Bab 167 -

2015 Kata

“Maafkan aku.” “Kata maafmu ti–“ Aruna menjeda ucapannya saat menyadari ucapan Ronald. “Tunggu dulu, apa Kakek barusan meminta maaf padaku?” tanyanya memastikan. Ronald berdecak. “Sepertinya telingamu itu sudah tersumbat oleh uang yang Jayden berikan, sehingga tidak berfungsi dengan baik saat ini,” ucap Ronald. Waw! Aruna merasa jika dirinya seperti mendapatkan sebuah permata ditumpukkan jerami, ia tak salah dengar, Ronald memang meminta maaf padanya barusan. Aruna menghela napasnya, “Ya sudahlah, kalau memang gengsi mengulangi kata maaf itu, tidak apa-apa, aku menerima kata maaf darimu, Kek. Namun, beri aku satu alasan kenapa Kakek selalu bersikap seperti itu padaku?” “Karena kamu adalah wanita yang bodoh!” “Kakek tua sialan,” maki Aruna dalam hati. “Sebaiknya Kakek masuk saja. A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN