"Semalam kenapa tidak membalas pesanku?" tanya Malvin saat David baru saja sampai dan melempar ranselnya ke atas meja.
"Hanya mengantuk. Lagi pula, aku harus menjawab apa tentang pernyataanmu mengenai hal tidak masuk akal itu?" gumam David sambil mengeluarkan buku pelajarannya tanpa menoleh sama sekali ke arah Malvin yang tampak begitu kesal dibuatnya.
David tentu saja tidak tahu akan ekspresi kekesalan Malvin dan tetap melanjutkan membaca buku. Lebih tepatnya, ia memeriksa tugasnya apakah sudah benar-benar selesai atau tidak.
"Kau bilang ini omong kosong, ha?" Malvin mencengkram bahu David dari belakang. Membuat sang empunya tentu saja menghentikan aktivitasnya dan berbalik arah.
"Apa lagi yang harus aku tahu, Vin? Mereka itu tidak ada. Kalau kau hanya menuruti pemikiranmu yang paranoid, itu sangat terdengar menyebalkan. Khayalanmu sudah sangat luar biasa."
David tahu kalau Malvin sudah sering kali bercerita banyak hal yang dibuat seakan begitu nyata dan tak jarang orang lain percaya. Karena, apa yang Malvin katakan selalu terdengar seperti sesungguhnya. Tetapi, tidak dengan David yang sudah sangat mengenalnya.
Malvin mungkin sedang kembali mendalami peran saat membaca komik terbarunya. Atau cerita-cerita yang dibelinya beberapa waktu belakangan ini.
"Kenapa sangat tidak percaya padaku?" tanya Malvin.
"Ya, kau ingat-ingat saja kenapa aku tidak bisa percaya padamu!"
Selanjutnya, guru tiba di kelas dan membuat keduanya mengakhiri percakapan. Malvin tampaknya belum puas karena David yang selalu saja tak bisa mempercayainya. Tampak dari anak lelaki itu yang selalu melihat ke arahnya bahkan saat guru menjelaskan.
"Jangan terus-terusan melihatku seperti itu!" bisik David agak tegas karena ia merasa tatapan Malvin begitu mengganggunya.
"Siapa?" bisik Malvin balik.
David mengangkat bahunya sambil kembali fokus memperhatikan guru di depan.
"Ah, akhirnya istirahat juga!" pekik Malvin sambil merangkul bahu David. "Ayo makan! Aku sudah tidak tahan lagi ingin makan."
David hanya mengangguk dan beranjak dari sana.
Suasana kantin memang cukup ramai. Tetapi, David tahu tak ada yang memperhatikannya. Tetapi, mengapa rasanya seperti ada orang yang melihat ke arahnya. Ia menoleh kanan kiri demi memastikan siapa yang mengawasinya. Tetapi, tak ada.satupun yang bisa ia curigai.
"Kenapa?" tanya Malvin yang sadar kalau David tampak tidak tenang.
"Ada orang yang memperhatikanku. Tapi sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja." David tak acuh dengan mengangkat bahunya sambil berjalan lebih cepat.
Mungkin, David bisa bersikap biasa saja. Namun, tidak dengan Malvin yang malah bersikap layaknya seperti detektif dadakan.
"Dave, apa kau tidak ingin menyelidikinya?"
Pertanyaan Malvin membuat David yang tengah minum itu tersedak. Tentu saja, karena David tidak menyangka perkataannya ditanggapi serius oleh Malvin.
"Ha? Tidak! Aku tidak percaya dengan hal-hal semacam itu!"
"Oh, ayolah!"
"Berhenti membahas hal yang tidak-tidak!"
Meski berkata seperti itu, David tetap merasa semakin tidak nyaman karena rasanya ia benar-benar seperti diikuti.
"Cepat selesaikan makanmu! Sebentar lagi bel masuk berbunyi."
"Hey, kau takut atau apa?" goda Malvin sambil menatap geli wajah sinis David.
"Apa?! Sudah cepat! Jangan terlalu banyak omong kosong!"
David merasa kalau hal-hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tetapi, kalau ia bercerita kepada Malvin, bukan membuat dirinya tenang tapi malah semakin tidak karuan mengingat obsesi temannya yang berlebihan terhadap hal-hal berbau misteri semacam itu.
Keduanya sudah sampai di dalam kelas yang masih kosong. Kebanyakan, siswa-siswi masuk saat bel sudah benar-benar berbunyi.
David hendak mengambil buku miliknya yang berada di dalam loker. Ia tak menaruh curiga terhadap apapun karena memang dasarnya tidak ada yang perlu dirinya curigai. Tetapi, saat dirinya berhasil membuka kode dari gembok miliknya, ia merasa begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Beruntung, pengendalian dirinya begitu bagus. Sehingga, ia bisa mengontrol diri untuk tidak berteriak sama sekali. Ia mengambil perlahan benda tersebut lalu mengangkatnya tanpa mengeluarkannya dari dalam loker.
'Open Me'
Begitu kata yang tertulis di sana. Sebuah amplop coklat dengan tulisan berawarna merah yang kali ini David yakini kalau itu adalah darah. Bukan karena dirinya percaya teori-teori seperti Malvin. Tetapi, bau amis yang cukup menyengat itu membuatnya yakin kalau itu merupakan darah segar. Bahkan, makanan yang baru saja masuk ke perutnya itu seakan ingin keluar kembali.
"Hey, Dave!"
David masih belum sadar kalau Malvin berada di belakangnya. Sampai, anak lelaki itu menepuk bahunya. Barulah dirinya kembali sadar saat Malvin menepuk bahunya. Dengan cepat, David mengambil buku yang diperlukannya dan menutup cepat lokernya.
"Ada apa?" tanya Malvin.
David hanya menjawab dengan mengangkat bahunya karena merasa tidak perlu menceritakan ini kepada Malvin. Terlebih, ia tidak ingin Malvin membuat seisi kelas geger dengan penemuannya tersebut. Oleh karena itu, ia memilih diam dan kembali ke tempat duduknya.
"Kau terlihat pucat, Dave. Apa kau sakit?"
"Aku tidak apa-apa."
David tidak tahu kalau wajahnya memucat setelah melihat itu. Ia tidak menekankan rasa takut pada dirinya. Tetapi, memang ia merasa kalau jantungnya benar-benar berdebar dengan sangt cepat sampai dirinya sendiri tidak sadar kalau ketakutannya itu bisa dilihat oleh orang lain.
"Dahimu juga tampak berkeringat. Kalau sakit, kuantar kau ke ruang kesehatan, ya."
Malvin menyentuh lengan David yang terasa dingin. "Nah, kan! Tanganmu juga sangat dingin. Ayo!"
"Tidak apa-apa. Sudah, cepat kembali duduk. Nanti, kau kena tegur lagi karena tidak berada di tempat dudukmu saat guru masuk.
"Ah, baiklah! Tapi, kalau ada apa-apa, kau harus mengatakannya padaku. Oke?"
"Hm..."
Pelajaran demi pelajaran berlalu. David mencoba tetap fokus pada semua pelajaran yang diajarkan. Meskipun, sesekali dirinya menengok kanan dan kiri karena merasa tidak tenang.
Bel pulang yang berbunyi membuat seluruh penghuni kelas mengembuskan napas lega. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka membereskan seluruh buku mereka. Karena, siapa yang tahan berlama-lama di kelas?
Begitupun dengan David kali ini. Ia mengemasi seluruh barangnya dengan cepat karena tidak ingin berada di kelas lama-lama.
"Hey, kau mau ke mana setelah ini? Mengapa sangat terburu-buru?" tanya Malvin.
"Tidak. Aku... Mungkin benar katamu. Aku kurang enak badan."
"Mamamu sudah menjemput?" tanya Malvin kembali. Karena, jujur saja ia cukup khawatir dengan keadaan David.
"Biasanya juga sudah menunggu di depan gerbang."
David segera beranjak dari tempat duduknya bahkan meninggalkan Malvin yang tampak kebingungan. Karena, sikap yang David tunjukkan itu lebih mengarah pada takut daripada sakit.
Sementara itu, David berdecak malas karena ternyata sang ibu tidak menjemputnya. Dengan terpaksa, ia harus berjalan menuju halte saat ini. Mengapa, di saat dirinya sedang sangat membutuhkan, ibunya malah tidak ada. Ia ingin merebahkan tubuhnya di jok mobil yang nyaman. Tetapi, kenyataannya ia harus berdiri berdesakan di dalam bus dengan pikiran yang kacau.
Sebenarnya, siapa yang melakukan hal tidak berguna seperti ini kepadanya?