| 2.1 | Lari!

1632 Kata
Lelaki itu tersenyum saat matanya menatap pisau di balik kaca. Namun, sebelum dia berhasil mengambilnya untuk mengancam Shika, gadis itu sudah menendang selangkangannya dengan kencang, tepat sasaran pada dua biji sensitifnya. “Ah!” rintih si lelaki sambil menyentuh dua bijinya dengan kedua tangan. Rasa sakit dan keputusasaan menyerangnya saat itu juga, merambat dari bawah s**********n sampai ke puncak kepalanya. “Rasakan itu, Orang Aneh!” teriak Shika setelah berhasil membuat lelaki itu melenguh seperti sapi. Laki-laki malang itu menegang sampai otot di lehernya tercetak dengan jelas. Shika meringis melihatnya membungkuk kesakitan. Saat merasa ada kesempatan, dia melayangkan pukulan bertubi-tubi di kepala si lelaki dengan tangan kosong. Lelaki itu terus melenguh sambil menahan sakit di antara selangkangannya. “Rasakan ini. Mati kau, Siluman!” teriak Shika. “Hentikan! Hentikan! Apa-apaan kau ini!” pekik si lelaki sambil mencoba menahan rasa sakit di selangkangannya. Sementara tangan kanannya menahan kedua tangan Shika kencang agar berhenti melepaskan pukulan bertubi-tubi ke kepalanya. “Tikus gila! Mau apa kau, hah?” tanya Shika ketakutan saat tangannya dicengkram kuat olehnya. Mata cokelat madunya bergetar saat laki-laki itu menatapnya dengan penuh amarah. “Ah! Gila. Se-seranganmu telak! Ah,” rintihnya. “Su-sudah kubilang kekuatanmu terlalu besar,” ucapnya sambil terus menurunkan intonasinya. Raut angkuh dan sombong yang sebelumnya tercetak di wajah si lelaki, kini hilang digantikan wajah kesakitan dan erangan. “Lepaskan tanganku, Siluman! Setan Alas. Manusia Tikus Buruk Rupa. Ah, Setan. Mana ada tikus bisa jadi manusia!” teriak Shika sambil meronta, berusaha melepaskan pegangan lelaki itu dari tangannya. Darahnya mendidih. Degup jantungnya tidak bisa dikendalikan. Ketakutan itu merajalela dan membuatnya menjadi gila dalam sekejap. Lelaki bertubuh tegap dengan otot-otot yang menyembul dari rompi cokelat tanahnya itu mulai berdiri tegap karena rasa sakit di bawah selangkangannya mulai mereda. Dia berdecak sebal, sampai akhirnya menyeringai dengan senyum menakutkan. “Kau gadis keras kepala,” ucapnya dingin. “Lepaskan aku, atau aku akan berteriak minta tolong?” bentak Shika mengancam. Matanya memelotot penuh rasa takut dan kengerian. “Kau pikir aku tidak bisa mengancammu? Diam, atau aku akan membunuhmu!” Lelaki itu balik mengancamnya. Shika tahu itu hanya sebuah ancaman, tapi tetap saja membuatnya sedikit takut. Dengan angkuh Shika menatap laki-laki yang masih mencekal tangannya, lalu berkata pelan. “Lepaskan aku dulu. Sakit, tahu!” Shika menarik tangannya dari pegangan si lelaki. Degup jantungnya menjadi satu-satunya hal paling kencang yang dapat dia dengar saat ini. Hawa panas di ruangan itu ternyata membantu tubuhnya berkeringat lebih cepat. Mata lelaki itu teruju pada buku yang Shika pegang dengan tangan kiri. Manik hijaunya mengilap pada sampul buku bertuliskan Susunan Dasar. Shika menyadari wajah lelaki itu  mulai berubah jadi mengerikan, seolah-olah menemukan sebuah kepuasan yang tidak terhingga. Kenapa orang ini? batin Shika sambil memutar pergelangan tangannya yang terasa sakit. “Siapa, sih sebenarnya dirimu?” tanya Shika dengan suara pelan. “Kau datang tidak diundang dan memaksaku memberikan bukunya kepadamu,” lanjutnya setengah bergumam yang masih bisa didengar oleh laki-laki itu. “Kenapa buku itu ada padamu?” tanya lelaki tikus itu, tidak menjawab pertanyaan. Shika mengerjap, menoleh pada tangan kirinya, dan baru sadar jika sedari tadi memegang buku aneh yang ditemuinya di laci meja antik. “Ini?” balas Shika sambil menunjukkan bukunya pada si lelaki. Matanya memicing, menelisik ekspresi datar laki-laki di hadapannya. Dia was-was jika sewaktu-waktu orang itu akan berubah menjadi mengerikan. “Iya. Kau tidak bisa menyimpannya. Berikan buku itu kepadaku sekarang!” titahnya sambil mencoba meraihnya dari Shika. Namun, gagal karena dengan sekejap mata, Shika menurunkannya lagi dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya yang masih menggigil ketakutan. “Enak saja! Ini buku kakekku, tahu. Siapa kau? Apa hakmu meminta buku ini dariku?” tanya Shika tidak terima. Shika mulai merasakan ketakutannya berkurang dari sebelumnya. Jika dilihat lebih jelas pun, laki-laki di hadapannya itu lebih tampan dari yang dia duga. “Kubilang, berikan itu padaku! Aku sudah memintanya dengan sopan. Jangan main-main dengan buku itu. Kau tidak paham apa yang ada di dalamnya.” Laki-laki itu tampak menekan rahangnya yang tegas saking kesalnya kepada Shika. “Memang tidak. Aku baru menemukannya hari ini. Lagipula, untuk apa kuberikan buku ini kepadamu?” Shika mundur perlahan, semakin mengeratkan gengamannya pada buku kulit pohon itu. Dia sangat khawatir jika lelaki tikus itu merebutnya dengan paksa. Si lelaki kembali memutar bola matanya. “Kenapa buku itu ada padamu?” tanyanya lagi dengan wajah kesal. Shika yakin jika terus melawan dan membuatnya kesal, lelaki tikus itu akan meledak marah dan itu berarti nyawanya dalam bahaya. Shika menelan ludahnya dengan kasar, mencoba mundur satu langkah demi satu langkah. Dia harus berhasil keluar dari gudang, bagaimanapun caranya. “Aku menemukannya di sini, di gudang kakekku,” jawab Shika. “Bagaimana buku itu ada di gudang kakekmu?” tanyanya lagi, merasa belum puas dengan jawaban Shika barusan. Rasanya seluruh ruangan sudah terbakar dengan api aneh yang muncul tiba-tiba. “Ja-jawab dulu pertanyaanku! Kau sudah dapat apa yang kau tanyakan. Sekarang, se-sekarang giliranku. Si-siapa dirimu?” desak Shika. Itu adalah pertanyaan dasar yang muncul sejak kedatangan Bana di gudang kakeknya. “Kau tidak perlu— “ Sebelum lelaki itu menyelesaikan jawabannya, suara ledakan dari luar ruangan tiba-tiba terdengar, membuat gudang bawah tanah itu bergetar. Debu berterbangan di mana-mana. Mata lelaki itu memicing, menatap plafon yang bergoyang. “Aku tidak punya banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu. Berikan buku itu sekarang!” titahnya dengan nada tinggi, membuat Shika terkejut. Ketakutannya muncul lagi ke permukaan setelah sebuah ledakan terdengar dari luar ruangan. Belum lagi laki-laki aneh yang sedang memelotot ke arahnya itu sedang mendesaknya dengan nada tinggi. “Tidak! Aku tidak akan memberikan kenangan kakekku pada siapa pun!” bentak Shika menolak. Namun, lelaki itu tidak mengindahkan dan kembali mencekal tangan kanan Shika, lalu menariknya untuk berlari menuju pintu keluar gudang bawah tanah. Tidak memberi waktu bagi Shika bernapas dan berpikir, lelaki itu sudah mendobrak pintu kayu berbentuk bulat di depannya dengan sekali tendangan, membuat bunyi berdebum yang bergema di belakang Shika. “Hei, jangan asal begitu. Kau ti—” Shika tidak sempat melanjutkan ucapannya saat lelaki itu menariknya keluar dan berlari ke sebelah kanan, lalu menapaki rerumputan yang tumbuh di depan gudang. Sorot matahari rasanya membakar mata Shika dengan kejam. Perbedaan intensitas cahaya di bawah ruangan membuat matanya menyipit. Dengan satu tangan kiri yang memegang buku, dia menolak aliran cahaya yang langsung menyoroti matanya. “Jika kau tidak ingin memberikan buku itu kepadaku, kau harus ikut denganku sekarang! Jangan banyak bertanya dan jangan mengatakan apa pun!” titah si lelaki tegas. “Tapi, kita berlari dari apa? Mereka siapa?” tanya Shika, tapi si lelaki tidak menjawab dan malah membawanya berlarian menyusuri gang kecil setelah meninggalkan taman milik kakek Shika di depan gudang bawah tanahnya. Dari belakang mereka, ledakan besar terjadi, membuat kepulan asap hitam membumbung ke udara dari celah-celah bangunan tinggi. Shika memelotot ketika mendapati empat orang berpakaian hitam aneh yang sedang berlari ke arahnya. “Hih. Si-siapa mereka?” tanya Shika sambil masih berlari karena satu tangannya ditarik oleh lelaki tikus itu. Sisi kanan dan kirinya penuh dengan perumahan, membuat Shika sulit melihat keadaan sekitar dengan benar. “Sudah kukatakan untuk tidak mengatakan sepatah kata pun!” bentak si lelaki dengan geram. Dia menoleh ke arah Shika yang tampak meringis sambil berlari. “Sekarang, bawa aku ke bukit atau tempat yang jauh dari pemukiman. Orang-orang di duniamu bisa dalam bahaya,” ucapnya tanpa sedikit pun memberikan penjelasan atas apa yang sudah terjadi kepada Shika. “Duniaku?” gumam Shika, tapi tidak cukup waktu untuk memikirkannya. Satu orang dari belakang Shika memelesat dengan cepat, di kedua tangannya ada belati cukup panjang yang dia hunuskan ke arahnya. Shika menjerit karena takut jika belati itu menancap di lehernya. Namun, saat orang bersenjata itu hampir sampai dan nyaris mengenai punggung Shika, si lelaki tikus membawanya berbelok ke sebuah gang sempit. Jantung Shika rasanya sudah tidak ada di tempatnya. Kali ini degupnya terasa sepuluh kali lebih cepat. Napasnya tersendat, tersisa dua-tiga kali embusan lagi. Rasanya seperti sekarat karena dikejar oleh sosok mengerikan yang meminta tagihan nyawa. “Heh! Si-siapa me-mereka? Dan, sebenarnya siapa kau? Ap-apa hubungannya orang-orang itu denganmu? De-denganku juga?” tanya Shika gelagapan seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Hari ini begitu banyak hal aneh terjadi. Mulai dari penemuan buku misterius kulit pohon, seekor tikus yang bisa berubah menjadi manusia, sampai adegan kejar-kejaran dengan komplotan orang berpakaian kuno yang aneh. “Mereka anak buah Aptanta. Detailnya akan kujelaskan setelah mencapai bukit. Tuntun aku menuju bukit terdekat!” suruh si lelaki ketika mereka berdiri berhadapan di sebuah gang kecil dan gelap. Untuk sesaat, mereka bisa istirahat karena empat orang itu masih belum menemukan keberadaan mereka. “Siapa lagi Aptanta dan apa hubungannya denganku?” tanya Shika dengan raut cemas dan takut. Dia memeluk buku itu dengan kedua tangannya di d**a. Ini benar-benar kejadian di luar harapannya. Pencarian benda bernama Haruit itu malah membawanya pada aksi kejar-kejaran yang mempertaruhkan nyawanya. “Jangan terlalu percaya diri, Nona. Mereka mengincar buku di tanganmu. Bukan mengincarmu,” kata si lelaki tikus sambil mencoba meraih buku dari tangan Shika, tapi lagi-lagi gagal karena kalah cepat. “Mau—” Sebuah kerikil terjatuh tepat di pundak kanan Shika, menghentikan ucapannya. Berbarengan dengan itu, keduanya menatap ke atas, pada ujung bangunan yang menghimpit gang kecil tempat mereka berdiri. Mata mereka memelotot saat mendapati empat orang itu berdiri di atas dak cor rumah sambil menyeringai menatap ke bawah. “Ketemu kalian,” kata salah satu dari empat orang itu dengan wajah senang. “Mau lari ke mana?” ucapnya lagi. “Lari!” titah si lelaki tikus sambil kembali menarik Shika meninggalkan gang. Akan tetapi, sebelum Shika berhasil mengikuti langkah si lelaki tikus, salah satu dari empat orang itu melompat tepat di depannya. Dia menjulurkan kedua tangannya ke depan dan mencengkram pundak Shika kuat-kuat. “Tidak!” teriak Shika. Namun, dalam sekejap, sesuatu terjadi di luar dugaan mereka semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN