“Astaga!”
Pekik seorang Wanita parubaya yang memakai asfron begitu melihat keadaan gadis muda yang kini selain kakinya dirantai namun juga tangannya diborgol. Herna tidak akan susah untuk menebak siapa pelakunya dibalik ini, jika bukan sang pemilik kamar, Rega. Herna menghampiri Kinan yang hanya diam menenangkan dirinya, ia sudah Lelah untuk menangis karena air matanya yang jatuh sama sekali tidak dapat membantu apapun.
Herna pun menoleh kesana kemari, mencarinya di setiap kotak penyimpanan yang terletak di rumah Rega namun tidak ada kunci borgol. Herna sangat yakin jika Rega membawa kunci tersebut karena mungkin lelaki itu mengetahui bahwa beberapa orang di rumahnya akan menolong gadis di hadapannya ini.
“Kinan! Ada apa?” Tanya Herna mendekati Kinan yang tampak tak ada usaha untuk sekedar melepaskan diri.
“Tidak apa-apa Bi Herna, ini memang kesalahanku karena Rega tersinggung mungkin.” Ucap Kinan menyadari kesalahan yang telah ia lakukan sehingga membuat lelaki itu menghukumnya.
“Kinan jangan menyinggung soal keluarga Rega! Itu sangat sensitive untuk Rega.” Ucap Herna memperingatkan Kinan untuk berhati-hati dalam berucap.
Kinan hanya mengangguk, memahami sekarang sebab Rega sangat marah besar kepadanya. Lelaki itu sangat sensitive mengenai hidupnya.
“Bi Herna, aku hanya ingin bekerja juga disini! sama seperti kalian!” Ucap Kinan mencurahkan keinginannya kepada Bi Herna berharap mungkin Wanita parubaya itu dapat membantunya.
Bukankah keinginannya begitu sederhana, menurut Kinan dalam keinginanya yang justru akan diuntungkan adalah Rega bukan dirinya. Ah tidak, setidaknya jika Kinan dizinkan menjadi pembantu di rumah ini akan membuat Kinan terbebas tidak seperti anjing yang dikurung oleh pemiliknya.
Apakah Kinan milik Rega? Tentu saja tidak, namun laki-laki itu bertingkah terlalu obsesif sampai bersikap seolah Kinan adalah sebuah benda yang tidak boleh dimiliki dan disentuh oleh orang lain, entah ada apa sebenarnya dengan lelaki itu.
“Bi Herna tahu perusahaanmu! Tapi kamu harus tahu banyak pelayan yang menginginkan posisimu sekarang.” Gumam Bi Herna membuat Kinan terperangah dengan wajah penuh keterkejutannya.
“Apa mereka gila? Mereka ingin diposisiku sekarang?” Tanya Kinan mengulangi ucapan Bi Herna dengan wajah tertawa hambar.
Bi Herna hanya mengangguk, memastikan bahwa dirinya tidak salah berucap. Banyak yang penasaran paras gadis yang disandera di kamar Rega sampai dapat mengubah Rega melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh lelaki itu sebelumnya.
“Perlakuan seperti anjing ini yang diimpikan mereka? Apa mereka sedang bergurau?” Tanya Kinan sekali lagi dengan tawa hambarnya.
Dia tidak sedang menertawakan impian para pelayan yang tergila-gila dengan Rega, melainkan menertawakan nasib hidupnya yang harus mengalami berbagai keadaan yang menguji ketegaran hatinya, berbagai siklus terus berputar di hidupnya tanpa membiarkan untuk istirahat dan menghirup udara segar sejenak.
“Memang kamu istimewa Kinan!” Ucap Bi Herna dengan senyumannya membuat Kinan menatapnya dengan tatapan tidak percaya, ia benar-benar menatap dalam mata Bi Herna guna menemukan bahwa Wanita dihadapannya itu hanya sekedar berucap tanpa mengetahui dampak dalam benak Kinan.
“Rega tidak segan membuang sanderanya di jalan bahkan ada yang dibunuh disini!” Ucap Bi Herna mengingat satu persatu yang dijadikan Rega untuk sandera, kemudian akan meminta tebusan kepada para keluarga korban.
“Sebenarnya mengapa mereka melakukan itu?” Tanya Kinan membuat Bi Herna menggeleng lemah.
Wanita itu memang hidup lama dengan Rega hingga ia hafal dan tahu apa saja yang ada pada Rega kecuali tujuan Rega menyandera para korban. Padahal sebenarnya lelaki itu tidak kekurangan harta sampai harus meminta tebusan kepada para keluarga yang ia culik salah satu anggota keluarganya.
“Aku ingin segera keluar dari sini Bi! Aku ingin menjalani hidupku sebelumnya.” Ucap Kinan dengan air mata yang entah dibiarkan mengalir membasahi kedua pipinya dari sudut matanya. Kinan tidak berusaha menyekanya, tangannya terlalu Lelah dengan kedua pergelangan tangan yang masih terborgol membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
“Rasanya mustahil!” Gumam Bi Herna mengetahui keinginan Kinan mengapa bersiekras untuk membebaskan diri.
“Kenapa? Bukankah Bi Herna bilang Rega akan membuang sanderanya Ketika ia mulai bosan?” Tanya Kinan membuat Bi Herna mengangguk bahwa Kinan tidak salah dengar dengan ucapannya.
“Iya benar Kinan, tapi tidak mudah! Melihat perlakuan Rega padamu itu jauh berbeda dengan para sandera sebelumnya.” Ucap Bi Herna kembali pada memorinya terdahulu, ia masih ingat tanpa ada satu momen pun yang ia lupakan dari sana.
“Apa yang berbeda astaga Bi Herna, aku benar-benar merasa seperti anjing disini!” Ucap Kinan membantah ucapan Bi Herna dan asumsinya tentang betapa istimewanya seorang Kinan di mata Rega.
“Okeylah! Setidaknya lelaki iblis itu masih membiarkan aku hidup dan bernafas lama.” Ucap Kinan menghibur diri pada Bi Herna yang gelagapan beranjak berdiri begitu melihat mobil Rega yang sudah kembali.
“Kinan, Bi Herna ke dapur dulu ya!” ucap Bi Herna yang langsung dibalas anggukan.
Kinan pun tidak mencoba menghentikkan ia sudah mengetahui apa yang membuat Bi Herna beranjak berdiri meninggalkan dirinya, pasti lelaki iblis itu sudah kembali. Sama yang Sam lakukan, lelaki itu akan terburu-buru untuk menciptakan jarak diantara dirinya dengan Kinan bila Rega tiba-tiba muncul.
Kinan menatap keluar jendela, menatap lelaki yang gagah dan dengan angkuhnya melangkah meninggalkan Sam yang masih harus memarkirkan mobil sport mewah milik Rega. Tak perlu menunggu lama, Rega masuk ke dalam kamarnya tidak pernah lupa dengan makanan yang sengaja ia bawa berpura-pura seolah ia sedang menyantapnya padahal ia sengaja membawanya untuk Kinan.
Semuanya dilakukannya tanpa menyadari bahwa sikapnya berubah dan perlahan lembut kepada Kinan meski tidak terlalu terlihat namun lelaki itu tidak menampik bahwa dirinya sendiri menyadari perubahan pada dirinya sendiri.
“Apakah itu pudding?” Tanya Kinan masih memberanikan diri untuk mengajak bicara pada lelaki yang duduk di tepi tempat tidur.
Rega menoleh menatap datar Kinan, dalam hatinya berfikir keras bagaimana bisa Kinan bersikap biasa kepadanya seolah tadi pagi hubungan mereka baik-baik saja. Padahal di pagi hari Kinan sudah mendapatkan perlakuan kasar dari Rega.
“Aaaahhh… pudding s**u!” Pekik Kinan begitu Rega mengeluarkan cup berukuran sedang dan menyodorkannya pada Kinan.
Kinan takut, tentu saja. Namun satu-satunya cara menunjukkan kepada Rega dirinya baik-baik saja adalah dengan berpura-pura polos layaknya anak bodoh yang melupakan kejadian menyakitkan dengan mudahnya.
“Bisa kamu menyuapiku?” Tanya Kinan dengan senyumannya yang langsung dibalas tatapan Rega yang mematikkan.
“Kenapa? Tanganku seperti ini aku tidak dapat mengambilnya!” Ucap Kinan dengan nada manja membuat Rega melirik tangan yang masih terborgol itu.
“Apa sebelumnya kamu pernah menyandera beberapa orang sebelumnya?” Tanya Kinan begitu satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Rega tidak mengeluarkan sepatah kata pun kecuali sebuah anggukan.
“Lalu dimana mereka sekarang?”
TBC