An E-mail

1047 Kata
Katakanlah pikiran David cukup kacau karena menganggap apa yang ibunya lakukan itu hanya semata-mata agar dirinya mundur dari segala mimpi yang sudah dibangunnya. Karena, ibunya mencoba membangun rasa bersalah dalam dirinya. Agar, saat David mencoba memberontak, ibunya pasti akan mengatakan kalau dirinya sudah menjadi sangat baik sebagai seorang ibu. Begitu liar memang pikiran remaja ini. David tidak begitu senang dengan perlakuan sang ibu. Firasatnya tidak terlalu baik dalam hal ini. Pasalnya, perubahan sikap sang ibu begitu mendadak dan membuatnya merasa kalau mungkin akan terjadi sesuatu di kemudian hari. "Dave..." Lamunannya hancur saat ibunya menyentuh bahunya pelan saat berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. "Y-ya." David cukup terkejut dan hampir melompat dari tempat duduknya karena itu. Hal tersebut membuat ibunya curiga. Mengapa David bisa seperti itu? "Ada masalah?" "Tidak, Ma." "Tapi, sejak tadi Mama lihat kamu termenung terus. Mama kan sudah bilang kalau masalah nilai itu jangan kamu ingat-ingat lagi. Mama yakin, kalau selanjutnya nilai kamu akan lebih baik lagi." "Iya, Ma." David terpejam setelah mendengar penuturan sang ibu. Ini benar-benar bukan ibunya ia rasa. Karena, ibunya sang perfeksionis yang tidak akan membiarkan satu kesalahan pun ia perbuat. Lalu, ke mana perginya semua itu? Bukan David tidak senang dengan itu semua. Tetapi, bukankah sesuatu yang mendadak itu mengejutkan? Ibunya bahkan tidak aba-aba atau berubah sedikit demi sedikit dahulu. Rasanya, ia ingin menanyakan apa yang membuat sang ibu bisa menjadi seperti ini. Tetapi, tentu saja hal itu hanya tetap tersimpan di dalam kepalanya tanpa berani diungkapkan. "Dave." Panggilan ibunya kali ini membuat David menoleh ke arah wanita paruh baya yang tengah mengemudi itu. "Iya, Ma." "Dave tahu, kan kalau Mama sayang sekali sama kamu?" David mengangguk pelan sebagai jawaban. Walaupun, ia sendiri tidak yakin kalau ibunya melihat itu "Kamu yang paling berharga dari semua hal yang mama punya di dunia ini." "Ma... Mama tidak sedang sakit, kan?" "Maksudmu?" "Perkataan Mama. Itu membuatku takut saja." Sang ibu terkekeh sebelum menjawab pertanyaan David. Mereka sudah sampai di rumah dan ibunya sepertinya akan menunda jawabannya. Pikiran David kini berubah. Ia mungkin ragu dengan apa yang ibunya katakan sebelumnya. Tetapi, pikiran negatifnya kali ini sungguh lebih kuat. Ia takut ibunya sakit atau mengidap sesuatu yang berbahaya. Ia mungkin akan mengalahkan egonya sendiri. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya sang ibu. "Em..." "Mama tidak apa-apa. Tidak sakit atau apapun. Mama memang sayang kamu, kok." kekeh sang ibu. Wanita paruh baya itu bisa melihat kekhawatiran di wajah sang putra. Meski keinginan David begitu kuat dan kadang tidak sejalan dengannya. Namun, ia tahu kalau putranya itu sangat menyayanginya. Kekhawatiran yang muncul dari wajah David terlihat begitu alami tanpa rekayasa sama sekali. "Serius?" "Iya, Dave. Kenapa?" "Tidak. Hanya bertanya saja." "Ah, begitu. Mama benar-benar menyayangimu, Dave. Mama tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Oleh karena itu, Mama ingin melindungimu sekuat yang Mama bisa." "Ma, Dave ini anak laki-laki. Dave tahu mungkin ini terdengar tidak menyenangkan bagi Mama. Tapi, apa salah kalau Dave punya mimpi sendiri? Ma, apa Dave pernah mengecewakan Mama?" Sang ibu menatap David dengan teduh. Jiwa ramaja David kembali. Meski khawatir, keinginannya akan semua mimpinya tidak bisa pergi begitu saja dan ia memakluminya. "Tidurlah. Kamu mungkin sudah cukup lelah." Wanita paruh baya itu tidak menjawab pertanyaan David sebelumnya dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Baik. Kalau begitu, Dave ke kamar dulu, Ma. Terima kasih makan malamnya." Ucapan David membuat sang ibu tersenyum lebar. Pasalnya, mereka sering kali bertengkar saat makan dan berakhir pada David yang meninggalkan meja makan begitu saja tanpa berkata apapun. Kini, ucapan terima kasih itu terdengar begitu berarti. "Hmm... Istirahat, ya. Besok masih masuk sekolah, kan?" "Ya." Tentu saja, David tak lantas tidur saat sampai di kamar, setelh mengganti pakaiannya, ia merapikan buku-bukunya. Memastikan kalau jadwal esok hari tidak tertinggal. Ia sudah dibiasakan disiplin dalam hal ini. Jadi, meskipun tak ada yang mengingatkan, ia tetap akan melakukannya. Meski teman-temannya yang lain begitu santai bahkan sampai tidak membawa catatan sama sekali, ia tidak pernah berniat mengikutinya. Ya, selain memang tentu ibunya akan marah besar. "Kapan lagi aku bisa take video? Rasanya, rumor ini begitu menyebalkan!" gerutunya sambil merebahkan tubuhnya. Kantuknya belum juga datang dan David tidak tahu harus melakukan apa. Video yang terakhir diambilnya juga sudah selesai diedit. "Ah iya!" David membuka gawainya dan mencoba membalas satu persatu komentar yang masuk yabg sebelumnya hanya ia baca. Ini cukup menyenangkan. Setidaknya, ia bisa melepas penatnya karena ini. Dukungan kepadanya semakin banyak. Tetapi, apalah gunanya kalau ia tetap tak bisa mendapat dukungan dari ibunya sendiri? Ia mengembuskan napasnya kasar. Hidup memang yak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. David hanya berharap kalau suatu hari nanti ibunya akan melihat dirinya sukses dengan jalan yang dipilihnya. Jalan yang menurut sang ibu tidak akan menghasilkan apa-apa. "Kenapa komentarnya cepat habis?" gumamnya. Dari ribuan komentar yang masuk, David bahkan sudah memberikan ratusan komentar. Tetapi, kenapa rsamya begitu singkat? Ia harus mencari kesibukan lain agar kantuknya cepat sampai. "Ah iya!" David baru ingat kalau dirinya pernah mengirim beberapa e-mail kepada beberapa agensi. Mungkin saja, nasib baik sedang datang kepadanya. David mencoba membuka halaman e-mailnya. Ia hanya membuang napasnya kasar karena tak ada satupun balasan dari mereka. Hanya pemberitahuan nilai sementara yang masuk ke e-mailnya. "Ah sudahlah." Ia hampir menutup laptopnya saat sebuah pemberitahuan membuatnya membukanya kembali. "Ha?" Tentu saja, David dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ini sudah pukul sebelas malam. Apa ia tidak salah lihat? David merasa dirinya tidak mengantuk sama sekali. Jadi, yang dilihatnya tentu saja bukan kesalahan. Meski begitu, David tetap memeriksa halaman e-mailnya dengan menyegarkannya beberapa kali. "Aneh sekali?" gumamnya. Ia bisa melihat jelas alamat e-mail yang tertera di sana. Bukan sebuah e-mail pribadi ternyata. Akhirnya, sebelum membukanya, David mencoba mencari tahu pengirim e-mail tersebut dari internet. "Ini..." David mengernyit heran. Mengapa bisa pukul sebelas malam? Padahal, yang diterimanya itu merupakan e-mail resmi. "Apa adminnya bekerja lembur?" gumam David. Ia memutuskan untuk tidak membukanya sampai esok hari. Siapa tahu, ia hanya salah melihat dan kembali menutup laptopnya. Namun, saat matanya hendak terpejam, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. "Siapa lagi yang mengirimkan pesan padaku hampir tengah malam seperti ini?" gerutunya. David melihat nama Malvin sebagai pengirim pesan. Malvin : Dave, kamu harus tahu kalau kasus penculikan itu benar-benar sudah sampai ke daerah kita. Pesan yang diterimanya sangat mencengangkan. Malvin sempat-sempatnya mengirimkan pesan kepadanya di tengah malam seperti ini. Isinya David anggap sebagai omong kosong belaka pula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN