SANDERA SAJA

1291 Kata
Rega menemui dokter Arif yang selesai memeriksa Kinan sedang duduk mengobrol dengan Sam. Rega duduk disamping Arif, Sam pun menepi begitu Rega sudah duduk. Sedangkan sokter Arif tengah tersenyum menatap Rega, Rega mengangkat sebelah alisnya menanggapi raut wajah Arif yang menurutnya itu terlihat aneh. “Kamu kenapa?” Tanya Rega dengan wajah menatap sahabatnya yang kini menjadi dokter langganannya. “Dia siapa Ga?” Tanya Arif dengan senyuman yang sangat ambigu. “Dia siapa? Seperti biasa sandera aku.” Jawab Rega tampak tenang. Ia tidak mau menanggapi umpan Arif. Lagipula Rega tidak menyadari jika ia memperlakukan Kinan special sampai orang-orang yang berada disampingnya menganggap Kinan adalah satu-satunya sandera yang menarik hati Rega. “Sandera yang special maksudmu?” Tanya Arif sengaja memancing. Rega hanya tersenyum simpul ia sendiri tidak mengerti sebenarnya mengapa sampai sekarang ia tetap membiarkan Kinan berada di kamarnya, Rega juga memberikan makanan yang cukup menuruti semua keinginan Kinan. Bahkan Kinan masih memiliki ponsel di tangannya pun Rega tidak pernah terfikirkan bahwa Kinan akan melarikan darinya. “Sudahlah cepatlah pulang! Aku sudah Lelah!” Ucap Rega mengusir Arif yang terkekeh karena ini pertama kalinya melihat Rega tak bisa berkutik dengan ucapannya. Lelaki itu tidak menyadari bahwa tingkah lakunya sekaranga dalah tingkah laku yang tak pernah ia perlakukan sebelumnya dengan Wanita-wanita sebelumnya. Arif selesai meneguk teh yang dihidangkan dan berpamitan untuk segera pulang karena ulah Rega yang seenaknya sendiri membuat Arif mengacaukan jam tidurnya hanya untuk datang ke rumah hantu milik Rega. “Terimakasih!” Ucap Rega mengantar kepulangan Arif. Begitu mobil yang dikendarai Sam dan Arif menghilang dibalik kegelapan jalan yang tanpa lampu penerang itu, Rega masuk Kembali ke dalam kamarnya untuk melihat kondisi Kinan. Gadis itu sedang terjaga menatap kosong jendela yang hanya menampakkan sebuah rembulan yang sedang sendirian di langit. Rega tiba-tiba ikut duduk di atas tempat tidur, lebih tepatnya disamping Kinan membuat gadis itu tampak terkejut. Kinan meremas selimut, ia ketakutan dengan Rega yang tampak tenang duduk disampingnya. Lebih tepatnya Kinan sedikit ada rasa cemas karena ini pertama kalinya ia satu tempat tidur dengan lelaki yang baru ia kenal beberapa pekan yang lalu. Kinan ikut bangun dan duduk, ia menggunakan bantal untuk menutupi bagian tubuh belakangnya agar tidak terlihat oleh Rega. Mereka duduk saling diam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Rega merutuki dirinya yang tiba-tiba gugup untuk mengajak bicara Kinan. Sedangkan Kinan dirundung rasa ketakutan untuk berbicara dengan Rega. Jika dulu, ia memiliki sedikit keberanian untuk mengajak bicara lelaki itu. Sekarang keberanian itu menghilang entah lenyap kemana. Kinan sudah menegaskan pada dirinya bahwa Rega tak semudah yang dia fikirkan lelaki itu begitu keras kepala dan tanap pikir Panjang melakukan hal-hal diluar dugaan. Ia tidak peduli, yang jelas menurutnya apa yang ia inginkan harus tercapai. “Kamu bisa tidur disini untuk sementara.” Ucap Rega berpura-pura sedang bermain dengan ponselnya. “Nggak mau!” Tolak Kinan mentah-mentah membuat Rega menatapnya nyalang membuat Kinan mengatupkan mulutnya rapat-rapat sepertinya ia telah salah berbicara. Rega berdecak kesal, rupanya gadis disampingnya ini tidak bisa untuk tidak dikasari terlebih dahulu untuk sekedar menuruti kata Rega. “Aku tidak bisa tidur dengan lelaki asing!” Ucap Kinan setelah ia memilih berbaring membelakangi Rega. “Terserahmu yang jelas aku sudah menawarkan kebaikanku. Kalau pun besok kamu mati disini aku tidak peduli.” Ucap Rega tajam membuat Kinan merasakan perih dalam hatinya setiap lelaki itu mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya. Ddrrrttt…dddrtttt.. Eliza is calling… Ponsel di samping Kinan berdering, bukan ponsel milik Kinan melainkan milik Rega. Rega mengambil ponsel Kinan dengan membiarkan Kinan dalam dekapannya meski sekejap. Sedangkan Kinan membelalakkan matanya merasa jantungnya seperti hampir meledak Ketika Rega berada tepat di hadapannya tanpa sebuah jarak diantara mereka. Aroma maskulin Rega pun bisa Kinan cium. Rega sendiri bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah ia lakukan. Gila, benar-benar gila Rega benar seperti orang gila jika berdekatan dengan Kinan. Melakukan sesuatu diluar keinginan laki-laki itu, melakukan hal-hal baru yang tidak pernah ia lakukan didepan teman-temanya atau Wanita simpanannya. “Tidak diangkat?” Batin Kinan melihat Rega justru menolak panggilan dan ikut berbaring disampingnya. “Aku memiliki sebuah syarat untuk membebaskanmu.” Ucap Rega membuat Kinan memutar badannya. Menghadap Rega dengan tatapan penuh harapnya, ia tidak sabar menunggu syarat yang diajukan Rega. “Satu malam saja, kamu menggunakan pakaian terbuka itu dan melakukannya denganku aku akan melepaskanmu.” Ucap Rega dengan tawa sinisnya bak seorang iblis. Kinan diam, ia tidak menyangka dengan syarat yang diajukan Rega benar-benar diluar nalarnya. Benar, Rega memang lelaki gila yang dijadikan sebagai bos besar oleh anak buahnya. Kinan memgumpat dalam hatinya, tatapannya tajam penuh kebencian pada laki-laki yang berbaring disampingnya itu. Rega menarik pinggangnya tiba-tiba membuat Kinan membelalakkan matanya, ia mendorong sekuat tenaga agar lelaki itu melepaskannya. Namun pelukan Rega cukup kuat membuat Kinan hanya bisa pasrah menatap Rega dengan wajah merah padam. Dari tatapan Kinan menyimpan sejuta umpatan yang kapan saja bisa meledak untuk Rega, namun saat ini dirinya tidak memiliki nyali yang cukup untuk mengutuk kelakuan Rega yang menurutnya tidak sepantasnya ia lakukan kepadanya. “Dengar! Tuan muda Rega Adrian! Aku tidak sama dengan perempuan murahanmu!” Tandas Kinan dengan nafas tersengal-engal karena mencoba menetralisir emosinya agar tidak meledak-ledak. “Oh ya! Kamu tidak sama dengan mereka? Bukankah kamu sama dengan mereka? Murahan!” Ucap Rega menantang kamarahan Kinan yang menggebu. “Jelas berbeda, aku tidak sudi untuk tidur dengan lelaki iblis sepertimu.” Ketus Kinan membuat Rega sempat tersentak begitu Wanita di depannya itu berani membalas tatapannya dan mengatakan kalimat yang merendahkannya tanpa rasa takut sedikit pun. “Arrgghh..” Pekik Kinan begitu Rega mengeratkan pelukannya di pinggangnya, tubuhnya masih sangat lemah untuk melawan membuatnya meremas Pundak Rega untuk menahan rasa sakitnya. “Tanpa meminta persetujuanmu aku bisa meniduri kamu seperti perempuan simpananku kapanpun aku mau! Jadi perlawananmu itu percuma dan bukan apa-apa untukku!” Tandas Rega membuat Kinan meneguk salivanya mulai merasakan ketakutan tapi ia berusaha menyembunyikannya sampai Rega pun tidak menemukannya di mata gadis yang usianya lebih muda darinya itu. “Jangan macam-macam!” Ancam Rega sekali lagi sambal membelai wajah Kinan. Kinan takut ia memejamkan matanya, apapun bisa lelaki itu lakukan. Ia sudah dalam kunkungan lelaki itu, ia hanya bisa meratapi kesedihannya. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti pada dirinya adalah ia menemukan kehangatan setiap ia melakukan kontak fisik dengan lelaki iblis dihadapannya ini. Tak hanya sebuah kehangatan ia juga merasakan perlindungan benar-benar disekitarnya setiap Rega berada di sampingnya. “Kamu menginginkan aku tidur denganmu?” Tanya Kinan menantang dengan senyuman licik membuat Rega tertarik dengan Wanita dihadapannya yang menurutnya cukup unik. “Sebenarnya tidak, hanya saja aku ingin melihat perempuan sok tegar sepertimu hancur karena aku!” Ucap Rega membuat Kinan melenyapkan senyumannya secepatnya. Pandangannya begitu dalam dan air mata sudah memenuhi kelopak matanya entah sampai kapan gadis itu bisa menahannya. Rega terdiam melihat perubahan wajah Kinan yang tampak ketakutan. Mendengar ucapan Rega mengingatkan Kinan pada ucapan ayah tirinya yang selalu mengancam untuk menghancurkan hidupnya bila Kinan enggan menuruti keinginan anak semata wayangnya, Hilda. “Kalau begitu nikahi aku! Maka akan aku berikan segalanya yang kumiliki untukmu!” Ucap Kinan dengan wajah dinginnya membuat Rega tersentak, lelaki itu tertegun dengan ucapan Kinan. Ini pertama kalinya ia mendengar seorang perempuan untuk mengajaknya menikah. Tidak sebenarnya banyak perempuan yang menginginkan Rega untuk menikahinya namun dengan alasan utamanya adalah ingin menguasai kekayaan yang dimiliki lelaki itu. Rega melepaskan dekapannya pada tubuh Kinan, kemudian beranjak pergi meninggalkan Kinan yang berdiam diri di kamarnya sampai gadis itu terlelap. Rega tidak Kembali ke kamarnya Kembali, ia menuju atap rumahnya, menyalahkan sebatang rokok ditemani sebotol anggur di sampingnya yang memiliki kadar alcohol cukup rendah. Rega masih merenungkan ucapan Kinan, gadis itu benar-benar mempengaruhinya setiap ucapan gadis itu selalu mampu membuatnya diam membisu tak bisa berkata-kata, kehilangan berbagai kata. Ini tidak benar bagaimana ada kisah seorang majikan jatuh cinta pada b***k yang ia beli? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN