Perjodohan
Disebuh rumah besar nan asri, seseorang berjalan dengan langkah tegap memasuki ruang tamu, dia adalah Kapten Infanteri Bimantara Hadi Jaya. Baru saja ia menyelesaikan seluruh berkas administrasi dan persiapan logistik pasukannya yang akan berangkat tugas operasi beberapa minggu lagi. Namun, panggilan mendadak dari sang Ayah, seorang Jenderal bintang dua di jajaran TNI AD memaksanya memutar arah kendaraan ke rumah keluarga besar di area Pendopo.
Di ruang tamu bertirai tebal, sang Ayah duduk berdampingan dengan Ibunya. Wajah sang Ayah tampak berwibawa tapi menyimpan kecemasan mendalam.
"Duduk, Bima," ujar sang Ayah, memecah keheningan.
Bimantara menarik kursi kayu berukir itu lalu duduk tegap. "Siap, Ayah. Ada hal mendesak apa sampai Bima dipanggil ke rumah Kakek?"
Ibunya meraih tangan Bima, menyentuhnya lembut. "Kondisi Kakek menurun lagi sejak kemarin malam, Nakk. Dokter pribadi bilang, daya tahan tubuhnya makin melemah."
Bimantara menatap pintu kamar Kakek yang tertutup rapat. "Bisa Bima tengok Kakek sekarang?"
"Nanti," potong Ayahnya tenang tapi tegas. "Ada hal penting yang harus kita putuskan bersama sebelum kamu berangkat satgas. Ayah dan Ibu ingin kamu segera menikah sebelum kamu berangkat."
Bimantara tertegun, matanya menatap sang Ayah dengan tidak percaya. "Izin Ayah, menikah? Bima akan berangkat memimpin pasukan satgas kurang dari satu bulan lagi. Waktu keberangkatan dan durasi tugasnya belum bisa ditentukan secara pasti. Bagaimana mungkin Bima menikah di saat fokus Bima harus penuh untuk keselamatan batalyon?"
"Justru karena itu, Bima," potong sang Ayah tajam. "Kakekmu punya satu harapan besar yang belum terwujud. Beliau ingin melihat cucu pertamanya bersanding dipelaminan. Beliau sendiri yang meminta ini ke Ayah."
"Tapi tidak dengan terburu-buru seperti ini, Ayah, Ibu," sanggah Bima, suaranya naik satu nada namun tetap dalam koridor hormat. "Menikah itu bukan sekadar formalitas di atas kertas. Bima bahkan belum punya calon, belum menyiapkan apa pun untuk menikah."
Sang Ibu menatap mata anaknya penuh permohonan. "Soal calon, kamu tidak perlu khawatir Nak. Ini amanah tua, dulu kakekmu dan sahabat lamanya pernah berjanji untuk menyatukan keluarga kita. Gadis itu bernama Nadira. Ibu mohon Bima, wujudkan keinginan Kakek, ini mungkin permintaan terakhir yang bisa kita kabulkan untuk Beliau."
Bimantara menghela napas panjang, menatap langit-langit ruang tamu. Hatinya bergejolak antara profesionalisme sebagai prajurit komando dan baktinya sebagai cucu tertua. Bayangan wajah Kakek yang kerap mengelus kepalanya sewaktu kecil berkelebat di ingatannya.
"Baik," sahut Bimantara akhirnya dengan suara berat. "Bima setuju tapi ada syaratnya."
"Katakan," sahut Ayahnya.
"Bima tidak mau dibebani urusan administrasi atau persiapan apa pun karena seluruh fokus Bima sampai hari H adalah kesiapan satgas. Kalau Ayah dan Ibu sanggup mengurus semuanya tanpa mengganggu dinas Bima, Bima pasrah untuk menikah."
Sang Ayah mengangguk tegas. "Urusan administrasi dan birokrasi, serahkan pada Ayah."
Sementara disebuah rumah sakit besar yang terkenal, suara ketukan pantofel seseorang bergema pelan di koridor lantai atas Rumah Sakit Kusuma Medika. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan jadwal shift-nya baru saja usai. Namun, pesan singkat dari sang Papi, seorang dokter bedah senior sekaligus pemilik rumah sakit ini memaksanya menunda niat untuk segera pulang dan beristirahat.
Ia mengetuk pintu kayu jati bertuliskan Dr. Aris Kusuma, Sp.B, Sp.BTKV.
"Masuk, Nadira," suara berat dari dalam menyahut.
Nadira mendorong pintu lalu melangkah masuk. Papinya sedang duduk di balik meja kerja yang dipenuhi berkas medis, melonggarkan dasi yang membelit lehernya.
"Papi memanggil Nadira? Ada kasus darurat?" tanya Nadira sembari mendudukkan diri di kursi seberang meja.
Dr. Aris meletakkan pulpennya, menghela napas panjang, lalu menatap putri tunggalnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Bukan masalah rumah sakit. Ini tentang kamu, Nadira."
"Tentang Nadira? Ada apa?" Dahi Nadira berkerut halus.
"Minggu ini, seorang perwira tentara bernama Bimantara akan datang ke rumah kita," ucap Aris tenang, tapi setiap katanya terasa menekan udara di ruangan itu. "Dia datang untuk melamarmu."
Nadira tertawa kecil, mengira sang Papi sedang melempar gurauan segar di penghujung hari yang melelahkan. Namun, tatapan lurus dan serius dari papinya membuat tawa itu terhenti seketika.
"Papi lagi bercanda, kan?"
"Papi sama sekali tidak bercanda, Nadira. Ini amanah almarhum Opamu. Sebelum meninggal, Opa membuat janji dengan sahabat karibnya untuk menjodohkan cucu mereka. Dan sekarang, pihak keluarga Bimantara menagih janji itu."
Keheningan melingkupi ruangan selama beberapa detik sebelum Nadira akhirnya bersuara, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas.
"Nadira menolak, Pi. Ini zaman apa? Nadira bahkan nggak mengenal siapa itu Bimantara, belum pernah ketemu sekali pun! Lagipula Nadira masih mau fokus dengan karier di sini, Nadira belum ada pikiran untuk menikah."
Dr. Aris melepaskan kacamata bacanya dan menyandarkan tubuhnya. Tatapannya melembut, penuh rasa pengertian seorang ayah.
"Papi paham perasaanmu, Nak. Papi tahu ini terdengar mendadak dan tidak adil buat kamu tapi kamu tahu betul bagaimana pegangan hidup Opa. Bagi beliau, janji adalah kehormatan yang tidak boleh diingkari, bahkan setelah beliau tiada."
"Tapi yang mau menjalani hidup ini Nadira, Pi, bukan Opa," potong Nadira pelan, suaranya mulai bergetar menahan gejolak emosi.
"Papi tahu," jawab Aris lembut. "Papi tidak akan memaksa kalau orang ini tidak jelas. Papi sudah mencari tahu tentang Bimantara dan keluarganya. Dia pria yang bertanggung jawab, disiplin, dan menghormati keluarganya. Papi yakin dia bisa menjagamu setulus Papi menjagamu."
Aris menggenggam jemari putrinya yang dingin di atas meja. "Beri kesempatan, Nadira. Bukan cuma untuk Bimantara, tapi untuk menghormati ikatan yang sudah dibangun almarhum Opamu."
Nadira menatap mata papinya. Ia bisa melihat rasa bersalah sekaligus harapan yang besar di sana. Sepanjang hidupnya, sang Papi tak pernah menuntut apa pun darinya, selalu mendukung setiap keputusan kariernya hingga ia menjadi dokter seperti sekarang.
Membuat sang Papi kecewa dan melanggar janji keluarga adalah hal terakhir yang ingin Nadira lakukan.
Nadira menarik napas panjang, mencoba mengurai sesak di dadanya, lalu menghembuskannya perlahan.
