hatinya lembut tak sedingin wajah tampannya- Kinan
***
Kinan menghela nafas, dengan kemunculan laki-laki misterius itu menandakan bahwa ia akan bertemu beberapa mafia jalanan di ujung jalan dimana sudah sepi tidak ada orang yang melaluinya. Laki-laki itu tampak menoleh pada Kinan, tapi Kinan masabodoh karena selama ini hanya bayangan hitam yang ia lihat. Ia tidak mau mencari gara-gara dengan orang yang tampak penuh dengan teka-teki itu.
Kinan mempercepat langkahnya begitu dirasa jalanan tampak sepi, lampu jalan perlahan redup semakin menambah suasana menyeramkan di sekitarnya. Kinan menghentikan langkahnya begitu menyadari diujung jalan sudah berkumpul para mafia yang biasa menghadang pengguna jalan. Kinan menggigit bibirnya, ia ragu haruskah ia mengikuti keinginannya yang terlihat aneh menurut pandangannya.
Haruskah kali ini ia mencoba untuk meminta tolong pada lelaki misterius yang wajahnya tertutup dengan topi hitam itu, yang hanya terlihat bayangan dari pantulan cahaya sang rembulan. Kinan masih setia berdiri memandang para mafia yang membuatnya benar-benar ingin membangun jalan pulang baru tanpa melintasi para mafia yang hanya bisa menambah beban hidupnya, pekerjaan yang membuatnya letih dan harus menerima pukulan dari ayah tirinya karena uang yang harus ia berikan kepada ayah tirinya justrunya harus ia berikan kepada para mafia demi keselamatan hidupnya.
Rupanya mereka menyadari kedatangan Kinan dan Kinan yang berdiri di bawah lampu jalan yang cahayanya semakin redup, Kinan semakin takut bukan kepalang begitu bayangan salah satu mafia itu berjalan menghampirinya. Kinan memundurkan langkahnya pelan.
Kinan memantapkan hatinya, ia perlahan membalikkan badannya dan mulai berlari menghindari sang mafia yang rupanya juga berlari begitu melihat Kinan berbalik badan. Kinan lari tunggang langgang, ia benar-benar merasa kalang kabut. Fikirannya langsung tertuju pada lelaki misterius. Lelaki yang tetap berada di posisinya dengan pose tubuh yang tetap tenang melihat Kinan yang menghampirinya dengan lari.
Dengan nafas tersengal-sengal, Kinan sudah berdiri tepat di depan lelaki misterius yang kini tertegun dengan kedatangan Kinan secara tiba-tiba membuatnya terkejut. Kinan membungkuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan, ia mendongak pandangan mereka bertemu. Kinan menyadari sorot mata lelaki dihadapannya begitu tajam, hitam pekat, gelap dan astmosfer disekitarnya tampak mencekam.
“Tolong aku!” Pinta Kinan menatap mata yang menatapnya tajam bak seekor elang itu.
“Aku mohon!” Ucap Kinan menyentuh tangan lelaki itu yang berada di saku jaket hitamnya.
Lelaki itu diam memandang mata Kinan yang penuh dengan keputus asaan, tampak memohon dengan sangat agar ia menolongnya. Apalagi Kinan tampak tidak takut sama sekali berani menyentuh tangannya dengan mata yang berkaca-kaca, seperti hilang halauan.
Lelaki itu tetap diam tak bergeming perlahan tangan Kinan menjauh dari tangan lelaki dingin itu, Kinan menggigit bibir bawahnya begitu mengetahui lelaki itu tidak mau merespon dirinya.
“Bos! Dia tawanan kita!” Celetuk seseorang dari belakang Kinan membuat Kinan langsung menoleh dan terkejut bukan kepalang mengetahui sosok dibelakangnya adalah orang yang mengejarnya tadi.
“Bos?” Pekik Kinan dengan nada terkejut memandang sang mafia dan lelaki misterius yang masih setia memandangnya dengan tatapan tajamnya. Kinan dengan mata penuh harap melepaskan tangan sang bos mafia. Tampak jelas matanya kecewa.
Kinan tampak putus asa, niat hati ingin lari dari masalah justru sekarang ia sendiri yang memasukkan dirinya ke dalam kandang macan, menjadikan dirinya sebagai umpan untuk sang penghuni. Lelaki itu sejak tadi memperhatikan raut wajah Kinan yang tampak putus asa, tersenyum getir meratapi nasibnya. Sejak tadi pandangan lelaki itu tidak lepas dari Kinan.
Kinan menunduk penuh dengan gelisah, ia sudah berada diujung tanduknya. Mengapa ia harus mengikuti hatinya untuk meminta pertolongan pada lelaki yang rupanya merupakan bos besar dari mafia itu sendiri. Lelaki itu memberi isyarat kepada sang anak buah untuk melakukan tindakan yang ia perintahkan.
Bukannya langsung melakukan, sang anak buah justru tampak memandang lelaki itu dengan tatapan tidak percaya, begitu tatapan membunuh dilemparkan kepadanya. Ia segera melakukannnya, Kinan masih sibuk menunduk menyusun rencana bagaimana ia bisa keluar dari marabahaya ini.
Buggg…
Sang anak buah mafia itu memukul pelan tengkuk Kinan membuat perempuan itu tidak sadar diri. Bos itu berjalan lebih dulu dan sang anak buah menggendong Kinan mengikuti bosnya dari belakang. Sang bawahan diam-diam mencuri lirikan pada wajah Kinan yang terpejam, ia masih bingung mengapa bosnya menyuruh membawa perempuan yang menurutnya jauh dari tipe perempuan yang disukai.
“Tawanan mana tuh?” Celetuk mafia yang berada di samping mobil membuat sang rekan melirik tajam untuk diam, ia memberi isyarat bahwa yang sedang ia bawa bukan mangsa untuk mereka tapi untuk bosnya sendiri.
Rekannya sama terkejutnya seperti dirinya perlahan lari membukakan pintu untuk bosnya dan Kinan dimasukkan di mobil bagian belakang sendiri. Sang anak buah pun melirik sang bos yang tampak diam dan melamun, tidak seperti biasanya.
“Ikat tangan dan kakinya!” Titah bosnya, sang anak buah segera melaksanakan titahnya dengan cepat.
Kembali lagi anak bawahannya dibuat bingung, mereka tak kunjung melaksanakan perintah justru saling padang.
“Apa ucapanku kurang jelas?” Tanya Rega dengan nada dingin membuat anak buahnya segera mengikat tangan dan kaki Kinan yang sudah tak sadarkan diri itu.
“Ngapain Rega suruh bawa perempuan kayak gini?” Bisik- bisik dua anak buah itu agar tidak terdengar oleh bosnya yang tampak tenang menyalakan seputung rokok di tangan kirinya, lebih tepatnya yang ia selipkan di antara jari-jemarinya.
“Bos! Tadi nenek bos telepon suruh mampir ke kediaman.” Celetuk sang anak buah yang bernama Sam itu.
Lelaki yang rupanya bernama lengkap Rega Adrian itu hanya menghela nafas pelan. Ia tampak tidak berniat untuk menuruti perintah neneknya. Nenek yang benar-benar tidak dia anggap ada, faktanya keluargaya hanya tertinggal sang nenek. Semuanya sudah berpulang melalui kisah yang tragis.
“Tidak usah mampir!” Ucap Rega dengan raut wajah dingin seolah-olah benar-benar tidak berniat untuk bertemu dengan neneknya.
Begitu mobil mulai masuk ke dalam hutan, ada sebuah rumah diujung sederetan rumah dengan warna lampu yang perlahan redup. Rega memandangnya dari dalam mobil dengan tatapan sulit diartikan. Rumah neneknya lebih tepatnya, kemudian ia menyadari sejak tadi Sam mencuri pandang dirinya dari kaca.
“Perempuan ini mau dibuang dimana bos?” Tanya sosok yang duduk disamping Sam.
“Bawa ke rumah!” Jawaban singkat Rega membuat anak buahnya saling pandang, mereka memastika jika mereka tidak salah mendengar perintah bosnya. Ini pertama kalinya Rega membawa pulang tawanannya, biasanya setelah dibuat pingsan Rega akan membuangnya terserah dimana ia berkenan tanpa menyakiti korbannya.
Harta pun tidak dibawa, lebih tepatnya Rega hanya membuat tawanannya sebagai permainannya yang nyata. Hidupnya begitu monoton setiap hari hanya begitu menghabiskan malamnya sampai sang fajar muncul dengan menghandang pengguna jalan. Setidaknya mimpi tragisnya tidak menghampirinya, percuma memejamkan matanya justru memaksanya untuk mengingat kisah tragis itu.
***
Sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai yang tipis, menyapu mata Kinan yang masih terlelap dalam pingsannya yang cukup lama. Kinan membuka matanya secara perlahan begitu cahaya lurus sang mentari mengusik tidurnya, ia membuka matanya mengerjapnya berkali-kali mencoba mengumpulkan separuh nyawanya yang hilang semalam.
