bc

MAN IN THE MOONLIGHT

book_age18+
822
IKUTI
4.3K
BACA
revenge
forced
arrogant
goodgirl
drama
bxg
city
shy
like
intro-logo
Uraian

Kinandya Ayu dan Rega Adrian yang dipertemukan dalam situasi yang tidak tepat, Kinan yang menjadi peliharaan Rega dikurung di rumah megah bak seorang tawanan dan Rega yang mengurung Kinan karena sebuah alasan.

Bodohnya, Kinan jatuh cinta pada seorang Rega, bos mafia yang terkenal keji namun juga mempunyai kisah tragis di masa lalunya. Sampai akhirnya, mereka saling bergantung. Kinan yang menjadikan Rega sebagai tameng untuk melindunginya dari ayah tirinya dan Rega yang menjadikan Kinan sebagai penawarnya dari mimpi-mimpi buruknya.

Hidup Rega yang dikelilingi dengan musuh dimana-mana, bisa saja Rega mati kapan saja. Hal itu menjadikan Rega ragu untuk membalas perasaan cinta Kinan kepadanya. Ia tidak menampik untuk tidak jatuh cinta pada perempuan yang menjadi candunya. Ia memilih melepas Kinan sampai semuanya membaik tidak peduli Kinan salah paham akan hal itu.

Akankah Rega bisa melepas Kinan dan yakin semuanya akan ia tuntaskan dulu baru akan memulai dari nol menjalin hubungan seperti manusia pada umumnya. Dan mungkinkah Kinan akan setia menunggunya ?karena ia mulai berfikir hubungannya dengan Rega hanya sebatas majikan dan peliharaan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Langit dan Bumi
Hatimu begitu hangat, yang diselimuti tembok es yang dingin. tapi aku bisa merasakannya begitu kamu memelukku disetiap malam *** Cuaca sedang tidak mendukung untuk beraktivitas, jalanan yang berlubang terisi air di setiap lubangnya. Air yang berasal dari tangisan langit karena bumi semakin tua. Musim hujan sedang melanda negara yang beriklim tropis, tapi nampaknya tidak menghalangi untuk tetap berangkat kerja seperti biasa.   Seperti seorang perempuan yang berumur duapuluh empat tahun sedang membersihkan halaman di depan swalayan tempatnya bekerja. Perempuan yang masih muda, memiliki rambut sepanjang bahu turun sedikit kira-kira satu hasta. Bajunya yang dibalut dengan asfron berwarna biru navy bertuliskan nama swalayan itu.   “Kinan!” Panggil seseorang dari dalam membuat perempuan yang rupanya bernama Kinan menoleh dan segera mempercepat acara menyapunya. Ia segera mencuci tangannya dan segera masuk ke dalam swalayan di sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh karyawan swalayan itu sendiri.   “Iya? Ada apa mbak?” Tanya Kinan menghampiri seniornya yang sedang memegang sebuah nota gudang.   “Oh, minta tolong buang sampah itu ya!” Ucapnya ramah, Kinan tersenyum kemudian mengambil kantong sampah yang rupanya sudah dibereskan dan gadis itu hanya tinggal membuangnya.   Begitu membuang kantong sampah yang ia tenteng di kanan kiri tangannya, tiba-tiba tangannya menengadah saat dirasa ada setetes air yang membasahi pipinya. Gadis yang memakai name tag bertuliskan Kinandya Ayu itu memastikan apakah memang benar-benar sedang hujan.   Ia menghela nafas pendek, lagi-lagi ia harus pulang melewati jalanan yang banyak kubangan air. Selain itu ia harus membayar pajak jalan setiap malam demi keselematan hidupnya agar tetap masih bernyawa sampai rumahnya.   “Oh iya, Kinan nanti kamu bisa bareng aku pulangnya!” Ucap Reno, seorang laki-laki berambut sedikit keriting yang diikat begitu rapi di belakang.   “Nggak dulu deh Ren!” Tolak Kinan seperti biasa diiringi senyuman tulus membuat Reno tak kuasa untuk memaksa Kinan untuk ikut dengannya.   Reno menyimpan rasa pada Kinan, sudah lama Reno mulai tertarik pada perempuan lugu itu semenjak Kinan masuk kerja di hari pertamanya dibimbing oleh Reno yang berperan sebagai seniornya.   Reno selalu berusaha mendekati Kinan, menjadi seseorang yang selalu ada di setiap gadis itu membutuhkan. Hanya saja Kinan selalu sebisa mungkin menghindarinya, entah mengapa saat ini gadis itu hanya terfokus pada hidupnya yang menurutnya benar-benar butuh tenaga. Reno pun juga tidak menyerah setiap harinya ia terus menawari Kinan untuk pulang bersamanya, lagi dan lagi Kinan menolaknya secara halus.   Dalam hidupnya bahkan setiap malam yang dipikirkan Kinan hanyalah kapan semesta benar-benar memihaknya untuk benar-benar hidup dalam perannya tidak dibayangkan dengan saudara tirinya bahkan ayah tirinya yang terus mengayuhkan hidup Kinan sebagai alat kehidupan bagi mereka.   Seolah-olah Kinan tidak hidup sebagai jati diri dirinya, Kinan tak mempunyai mimpi besar dan harapan agar mempunyai pasangan meski Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Yang diinginkan gadis itu hanya kebebasan!   “Apa ada laki-laki lain Nan?” Tanya Vina perempuan yang tadi meminta tolong pada Kinan untuk membuang sampah diluar.   “Ngomong apa sih Vin!” Bisik Kinan sambil mencubit lengan Vina agar sahabatnya itu berhenti menanyakan hal-hal aneh kepadanya.   “Lagian kak Reno kurang apasih? Dia baik, mapan juga!” Ucap Vina mencoba membuka mata Kinan agar sedikit saja melirik Reno yang sudah sekian lama menganggumi gadis itu, gadis itu tahu hanya pura-pura tidak mengetahuinya saja.   “Udah ah! Vina rewel!” Ucap Kinan pura-pura marah dan bergegas masuk ke dalam kedai untuk melayani beberapa pengunjung swalayan yang mulai ramai di jam-jam pulang kerja seperti ini.   “Ih Kinan, Vina ditinggal!” Rengek Vina kemudian bergegas pergi menyusul Kinan, rupanya ia sedikit canggung karena membahas Reno yang rupanya hanya mengulum senyum tersenyum padanya.   Kinan dan Vina merupakan pegawai termuda wajah bila keduanya sering sebagai bahan candaan seniornya, setiap keduanya berada di tempat yang sama selalu saja ada momen lucu yang tertinggal. Kinan dan Vina bukan teman dari bangku sekolah, keduanya hanya dipertemukan sebagai pegawai baru kala itu mengakibatkan mau tidak mau keduanya menjadi dekat karena pekerjaan yang sama.   Vina dan Kinan adalah kasir di swalayan, mereka adalah satu patner, terkadang Vina yang menghitung dan Kinan yang memasukkan barang belanjaan yang sudah dihitung, begitu sebaliknya saling bergantian.   “Kinan kamu gantiin aku sebentar ya ! aku mau ke kamar mandi.” Ucap Vina berbisik pada Kinan dan ia segera bergegas berjalan menuju kamar mandi khusus karyawan yang terletak di dalam ruangan yang tidak bisa dijangkau oleh pengunjung swalayan. Kinan pun dengan singgap segera menggantikan posisi Vina dan melayani pengunjung yang akan membayar seorang diri.   Kinan menghitung totalan belanja wanita tua yang berada di hadapannya yang menurutnya cukup banyak sampai satu trolli penuh ditambah dengan keranjang kecil. Wanita tua itu melihat tangan Kinan yang dengan lincah menghitung barang belanjaannya itu, bahkan Kinan tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.   “Semuanya berapa nak?” Tanya wanita tua itu begitu barang terakhir belanjaannya dimasukkan ke dalam tas belanjannya.   “Semuanya delapan ratus sembilan puluh lima ribu Nyonya!” Jawab Kinan dengan senyum.   Wanita tua itu perlahan mengeluarkan beberapa lembar uang, ia terus menggorek dompetnya sampai ke dalamnya. Wanita tua itu tersenyum canggung pada Kinan yang masih setia menunggunya. Kinan pun mulai berspekulasi bahwa wanita tua itu kekurangan uang.   “Nyonya!” Panggil Kinan pada wanita tua yang sedikit terkejut begitu Kinan memanggilnya.   “Uang saya kurang empat puluh nak.” Ucap wanita tua itu menahan malu pada Kinan. “Kemarikan uangmu terlebih dahulu!” Ucap Kinan pada wanita tua itu dengan senyum ramahnya berusaha membuat wanita tua itu nyaman saja dengan situasi ini.   Wanita tua itu menyodorkan uangnya yang berjumlah kurang dari total belanjaannya pada Kinan, Kinan pun dengan santai merogoh kantongnya dan menambahkan selembar limapuluh ribu membuat wanita tua itu tercengang memandang Kinan seperti menahan malu tapi ingin berterimakasih juga.   “Terimakasih! Aku akan menggantinya besok!” Ucap wanita tua itu pada Kinan begitu lirih kemudian bergegas pergi dan Kinan hanya mengangguk dengan senyum.   “Lama nggak?” Celetuk Vina dari belakang Kinan yang hanya dibalas Kinan dengan mengangkat dua bahunya membuat Vina langsung memanyunkan bibirnya.   “Ih! Kinan cuman bentar doang di kamar mandi kok!” Ucap Vina tidak terima dengan Kinan yang mengiyakan jika ia lama di kamar mandi.   “Iya, iya lagian kamu udah tahu jawabannya ngapain nanya sih!” Ucap Kinan ketus dengan wajah jutek khasnya pada Vina yang hanya cengengesan, Vina sudah hafal Kinan yang tetap sabar menghadapi sahabatnya yang ternyata sangat bar-bar dan tidak bisa diam.   Kinan selalu bersikap jutek pada orang yang sudah kenal dengannya dan sedikit canggung pada orang yang tidak dekat dengannya apalagi baru dikenalnya ia selalu bersikap lembut bersikap menghargai siapapun itu.   *** Sang rembulan menemani seorang perempuan yang baru saja measuki pagar rumahnya. Dengan wajah lesunya ia meletakkan asal sepatunya di rak sepatu. Rambutnya sudah berantakan diombang ambing karena tertiup angin. Rutinitasnya setiap hari seperti ini, begitu monoton. Liburnya hanya sehari tetapi ia gunakan sebaik mungkin untuk pekerjaan rumahnya. Menjadi satu-satunya punggung keluarga meski sang kepala keluarga sebenarnya masih ada.   Baru saja memasuki ruangan utama sudah disambut dengan lampu yang tiba-tiba saja menyala. Menampakkan seseorang yang tengah duduk di ruangan itu tampak memandangnya dengan remeh, rupanya bayi besar di rumahnya tengah kelaparan. Perempuan itu hanya memandang malas saudara tirinya. Kemudian memberikan sesuatu yang terbungkus kantong plastic berwarna hitam itu.   Kemudian perempuan itu segera membuka bungkusan itu, memandangnya malas rupanya tidak sesuai dengan harapannya rupanya. Ia langsung menempelkan punggungnya ke kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a memandang kakak tirinya sinis.   “Masa cuman ini doing sih?” Tanya perempuan yang berambut berwarna sedikit cokelat itu mengikuti langkah kaki perempuan menuju dapur.   “Toko lagi sepi Da! Ya kalua mau adanya itu nggak ada ya loe cari sendiri.” Ucap Kinan meneguk air putih membasahi kerongkongannya yang mulai mongering karena setiap malam harus berlari sekencang mungkin guna menghindari mafia yang selalu meminta bagian dari uang yang dibawa Kinan membuatnya harus memutar kembali rencananya.   “Gue cuman nanya kenapa akhir-akhir ini yang elo bawa sepele banget sih!” Ucap Hilda, adik tiri Kinan yang tidak pernah bisa menerima pemberian kakaknya.   Lebih tepatnya tidak tahu diri. Sudah menumpang, menjadi benalu dalam keluarga Kinan semuanya menjadi berubah setelah ibunya meninggal, ayah dan adik tirinya itu semakin menjadi tidak tahu diri. Pada siapa seharusnya mereka mengabdi bukan justru menjadi benalu dalam hidup Kinan.   Bahkan dalam titik terlelahnya, Kinan berharap ia menghilang sejenak. Agar kedua insan itu sedikit saja tahu diri dengan siapa sebenarnya yang menjadi penerangan dalam hidup mereka.   “Setiap malam, harus membayar mafia agar selamat dengan nyawa yang masih hidup.” Ucap Kinan ketus kepada Hilda yang sama sekali tidak bisa memaklumi.   “Alasan! Lo mana ada mafia jaman moden kayak gini.” Bantah Hilda, menurutnya kata mafia hanya sebagai alasan kakak tirinya, ia yakin Kinan mulai berani menyimpan uangnya diam-diam tanpa diketahui Ayah dan dirinya.   “Makanya elo kerja! Biar elo tahu apa yang sebenarnya terjadi. Biar elo juga tahu mafia itu benar-benar ada atau nggak!” Tindas Kinan kesal bukan main.   “Gue lupa! Nggak ada orang yang mau memperkerjakan manusia sejenis elo!” Ucap Kinan bengis kemudian berjalan cepat masuk ke dalam kamar meninggalkan Hilda yang membelalakkan matanya terkejut dengan ucapan Kinan kepadanya benar-benar diluar dugaannya.   “Awas aja ya lo!” Ucap Hilda memicingkan matanya menatap kepergian Kinan. Selalu kata mengancam sebagai akhir dari pertikaian mereka padahal tidak akan terjadi hal apapun. Hilda hanya berani berdiri dengan banteng ayahnya di depannya, tanpa ayahnya ia tidak berani berkutik barang hanya dengan Kinan sekalipun.   *** Malam yang terabaikan, suasana di rumah besar yang berada di tengah hutan belantara itu sama sekali tidak membuat beberapa orang merasakan perbedaannya. Bila sang mentari muncul pun akan tetap sama, tembok yang menjulang tinggi mengelilingi sang rumah yang berlantai dua itu membuatnya menjadi wilayah tersendiri.   Meski rumah itu jauh dari rumah yang lainnya, tapi penghuninya sangat banyak disana. Semuanya adalah orang-orang yang bekerja dibawah sang empunya rumah besar tersebut. Pemiliknya masih muda, tetapi uangnya berhamburan. Entah bagaimana ia mendapatkannya. Semua orang tahu, pekerjaannya adalah pergi ke kota setiap malam.   Rutinitas sehari-harinya begitu dihafalkan para karyawannya, pergi malam pulang dini hari terkadang membawa perempuan sebayanya dan akan dipulangkan kembali oleh karyawannya. Pakaiannya selalu bau rokok terkadang juga minuman keras.   Rega Adrian, sang mafia di gang kecil kota. Tak banyak yang tahu wajahnya karena ia selalu memakai topi untuk menutupi paras tampannya. Ayah dan ibunya meninggal, sebab pekerjaan kakeknya ia menjadi penerus utama. Neneknya masih hidup, tetapi Rega sama sekali tidak berniat tinggal bersama karena neneknya sangat menentang pekerjaan Rega.   Terkadang untuk membayangkan saja, Rega tertawa konyol mengapa neneknya hanya menentang pekerjaan Rega yang jelas diturunkan kakeknya kepadanya. Mengapa tidak menentang sejak dulu.   “Tuan! Apa kamu ingin makan sesuatu hari ini?” Tanya seorang karyawan dirumahnya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.   “Tidak ada, silahkan Bi Herna masak apa pasti akan aku makan.” Ucap Rega tersenyum kemudian kembali memandang pemandangan luar dari dalam ruangannya. Tidak ada yang special hanya kegelapan yang sedikit sirna karena remang-remang oleh cahaya sang rembulan.   Bi Herna, satu-satunya karyawan yang berani memarahi Rega apalagi jika perilaku lelaki itu sedikit keterlaluan, Rega pun akan menurutinya karena Bi Herna lah yang mengasuhnya sejak kecil ketika ayah dan ibunya pergi bekerja.   Teringat sebab ayah dan ibunya tidak ada adalah mimpi buruk bagi Rega yang tidak pernah ingin ia ingat. Selalu setiap malam mengusik tidurnya, ia tidak bisa tidur dengan lelap karena bayangan itu selalu muncul.   “Bi Herna baru dari kota?” Tanya Rega pada Bi Herna yang rupanya masih berdiri di belakangnya.   “Iya, dan uang yang Bi Herna bawa kurang.” Ucap Bi Herna dengan senyuman terkekeh mengingat bagaimana ia sedikit sembrono karena tidak mengecek terlebih dahulu dompetnya.   “Lalu?” Tanya Rega dengan alis yang bertaut menunggu jawaban Bi Herna.   “Kasir disana yang memijamkan uang. Mungkin kalau Bi Herna belanja lagi, Bibi akan membayarnya suatu hari.” Ucap Bi Herna tersenyum mengingat wajah perempuan yang masih muda itu begitu anggun menurutnya.   “Masih adakah orang seperti itu?” Tanya Rega bergumam meski sangat lirih namun Bi Herna dapat mendengarnya dengan jelas.   “Masih! Kamu dan perempuan itu salah satunya.” Jawab Bi Herna kemudian melangkah pergi keluar ruangan.   Rega menggeleng mendengar ucapan Bi Herna, tidak! Dia bukan salah satu orang yang baik. Pekerjaannya begitu kejam dan sikapnya begitu arogan. Satu-satunya karyawan yang menilainya sama seperti manusia pada umumnya adalah Bi Herna. Karyawan yang lainnya akan tunduk takut kepadanya tetapi selalu berdesis bahwa bosnya, Rega adalah siluman iblis tak mempunyai hati.   *** Gerimis lagi-lagi melanda kota, membuat Kinan menghela nafas panjang karena sudah berberes untuk pulang dari pekerjaan yang cukup melelahkan hari ini ditambah waktu pulangnya justru diguyur gerimis.   “Nan! Yakin nggak mau bareng aku?” Tawar Reno yang langsung mendapatkan gelengan dari Kinan.   Rupanya lelaki itu tidak pernah bosan untuk menawarkan tumpangan pada Kinan, perempuan itupun juga tidak pernah bosan menolak kebaikan Reno dengan senyumannya.   “Ya udah aku duluan ya!” Ucap Reno menyalakan motornya dan menerobos gerimis yang membasahi jalanan secara perlahan.   Sebenarnya jika Kinan berkenan, ini akan menguntungkan dan menghemat waktu untuk sampai rumah lebih awal dibandingkan ia harus berjalan kaki. Belum lagi, sesuatu di jalan selalu menghentikan langkahnya.   Hilda : Aku nitip buah nanti kalau kamu pulang!   Kinan membaca pesan singkat yang masuk di ponselnya, ia sudah hafal dengan isi pesan itu tanpa ia membacanya dengan penuh. Adik tirinya selalu menitip sesuatu yang bisa dimakan, ah tidak rupanya ia menjadikan kakak tirinya sebagai pembantu sekaligus bank berjalan untuk keluarganya. Ia tidak pernah menganggap Kinan sebagai salah satu keluarganya, ia selalu menegaskan bahwa ia hanya tinggal dengan ayahnya.   “Tuh Gerimis nyeselkan nggak pulang sama mas Reno!” Cibir Vina dari belakang pada Kinan yang sejak tadi berdiri diambang pintu dalam keraguan apakah gerimisnya tidak terlalu membuatnya basah kuyup.   “Ah tauk ah! Mau pulang dulu ya Vin!” Ucap Kinan kemudian berlari menerobos hujan yang tidak terlalu deras itu. Arah jalan pulang Reno dan Vina satu arah sedangkan Kinan berbeda sendiri, Kinan harus melewati sebuah toko-toko di jalanan kota yang telah lama kosong tidak ada penghuni.   Vina yang melihat Kinan sudah menghilang dibalik gedung tinggi menjulang iapun ikut menenteng tasnya dan pulang. Kinan sedikit cemas, setiap melewati lorong ia selalu menemukan seorang lelaki tengah berdiri disana dalam kegelapan wajahnya tak nampak. Hanya sebuah bayangan dari cahaya bulan yang menyinarinya.   Kinan menghela nafas, dengan kemunculan laki-laki misterius itu menandakan bahwa ia akan bertemu beberapa mafia jalanan di ujung jalan dimana sudah sepi tidak ada orang yang melaluinya. Laki-laki itu tampak menoleh pada Kinan, tapi Kinan masabodoh karena selama ini hanya bayangan hitam yang ia lihat. Ia tidak mau mencari gara-gara dengan orang yang tampak penuh dengan teka-teki itu.   Kinan mempercepat langkahnya begitu dirasa jalanan tampak sepi, lampu jalan perlahan redup semakin menambah suasana menyeramkan di sekitarnya. Kinan menghentikan langkahnya begitu menyadari diujung jalan sudah berkumpul para mafia yang biasa menghadang pengguna jalan. Kinan menggigit bibirnya, ia ragu haruskah ia mengikuti keinginannya yang terlihat aneh menurut pandangannya. Haruskah kali ini ia mencoba untuk meminta tolong pada lelaki misterius yang wajahnya tertutup dengan topi hitam itu, yang hanya terlihat bayangan dari pantulan cahaya sang rembulan. Kinan masih setia berdiri memandang para mafia yang membuatnya benar-benar ingin membangun jalan pulang baru tanpa melintasi para mafia yang hanya bisa menambah beban hidupnya, pekerjaan yang membuatnya letih dan harus menerima pukulan dari ayah tirinya karena uang yang harus ia berikan kepada ayah tirinya justrunya harus ia berikan kepada para mafia demi keselamatan hidupnya.   “Hei! Cepat kemarilah! Kami tidak akan menyakitimu!” Teriak salah satu mafia dari kejauhan membuat Kinan tersentak dari lamunannya.   Rupanya mereka menyadari kedatangan Kinan dan Kinan yang berdiri di bawah lampu jalan yang cahayanya semakin redup, Kinan semakin takut bukan kepalang begitu bayangan salah satu mafia itu berjalan menghampirinya. Kinan memundurkan langkahnya pelan.   “Kali ini kamu harus lari Kinan!” Gumam Kinan memejamkan matanya pada dirinya sendiri.   Seandainya ia membawa uang lebih mungkin saja ia akan tetap santai dan memberikan uangnya kepada para mafia itu hanya saja. Ah sudahlah!   Kinan memantapkan hatinya, ia perlahan membalikkan badannya dan mulai berlari menghindari sang mafia yang rupanya juga berlari begitu melihat Kinan berbalik badan. Kinan lari tunggang langgang, ia benar-benar merasa kalang kabut. Fikirannya langsung tertuju pada lelaki misterius.   Dengan nafas tersengal-sengal, Kinan sudah berdiri tepat di depan lelaki misterius yang kini tertegun dengan kedatangan Kinan secara tiba-tiba membuatnya terkejut. Kinan membungkuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan, ia mendongak pandangan mereka bertemu. Kinan menyadari sorot mata lelaki dihadapannya begitu tajam, hitam pekat, gelap dan astmosfer disekitarnya tampak mencekam.   “Tolong aku!” Pinta Kinan menatap mata yang menatapnya tajam bak seekor elang itu.   “Aku mohon!” Ucap Kinan menyentuh tangan lelaki itu yang berada di saku jaket hitamnya.   Lelaki itu diam memandang mata Kinan yang penuh dengan keputus asaan, tampak memohon dengan sangat agar ia menolongnya. Apalagi Kinan tampak tidak takut sama sekali berani menyentuh tangannya dengan mata yang berkaca-kaca, seperti hilang halauan.   Lelaki itu tetap diam tak bergeming perlahan tangan Kinan menjauh dari tangan lelaki dingin itu, Kinan menggigit bibir bawahnya begitu mengetahui lelaki itu tidak mau merespon dirinya.   “Bos! Dia tawanan kita!” Celetuk seseorang dari belakang Kinan membuat Kinan langsung menoleh dan terkejut bukan kepalang mengetahui sosok dibelakangnya adalah orang yang mengejarnya tadi.   “Bos?” Pekik Kinan dengan nada terkejut memandang sang mafia dan lelaki misterius yang masih setia memandangnya dengan tatapan tajamnya. bak terjebak di kandang harimau, dan sang korban meminta bantuan pada sang predator. apa ini? fikiran Kinan benar-benar sampai disitu.    Kinan tampak putus asa, niat hati ingin lari dari masalah justru sekarang ia sendiri yang memasukkan dirinya ke dalam kandang macan, menjadikan dirinya sebagai umpan untuk sang penghuni. Lelaki itu sejak tadi memperhatikan raut wajah Kinan yang tampak putus asa, tersenyum getir meratapi nasibnya. Sejak tadi pandangan lelaki itu tidak lepas dari Kinan.   Kinan menunduk penuh dengan gelisah, ia sudah berada diujung tanduknya. Mengapa ia harus mengikuti hatinya untuk meminta pertolongan pada lelaki yang rupanya merupakan bos besar dari mafia itu sendiri. Lelaki itu memberi isyarat kepada sang anak buah untuk melakukan tindakan yang ia perintahkan.   Bukannya langsung melakukan, sang anak buah justru tampak memandang lelaki itu dengan tatapan tidak percaya, begitu tatapan membunuh dilemparkan kepadanya. Ia segera melakukannnya, Kinan masih sibuk menunduk menyusun rencana bagaimana ia bisa keluar dari marabahaya ini.   Buggg…   TBC

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
20.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.4K
bc

TERNODA

read
203.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook