari apa yang ingin kau tanyakan. Kedatanganmu di gudang kakekku juga jadi salah satunya. Saat sampai di rumah, aku tidak akan biarkanmu pergi. Kau harus diintrogasi,” kata Shika dengan intonasi yang jelas dan lancar.
“Itu bukan tugasku.” Bana menyambar lengan Shika yang tumpang-tindih di depan d**a, lalu menariknya untuk ikut ke tempat yang Bana maksudkan.
Shika bergeming. “Apa? Aku tidak punya alasan untuk ikut denganmu.” Shika meronta, mengenyahkan cekalan tangan Bana darinya. “Dan lepaskan tanganku!”
“Siapa namamu?” tanya Bana.
“Shika Pancasona. Dan, aku tidak akan ke mana pun, kecuali pulang ke rumah!”
“Pilihannya hanya dua,” ucap Bana.
Setelah melepas pegangannya dari Shika, dia mengangkat satu jarinya ke udara. “Pertama, kau ikut denganku ….” Bana menggantung ucapannya ketika melihat tatapan Shika menjadi serius, memicing dengan sorot campuraduk.
“Yang kedua?” tanya Shika setelah menelan ludahnya dengan kasar.
“Pilihan kedua, kau menolak ajakkanku. Itu artinya tetap di sini sampai ada seseorang menemukanmu. Itu jika tidak ada hewan buas yang ... ya, kau tahu sendiri.” Bana mengedikkan bahunya enteng.
“Tidak ada pilihan bagus yang bisa kupilih.” Shika mengerucutkan bibirnya ke samping kiri.
Bana terdiam, lalu beberapa detik kemudian berkata, “Berikan bukunya, atau kau ikut bersamaku.”
“Apa yang membuatku harus ikut?”
Bana diam. Dia jengkel.
“Siapa yang bisa menjamin aku akan selamat kalau ikut bersamamu? Bisa jadi kau lebih buas dari binatang buas. Dan, cara kau membunuh orang-orang itu dengan santainya sudah cukup membuatku yakin jika dirimu memang berbahaya.”
“Sudah cukup! Kami tidak bisa terus-menerus menunggu.” Bana mengusap wajahnya dengan tangan kanan.
“Kami?” tanya Shika. Dia terlalu penasaran dengan semua hal. Semakin ke sini, teka-tekinya semakin banyak.
Memikirkan dua pilihan yang Bana berikan tadi rasanya tidak cukup menarik untuknya saat ini. Shika hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Kalaupun Bana ingin bercerita sampai malam, dia bersedia saja mendengarkan. Asalkan semua teka-teki aneh ini terpecahkan.
“Itu bukan urusanku.”
“Lima kalimat. Jelaskan dengan lima kalimat saja. Aku bisa pertimbangkan untuk ikut atau tidak dengan itu. Setuju?” Shika menyodorkan tangannya ke depan, mengajak Bana untuk berjabat tangan. Namun, Bana malah seperti orang bodoh yang sedang diajak bicara hal kekanakkan.
Bana mengembuskan napas kesal, lalu berdecak pelan. “Kau orang yang terpilih memegang buku Susunan Dasar. Itu artinya kau sang Terpilih. Dewi mengutusku untuk mencarimu. Aku harus membawamu pulang. Banyak hal yang harus kau selesaikan.”
“Aku tidak menemukan hal baru dari yang kau jelaskan barusan. Artinya, aku menolak. Kesepakatan sudah diketuk palu. Aku tidak akan ikut dan antarkan aku pulang. Sekarang!” Shika tersenyum puas, seolah-olah kemenangan baru saja mengetuk pintu di depan wajahnya.
“Aku sudah mengajakmu dengan cara baik-baik.”
Bana menarik napas, kemudian mengambil satu langkah mendekati Shika. Dia mulai menunduk untuk mensejajarkan pundaknya dengan perut Shika. Melihat hal itu, dengan sigap Shika mundur. Namun, urung ketika Bana menarik tangan kanannya dan menyandarkan perut Shika di pundak kirinya.
“Aku sudah mengajakmu dengan cara sopan. Jangan salahkan aku jika harus kulakukan cara ini!” Shika tersentak saat perutnya menyentuh pundak Bana. Dia meronta, menggapai udara, kemudian memukuli punggung Bana dengan keras. Dia berusaha melarikan diri.
“Hei! Apa di duniamu tidak ada sopan-santun? Turunkan aku! Kau jangan kurang ajar. Aku bisa meninju mukamu sampai berdarah!” Shika terus meronta, sementara Bana terus melakukan aksinya tanpa peduli jika gadis yang dibawanya sudah minta diturunkan.
*
Bana mengusap hidungnya yang berdarah dengan kain bercorak daun yang dia tarik dari pinggangnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika gadis menyebalkan itu punya kekuatan yang tidak bisa dibayangkan. Setelah terus-menerus meninju punggungnya dengan keras tanpa hasil, Shika akhirnya menyikut kepala Bana satu kali dengan telak.
Bana ingat sekali rasa sakit di kepalanya disusul dengan sesuatu yang melayang ke arah hidungnya dari depan. Dalam hitungan detik dan tanpa memberi waktu untuknya tersadar, cairan merah sudah mengalir dari kedua lubang hidungnya. Itu telak membuat Bana melepaskan Shika dan membiarkannya berlari meninggalkannya.
“Dia menyebalkan.” Bana terkekeh-kekeh geli.
Bagaimana bisa dirinya yang kuat dan kekar itu dikalahkan oleh seorang gadis?
Sementara itu, Shika baru saja sampai di halaman belakang rumah kakeknya. Beberapa bangunan yang sempat Shika lihat mengepul mengeluarkan asap, kini tidak lagi terlihat, menyisakan keramaian di sekitar lokasi.
Mobil pemadam kebakaran teronggok di beberapa tempat. Shika yakin sebentar lagi mobil polisi akan berdatangan dan kasus ledakan besar misterius itu akan jadi bahan paling panas yang muncul di layar utama berita.
Dengan kasar Shika menelan ludahnya. Dia berniat untuk melihat tempat kejadian dan memastikan apa penyebab ledakan besar itu. Namun, sebelum dia melakukannya, tiba-tiba otaknya memunculkan ingatan tentang Bana. Dia harus segera pulang dan menemui nenek. Dari semua kekacauan yang ada, pasti ada satu-dua hal yang diketahui oleh istri kakeknya itu.
Saat dia akan melanjutkan langkahnya menginjaki rerumputan yang tertiup angin, ponselnya berdering bersamaan dengan embusan angin yang menerbangkan dedaunan kering. Dia tersentak dan terdiam, berdiri di bawah rembulan.
Di layar ponselnya terpampang jelas nama Luisana Andrea. Teman sosial medianya yang memiliki pemikiran gila tentang benda legendaris seperti dirinya.
“Ya, Pak. Tidak biasanya kau menghubungiku di jam-jam seperti ini,” balas Shika setelah laki-laki dalam telepon itu menyapanya. Shika menerima telepon sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celana panjang hitamnya.
“Sudah kubilang untuk memanggilku Luis saja. Aku tidak ingin terlalu tua untuk persahabatan kita, Shika.”
Shika tertawa di tengah jawaban Luis yang menggelikan. Dia lalu mengangguk di bawah rembulan sambil berkata, “Baik, Luis. Maafkan aku.”
Luis berdeham. “Aku belum menemukan kabar tentang benda yang kau cari, tapi sepertinya teoriku benar. Aku sudah bilang ini beberapa kali kepadamu. Kali ini aku benar-benar yakin jika benda itu ada, Shika.” Luis, sosok lelaki yang ada di balik telepon itu menjelaskan dengan tidak sabar. Suaranya sampai terdengar parau.
“Kau serius? Bagaimana? Apa yang bisa jadi petunjuk?” tanya Shika tidak kalah tidak sabaran.
“Ini kedengarannya mustahil, tapi benda itu berhubungan dengan siul dan bunga. Belum terlalu meyakinkan, tapi itu pasti dia.” Luis kembali mengutarakan apa yang diketahuinya, membuat Shika girang bukan kepalang.
“Ah, aku harap benda itu ada, Luis. Aku yakin teori dan temuanmu tidak pernah salah.” Shika menatap rembulan dengan manik cokelat madu menyala. Rasanya dia baru saja menemukan secercah harapan dari semua pencarian melelahkannya selama ini.
“Semoga saja,” jawab Luis. “Tapi, itu tidak mudah, Shika. Baik aku ataupun dirimu tahu, Haruit nyaris mustahil ditemukan,” lanjutnya setengah kecewa.
“Luis, aku tahu kau lebih paham soal ini. Kau sendiri yang memberiku semangat untuk terus mencarinya,” balas Shika.
“Aku akan membantumu mendapatkannya, Shika.”
“Terima kasih, Luis.” Shika mengucapkannya dengan pelan, nyaris berbisik. “Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya. Ada yang harus kulakukan sekarang,” ucap Shika.
Namun, sebelum menutup teleponnya, Shika dikejutkan dengan sesuatu yang muncul dari kegelapan. Ada sebuah portal berbentuk oval setinggi tiga meter yang muncul di antara pepohonan. Sisi-sisi portal itu berbentuk cahaya hitam kemerahan yang bekilat-kilat.
Shika memelotot dan nyaris tidak bisa menggerakkan kaki-kakinya saat kedua matanya melihat dua sosok bertubuh tinggi keluar dengan ekspresi menyeramkan.