Saat Shika sudah tertangkap, laki-laki tikus yang berada di depannya merasa tertahan ketika tangannya ditarik oleh Shika dari belakang. Dia menoleh dan mendapati salah satu musuh berhasil mencengkram Shika.
“Tidak!” teriak Shika sambil memelotot.
Tepat saat si laki-laki tikus akan melakukan serangan, tiga orang yang tadi hanya berdiri di atas bangunan mulai melompat turun satu per satu dan menahan gerakan si lelaki tikus dengan sigap.
“Kau tidak usah ikut campur,” ucap salah satu dari tiga orang itu sambil memegangi tangan Bana kuat-kuat.
“Berikan buku itu!” titah salah satu dari empat orang itu dengan wajah marah.
“Jangan!” teriak si lelaki tikus. Dia lalu menarik tangan kirinya lebih dekat dan membenturkan keningnya sendiri tepat pada wajah laki-laki bertubuh pendek yang sedang memegangi tangannya. Hal itu membuat orang itu terkejut dan melepaskan pegangannya dalam sekejap.
“Lari!” teriak si lelaki tikus, lalu tangan kiri yang terlepas dia ayunkan ke kanan, mencoba menghantam wajah orang satunya yang sedang memegangi tangan kanannya. Dalam hitungan detik, bogem mentah itu mendarat telak di wajah musuh, membuatnya terhuyung ke belakang.
Sementara orang yang ada di belakangnya hanya bisa melongo ketika lelaki tikus mulai bergerak menjauh darinya. Si lelaki tikus lalu melompat sambil beputar di udara dan mendarat dengan mengayunkan kaki kanannya di kepala musuh yang sedang memegangi Shika.
“Terlalu mudah,” ucap laki-laki itu dengan nada sombong, lalu menarik Shika ke arahnya. “Ikuti aku!” titah si lelaki tikus sambil meraih tangan Shika dan berlari ke luar gang sempit itu buru-buru.
Shika dan lelaki tikus berhasil melarikan diri dan sampai di hutan dengan napas tersendat. Mereka berdiri tepat di depan deretan pohon kakao yang tumbuh dengan lebat. Setelah bersusah payah meninggalkan pusat Kota Cianjur, akhirnya sampai di sebuah bukit yang mengelilingi pemukiman.
“Katakan padaku, siapa mereka? Dan, siapa kau sebenarnya? Apa hubungannya dengan buku ini?” tanya Shika setelah mencoba membuat napasnya kembali teratur. Lututnya terasa seperti akan copot.
“Itu adalah buku yang sangat berharga,” jawab si lelaki tikus datar dan dingin.
“Kau sudah mengulang kalimat itu tadi. Aku ingin kau menjelaskan lebih dari itu!” ucap Shika kesal. Dia mengawasi keadaan sekitar, takut jika musuh tadi kembali lagi.
“Kau tidak perlu tahu apa hubungan buku itu dengan mereka. Apa yang harus kau lakukan, memberikan buku itu kepadaku sekarang!” jawab si lelaki sambil mengulurkan tangan terbukanya kepada Shika.
Ketika Shika akan mengatakan apa yang sedang dilakukannya sebelum menemukan buku itu, tiba-tiba Shika merasakan aura aneh yang begitu mencekam. Dalam sekejap mata, empat orang yang tadi mengejarnya sudah berdiri di empat arah mata angin.
Mereka tersenyum sambil mengeluarkan belati-belati panjang dari sarung belati di pinggang mereka. Shika jadi teringat pada pembunuh dalam film-film yang sering ditontonnya.
“Sekarang kalian tidak bisa ke mana-mana,” ucap orang dengan belati panjang itu. Tinggi tubuhnya jika Shika lihat setara dengan si lelaki tikus, hanya saja dia memiliki tubuh kurus dengan balutan kaus putih gading berlengan panjang dan mengenakan rompi hitam ketat. Dia memakai sebuah ikat kepala yang diselipi dua bulu burung hitam.
“Ah, akhirnya. Apa kalian tahu betapa senangnya kami melihat gadis itu membawa apa yang selama ini kami cari?” tanya orang kurus itu sambil terkekeh-kekeh, membuat Shika merasa terancam ketika disinggung seperti itu.
