Bocah yang mungil, berdiri dengan tegap, wajah kecilnya yang tampan itu entah mengapa, kelihatan sangat familiar. Sepasang mata yang jernih memancarkan kewaspadaan dan kecerdikan, saat ini, bocah itu juga sedang menatap Immanuel yang ada di balik layar. "Siapa dia?" Hendry menunjuk ke arah Immanuel yang ada di balik layar. "Beliau adalah bos kami." Johanes mengubah cara bicaranya, "Dik, minggu lalu, apakah kamu bertemu dengan seorang pria yang mengenakan pakaian hitam di pusat bermain anak-anak yang ada di pusat perbelanjaan? Apakah pria itu menyerahkan kotak kecil yang berwarna perak padamu? Benda itu seperti ini..." Johanes membuka layar ponselnya dan saat hendak memperlihatkan foto itu pada Hendry. "Tidak ada!" Hendry memalingkan wajah, sama sekali tidak melihatnya.

