Pokoknya Bucin

1433 Kata
“Jadi… nama Abang siapa? Nama panjang maksudnya.” “Varrel Basupati.” Ipeh mendongak dari buku catatan dan pulpen merah yang dia pegang. Ada senyum kecil yang tersungging di bibirnya, dan lesung kecil malu-malu yang juga ikut tampak. Tapi dia memutuskan untuk meneruskan catatan daripada memandangi Varrel terus bersama senyum simpulnya itu. “Pakai V, kan?” “Iya, double R.” Lagi, Ipeh menatapnya sesaat sebelum melanjutkan tulisannya lagi. Tulisan tangan yang cukup rapi dan seolah bernyawa di tiap karakternya. Entah ya, Varrel suka memperhatikan hal-hal seperti ini. Hal kecil yang bagi sebagian orang tidak penting. “Namanya bagus banget, Varrel Basupati, Athifah Dahayu Diamanta. Serasi gitu, Bang. Cocok ini buat nanti ditulis di undangan sama buku nikah.” Varrel butuh jeda beberapa detik sebelum matanya bertatapan dengan Ipeh serta menangkap senyum jenaka yang berbayang di wajah lawan bicaranya, kemudian tergelak.  Anak Jaksel, emang jago gombal, ya? Makanan kesukaan, warna kesukaan, tempat kesukaan, hobi, anak ke berapa, saudara ada berapa, kuliah semester berapa, jurusan apa, dan lain-lain, semua Ipeh tanyakan dan dia dengan rajin menuliskan hal-hal itu di buku kecilnya tadi. Sepertinya mendengar Varrel bukan anak asli Jakarta cukup membuatnya kecewa beberapa saat, Ipeh sempat murung. Tapi tidak berlangsung lama, setelahnya dia mengajak Varrel jalan-jalan dan mereka berakhir duduk di salah satu kafe—masih dalam ruang lingkup perumahan tempat tinggal Ipeh, membeli buku catatan kecil di toko fotokopi terdekat serta puplennya, dan Ipeh mulai menanyakan banyak hal. Seperti barusan. “Bang, Ipeh kan sebentar lagi ujian akhir, terus tamat SMA. Boleh gak kalau kuliah di kampusnya Bang Varrel? Ipeh tuh gak bisa LDR,  bayanginnya aja gak sanggup.” “Apa?” Varrel hampir tersedak. “Ipeh nanti beli apartemen—eh, sewa aja deh, apa beli rumah ya sekalian? Terus, Abang ke kampus bawa apa? Motor atau mobil?” Varrel masih dalam mode mengerutkan alis, tapi dia tetap menjawabnya. “Mobil.” “Oh, oke. Berarti Ipeh gak perlu minta mama beliin mobil buat kuliah.”  Eh, tunggu dulu, ini Ipeh lagi bahas apa coba? “Peh, gak gitu lho. Kita punya dua minggu buat masa percobaan, jangan mikir kejauhan dulu. Ipeh gak boleh mempertaruhkan masa depan buat kuliah jauh-jauh di daerah sedangkan di kota besar gini banyak kampus bagus. Jangan, ya? Ipeh harus lulus ujian negeri dan pilih kampus yang bagus, yang Ipeh suka, jangan karena Abang.” Oke, ini kalimat terpanjangnya mengomeli Ipeh, yang entah kenapa lama-lama terasa seperti adiknya sendiri, berhubung Varrel tidak punya adik perempuan. Dan semakin dikenali, Ipeh semakin menunjukkan sisi polosnya. Varrel kira dia jenis orang yang agresif, mengingat pertemuan mereka yang mengejutkan kemarin, dan Ipeh ngegas minta dipacari. “Ipeh sih kalo bisa gak usah kuliah, Bang.” Dia menjawab setelah lama memutar-mutar sedotan di gelas minumannya yang berperisa stroberi. “Ipeh capek sekolah, capek belajar. Ipeh gak pinter soalnya.” “Terus kenapa pake mau nyusul Abang segala ke Manado?” “Ya biar deket sama Abang. Terus kuliah buat nyari titel, nanti nama Ipeh ada gelarnya, buat keren-kerenan aja di undangan pernikahan.” Varrel tersenyum, dia tidak lagi segan menyembunyikan senyumnya. Toh, Ipeh hampir tidak pernah tersinggung sama sekali dengan gesture yang Varrel tunjukkan kepadanya. “Mikirnya jauh banget, Peh.” “Abang kalo senyum cerah banget, ya. Secerah masa depan kita.” Dia menggelengkan kepala sambil memegangi d**a, di titik itu Varrel tertawa sampai matanya menghilang dimakan kerutan. Kata orang, eye smile namanya. “Dia ketawa, masa depan kita makin cemerlang nih, Bang.” Ipeh menimpali sembari menopang wajahnya dengan kedua tangan. “Bang Varrel belum tahu, ya? Jangankan cuma undangan nikah, Ipeh bahkan udah mikirin kita bakal tinggal di cluster atau apartemen, kita bakal punya anak berapa, sekolahinnya di mana, pilih metode pengasuhan yang gimana. Eh, sebelum itu Ipeh mikirin metode melahirkannya dulu sih, mau normal apa caesaria.” Ini tidak bisa dihindarkan, Varrel tertawa geli sambil memegangi perutnya dan berusaha agar suara tawanya tidak mengganggu pengunjung lain. Sedangkan Ipeh, di hadapannya tersenyum penuh. Matanya berbinar, ada kagum yang berpendar-pendar, seolah sebuah kebanggaan untuknya bisa membuat Varrel tertawa seperti ini. “Abang receh banget sumpah,” ujarnya ikut terkekeh karena tawa Varrel cukup menular. “Kamu lucu sih.” “Begitu doang?” Varrel mengangguk dan perlahan-lahan menghentikan tawanya. “Oke, lanjut ya.” Ipeh kembali membuka buku catatan. “Umurnya Bang Varrel, dua puluh dua, Ipeh sembilan belas. Hm … berarti kita bisa tunangan tahun ….” Dia tidak melanjutkan, Ipeh sibuk menghitung menggunakan jari-jari tangannya tanpa suara. “Sekarang giliran Abang dong, ya?” Varrel menginterupsi. Ipeh menghentikan aksi menghitung dan beralih menatapnya, terlihat menimbang-nimbang sebelum mengangguk. “Oke! Abang boleh tanya apa aja.” “Kenapa kamu suka sama Abang?” Pada pandangan pertama, pada pertemuan pertama, tapi Varrel memilih untuk menyingkat pertanyaannya. “Karena Bang Varrel ganteng.” Athifah menjawabnya semudah itu, terdengar sangat enteng, dan seolah-olah tidak berpikir lebih dulu sebelum mengatakannya. Baginya seakan-akan menyukai Varrel adalah semudah itu, dangkal sekali. Apa Varrel terlihat gampangan? Mungkin karena Ipeh merasa dirinya cantik dan kaya, dipuja-puji tiap kali dia mengambil napas, jadi pikirnya dia bisa mendaptkan Varrel dengan mudah? Begitu? “Cuma karena itu?” Ipeh memanyunkan bibirnya beberapa detik, berusaha memaksakan mimik wajah yang seakan berpikir keras, lalu mengangguk. Begitu saja. “Kamu serius?” Varrel memastikan sekali lagi, dan dia hanya mendapatkan anggukan yang sama. “Peh, tahu gak kalo hal-hal yang berhubungan dengan fisik dan penampilan seseorang bisa berubah kapan aja? Entah itu karena sakit atau karena tua. Gak bakal awet, yang kedua—jadi tua, itu udah mutlak. Abang gak akan selamanya kayak gini.” “Gak apa-apa, Bang. Ayo kita menua bersama.” Sa ae dah ini bocah. Varrel tersenyum kecil sebelum melanjutkan. “Cowok ganteng di dunia ini banyak, Ipeh. Berlimpah ruah, dan kamu masih anak SMA yang udah mikirin undangan nikah segala. Gimana kalo nanti ketemu yang lebih ganteng dari Abang? Bakal ditembak lagi di pertemuan pertama? Diajak pacaran lagi? Apa kali itu langsung diajak nikah?” Ipeh menggeleng cepat, membuang jauh-jauh kemungkinan yang dijabarkan Varrel barusan. “Enggaklah, cowok paling ganteng itu Bang Varrel, Ipeh gak peduli sama yang lainnya. Buat Ipeh, satu-satunya cowok itu Bang Varrel doang, yang lainnya bagong.” Dan di tengah perbincangan semi serius jenis itu pun, Varrel berhasil dibuat tertawa sampai terbahak-bahak, wajahnya memerah, Ipeh bisa banget membuatnya seperti ini. “Bisa banget ya kamu ngegombalnya. Kalo semua cowok selain Abang bagong, terus papa kamu gak termasuk pengecualian?” “Ipeh gak ngegombal.” Dia mengoreksi cepat dengan ekspresi dan tatapan polos di wajahnya. “Abang lagi ngerasa digombalin, emang?” Varrel mengangguk. “Iya.” “Dan … Papa, yeah Papa pengecualian, Papa bukan bagong.” Varrel tertawa geli. “Ipeh gak bisa gombal lho padahal, pacaran aja baru sama Abang.” Kenapa sih makin ke sini Ipeh alias Athifah semakin menggemaskan? Dia sepolos itu dan entah kenapa Varrel percaya saja saat Ipeh mengaku belum pernah berpacaran sebelumnya. Dia bisa melihat tingkah amatir gadis itu. “Ipeh, dengerin Abang. Kamu gak boleh ya kayak gitu lagi sama orang yang baru kamu temui sekali. Ngajak ke rumah, ngajak ke luar kayak sekarang ini. Zaman sekarang orang jahat banyak, gimana kalau ternyata Abang ini niat ngerampok setelah liat rumah kamu? Niat c***l pas bawa kamu jalan-jalan?” Ipeh menatapnya sambil mengerutkan alis. “Ipeh gak akan kayak gitu ke orang kalo orangnya bukan Bang Varrel.” “Iya, maksud Abang kan gimana kalo ternyata Bang Varrel ini bukan orang baik?” Dia menggeleng lagi, masih dengan kerutan di dahinya. “Gak mungkin sih, Ipeh tau kalo Abang itu orang baik. Kalo bukan Abang yang waktu itu di butik, bantu pilihin Ipeh gaun, Ipeh gak akan langsung suka dan ngajak pacaran, kok. Berhubung ini Bang Varrel jadi— “Kamu udah pernah kenal Abang sebelumnya, emang?” “Belum,” jawabnya polos. “Tapi Ipeh tahu kalo Abang orang baik. Cinta pada pandangan pertama, bukannya emang selalu berawal dari feeling-feeling baik ya, Bang?” Varrel tertegun mendengar ucapannya, entah kenapa itu familier dan rasanya juga seperti ditampol tepat di atas kepala. Ingatannya terpental jauh ke beberapa tahun yang lalu, saat Varrel masih remaja dan pikirannya agak mirip dengan Ipeh sekarang. Dia tidak tahu Ipeh jujur atau tidak saat ini, tapi Varrel sempat berpikir kalau mungkin Ipeh adalah seorang pasien dengan penyakit berat stadium akhir. Orang-orang seperti itu, bukankah cenderung bebas melakukan segalanya? Segala hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Mungkin Ipeh tidak ingin mengakui hal itu kepadanya. Mungkin juga ini adalah kesempatan terakhirnya. Dan mulai detik itu juga, rencananya berubah. Varrel berjanji akan memberikan dua minggu yang berharga untuk Athifah, berbeda dengan niatnya semula.           ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN