| 1. | Siapa Orang Itu?

1833 Kata
Shika terdiam dalam keheningan setelah seharian berkutat dengan barang-barang antik di gudang tua kakeknya. Dia merasakan sesak di dadanya setelah debu di gudang itu memenuhi pernapasannya. Jika bukan karena ingin menemukan informasi tentang benda yang ingin dicarinya, dia tidak ingin bersusah payah sampai terbatuk-batuk seperti itu. Setelah merasa tenang dengan semuanya, dia lalu meraup rambut cokelat panjangnya dengan sepuluh jari, lalu diikat ke atas dengan gaya ekor kuda. Bukan hanya rambutnya saja yang sudah dia kokohkan, tapi juga tekad dan semangatnya berhasil dia ikat kuat-kuat lagi. “Huh. Begini kan lebih mudah dan sederhana,” gumamnya pelan. “Aku juga jadi semakin percaya diri kalau gerakanku lebih praktis,” lanjutnya dengan senyum manis di bibir merah mudanya. Ruangan itu tampak sempit karena barang-barang berukuran besar yang berdebu. Sudah nyaris seharian mencari. Namun, dia tidak menemukan apa pun, kecuali sarang laba-laba di beberapa sudut ruangan, kecoa-kecoa terbang ke sana-kemari dan beberapa dengung nyamuk di dekat telinganya. “Sebenarnya aku ragu Kakek menyimpan benda seberharga itu di sembarang tempat. Tapi, jika bukan di sini, di mana lagi?” gumamnya sambil mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan. “Kakek tidak akan bercerita soal benda itu kalau memang bendanya tidak pernah ada. Di tempat ini pasti ada salah satu petunjuknya. Atau paling tidak seperti itu.” Dia lalu menarik tumpukan buku dalam kardus putih di atas meja untuk dipindahkan ke dekat kakinya yang sedang berdiri tepat di depan meja tua. “Luis benar, benda itu tidak akan mudah ditemukan,” gumamnya lagi. Semasa hidupnya, dia sudah mencari keberadaan benda legendaris itu. Namun, belum pernah benar-benar seserius sekarang. Pada awalnya memang ragu, tapi belakangan ini dia menjadi yakin setelah pelajaran senibudaya yang dia ajar membahas tentang Atlantis Kota yang Hilang. Sebenarnya sudah sejak lama Shika ingin datang ke rumah kakeknya untuk menanyakan soal benda itu. Akan tetapi, tidak banyak waktu untuk datang lebih awal. Tepat saat mendapat kabar kakeknya meninggal, Shika langsung datang ke Cianjur. Dahulu ketika masih hidup, Shika sering diceritakan kisah-kisah menakjubkan tentang kehidupannya di masa lalu. Sang kakek bilang jika dia pernah terlibat sebuah petualangan yang menakjubkan. “Peduli apa soal mitos. Aku pasti menemukannya. Sama halnya dengan Atlantis, benda itu pasti tersembunyi di suatu tempat,” ucapnya. “Aku hanya perlu menemukannya dan menunjukkan benda itu pada semua orang.” Shika nyaris menyerah sebenarnya, tapi kedua matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah laci di bawah meja setelah menaruk tumpukan buku tua tadi. Dia terbelalak menyadari secercah harapan. “Eh? Ada laci tersembunyi ternyata,” ucapnya sambil menatap laci itu dengan semangat. Sekarang dia merasa secercah harapan itu benar-benar ada. Shika langsung menarik pegangannya. Namun, benda itu tidak bisa dibuka, bahkan tidak bergerak sama sekali. “Dikunci, ya? Kira-kira apa yang ada di dalamnya? Aku harus mencari kuncinya.” Dia menoleh ke segala arah, menatap deretan benda yang ada di dalam lemari kaca, menoleh pada nakas usang di samping lemari, kemudian matanya berhenti pada rak buku di dekat tumpukan sepatu tua. Shika mengembuskan napas kesal. “Huh. Sulit memang jika Kakek tidak ada di sini. Sekarang aku menyesal karena datang ke sini setelah Kakek tidak ada,” gumamnya sedih. Dia mengusap wajahnya dengan tangan kanan sambil memejamkan mata. Tiba-tiba dia tersentak saat otaknya teringat sesuatu. Shika langsung menarik kalung yang ada di lehernya. “Mungkinkah ini kuncinya? Apa ada alasan kenapa Kakek memberikannya padaku?” tanyanya antusias. Manik matanya yang cokelat mengerling senang. Dia mengamati kunci berbahan kuningan itu lekat-lekat, bentuknya seperti ranting kayu yang menyerupai kunci bergigi tiga. “Tapi, apa salahnya aku mencoba? Ini satu-satunya hal yang aku dapatkan setelah berkutat dengan benda-benda aneh milik Kakek sejak pagi.” Akhirnya Shika memutuskan untuk memasukkan anak kunci itu ke lubangnya, memutarnya perlahan, dan bunyi klak bergema di ruangan. Dia semakin tidak sabar, darahnya terasa mendidih. Tanpa buang waktu, dia langsung membuka perlahan laci itu, lalu menemukan sesuatu di luar ekspektasinya. Matanya memelotot tidak percaya. “Apa ini? Hanya sebuah buku? Tapi, sampulnya terlihat lebih indah dari buku-buku tua itu. Apa ini buku catatan Kakek? Atau hanya sebuah diary?” Dia kecewa saat mendapati sebuah buku berwarna cokelat dengan lilitan sulur sewarna hijau yang tampak hidup dan segar mengitari sampul buku. Shika lalu meraih buku itu dan mengeluarkannya dari laci. Aroma pohon segar menguar dari sampul yang dia pegang, menghipnotipsnya beberapa saat. Dia terdiam cukup lama saat membaca tulisan yang tertera di depan sampul. ‘Susunan Dasar’. Ada tiga buah lilin dan tiga buah kamper diletakan tepat di samping buku. Saat tangannya bersentuhan langsung dengan sulur-sulur itu, sebuah gelombang aneh menyentaknya dari dalam. Shika merinding begitu saja saat sebuah aura aneh menyentuh tengkuknya tanpa diminta. Tangannya terasa dingin setelah disengat listrik berkekuatan kecil. Ada kilatan kuning kecil yang menari-nari di antara sulur dan tangannya. Shika sempat melihat sebuah cahaya kebiruan muncul di balik lemari, tapi dalam sekejap hilang, membuatnya seperti sedang berhalusinasi. “Ah. Tadi itu apa? Aliran listrik?” tanyanya sambil menjauhkan jemarinya dari sulur yang melilit sampul buku. Dia meragu. Apakah Shika harus melanjutkan membuka buku itu atau tidak? Entah mengapa, jantungnya terasa berdegup sangat kencang. Rasa tidak enak hati menyergapnya dari segala arah.. Shika kembali meraih ujung sampul dan menariknya ke atas tanpa menyentuh sulurnya. Namun, saat hal itu akan terjadi, seekor tikus hitam legam seukuran anak kucing berlari ke arahnya. Dari ujung lemari, tikus itu melompat tepat ke atas meja antik di mana Shika sedang berdiri menggengam buku. Tikus itu bercicit. Mereka saling tatap, sampai akhirnya Shika tersadar, lalu bereaksi dan berteriak, “Aah! Tikus!” Shika terkejut bukan main saat kedua matanya tertuju pada makhluk pengerat di depannya, dia lalu meraih sapu yang ditaruh di samping meja untuk menghantam kepala si tikus dengan keras. Dia mengumpulkan kekuatan di tangan kanan, lalu ujung sapu itu berhasil mendarat tepat di punggung si tikus dengan telak. Pengerat itu menjerit, berputar, lalu melompat ke lantai karena kesakitan. “Besar sekali tikusnya! Astaga!” Shika berlari mendekati tikus itu, lalu mencoba menghantamkan sapunya sekali lagi. Namun, sebelum itu dilakukan, si tikus tiba-tiba terdiam dan menatap Shika dengan tajam. “Apa yang kau lihat, hah? Cari mati kau!” teriak Shika sambil mengayunkan sapu itu tepat di mana si tikus sedang berdiri dengan dua kaki dan menahan ujung sapu menggunakan tangan kanannya. Shika memelotot sambil menekan sapu itu lebih kuat, tapi gagal saat tikus itu menahan dan menolak ujung sapu ke udara, membuat Shika terdorong cukup keras dan hampir terjerembab ke lantai. Pada awalnya tikus itu bercicit, tapi lama kelamaan terdengar seperti sebuah omelan seorang manusia. “Jangan asal pukul orang kayak begitu, dong! Kau gadis yang tidak punya perikemanusiaan!” Suaranya terdengar berat, tegas, dan penuh penekanan. Sebelum Shika terjerembab di lantai karena dorongan tikus itu, dia langsung memasang kuda-kuda dan kembali berdiri dengan tegap. Sorot matanya tertuju langsung pada sosok tikus yang kini mulai membesar. Perlahan-lahan si tikus menyesuaikan ukuran tubuhnya dengan meja antik di samping Shika, lalu memanjangkan kedua kakinya, membentuk kaki manusia seutuhnya. Shika semakin terbelalak, rahangnya jatuh dan kedua matanya seperti melompat dari lubangnya. Bulu-bulu yang tadi tumbuh di seluruh tubuh si tikus, kini perlahan menghilang, digantikan dengan kulit cokelat sawo matang terbalut kaus polos warna hijau khaki dilapisi rompi cokelat tanah dan mulai membentuk perawakan utuh sosok manusia. Rambut abu-abu sebahu menutupi ikat kepala bercorak daun yang melilit kepalanya. Perlahan moncong penuh kumis putih berubah menjadi wajah tampan dan tegas, berhidung mancung, serta tatapan mata hijau yang sayu. Shika tidak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana bisa seekor tikus yang tadi coba dia bunuh, kini mulai berubah menjadi seorang manusia? “H-hah? Ti-tikus, tikusnya be-berubah jadi manusia?” teriak Shika dengan suara parau yang bergetar. Shika membelalakkan mata dengan rahang terbuka lebar-lebar, sementara si tikus sudah berubah seutuhnya menjadi manusia tampan dan gagah yang membawa belati panjang di pinggang kanan-kirinya. “Untuk ukuran seorang gadis, kekuatanmu terlalu besar. Kau tahu, aku nyaris saja terbunuh oleh benda sialan itu!” ucap lelaki berwajah tegas itu dengan nada datar dan dingin. Mata hijau sayunya menatap Shika yang masih terbelalak tidak percaya. “K-kau, kau ….” Shika memelotot sambil menunjuk lelaki itu dengan tubuh bergetar. “Hantu!” teriaknya, lalu berbalik untuk berlari meninggalkan gudang. Akan tetapi, lelaki itu tidak tinggal diam dan membiarkan Shika pergi begitu saja. Dia memelesat melewati Shika dalam sekejap, lalu berdiri di hadapannya sambil merentangkan kedua tangan. Shika yang sedang berlari, tidak sempat menahan kakinya untuk berhenti berlari, sampai akhirnya mereka bertabrakan. “Tunggu! Kam—” titah si lelaki. Namun, ucapannya tidak sempat selesai ketika tubuh Shika menabraknya dari depan, membuat lelaki itu terjerembab ke belakang bersamaan dengan tubuh Shika yang menindihnya dari atas. Lelaki itu meringis saat punggungnya menyentuh lantai, sementara Shika sebisa mungkin menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlalu dalam dan menghantam lelaki aneh itu lebih jauh. Wajah mereka terpaut beberapa sentimeter saja, membuat Shika memerah malu. “Eh, ma-maaf!” ucap Shika sambil memelotot. “Hantu!” teriaknya lagi sambil terpejam. Lelaki itu masih menatap Shika dengan datar dan dingin, Dari jarak sedekat itu Shika bisa merasakan aroma wangi pisang dari tubuh si lelaki serta embus napas segar dari mulutnya, membuat Shika semakin tidak keruan. Saking paniknya, dia mendorong d**a bidang lelaki itu dengan kencang, lalu berusaha berdiri di atas kaki-kakinya yang masih bergetar lemas. Shika mundur dan menabrak meja di belakangnya. “Aduh. Ah. Aw. Sakit. Ah, sial. Sikutku! Ah!” Si lelaki bangkit, lalu berdiri dan menatap Shika yang masih sibuk sendiri. “Kau rusuh sekali,” gumam laki-laki itu. Dia lalu membersihkan debu di seluruh pakaiannya, sampai akhirnya dia berkata dengan dingin, “Berikan buku di tanganmu itu kepadaku!” titahnya sambil mengulurkan tangan ke arah Shika, menunjuk buku di pegangannya dengan dagu belah dua. Shika yang tadinya masih mengurusi rasa sakit kini memelotot. “Apa? Apa kau bilang? Berikan buku ini kepadamu?” jawab Shika tidak terima. Si lelaki tidak mau mendengar, dia malah melangkah mendekat dengan ekspresi dingin dan datar, membuatnya semakin panik. Shika lalu mundur sambil menelan ludahnya kuat-kuat. Dia pasti hantu atau semacamnya. Tidak, dia pasti siluman, batin Shika. “Berikan!” titah si lelaki sambil mencondongkan wajahnya ke arah Shika, membuatnya salah tingkah. Wajah Shika kembali memerah karena malu saat lelaki berwajah tampan itu menatapnya dalam jarak kurang dari dua puluh sentimeter. “Eng-enggak. Ak-ak-ak ….” Shika sampai tidak bisa berkata-kata. Sekarang Shika benar-benar lupa jika lelaki tampan di hadapannya ini, beberapa detik sebelumnya hanyalah seekor tikus berukuran anak kucing yang coba dia bunuh dengan sapu. “Si-siapa kau?” Suara Shika parau bergetar, tubuhnya terasa panas-dingin. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Cepat! Berikan buku itu kepadaku!” titah si lelaki tampak kesal. “Ti-tidak akan!“ jawab Shika tegas. Tubuhnya dipaksa berhenti menggigil dan dia mencoba untuk melawan dengan sisa keberaniannya. Laki-laki itu memutar bola matanya ke atas, lalu dia melihat sebilah pisau yang ada di balik lemari kaca tua di belakag Shika. Dia tersenyum ketika memikirkan sesuatu. “Baiklah, aku sudah memintanya dengan cara baik-baik. Jangan salahkan aku kalau—“ Laki-laki itu tidak sempat menyelesaikan ucapan, saat tiba-tiba Shika melakukan sesuatu kepadanya. “Ah,” rintih si lelaki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN