Sudah jam lima sore dan Varrel tidak menemukan wanita itu muncul seperti janjinya tadi. Mungkin Violeva—kakanya, terjebak macet, karena setahu Varrel, Jakarta Selatan punya tingkat kemacetan yang bisa membuatnya menghafal tiga puluh juz alquran di luar kepala. Kemacetan yang membawa berkah. Dia sudah bosan dua jam berdiam diri, tapi terlalu malas untuk sekadar membantu lebih banyak hari ini.
Gaun-gaun berserakan, harus diantar Maya—pegawai butik ini, ke laundry dry clean langganan mereka. Dan Varrel merasa tulang-tulangnya hampir rontok seperti daging pada tulang iga yang direbus dalam panci presto selama empat puluh menit, selemah itu dirinya, ambyar. Dia memang punya stamina yang lebih buruk dibanding Violeva.
Varrel mengumpulkan tenaga dalam sebelum memutuskan berdiri dan menutup tirai-tirai di jendela kaca besar bagian depan butik. Jam lima sore artinya jam operasional berakhir, dan sebagai pekerja lepas hari ini—yang dibayar kakaknya dengan upah per-closing, sudah sewajarnya Varrel bertanggung jawab untuk menutup butik. Berhubung memang tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain dirinya.
“Udah mau tutup ya, Mas?”
Pergerakannya terhenti, seorang gadis—yang sebenarnya tadi sudah datang ke butik, menyelonong masuk sebelum Varrel berhasil mengunci pintu. Di luar hujan deras, gadis itu tampak sedikit basah di bagian kepala dan ujung-ujung seragamnya. Dia tersenyum, jenis senyum canggung yang entah kenapa malah tampak girang dan memesona berhubung ada lesung di pipinya.
“Eh, iya. Ada lagi yang bisa saya bantu?” Varrel bertanya setelah lama menjeda karena efek kaget dan terpesonanya barusan.
“Nggak ada.” Gadis itu menggeleng. “Tapi ada yang mau saya obrolin, berhubung butiknya udah mau tutup dan jam kerja Masnya sudah habis, jadi saya boleh kan menyampaikan urusan saya?”
Varrel mengangguk tanpa sempat ia sadari, lalu tangannya refleks mempersilahkan gadis tadi untuk duduk di sofa, dan Varrel memutuskan untuk menunda menutup butik kakaknya. Ada beberapa veil berserak di sana—di atas sofa, Varrel buru-buru mengambil dan menaruh di kotak terdekat. Tanpa Kak Maya, butik ini seperti kandang domba.
“Gak usah, makasih. Saya basah, Mas. Tadi di depan kehujanan.”
“Udah duduk aja, gak apa-apa.”
Beberapa detik berlalu setelah gadis itu duduk di hadapannya, dengan senyum masih bertengger setia, seperti resepsionis hotel yang menyambut tamu dan mengucapkan selamat datang berulang-ulang. Varrel memperhatikan, selain rambut dan seragamnya, sepatu gadis itu juga terlihat basah. Sejak kapan dia di luar sana? Di mana dia sempat berteduh sebelum datang ke sini dan melihat Varrel nyaris menutup butik? Tidak berlebihan kan kalau Varrel benar-benar berpikir bahwa gadis itu menunggunya di tengah hujan deras?
“Saya tadi nunggu di depan, ada teras toko yang sudah tutup, nungguin kapan kira-kira bisa datang lagi ke sini tapi gak mengganggu jam kerja Masnya.” Dia seperti bisa membaca pikiran Varrel dengan mudah. “Perkenalkan, nama saya Athifah, tapi panggil aja Ipeh biar lebih akrab.”
Varrel masih tertegun untuk beberapa nano detik ketika tangan gadis itu terulur di depannya, sebelum menyadari bahwa itu berarti dia mengajaknya berjabat tangan dan merutuki diri sendiri atas ketololannya barusan.
“Ipeh?” dia mengulang.
Gadis itu mengangguk dengan senyum bangga di wajahnya, seperti sudah memperkirakan respons orang yang baru pertama kali mendengar nama uniknya disebut. Dia terlihat percaya diri, anggun, kalem tapi ceria di saat yang bersamaan, tidak peduli pada reaksi Varrel yang—jujur saja, agak syok sembari mengulum tawa karena nama sebagus Athifah harus berakhir mengenaskan menjadi Ipeh. Tidak kompatibel dengan penampilannya. Ipeh atau Athifah segera menyambar tangan Varrel yang bergerak lambat menyambut uluran tangannya dan berjabat tangan penuh keyakinan. Dia orang yang keren dari caranya berjabat tangan, sangat langka untuk ukuran anak perempuan.
“Nama Masnya siapa?”
Sial, tidak sopan sekali karena dia tidak langsung memperkenalkan diri. “Saya Varrel.”
“Namanya ganteng,” komentar gadis itu malu-malu. “Kayak orangnya.”
Jalan-jalan ke Surabaya, hiya hiya hiya!
Rentetan pantun kacang ala anak muda zaman sekarang terasa menggelitik isi kepala. Detik itu juga Varrel merasakan wajahnya gatal-gatal, sebelum akhirnya rasa panas menjalar sampai ke telinga dan akhirnya seluruh bagian kepala Varrel—kecuali rambut, memerah, seperti kepala babi panggang. Dia tersenyum kikuk mendengar komentar cringe barusan.
“Mas Varrel lebih suka dipanngil Mas, atau Abang?”
“Memangnya kenapa?”
“Mau cari panggilan yang pas.”
Buat apa? Harusnya dia bilang begitu. Tapi lidah pengkhianat Varrel tidak kuasa menjawab. “Abang,” ujarnya pelan dan merutuki diri setelahnya.
Apa yang sedang dilakukannya di sini, dengan anak SMA, saat di luar hujan deras dan diwawancarai tanpa sedikit pun persiapan mental?
“Oh, Bang Varrel, ya? Imut juga.” Ipeh tersenyum senang sebelum melanjutkan. “Abang kuliah, ya?”
“I... iya.”
Tunggu, ini kenapa Varrel jadi mendadak d***u begini sih? Oke, dia akui memang dirinya tidak pintar dan dia agak polos—kata Kak Vio, hingga kurang persiapan dalam menghadapi orang. Tapi sekarang berhubung dia sudah sadar, boleh kan Varrel bertanya tentang maksud dan tujuan Ipeh mewawacarainya seperti barusan? Apa dia ada tugas sekolah?
“Ipeh—”
“Aku tanya-tanya biar tahu sedikit-sedikit tentang calon pacar.”
“Hah?” Varrel merasa dagunya jatuh hingga ke lantai.
“Bang Varrel, aku Ipeh kelas 3 SMA, umur hampir sembilan belas tahun, bulan November nanti. Ipeh mau kita pacaran. Bang Varrel mau, kan?”
Varrel termenung untuk detik-detik berikutnya, tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas harusnya ia menjawab tidak, atau minimal pikir-pikir dulu ya? Karena ini semua begitu mendadak, begitu mengejutkan, begitu di luar dugaan.
“Kayaknya Ipeh jatuh cinta sama Abang pada pandangan pertama.”
Athifah, alias Ipeh tersenyum dengan wajah yang lebih gelap dibanding sebelumnya, agak keunguan. Lesung pipinya kelihatan, dan duduk dengan resah sambil meremas-remas rok sekolah yang dia kenakan.
Tunggu, jadi sekarang Varrel sedang ditembak oleh bocah SMA di hadapannya?
Mengerjap-ngerjap, Varrel tersenyum gugup lalu mengangguk dan menghasilkan jawaban ambigu di sana. Yang mana harusnya ia menggeleng, menyiprat dan mengibaskan pikiran bodoh dalam kepala.
“Itu angguk-angguk berarti mau kan, artinya?”
“Eng—”
“Abang perlu waktu buat pikir-pikir, atau Abang gak suka sama Ipeh?”
“Anu ... Dek Ipeh, maaf ya, aku—
“Udah punya pacar?”
Varrel menggeleng buru-buru dan itu adalah tindakan yang sangat disesalinya, harusnya dia mengangguk, bukan? Mungkin ini akan berakhir cepat dan Ipeh bisa segera menyingkir dari hadapannya.
“Terus kenapa gak mau jadi pacarnya Ipeh? Karena Ipeh jelek, ya? Ipeh item dekil jerawatan dan gak selevel sama Bang Varrel?”
“Bukan, bukan gitu. Duh, gimana ya jelasinnya? Kalo temenan aja gimana? Temenan dulu gitu, saling mengenal—
“Gak mau.” Ipeh mencebik, tangannya dilipat di depan tubuh, dan ekspresinya menandakan bahwa dalam beberapa detik ke depan ia siap untuk menjerit-jerit di tempat ini, patah hati ditolak oleh Varrel.
“Tega ya, Bang Varrel. Padahal Ipeh nungguin di depan dari tadi dan ... ngomong suka ke orang lain yang pertama kali ditemui itu susah banget tau, terus ditolak lagi. Sakit banget hati Ipeh. Harus gimana sih biar diterima? Ipeh harus gimana? Apa yang harus Ipeh lakuin biar Abang mau jadi pacarnya Ipeh?”
Sebenarnya, gak ada kan yang nyuruh dia nunggu di luar sana pas hujan sedang deras-derasnya, tapi Varrel masih punya hati untuk bilang seperti itu. Apalagi sekarang Ipeh sudah benar-benar memproduksi sungai di kedua pipinya, seperti benar-benar sakit hati dan terluka oleh penolakan yang Varrel lakukan barusan. Kendati demikian, Varrel juga tidak boleh asal bilang iya, kan? Dia belum kenal siapa gadis ini. Bagaimana kalau ini hanya modus penipuan gaya baru? Aduh, tiba-tiba Varrel jadi parno sendiri.
“Ipeh, mau diantar pulang? Udah sore, yuk, kita ngobrol sambil jalan.”
“Gak mau.” Ipeh menggeleng kencang, Varrel khawatir kepalanya lepas dari badan.
“Jadi mau pulang sendiri? Soalnya Abang mau pulang, atau mau nunggu di sini aja? Di ruko ujung sana itu ada yang mati gantung diri sih, katanya.”
Ipeh melotot untuk beberapa detik pertama sebelum dia ingat kalau dirinya sedang dalam mode merajuk dan kembali memasang tampang menyedihkan. “Biarin aja di sini sendirian, setan gak suka sama orang patah hati.”
Varrel mengulum tawa. Oke, anak SMA memang imut, dan Varrel yang sudah lama tidak punya pacar, tidak dekat dengan gadis manapun secara spesial, juga merasa kesepian akhir-akhir ini hingga memutuskan liburan di Jakarta—dan cukup merasa terhibur dengan kehadiran Ipeh beberapa menit belakangan.
“Kata siapa? Setan tuh suka sama yang cengeng dan rapuh jiwanya. Yuk, ngobrol sambil jalan ke depan kan bisa. Kita pendekatan dulu.”
“Gak mau.” Ipeh mencebik untuk kali kedua.
“Jadi maunya gimana?”
“Cuma mau diantar pulang sama pacar,” ujarnya sambil cemberut dan menghindari kontak mata.
“Ya udah, ayo!”
Ipeh mendongak, matanya mengerjap-ngerjap, dia menyeka genangan di sudut-sudut matanya sekaligus mengelap ingus encer yang mengalir dari hidung. “Apanya yang ayo, Bang?”
“Ayo pulang, dianterin sama pacar.”
Ipeh tidak bisa menahan senyumnya, bagaimanapun dia berusaha mencoba, setelah menerima tissue yang Varrel sodorkan, dia menyeka hampir seluruh bagian wajahnya, tiba-tiba mengubah ekspresi dengan full senyum ala boneka barbie dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa sebelum ini.
“Tapi ada syaratnya dulu, boleh?”
“Syarat apa, Bang?” Ipeh bertanya penuh antisipasi.
“Abang kasih Ipeh waktu dua minggu buat saling mengenal dan bikin Abang suka sama Ipeh, gimana?”
Varrel—entah sejak kapan tiba-tiba merasa cerdas dan kepikiran dengan ide barusan.
Dan di luar dugaannya, Ipeh mengangguk dengan dua ratus persen keyakinan yang tercium di udara, disertai senyum yang bertengger ala bintang iklan pasta gigi di televisi.
“Oke,” jawabnya tanpa ragu sedikitpun. “Beri aku waktu dua minggu, akan kubuat Bang Varrel jatuh cinta padaku.”
Itu terdengar seperti lirik lagu yang jadi bagian masa kecil Varrel, lagu yang sering diputar berulang-ulang oleh kakaknya.
Ipeh tersenyum bangga dengan rona keunguan di pipinya, lalu berjalan menuju pintu keluar butik. Tepat seperti dugaan Varrel, bocah banget memang Athifah ini. Dan masih bisa diakali dengan mudah. Cuma dua minggu, dan akan Varrel pastikan Ipeh tidak tahan pada sikapnya sampai dia sendiri yang mundur lalu menyerah.
“Ayo, pacar ... hujannya udah berhenti. Anterin Ipeh pulang.”
****