Aruna memicingkan matanya mendengar pertanyaan Ronald yang sebenarnya tepat sasaran. Hanya saja, Aruna harus bisa menahan ekspresi terkejutnya. “Apa maksud Kakek?” tanya Aruna setenang mungkin, agar Ronald tidak curiga. “Jangan pura-pura bodoh, Aruna.” “Aku memang bodoh kan, Kek?” Aruna berucap seraya tersenyum tipis. “Lagi pula kapan aku terlihat pintar di depan Kakek?” Aruna melanjutkan ucapannya. Ronald berdecak mendengar ucapan Aruna yang terdengar seperti menyindir baginya. “Kurang ajar sekali kamu. Berani sekali kamu membantah setiap ucapanku!” Ronald sedikit meninggikan suaranya. “Jangan marah-marah, Kek. Ingat usia dan kesehatan, Mama tidak ada di sini, jika Kakek kenapa-napa,” Aruna semakin berani mengatakan hal itu. Entah mengapa ia ingin sekali melawan atau membantah setiap