Lelaki tikus di samping Shika berdecak sebal, lalu menoleh pada buku di tangannya. “Aku masih mampu bertarung sejujurnya. Jika kalian tidak percaya, silakan maju bersamaan dan aku akan menghabisi kalian semua sekaligus,” ucapnya penuh arogansi.
“Cih! Tidak heran jika Aptanta sangat membencimu, Bocah!” ucap orang kurus itu sambil membunyikan lehernya yang pegal. “Serahkan buku itu sekarang!” titahnya.
Shika menyadari jika lelaki kurus itu adalah ketuanya. Sementara tiga orang lainnya hanya anak buah yang menunggu diperintah dengan patuh.
“Tidak! Aku tidak akan berikan buku ini pada siapa pun!” jawab Shika sambil memeluk buku itu erat. “Termasuk kepadamu,” bisik Shika di samping si lelaki tikus.
“Boleh juga,” gumam si lelaki tikus sambil menyeringai menanggapi Shika yang bersikeras menolak. Namun, mimiknya mendadak berubah setelah mendengar kalimat terakhir dari mulut Shika.
“Ini perintah!” bentak si kurus sambil menghunuskan belatinya ke depan. Tiga orang di belakangnya mulai mencabut belati serupa dan memasang kuda-kuda untuk bertarung.
“Sudah kukatakan, aku masih sanggup untuk melawan kalian semua,” balas si lelaki tikus sambil tersenyum mengejek. Hal itu membuat si kurus geram dan menggerakkan jemarinya di belakang tubuh sebagai tanda untuk merampas bukunya dengan paksa.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?” tanya Shika sok berani. Dia berdiri dengan memeluk buku ke dalam rengkuhannya di belakang si lelaki tikus. Sementara lelaki tikus itu memelotot, kemudian menoleh pada Shika.
“Kalau begitu, aku anggap itu jawaban dan kalian akan mati!” balas si kurus, lalu setelah mulutnya yang terlihat hitam itu terkatup, ketiga orang di belakangnya berlari melewatinya.
Mereka bersamaan mendekati Shika dan siap menghunuskan belati-belati itu ke tubuhnya.
“Mundur!” pinta si lelaki tikus, lalu siap menghadapi mereka sendirian.
Tiga di antara mereka mengepung laki-laki tikus itu, sementara satu musuh lainnya memelesat ke arah lain untuk mengejar Shika yang mulai bersembunyi.
Seperti orang bodoh, Shika hanya gemetar ketakutan menyaksikan si lelaki tikus bertarung sendirian. Dia mundur, berlindung di balik pohon kakao dan mengawasi dari jauh. Setidak-tidaknya, dengan bersembunyi di balik pepohonan, dia bisa menyiapkan sesuatu untuk menyerang dan mempertahankan diri.
Akan tetapi, belum juga merasa aman dari semua itu, dia dikejutkan dengan satu anak buah musuh yang sudah berdiri di hadapannya. Orang itu tampak tegap dengan tubuh kokoh berisi.
“Aku tidak perlu bersusah payah melawan manusia sialan itu,” ucapnya, membuat Shika menelan ludahnya dengan kasar dan menoleh pelan-pelan ke arahnya.
Tubuhnya bergetar hebat ketika melihat orang itu mulai berjalan ke arahnya. Shika terus mundur dan punggungnya menyentuh batang pohon kakao. “Ka-kau tidak bisa mengambil buku ini!” pekik Shika, lalu berlari meninggalkan laki-laki bertubuh tegap itu.
Tiga orang yang tadi berlarian, kini mengelilingi si lelaki tikus dengan posisi siap menyerang. Bana yang sadar jika salah satu dari mereka tidak ada, langsung menoleh ke arah Shika. Kedua matanya terbelalak karena melihat tempat itu sudah kosong.
Ketika dia akan mencari tahu lebih jauh, salah satu dari dua anak buah itu meninju wajahnya. Bana terjerembab ke belakang, lalu menegakkan tubuhnya lagi dan membalas orang itu dengan pukulan telak di hidungnya.
“b******n tengik!” pekik lelaki tikus.
Di sisi lain, Shika terus berlarian melewati pepohonan kako yang rimbun dan tinggi. Shika mencabuti satu per satu buah yang masih mentah dan melemparkannya ke arah orang yang sedang mengejarnya.
“Bodoh!” ucap orang itu terkekeh-kekeh sambil menyayat satu per satu buah kakao yang berterbangan ke arahnya. Dengan mudah, dia memelesat ke arah Shika dan menjambak rambutnya dari belakang. “Cukup sudah permainan kekanakanmu, Nona!”
Bana mulai panik karena buku itu berada dalam bahaya. Dia lalu memusatkan kekuatannya pada tangan kanan dan berniat untuk meninju orang kedua yang berlari ke arahnya.
Namun, dengan sigap si lelaki tikus mengurungkan tinjunya, lalu menunduk dan mencabut belati serupa kujang berukuran panjang dari pinggangnya untuk disayatkan di kedua lutut orang itu.
“Lambat!” teriaknya setelah belatinya melewati lutut orang itu dan berlumuran darah.
“Ah!” teriak orang nahas itu kesakitan. Jeritannya menggema di antara pepohonan.
Dalam sekejap mata setelah belati itu melewati lutut, darah bercucuran di tanah, menyisakan luka yang menganga. Orang itu lumpuh seketika. Saat itu juga si lelaki tikus berdiri tegap dan melompat sambil beputar, mengayunkan kaki kanannya ke arah kepala orang itu. Dalam satu sapuan kasar, dia terhempas cukup jauh dan membentur pepohonan di belakangnya.
“Dua lagi,” kata si lelaki tikus. “Tidak, tiga,” ralatnya. Dia menyeringai sambil memutar belatinya di depan wajah. “Bukankah sudah kubilang untuk menyerangku secara bersamaan? Apa kalian menyesal karena kehilangan kesempatan untuk membunuhku?” tanyanya dengan nada mengejek.
“Sialan!” teriak si kurus ketika melihat satu anak buahnya tumbang.
Sisa anak buahnya mulai menyerang bersamaan, membuat tatapan si lelaki tikus menjadi semakin awas dari sebelumnya. Kedua matanya mengedar ke segala arah, mencari celah yang bisa dia gunakan untuk melancarkan serangan. Dari sisi kiri anak buah itu, ada dua pohon kakao yang tumbuh berdekatan, kemudian dari sisi kanan hanya ada lahan terbuka penuh rerumputan.
“Kau akan menyesal karena meremehkanku,” ucap si lelaki tikus sesaat sebelum melancarkan serangannya.
Dia lalu mundur sambil tersenyum menang. Tepat saat salah satu anak buah si kurus menghunuskan belatinya ke depan, saat itulah dia melihat celah yang sedari tadi dipikirkannya. Dalam sekali tarikan napas, si lelaki tikus melompat ke sebelah kiri, tepat di mana dua pohon kakao itu berada.
“Kena! Kesempatan kalian hilang,” ucapnya sambil menghindari tusukan belati salah satu anak buah si kurus.
Satu kakinya berpijak pada badan pohon, lalu belati di tangan kirinya dia lesatkan pada tubuh malang itu dari arah belakang. Belatinya berhasil menancap telak di jantung dari arah belakang dan belati di tangan kanannya sukses menancap di tenggorokan musuh satunya yang baru saja berniat menyerangnya dari arah belakang.
Napas yang tersekat menjadi bukti jika dua orang itu sekarat dan mati.
“Seharusnya Aptanta mengirim seribu pasukan untuk menangkapku,” ucapnya sambil mengusap belatinya dari darah yang mulai mengepul jadi asap. Dia menunjuk si kurus dengan tajam. “Cara mati seperti apa yang kau inginkan?”
“Cih! Kau akan menyesal karena ….” Si kurus menyeringai, lalu sebuah teriakan terdengar dari sisi lain hutan kakao.
“Gadis itu!” pekik lelaki tikus, lalu menoleh ke asal suara. Dia menyadari jika si kurus terkekeh-kekeh dan mulai berlari meninggalkannya.
Laki-laki tikus berdecak sebal, lalu berlari mengejarnya dari belakang. Namun, si kurus berlari lebih kencang dari yang bisa dibayangkan. Dia berbelok ke arah pepohonan dan hilang dari pandangan. Itu membuat lelaki tikus terkesiap dan berdiri di antara rimbunnya pohon kakao.
“Orang-orang itu mendapatkan bukunya,” gumam si lelaki tikus, lalu memejamkan mata untuk mengendus bau orang-orang itu berdasarkan aroma yang dibawa oleh angin dari arah depan.
Beruntung, dia memiliki penciuman tikus yang memberinya tanda keberadaan musuh. Dia lalu melompat ke udara sambil melompati batang pohon kakao untuk menyusul orang-orang itu. Tepat di ujung pandangan, dia melihat salah satu orang bertubuh tegap sedang mencekik Shika dan mengangkatnya ke udara.
“Sial,” gumamnya, lalu memlesat ke arah mereka. Laki-laki tikus itu melempar belati ke arah si kurus yang sedang membolak-balik lembaran buku di pegangannya. Tepat ketika membuka lembaran baru, sebuah belati menancap di tangan kirinya.
Laki-laki tikus mendarat di hadapan musuh-musuhnya sambil berjongkok, lalu memutar tubuhnya dengan posisi kaki kanan terulur ke depan. Itu membuat pijakan orang bertubuh tegap yang sedang mencekik Shika goyah dan terjerembab ke belakang.
“Kau membuatku susah,” bisik laki-laki tikus dan menangkap tubuh Shika, lalu melompat dan mendarat cukup jauh dari dua orang tadi. “Diam di sini dan aku akan mengambil bukunya kembali.”
Pertempuran selanjutnya pun terjadi sampai akhirnya si laki-laki tikus memenangkan pertarungan dengan mudah. Shika berhasil diselamatkan dan mereka beristirahat di bawah pohon kakao yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
“Kau membuatku sulit,” ucap lelaki tikus sambil membuang muka ke sisi lain. “Sekarang berikan bukunya. Aku harus segera menemui temanku dan kembali sebelum musuh yang lain datang.” Dia menyarungkan belatinya di pinggang, lalu menyodorkan tangan terbukanya kepada Shika.
“Apa maksudmu dengan musuh?” tanya Shika, mengabaikan perintah itu.
“Tapi, tunggu,” kata si lelaki sambil menaruh tangan kirinya di dagu, matanya menatap Shika dari atas sampai bawah. Dia menimbang sesuatu yang bahkan tidak dapat dimengerti olehnya sama sekali. Wajahnya yang tersinari matahari sore terlihat berpikir. “Jika kau bisa memicu energinya muncul dan memancingku datang, itu artinya kau—”
“Energi apa?” potong Shika.
“Tidak. Itu tidak mungkin,” gumam si lelaki tikus sambil menggeleng.
Lelaki itu terlihat tidak nyaman setelah mendapat fakta mencengangkan. Dia tampak bertingkah canggung di hadapan Shika. “Aku selalu percaya pada Dewi. Jadi, aku yakin kau orangnya. Tapi ini—“
“Tunggu dulu! Jangan bilang jika kau sebenarnya …,” potong Shika sambil memelotot, menunjuk lelaki tikus di depannya dengan telunjuk, dia memasang wajah terkejut.
Laki-laki tikus itu tampak berdecak sejenak, sampai akhirnya dengan ragu-ragu dia bertekuk lutut. Namun, sebelum benar-benar melakukannya, dia kembali melonjak dan berkata, “Tidak mungkin! Bagaimana gadis seaneh dirimu menjadi Sang Terpilih?”
“Hah?” tanya Shika.
Shika semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sebenarnya, apa yang sedang lelaki tikus itu coba sampaikan kepadanya? Siapa Aptanta dan apa itu sang Terpilih? Apa kehidupan Shika benar-benar akan berubah dengan munculnya laki-laki tikus aneh di hadapannya?