Pandangan matanya asing mengelilingi warna atap yang asing dan sekelilingnya yang tampak benar-benar asing ia tidak mengenali tempat sekarang ia berpijak. Kinan merenggangkan kakinya dan matanya membelalak begitu merasakan ada beban di pergelangan kakinya. Kinan langsung bangun dan memastikan jika ia tidak salah dugaan, benar saja ada rantai yang melilit di pergelangan kakinya.
“Dimana ini?” Gumam Kinan memijat pundaknya yang merasa nyeri di sebelah.
Puzzle-puzzle kejadian semalam satu persatu mulai teringat di kepala Kinan membuatnya sedikit pusing. Ia menyadari sekarang dia sedang dikurung di rumah bos mafia. Kinan duduk melihat sekeliling rumah yang rupanya cukup besar, ia menyadari berada di sebuah ruangan yang Kinan yakin ia tidak berada di lantai dasar. Kinan terdiam melamun, rumah ini selain cukup besar dan mewah, ia berada di tengah hutan belantara jauh dari kota. Kinan yakin jika ia kabur, ia akan dimakan binatang buas atau tidak akan berhasil.
Ceklek…
Suara pintu terbuka membuat Kinan melonjak kaget dan menatap takut pada laki-laki yang datang menghampirinya, ia mengingat postur tubuh laki-laki ini hampir mirip dengan sang bos mafia. Kinan sedikit memundurkan duduknya, sedikit menjaga jarak dari laki-laki yang kini berdiri di hadapannya menyerahkan sebuah nampan berisikan makanan.
“Makanlah bosku menyuruhku untuk mengantar ini!” Celetuk seseorang itu membuat Kinan mendongak menatapnya heran. Rupanya laki-laki itu bukan sang bos mafia.
“Kamu bukan bos mafia itu?” Tanya Kinan menatap selidik lelaki yang tersenyum dan menggeleng pelan.
“Apa kamu mengenal bosku sebelumnya?” Tanya Sam, ia penasaran sejak semalam karena Rega menyuruhnya membawa perempuan di hadapannya ke rumah. Meski akhirnya, ia tahu Rega mengurungnya di sebuah ruangan di dekat kamarnya. Dengan kaki yang dirantai pun Sam mengamati perempuan yang tampak biasa dan tidak berteriak kepadanya.
“Tentu saja tidak! Untuk apa aku mengenal bosmu itu!” Ketus Kinan kesal membuat Sam justru tersenyum kecil, perempuan itu cukup lucu menurutnya.
“Ya, ya kamu akan menarik ucapanmu jika kamu mulai mengenalnya.” Ucap Sam, membuat Kinan hanya mengangkat kedua bahunya.
Sam, pergi keluar kamar. Kinan mulai melirik makanan dan segelas s**u hangat yang berada di atas nampan tepat disampingnya. Kinan mengusap pelan perutnya yang keroncongan, ia mengambil gelas itu kemudian meneguknya pelan, lebatnya hutan yang mengelilingi rumah besar ini menjadi pemandangan Kinan yang cukup menyegarkan.
“Kamu benar-benar menjadi tawanan mafia sekarang!” Gumam Kinan pada dirinya sendiri, ia tersenyum getir haruskah ia bahagia menjadi peliharaan seorang mafia atau menjadi b***k untuk ayah tirinya.
Benar-benar bak seorang hewan, Kinan merasa di adopsi oleh keluarga kaya. Di rantai di kakinya membuatnya sadar ia hanya seorang peliharaan untuk seseorang bukan hidup yang baik untuk dilanjutkan kedepannya. Sekalipun, tempatnya dikurung begitu mewah dan besarpun tetap saja ia hanya peliharaan.
Sam masuk lagi ke dalam ruangan Kinan membawa beberapa helai baju yang menurutnya tidak pantas untuk ukuran orang normal terlalu terbuka. Kinan melihat Sam datang hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan acara menikmati pemandangannya diluar jendela.
“Rega menyuruh kamu memakai ini!” Titah Sam membuat Kinan menoleh kepadanya.
“Siapa Rega?” Tanya Kinan merasa asing dengan nama yang disebutkan Sam.
“Rega laki-laki yang kamu mintai tolong, bodohnya kamu dia justru adalah pemimpin kami.” Jawab Sam menertawai kejadian semalam, polosnya Kinan malam itu membuat perempuan itu berakhir dikurung di rumah ini.
“Memakai pakaian seperti itu?” Tanya Kinan sinis melihat bentuk pakaian itu saja membuatnya merasa geli apalagi harus memakainya di depan orang yang tidak ia kenal pula.
“Aku nggak mau!” Tolak Kinan mentah-mentah membuat Sam tertegun, perempuan dihadapannya ini benar-benar tidak mempunyai rasa takut. Ia sedang berada di kandang harimau, kapanpun ia bisa diterkam namun perempuan itu masih keras kepala.
“Terserahmu! Aku hanya menyampaikan! Tapi lebih baik kamu menurutinya daripada kamu terluka dengan ucapan kamu sendiri! ” Ucap Sam memberi peringatan kepada Kinan bahwa disini tidak bisa bertindak sesuai dengan kemauan sendiri.
“Apa kalian sejenis komplotan mucikari?” Tanya Kinan berhati-hati takut jika lelaki yang baru saja ia temui itu tersinggung kepadanya.
“Bisa jadi.” Jawab Sam singkat membuat Kinan membelalakkan matanya terkejut dengan pengakuan secara terang-terangan itu. Sedangkan Sam berusaha mengulum senyum, ia tak menyangka jika masih ada gadis yang sepolos ini dengan mudah dibodohinya.
“Mungkin kalian salah tangkap jika aku dijadikan tawanan.” Ucap Kinan memanyunkan bibirnya. Ia mendadak cemas sendirinya sedangkan Sam beranjak pergi dengan senyuma yang sejak tadi ia berusaha tahan.
“Tunggu!” Cegah Kinan tiba-tiba membuat Sam berhenti dan memutar balikkan tubuhnya, menunggu hal apa yang akan dikatakan perempuan itu kepadanya.
“Siapa namamu? Aku Kinan!” Ucap Kinan memperkenalkan diri membuat Sam tercengang. Selama ini tidak ada yang menanyakan namanya, ia hanya dikenal sebagai pengikut setia Rega.
“Sam!” Jawab Sam kemudian pergi, meski ia tampak dingin namun hatinya sedikit terenyuh dengan sikap Kinan kepadanya. Baru pertama kalinya ada yang menanyakan Namanya, mengenal dia secara langsung tanpa ada embel-embel demi mengenal Rega.
Lagi pula, ia dikenal sebab menjadi bawahan yang paling dekat dengan Rega tentu saja sikap Kinan barusan membuatnya sedikit tercengang.
Kinan mengambil baju itu, mengangkatnya ke atas mengamati baju yang menurutnya baju menjijikkan. Apakah ia dikurung di rumah seorang mafia yang melakukan bisnis mucikari? Kalau sampai benar, ia sudah jatuh di lubang yang lebih dalam dari lubang masalah sebelumnya.
“Untuk hari ini setidaknya aku tidak bertemu dengan Asfar dan Hilda.” Gumam Kinan sekali lagi kepada dirinya sendiri.
Ceklek…
Lagi-lagi suara pintu terbuka membuat Kinan mau tidak mau menoleh, ia mendapati seorang wanita parubaya sedang membersihkan ruangan. Keduanya saling berpandangan cukup lama, Kinan seperti tidak asing dengan wanita itu tapi ia lupa dimana mereka pernah bertemu.
Sedangkan wanita itu terkejut dengan kemunculan gadis itu di rumah Rega, wanita it uterus menatap mata Kinan yang kini sudah mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi dan lagi. Kinan tidak mau menyapanya terlebih dahulu, ia hanya menjawab seseorang yang mengajak bicaranya terlebih dahulu.
Meski matanya tampak tegak lurus memandang jauh hutan yang rimbun itu namun fikirannya mengelilingi memorinya mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita yang dibelakangnya diam-diam mencuri pandang padanya.
“Bagaimana bisa kamu disini?” Tanya wanita tua itu membuat Kinan menoleh cepat.
“Apakah Nyonya sedang mengajak bicara aku?” Tanya Kinan balik, ia tidak yakin jika wanita itu sedang berbicara dengannya.
“Ya! Siapa lagi?” Tanya wanita itu tersenyum lembut membuat sikap angkuh Kinan yang tadinya ia pasang menghilang perlahan.
“Apakah Nyonya mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Kinan langsung membodongi dengan berbagai pertanyaan yang hanya dibalas senyuman oleh wanita paruhbaya itu.
Bukannya menjawab justru wanita itu keluar, bibir Kinan terkatup rapat ia ragu untuk menahan wanita tua itu. ia mencoba mengingat siapa wanita tua itu. mengapa pertanyaannya seperti mereka sudah bertemu berkali-kali.
“Siapa dia?”
***