Dinding di Antara Dunia: Pertemuan Fatal di Hutan Bayangan dan Penolakan Brutal Sang Alpha Terbuang.
Bab 1: Dinding di Antara Dunia
I. Desa Naif dan Beban Bulan Purnama
Desa Willow Creek adalah nama yang sempurna untuk tempat di mana aku tumbuh. Semua terbuat dari kayu, dikelilingi oleh sungai kecil yang tenang dan ditutupi oleh kabut pagi yang lembut. Di sana, aku, Elara, hanyalah seorang yatim piatu berusia sembilan belas tahun yang mencari nafkah dari pekerjaan yang paling jujur dan paling melelahkan: mencuci pakaian. Di mata para penduduk, aku adalah gadis yang rajin, pendiam, dan, mungkin, sedikit terlalu polos untuk dunia yang kami tinggali.
Willow Creek adalah tempat yang aman, ya. Aman karena kami naif. Kami hidup dengan berpura-pura bahwa kegelapan yang selalu kami hindari, Hutan Bayangan, tidak benar-benar ada. Hutan itu membentang seperti dinding hitam di batas utara desa, memancarkan kedinginan dan bisikan-bisikan liar yang tak pernah kami bicarakan setelah matahari terbenam.
Aku tinggal bersama Bibi May, seorang wanita tua baik hati yang mengajariku cara mencuci noda paling membandel sekalipun. Hari itu, hari yang terasa sangat panjang, aku memiliki tumpukan cucian terakhir untuk diantarkan, milik keluarga Harper, yang rumahnya terletak paling pinggir, hampir menyentuh batas Hutan Bayangan.
"Cepat, Elara. Malam ini Bulan akan segera naik," bisik Bibi May, suaranya dipenuhi nada ketakutan yang kuno.
Aku mengangguk, mengikat bungkusan cucian itu erat-erat. Aku bisa merasakan tekanan dari langit. Bulan purnama selalu terasa berat, membuat udara dipenuhi ketegangan yang asing, seolah-olah seluruh alam menahan napas. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dadaku. Malam ini, tekanan itu terasa dua kali lipat.
Saat aku bergegas di jalan setapak kecil yang mulai menghilang di bawah rindangnya pohon-pohon yang lebih tua, aku mencoba bernyanyi pelan, memaksa keberanian untuk mengalahkan ketakutan. Aku hanya berjarak beberapa langkah dari rumah Harper.
Tiba-tiba, suara tawa serakah dan derap sepatu bot serta kuda memotong ketenangan. Mereka bukan dari desa. Mereka datang dari arah hutan. Mereka adalah Pemburu b***k—geng pria berjubah kulit dengan mata serakah, wajah yang dicat kotor, dan aura yang bau seperti kotoran dan minuman keras. Mereka mencari 'barang langka' untuk pasar gelap, dan desas-desus mengatakan, mereka bahkan tidak takut berhadapan dengan Lycan.
Jantungku mencelos. Aku tahu, aku tidak boleh berlari. Berlari hanya akan mempercepat pengejaran mereka.
Aku menjatuhkan bungkusan cucianku, berharap mereka akan mengambil kain-kain mahal itu dan meninggalkanku.
"Gadis desa sendirian. Kau datang tepat waktu, Manis," seru pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan janggut gimbal, seringai kotor di wajahnya.
"Aku... aku hanya mengantar cucian," bisikku, mundur perlahan.
Mereka tertawa, suara tawa yang hampa, tanpa kegembiraan, hanya rasa puas predator. Mereka terlalu cepat. Tangan kasar mencengkeram lenganku. Aku menjerit. Air mata membasahi pipiku saat aku diseret menjauh dari satu-satunya duniaku yang aman, semakin dalam ke dalam Hutan Bayangan, melanggar batas yang selalu kuingat.
"Jangan lari, Luna Darah Murni!" teriak pria itu.
Julukan itu! Luna Darah Murni. Julukan aneh yang sama sekali tak kumengerti, tetapi itu adalah julukan yang sering kudengar dalam bisikan-bisikan ketakutan Bibi May. Sebelum aku bisa memprosesnya, cairan tajam dengan bau herbal dan alkohol membekap indraku. Dunia berputar, dan semuanya menjadi hitam.
II. Gerobak Menuju Teritori Lycan
Aku terbangun di dalam gerobak yang bergoncang. Ikatan tali memar di pergelangan tanganku. Udara dingin menusuk, dan aku mencium bau yang mengerikan: lumpur, darah kering, dan bau apek binatang liar yang aneh.
Mataku beradaptasi dengan kegelapan. Aku dikelilingi oleh tawanan lain: seorang wanita muda, mungkin baru belasan tahun, yang menangis tersedu-sedu, dan seorang pria paruh baya yang terikat, menatap ke depan dengan mata hampa.
"Kita sudah jauh di Hutan Bayangan," bisik seorang wanita di sebelahku, suaranya parau karena ketakutan yang terus-menerus. "Pemburu ini tidak bodoh. Mereka tahu Lycan tidak akan mengejar mangsa mereka sampai di jantung hutan. Ini adalah teritori Lycan."
"Lycan?" bisikku. Aku hanya pernah mendengar mereka dalam cerita horor pengantar tidur.
"Ya. Mereka adalah Pack, penguasa hutan ini. Tetapi ada yang lebih buruk," lanjut wanita itu, mengertakkan gigi. "Kita semakin dekat dengan Teritori Selatan. Itu adalah wilayah yang dikuasai oleh Alpha Terbuang."
Pria paruh baya itu tiba-tiba berbicara, suaranya kering seperti daun mati. "Alpha Terbuang. Kael Lycander. Dia adalah monster. Bukan hanya di antara manusia, tetapi bahkan di antara jenisnya sendiri. Dia telah kehilangan segalanya, dan yang tersisa hanyalah dendam yang haus darah. Jika dia yang menemukan kita, lebih baik kita mati di tangan Pemburu Budak."
Ketakutan murni menyelimutiku. Kael Lycander. Nama itu terasa seperti belati dingin yang menembus ke dalam tulang.
Gerobak terus berderak di atas akar pohon dan batu tajam, bergerak lebih dalam ke dalam malam. Tiba-tiba, gerobak berdecit keras, berhenti mendadak. Udara malam yang tadinya sepi, kini diisi oleh auman yang dalam, brutal, dan mendominasi.
Auman itu merobek malam, jauh lebih kuat dan lebih primitif daripada yang pernah kubayangkan. Itu bukan auman binatang buas biasa, melainkan suara penuh amarah, otoritas, dan kekuasaan yang absolut.
"Sialan, itu pasti Alpha Terbuang!" teriak pemimpin pemburu di depan. "Cepat! Amankan barang-barang!"
Lalu, kehancuran terjadi.
Suara dentuman keras, diikuti oleh suara pertempuran yang brutal—daging robek, taring, dan jeritan manusia yang berubah menjadi sunyi. Pertempuran itu berlangsung singkat, cepat, dan sangat mematikan. Udara dipenuhi bau besi darah segar dan bau musky yang kuat yang membuat hidungku perih. Itu adalah bau Lycan yang marah.
Gerobak terbalik. Aku terlempar ke tanah yang basah dan dingin, tepat di tengah genangan darah dan sisa-sisa pertempuran yang mengerikan. Aku melihat siluet Pemburu b***k, kini tidak bergerak, tubuh mereka tercabik-cabik oleh kekuatan yang tak terbayangkan.
Aku merangkak mundur, mencari perlindungan di balik semak tebal. Aku gemetar bukan hanya karena kedinginan, tetapi karena kesadaran bahwa aku sekarang berada di hadapan monster yang jauh lebih buruk daripada para penculikku.
III. Aura Dominasi
Tiba-tiba, aura dingin, berat, dan absolut menyelimutiku, memadamkan semua suara lain, termasuk detak jantungku sendiri. Itu adalah rasa kehadiran yang begitu kuat sehingga terasa seperti dinding tak kasat mata yang menjepit paru-paruku.
Seorang pria, tinggi, tegap, dan berotot, berdiri di tengah kekacauan. Ia mengenakan jubah hitam compang-camping dengan tudung. Dia jelas bukan manusia biasa. Postur tubuhnya adalah perwujudan kekuatan yang terkendali, dan setiap otot tampak kaku dengan amarah yang mendidih. Di belakangnya, berdiri diam seekor serigala besar dengan bulu sehitam malam dan mata kuning membara, seperti dua bara api neraka.
Dia adalah makhluk predator, memancarkan d******i Aura yang membuatku tak bisa bernapas. Dia berjalan perlahan melewati mayat-mayat Pemburu b***k, sepatu botnya yang tebal berlumuran darah.
Dia adalah Kael Lycander, Alpha Terbuang. Aku tahu itu. Semua ketakutan di hutan ini hanya memiliki satu nama.
Langkah kaki beratnya berhenti tepat di depanku. Aku tidak berani mendongak, tetapi aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya, panas yang anehnya bercampur dengan dinginnya hutan. Tudungnya terangkat sedikit.
Matanya! Cahaya kuning keemasan gelap yang menyiksa, penuh kemarahan yang mendalam dan dendam yang tak terucapkan. Dia menatapku seolah aku adalah debu, sisa-sisa yang menjijikkan dari sampah yang baru saja dia bersihkan.
Dia mengulurkan tangan kasarnya, siap untuk menyingkirkanku, mungkin membunuhku karena aku melihatnya, karena aku adalah bagian dari kekacauan yang dia benci.
IV. Ikatan Suci dan Penolakan Brutal
Namun, saat kulitnya yang kasar dan hangat menyentuh kulitku yang dingin, Kael seketika membeku.
Udara menjadi sunyi, bahkan auman Serigala di belakangnya terdiam. Ekspresi dinginnya retak. Matanya yang keemasan yang tadinya penuh kebencian, kini dipenuhi kebingungan, kejutan, dan kengerian yang brutal.
Ikatan suci itu menghantam kami berdua.
Itu bukan sentuhan fisik biasa. Itu adalah gelombang kejut energi yang kuat, seperti petir yang melanda jiwa. Itu mengirimkan resonansi yang kuat hingga ke tulangku, mengisi kehampaan yang selalu kurasakan sebagai yatim piatu. Rasanya seperti sepotong diriku yang hilang kini telah ditemukan, dan potongan itu adalah api yang liar, gelap, dan sangat kuat.
Kael menarik napas panjang, hidungnya bergetar saat menghirup bauku. Bau bunga liar, kayu manis, dan... sesuatu yang murni. Matanya melebar penuh kebencian dan kejut yang brutal.
Melalui ikatan yang baru terbentuk, aku merasakan gelombang emosionalnya: dendam yang dingin, rasa sakit dari pengkhianatan yang mendalam, dan yang paling parah, pengakuan yang tidak diinginkan.
"Tidak mungkin," desisnya, suaranya serak dan dalam, dipenuhi penolakan yang brutal, sebuah sumpah yang diucapkan kepada semesta. "Kau... Mate-ku?"
"Kau manusia. Kau rapuh. Kau adalah kelemahan," Kael meludah, kata-katanya setajam belati yang menusuk langsung ke jiwaku. "Aku kehilangan segalanya karena takdir. Ayahku, kekuasaanku, Pack yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan takdir keji ini menghancurkanku lagi dengan mengirimkan Mate yang tidak berguna, tidak berarti."
Ia mengangkatku paksa, menjebakku dalam pelukan yang bukan perlindungan, melainkan penguasaan yang dingin. Tubuhku yang kecil terasa remuk di hadapan kekuatan brutalnya.
Aku menatap mata kuningnya. Tidak ada cinta. Tidak ada koneksi. Hanya kebencian dan perhitungan gelap.
"Kau akan ikut denganku," perintah Kael, suaranya dingin dan mutlak. "Kau tidak akan menjadi Luna-ku. Kau akan menjadi tawanan, alat, umpan. Aku akan memastikan kau tetap hidup, hanya untuk membuat saudara tiriku menderita. Dan kau tidak akan pernah lari. Jika kau mencoba, aku akan mematahkan lehermu sebelum kau berhasil melangkah satu meter pun."
Dia berjalan, menyeretku keluar dari situs pertempuran yang berlumuran darah, menuju kegelapan yang lebih dalam di Hutan Bayangan. Di tengah malam itu, aku menyadari satu hal: Dinding antara duniaku dan dunia werewolf telah runtuh. Dan di sisi baru itu, aku hanya memiliki satu takdir: menjadi beban bagi Alpha yang membenciku.