"Kalau ini memang janji Opa yang nggak bisa dibatalkan..." Nadira jeda sejenak, mengumpulkan sisa keberaniannya. "Baik, Nadira akan terima lamarannya tapi Nadira cuma menuruti keinginan Papi dan Opa, bukan karena hal lain."
Dr. Aris tersenyum lega, mengusap lembut kepala putrinya. "Terima kasih, Nak. Papi percaya, kamu tidak akan menyesali keputusan ini."
Nadira hanya mengangguk tipis, meski di dalam hatinya, sebuah tanda tanya besar tentang sosok Bimantara mulai membayangi pikirannya.
Singkat cerita proses lamaran terjadi secara kilat dan tertutup. Untuk pertama kalinya, Bimantara bertatap muka dengan calon istrinya dikediaman orang tua Nadira. Wanita itu bertubuh jenjang dengan tatapan mata yang tenang.
Namanya Nadira, tidak ada perbincangan intim malam itu, mereka hanya saling melempar pandangan canggung di tengah obrolan hangat kedua pihak keluarga. Bimantara sama sekali tidak sempat mencari tahu latar belakang atau seluk-beluk kehidupan Nadira.
***
Dua minggu kemudian, berkat pengaruh dan posisi sang Ayah sebagai petinggi TNI AD, seluruh proses pengajuan administrasi hingga sidang pernikahan kantor Bimantara dilancarkan tanpa hambatan apapun.
Pagi itu, di aula dinas yang serba militer, Pengajuan Pernikahan Kantor berjalan khidmat. Bimantara mengenakan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) lengkap dengan atribut kepangkatannya, sementara Nadira tampak anggun berbalut pakaian seragam organisasi istri prajurit yang rapi. Mereka menandatangani lembaran negara tanpa kata-kata romantis, disaksikan langsung oleh jajaran komandan dan petinggi kantor Bimantara.
Selepas prosesi resmi di kantor, acara dilanjutkan dengan akad nikah sederhana di rumah orang tua Bimantara. Tidak ada pesta meriah atau dekorasi megah. Hanya ada deretan kursi kayu, penghulu, keluarga inti, serta beberapa jenderal rekan sejawat Ayahnya yang hadir memberikan doa restu.
Di sudut ruang tamu setelah ijab kabul diucapkan dan para tamu mulai berpamitan, Bimantara menghampiri Nadira yang sedang berdiri di dekat jendela, memperhatikan dedaunan yang diterpa angin sore.
"Hmmm." Bimantara berdehem.
Nadira memutar tubuhnya, menatap pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Bimantara bersedekap, menatap lurus mata wanita di hadapannya. "Saya rasa kita perlu bicara dan menyamakan persepsi sebelum situasi ini berjalan lebih jauh."
"Soal apa?" tanya Nadira tenang.
"Soal status kita," jawab Bimantara dingin. "Pernikahan ini terjadi karena situasi darurat dan amanah dari kakek kita berdua. Kamu tahu persis saya harus berangkat satgas besok, dengan waktu tugas yang tidak bisa ditentukan."
Nadira mengangguk perlahan. "Saya mengerti."
"Saya ingin kita sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini dari publik dan rekan kerja saya." lanjut Bimantara tegas. "Karier profesional tidak boleh terganggu, begitu juga dengan fokus saya di lapangan. Di luar keluarga inti, tidak ada yang perlu tahu status kita sampai saya kembali dari penugasan. Bagaimana?"
Nadira menatap Bimantara sejenak, mengamati ketegasan di wajah pria berambut papras itu. Bibirnya membentuk garis tipis yang sukar diartikan.
"Saya setuju, terserah Kapten saja," jawab Nadira pelan tapi mantap. "Tugasku hanya menjaga amanah ini. Kamu fokus saja pada keselamatan pasukanmu di daerah operasi. Soal Kakek dan rumah, kamu tidak perlu khawatir."
Bimantara menatap istrinya dengan rasa heran yang ditahannya rapat-rapat. Tidak ada tuntutan, tidak ada tangisan, atau penyesalan dari wanita yang baru saja dia persunting itu.