bc

DIAMANTA [Bahasa Indonesia]

book_age16+
2.2K
IKUTI
36.6K
BACA
family
others
goodgirl
drama
comedy
sweet
Writing Challenge
bxg
like
intro-logo
Uraian

WARNING! Bab pertengahan ke akhir mengandung unsur 18-21+

“Kasih aku waktu dua minggu, akan kubuat Bang Varrel jatuh cinta padaku.”

Berawal dari ucapan konyol itu, hidup Varrel yang dulu tenang tidak lagi sama. Siapa yang menyangka hubungan singkat mereka akan dikotori dengan keperawanan yang tergadai?

Semuanya berbeda saat dia datang, Athifah Dahayu Diamanta. Gadis yang membuat dunianya jungkir balik hingga terseok dan merangkak-rangkak. Awal yang manis seperti hanya ada cupcake dan pelangi tidak berakhir serupa.

Ada apa sebenarnya? Bukankah Diamanta adalah gadis belia yang cantik dan ceria? Kenapa Diamanta membuat hidup Varrel jadi berbeda setelah kehadirannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Gadis itu berdiri tegak lurus mematut diri di depan cermin seukuran tubuh, badannya yang tinggi semampai dibalut gaun dengan bahan tule berwarna baby blue. Berkali-kali dia memutar tubuhnya untuk menilai dan memastikan apakah gaun itu cocok untuknya, atau dia lebih baik memilih gaun dengan warna lain. Menurut penilaian pribadinya, warna biru ini tidak begitu cantik jika berpadu dengan kulitnya yang berwarna madu. Dia justru terlihat lebih kusam dibanding biasanya. “Mau coba yang lain?” Athifah—gadis itu, menoleh ke samping kanan tubuhnya. Mendapati seorang cowok, mungkin lebih tua beberapa tahun, sedang berdiri sambil memegangi hanger-hanger kayu yang menggantung gaun dalam plastik penyimpan. Cowok itu tersenyum ke arahnya, senyum yang sopan ala-ala patung selamat datang, dan sebenarnya juga dia tersenyum pada semua orang. Pada pengunjung lain yang datang ke tempat ini. “Iya.” Athifah menjawab setelah beberapa waktu melamun karena terlalu terkesima pada senyum cowok itu dan juga tatapannya yang teduh. Membuat hatinya yang basah terasa dipayungi. Oke, cukup mari berhenti halusinasi. “Mau coba yang ini?” Dia menyodorkan gaun berwarna putih gading, berbahan satin dengan bagian bahu terbuka dan panjangnya kira-kira selutut. Athifah mengangguk, bersedia untuk mencobanya. Dan begitu masuk ke dalam kamar ganti, dia terheran-heran dengan penampilannya sendiri. Athifah merasa luar biasa, seperti nama belakangnya—Diamanta atau berlian, tepat sekali mendefinisikan dirinya saat ini. Gaun itu membungkus tubuhnya dengan apik, meninggalkan kesan pinggangnya yang terlalu kecil dan sangat indah berpadu dengan kulitnya yang sewarna madu. Warna kulit perempuan kota besar yang hampir punah akhir-akhir ini, karena teman-temannya memilih suntik putih, suntik Vitamin C serta minum banyak jenis colagen. Tanpa pikir panjang, dia memutuskan untuk memilih gaun itu. “Ipeh cantik banget!” Mia berteriak begitu dia keluar dari kamar ganti, dan kalau tidak salah, kalau tidak terlalu gede rasa, Athifah merasa dirinya jadi pusat perhatian detik itu. Mungkin gara-gara teriakan Mia barusan. “Ini lebih bagus daripada tadi. Warnanya cocok.” Athifah mendengar cowok itu ikut berkomentar, dan menyunggingkan senyum. Bukan, bukan jenis senyum sopan selamat datang seperti tadi. Senyumnya ini berarti senyuman bangga, puas dan sekaligus terpesona. “Cie... Ipeh, Abangnya sampe nggak ngedip gitu.” Ayu ikut menimpali kali ini. Cowok tadi terkekeh sopan tapi terlihat tidak menyangkalnya. Dan Athifah melangkah dengan berani, berdiri di depan cermin besar yang tadi—di luar kamar ganti, mematut diri sambil tersenyum bangga. Baru kali ini dia bangga punya wajah yang cantik, biasanya Athifah tidak peduli akan hal itu. Minimal, wajahnya berhasil memikat, kan? Athifah sadar jika dirinya lebih diperhatikan ketimbang teman-temannya yang lain saat mencoba gaun-gaun tadi. Dia dapat giliran terakhir karena datang paling terlambat. Dan dari cermin di hadapannya, dia bisa melihat bayangan seorang wanita muda, duduk di sofa dekat pintu masuk, tengah mencuri tatap ke arahnya, lalu wanita itu menyunggingkan senyum. Dari yang dia ketahui, beliau adalah pemilik butik penyewaan gaun ini, namanya Violeva, Athifah pernah melihat postingan-nya di i********:. “Saya ambil yang ini aja.” Ia memutuskan. Cowok tadi mengulang siklus yang sudah teman-temannya lalui. Mengambil buku catatan, menuliskan kode yang ada di hanger gaun, lalu minta izin untuk memotret. “Pembayaran bisa dengan uang muka minimal lima puluh persen, atau langsung lunas. Gaun bisa diambil H-1 tanggal sewa, sementara sebelum dipakai akan dicuci kering lebih dulu, lalu kembalikan setelah 24 jam dari waktu pengambilan, tidak perlu dicuci sebelum dikembalikan.” Cowok itu tersenyum mengakhiri rentetan kalimatnya, yang sebenarnya sudah Athifah dengar beberapa kali saat mengurus biaya sewa gaun Mia dan Ayu. “Pembayaran bisa cash, debit, saldo dompet elektronik dan juga kartu kredit.” Sementara cowok itu melanjutkan bicaranya, Athifah justru merasa sedang ada salju-salju beterbangan di udara, karena bahunya terbuka dan suhu AC mulai dingin menusuk tulang, bersamaan dengan—sialnya, cowok itu memiliki kulit yang sangat putih, nyaris seputih hamparan salju kalau tidak berlebihan mendeskripsikannya, dan dengan sangat apik membuat imajinasi Athifah terasa begitu nyata. Tidak ada siapa-siapa di sana—rasanya begitu, hanya mereka berdua, dengan ia yang memakai gaun putih gading memesona, sedangkan cowok itu menatapnya tersenyum sambil memegangi seikat bunga, meski pada kenyataannya benda itu adalah pulpen dengan tutup pompom berwarna pink. “Ipeh!” Beruntung suara cempreng Mia menyelamatkannya dari lamunan dan imajinasi absurd barusan. Tapi entah kenapa dia justru kesal karena tidak dibiarkan mengkhayal lebih lama. “Maaf ya Masnya, temen kita ini emang doyan ngelamun. Kayak punya beban masalah rumah tangga yang berat banget hidupnya,” Ayu mendorong-dorong Athifah untuk maju lebih dekat sambil mengangsurkan dompet, tapi tiba-tiba sebuah ide gila terpintas sesaat setelah ia membuka dompetnya, mengeluarkan lima lembar pecahan seratus ribuan, dan berpikir sambil bertindak cepat lalu memutuskan untuk tidak memberikan semuanya. “Kalau tiga kali bayar, boleh?” Tiga lembar uang tergantung di udara, dan cowok tadi dengan ragu-ragu menerimanya, sambil mengulum senyum dan menulis sesuatu di atas nota. Pasti tadi dia sudah melihat Athifah mengeluarkan uang pas tapi memutuskan untuk memasukannya lagi sebagian. “Bayar sisanya pas pengambilan gaun aja.” “Kalau besok dicicil dulu setengahnya, boleh?” “Ipeh, kenapa sih ribet amat?” Dia mengindahkan pertanyaan Mia dan fokus memperhatikan reaksi cowok di hadapannya yang sibuk mengulum tawa. “Kak, katanya si Adek ini mau sewa gaun tapi bayarnya tiga kali nyicil. Sekarang uang muka, besok cicilan pertama dan H-1 sisanya.” “Hm.” Athifah menoleh pada perempuan yang dipanggil Kak, oleh cowok ini. Yang tadi duduk dekat pintu, sibuk dengan ponsel tapi terlihat tidak keberatan pada permintaannya. “Oke,” ujar cowok itu masih dengan kilat geli di matanya. “Masnya nggak mau tahu gitu kenapa saya besok mau datang lagi ke sini buat nyicil pembayaran gaunnya?” Pergerakan di sekitar seolah berhenti karena pertanyaan Athifah barusan, bahkan suara krasak krusuk yang sejak tadi menjadi backsound di tempat ini lenyap dari pendengaran, yang ada hanya degup jantung kurang ajar miliknya seorang. Dia salah makan apa kemarin sampai tidak berpikir panjang untuk melontarkan pertanyaan seperti itu pada orang yang baru ditemuinya satu kali? “Kenapa?” Cowok itu menyimpan tangannya di meja kasir setinggi d**a, matanya menatap Athifah lurus-lurus, senyumnya menyungging tidak lebih dari seperempat ukuran senyuman normal. “Saya pengen ketemu sama Masnya lagi besok, dan besoknya lagi.    

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.4K
bc

23 VS 38

read
305.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Kujaga Takdirku (Bahasa Indonesia)

read
78.2K
bc

Mengikat Mutiara

read
147.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook