BERMURAH HATI

1445 Kata
Kinan melamun, rutinitasnya setiap hari sejak ia datang di sebuah rumah yang Kinan sendiri tidak tahu persis bagaimana bentuk rumah ini. Yang Kinan tahu, rumah ini luas dan terletak di tengah hutan belantara. Satu-satunya bangunan. Kinan tidak mengetahui apapun lagi karena ia hanya tahu sudut kamar Rega sejak kedatangannya. “Bisakah kau mengurusi ponselmu yang terus bergetar, kepalaku pusing karena terlalu berisik!” Ucap suara barithon tiba-tiba dari belakang membuat Kinan tersentak kaget. Terlalu hanyut dalam lamunan dan angan-angannya sampai tak menyadari Rega yang masuk ke kamar tiba-tiba. Tidak ada pertanyaan mengapa lelaki itu masuk, tentu saja itu kamarnya jelas ia bebas untuk keluar masuk. Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa Rega mengurung Kinan di kamarnya tidak di ruang dimana ia menyandera beberapa orang yang mengganggu hidup atau kelancaran bisnis setannya. “Kamu tidak ada niatan untuk menelepon mereka?” Tanya Rega menyodorkan ponsel Kinan di depan wajah Kinan. Kinan menerimanya dengan wajah datarnya, ia sedang tidak ingin bertengkar dengan Rega. Ia sedang mencoba mengingat-ingat mimpi apa semalam, mimpi yang selalu ia nantikan di setiap malam. Sayangnya, setiap mimpi Bersama ibunya di pagi hari ingatannya mendadak hilang. Kenapa? Sesuatu yang indah selalu hilang justru membekas dalam ingatan samar-samar. Kinan melihat beberapa pesan yang dikirimkan oleh Vina sahabatnya bekerja, beberapa panggilan dari Reno, Seniornya. Pesan yang dikirimkan Vina pada intinya adalah sama. Satu pesan yang membuatnya terkejut. Vina : beberapa kali aku datang ke rumah kamu, saudara kamu bilang kamu sudah tidak pulang sejak terakhir kamu masuk kerja. “Rupanya mereka datang ke rumahku juga.” Gumam Kinan entah pada siapa, Rega mengangkat sebelah alisnya samar-samar ia melihat mulut Kinan komat-kamit tanpa bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan gadis yang sudah tak berbentuk itu penampilannya. Tidak pernah mandi, bagaimana bisa ia mandi sedangkan rantai masih melingkar di pergelangan kakinya. Beruntung Rega memberikan rantai yang Panjang, yang mempermudah Kinan untuk bisa mencapai kamar mandi. Kalau tidak mungkin ia sudah mengotori lantai seisi kamar Rega. Kinan terus men-scroll ke bawah, melihat pesan yang dikirimkan beberapa orang yang mencarinya. Pesan dari seseorang yang hanya Kinan ingin tahu benar-benar tidak ada. Kinan tertawa miris. “Benar, mereka bahkan tidak merasa kehilangan atas kepergianku sekian lama.” Gumam Kinan tertawa miris, tidak ada pesan maupun panggilan dari ayah tiri atau saudara tirinya. Itu artinya, Kinan sepenuhnya tidak dianggap di keluarganya. “Lebih baik kamu menghubungi mereka! Daripada dering ponselmu itu menggangguku!” Hardik Rega tiba-tiba membuat Kinan terhenyak kaget, ia bahkan lupa jika ada Rega yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Kinan. “Jangan bilang sama mereka apapun tentang aku, rumah ini.” Ucap Rega mendekat pada Kinan, tak lupa mencekeram lengan Kinan sampai gadis itu merasa kesakitan. Rega pergi, keluar kamar menutup pintu dengan setengah membantingnya membuat Kinan berjengit kaget. Menyadari kini ia sendiri di dalam ruangan Kinan akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Vina sahabatnya, ia menempelkan benda pipih itu di telinganya, mendengar nada sambung panggilannya. Ia me Halo Kinan, kamu dimana? Kinan sedikit menjauhkan ponselnya begitu nada sambung berhenti dan memunculkan suara Vina yang sudah menanyakan dirinya dengan berbagai pertanyaan. Kinan kemudian menempelkan kembali, ia menarik nafas dalam bersiap untuk menyampaikan beberapa patah kata kemudian akan mengakhiri panggilan. Ia takut Rega segera kembali ke kamar. “Vina, aku nggak bisa kerja lagi. Keadaan nggak memungkinkan.” Ucap Kinan menggigit bibir bawahnya menunggu respon Vina akan bagaimana. Halo, Kinan ini Reno kamu dimana? Aku bisa jemput kamu sekarang! Kinan terkejut, rupanya sahabatnya sedang Bersama Reno. Seniornya yang banyak orang mengatakan lelaki itu menyimpan perasaan kepadanya namun Kinan pura-pura tidak mengetahuinya saja. “Kak Reno, Vina nggak usah cari aku ! aku baik-baik saja disini. Aku nggak bisa memberi tahu kalian aku dimana sekarang…” Ceklek… Suara pintu terbuka memotong ucapan Kinan membuat Kinan terkejut bukan kepalang begitu melihat Sam sudah masuk ke dalam kamar membawa beberapa makanan. Kinan buru-buru menyembunyikan ponselnya dibalik badannya. “Kamu ngomong sama siapa Nan?” Tanya Sam mendekat pada Kinan. Kinan melirik ponselnya, rupanya panggilannya belum terputus. Ia buru-buru menekan tombol off agar panggilan segera berakhir. Sam mendekat pada Kinan, ia membelalakkan mata melihat Kinan rupanya sedang menyembunyikan sebuah ponsel. “Bisa mati dibunuh kamu membawa ponsel.” Gumam Sam, Kinan menggeleng cepat membuat Sam justru menatapnya aneh mengapa gadis dihadapannya itu tampak biasa saja tanpa rasa takut. “Ini ponselku bukan milik Rega.” Ucap Kinan dengan senyumanya kemudian mengambil beberapa cemilan yang dibawa Sam. “Iya maksud aku lebih baik kamu buang entah kemana karena jika ketahuan kamu membawa ponsel kamu bisa tewas mala mini juga.” Ucap Sam justru yang tampak khawatir. “Kenapa? Rega sendiri yang memberikan ponselku. Dia menyuruhku untuk menelepon beberapa orang yang mencoba menghubungiku.” Ucap Kinan dengan wajah polosnya sedangkan Sam tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Tidak mungkin jika Rega memberikan ponsel Kinan begitu saja, kecuali memang Rega sedikit memperlakukan perempuan dihadapannya dengan istimewa. Kinan tidak peduli dengan tatapan Sam yang sejak tadi berubah seperti mencurigai dirinya, ia lebih memilih menyantap hidangan yang menurutnya cukup mewah untuk seorang sandera. “Apa kamu mengenal Rega sebelumnya?” Celetuk Sam akhirnya mengeluarkan sepatah kata. Sayangnya pertanyaannya membuat Kinan justru menggeleng cepat tidak terima dengan tuduhan Sam kepadanya. “Tidak mungkin! Aku mengenal Rega, lelaki iblis itu!” Dengus Kinan tidak terima dan tidak bisa membayangkan bagaimana bisa ia emngenal Rega lebih dulu kemudian ia dijadikan sandera sekarang. “Apa kamu tidak berniat mandi?” Tanya Sam dengan senyum canggungnya membuat Kinan tahu lelaki ini begitu menjaga betul agar ia tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan Sam. “Aku juga tidak betah dengan kondisi seperti ini.” Ucap Kinan melihat tubuhnya sudah benar-benar kumal pantas seperti tunawisma di jalanan. “Tapi aku tidak mau memakai baju laknat pilihan Rega.” Lanjut Kinan membuat Sam menyembunyikan senyumannya. Sejak tadi lelaki itu menahan senyumannya, Kinan yang dengan enteng menyebut Rega sebagai lelaki iblis. Kemudian baju transparan yang bisa dibilang baju sexy sebagai baju laknat. “Rega punya baju yang terpakai bila kamu mau menggunakannya.” Ucap Sam teringat ada satu kotak dalam lemari Rega bahwa baju itu tak lagi dipakai oleh Rega. Namun lelaki itu juga enggan untuk membuangnya. “Dimana? Bisa kamu ambilkan aku akan memakainya.” Ucap Kinan dengan mata berbinar, seperti sangat senang dengan tawaran Sam. Sam melihat wajah polos Kinan seperti anak kecil yang begitu senang ditawari pakaian. Sam mengambil satu kaos yang mungkin terlalu besar untuk Kinan. Tapi terlalu kecil untuk tubuh seorang lelaki. “Ini! Mandilah!” Ucap Sam menyodorkan sebuah pakaian, ia mengambil nampan yang rupanya sudah kosong untuk keluar dari kamar Rega. Tidak menunggu lama, Kinan segera mandi memakai semua alat mandi milik Rega. Tentu saja, mau tidak mau karena rantai masih saja membatasi dirinya untuk berjalan lebih jauh. Kinan bisa melarikan diri saat itu juga, saat dimana ia pertama kali di sandera oleh Rega. Tapi Kinan memilih untuk seperti ini saja terlebih dahulu karena ia tidak mau untuk kembali rumah yang tak lagi rumahnya, ia tidak merasa cukup konyol dengan pilihannya sekarang. Bagaimana tidak, ia merasa damai di kamar Rega tidak peduli dengan rantai di kakinya, perlakuan kasar Rega kepadanya, bahkan benar-benar hidup bak seekor hewan peliharaan pun Kinan tidak peduli. Setidaknya ia sedikit bisa bernafas tanpa sebuah tenaga yang menurutnya sia-sia setiap harinya. Tenaga yang ia keluarkan setiap harinya hanya untuk menghidupi dua manusia yang tidak memiliki pekerjaan yang bersarang di rumahnya, terus menerus menguras uang Kinan. Sampai Kinan tak memiliki uang sepeser pun. Kinan melihat setiap design rumah Rega, terlebih kamar mandi begitu simple namun terlihat mewah. Kinan selesai, ia merasa beban di kepalanya hilang terbawa air yang mengguyur rambutnya yang tak lusut karena beberapa hari tidak keramas. Kinan menikmati tubuhnya yang terasa sangat segar, ia mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil milik Rega. Kinan sangat yakin bahwa handuk itu milik Rega karena sangat tercium begitu tajam aroma khas tubuh Rega. “Tidak terlalu buruk!” Ucap Kinan tersenyum menatap baju Rega yang tampak kebesaran di tubuhnya. Lagi dan lagi Kinan tidak menyadari seseorang yang sejak tadi muncul di kamar, menatapnya dengan mata memerah, rahangnya mengeras menahan emosi. Siapa lagi kalau bukan Rega, lelaki itu mendekat pada Kinan. Kinan terkejut dengan kedatangan Rega di belakangnya yang tiba menariknya untuk berdiri. Kinan tidak siap dengan serangan Rega tiba-tiba yang mengcekeram tangannya kuat membuat ia merintih kesakitan. “Tolong!” Pinta Kinan yang tak kuat menahan cengkeraman hebat Rega. “Siapa yang menyuruh kamu mengenakan pakaian ini?” Desis Rega penuh penekanan membuat Kinan bergedik ngeri. Ia lupa Rega adalah seorang manusia tanpa hati yang tak harusnya ia ragukan kekejamannya. Lelaki itu bisa saja melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa memikirkan apa yang terjadi, apa akibatnya. Kinan membalas tatapan Rega yang menatapnya dengan api merah padam. Kinan benar-benar ketakutan. KREEEKKK… TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN