Jayden masih terpaku menatap tangannya yang memerah. Ia masih tidak percaya jika tangannya sudah ia gunakan untuk menampar Aruna. Sekelebat bayangan Aruna saat menatapnya dengan tatapan mata tajam seraya memegangi pipi, membuatnya merasa bersalah. Ia melihatnya, sorot mata gadis itu hancur. Tatapan penuh luka itu masih terbayang. Jayden tak mengerti kenapa dengan dirinya. Ia tak ada bedanya dengan Areng, melakukan tindakan kejam bahkan luka lebam di pipi Aruna karena perbuatan Areng masih terlihat jelas dan masih begitu sakit, tapi yang dia lakukan malahan memperparah luka itu dan memberinya luka yang baru. Tubuh Jayden membeku, ia berdiri lama dengan pikiran yang betul-betul kosong. Butuh waktu untuk dirinya tersadar,“Aruna!” Jayden memekik dan mencoba menyusul Aruna ke bawah. Dengan

