"Kusut sekali wajahmu, Dave. Seperti habis putus cinta saja!" Mathew merangkul bahu David saat sang empunya terdiam dan menatap kosong ke arah depan. "Putus cinta matamu! Tolong jauh-jauh!" David menyingkirkan lengan Mathew yang masih bertengger di bahunya. "Ada apa, sih? Kau banyak masalah, ya?" "Hanya memikirkan ibuku yang sedang sakit." "Oh, astaga." Mathew menepuk bahu David dan memilih untuk tidak mengajak temannya itu bergurau. Ia tahu kalau David merupakan anak tinggal dari orang tua tunggal juga. Jadi, tentu saja hal ini menjadi sebuah kekhawatiran yang besar bagi David. "Kau benar-benar oke? Maksudku hari ini kita--" "Evaluasi. Iya aku tahu dan tidak masalah." potong David. "Aku masih baik-baik saja selagi ini evaluasi perorangan bukan kelompok. Kalau kelompok, aku mungkin

