David tidak bisa latihan seperti biasa sepulang sekolah karena sang ibu yang menjemputnya dengan alasan khawatir tentang penculikan. Siapa yang peduli dengan rumor konyol seperti itu di usia David? Tetapi, ia tetap menuruti keinginan sang ibu atau telinganya akan terasa panas karena ocehannya sepanjang malam.
"Dengar tidak, Dave?" tanya sang ibu yang langsung David angguki padahal ia sendiri tidak yakin apakah mendengar apa yang ibunya katakan atau tidak.
"Apa yang Mama katakan?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat David gelagapan. Tetapi, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Ma, makan malam di luar, ya. Sepertinya, kita sudah jarang ke luar. Mama terlalu sibuk."
Sang ibu yang tengah fokus pada kemudinya itu pun akhirnya menoleh sejenak dan memastikan apakah anaknya benar-benar mengatakan hal itu atau tidak. Karena, biasanya David pasti lebih senang mengedit video di kamarnya. Bahkan, anak tunggalnya itu sulit saat dipanggil untuk makan malam.
"Kenapa, Ma?" tanya David yang menyadari lirikan sang ibu.
"Tidak. Hanya sedikit terkejut. Biasanya, kamu tidak suka makan di luar."
"Refreshing, Ma. Dave sudah lama hanya ke luar saat sekolah saja."
Sang ibu akhirnya mengangguk. Mungkin, akhir-akhir ini dirinya sudah benar-benar mengambil kebebasan sang putra. Tetapi, tentu saja itu bukan tanpa alasan. Wanita paruh baya itu terlalu ketakutan akan rumor yang tengah beredar saat ini.
"Kita pulang dulu, ya."
David mengangguk. Ia tidak menyangka kalau keinginannya dituruti oleh sang ibu. Padahal, niatnya hanya menghindar dari obrolan mereka yang tak terlalu dirinya hiraukan.
Sepanjang perjalanan pulang, David hanya bermain ponsel. Membalas pesan-pesan omong kosong yang Malvin kirimkan. Ia tidak tahu kalau orang-orang bisa se-paranoid itu pada hal-hal yang bahkan tidak jelas sama sekali.
"Ada masalah?"
David menjawab pertanyaan ibunya hanya dengan menggeleng.
"Tapi kamu terlihat sangat kesal sampai menaruh ponsel ke atas dashboard seperti itu."
David membuang napasnya kasar. Padahal, gerak-geriknya tidak terlalu mencurigakan, tapi sang ibu salah saja peka dengan apa yang terjadi.
"Oh itu. Malvin selalu bicara omong kosong."
"Maksudnya?"
"Tentang penculikan itu. Ah, entahlah. Mengapa rumor-rumor seperti mudah sekali mempengaruhi orang-orang?"
"Dave, jangan gegabah. Kita tidak tahu apa yang tengah terjadi di luaran. Bahaya apa yang mengancam kita. Waspada itu perlu."
"Ya. Dave tahu itu. Tapi kenapa orang suka sekali membuat pernyataan yang berlebihan. Itu jadi membuat ketakutan semakin menyelimuti semua orang. Menyebalkan bukan?"
"Tidak menyebalkan, Dave. Bilang saja kamu tidak suka kalau Mama antar jemput setiap hari. Kamu tidak bisa take video lagi, kan? Mama kan sudah bilang tidak usah---"
"Stop, Ma. Kenapa jadi melebar ke mana-mana?" David memotong pembicaraan sang ibu yang sudah mulai menjurus pada ocehan seperti biasa. Hari ini banyak tugas yang cukup melelahkan bagi David. Jadi, ia ingin sedikit ketenangan.
"Mama kan hanya mengingatkan kalau semua itu tak ada gunanya, Dave. Lebih baik kamu belajar dengan benar. Lalu, menjadi orang yang sukses. Bukan seperti ini. Hidup mengandalkan kepopuleran di sosial media tidak akan bisa bertahan lama. Tidak menjamin masa depan kamu."
"Ya, Ma."
David merutuki jalanan sore ini yang begitu macet sehingga membuat dirinya harus lebih lama di perjalanan dan mendengar perkataan sang ibu yang entah sudah berapa kali dilontarkan.
Matanya terpejam. Bohong saja kalau ia tidak lelah. Hari ini begitu menyebalkan baginya. Ibunya belum bertanya mengenai nilai ulangan hariannya yang ternyata tidak begitu memuaskan. David bukan tidak belajar. Tetapi, bukankah setiap orang tidak pernah bisa selalu sempurna. Ia harus terima kalau hari ini dia tidak mengatur sosial medianya karena sang ibu pasti akan menceramahinya lagi ketika sampai di rumah.
"Oh iya, Dave." Sang ibu kembali buka suara saat mereka sampai di rumah.
"Mama mau tanya soal ulangan harian minggu lalu, kan? Nilai Dave tidak sesempurna yang Mama harapkan."
Sebelum ibunya bicara banyak hal, David memilih untuk bicara terlebih dahulu. Toh, kalau ia jujur setidaknya nada bicara sang ibu tidak akan terlalu keras.
"Ah? Mama lupa."
David menahan decakannya saat mendengar jawaban sang ibu. Kali ini, ia yang mencari perkara sendiri. Sang ibu lupa, malah ia ingatkan. Karena, biasanya wanita paruh baya itu paling ingat dengan semua jadwalnya.
Hasil ulangan yang berada di tangan sang ibu membuat David mengumpat di dalam hati. Bisa-bisanya ia mencari penyakit dengan cara seperti ini. Kalau ia tidak bicara, ibunya mungkin tidak akan sadar.
"Oh, ulangan yang sebelumnya kamu dapat nilai di bawah ini, kan? Ini sudah cukup bagus. Tidak masalah. Mama tahu kalau kamu tidak terlalu bagus di pelajaran ini. Yang penting, tidak turun."
Apa yang ibunya katakan membuat David mengernyit. Apakah yang berkata ibunya sungguhan? Mengapa tidak membawa hal-hal mengenai dancenya dan lain-lain?
"Mama sehat?"
"Kamu tidak lihat kalau Mama sesehat ini? Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ah, tidak. Ya sudah kalau begitu, Dave ke kamar dulu, Ma."
David segera berlalu dari sana dengan kertas ulangan yang tidak mendapat amukan dari sang ibu.
Meski tampak begitu aneh, tapi David cukup bersyukur. Ia tak langsung mengganti pakaiannya dan memilih merebahkan tubuhnya sejenak. Lelaki itu juga membuka sosial medianya. Cukup ramai dan tak jarang yang meminta dirinya membuat video baru sampai memintanya mengikuti tantangan yang tengah digandrungi sekarang.
Kali ini, David hanya menggulir layar ponselnya tanpa membalas komentar-komentar itu sama sekali karena ia merasa masih belum bisa menjalankan apa yang mereka inginkan.
Rasanya, ia ingin mencari siapa yang membuat rumor-rumor tidak jelas sampai membuat dirinya kehilangan kebebasannya seperti ini.
"Dave, jangan lupa cepat mandi."
"Iya, Ma."
David hampir saja lupa kalau sebelumnya ia meminta sang ibu untuk makan di luar. Lalu, ia segera bersiap atau saat tidak tepat waktu, ibunya akan kembali dengan segala ocehannya.
"Jadi, kita akan makan di mana?" tanya sang ibu setelah setengah jam menunggu David bersiap.
"Dave ikut saja."
"Lho, kan kamu yang mau. Harusnya, kamu yang memilih tempatnya."
Tumben sekali memberiku pilihan." Tentu saja, hal itu hanya David katakan dalam hati.
"Dave yakin, pilihan Mama tidak akan pernah salah."
"Nice. Kita ke restoran favorit kamu sejak kecil. Bagaimana?"
"Oh, tempat paman Beam?"
"Yash! Ayo kita berangkat."
"Hm..."
Mereka sampai di restauran yang ibunya sebutkan setelah menempuh dua puluh menit perjalanan. David melihat ke sekeliling dan merasa tempat ini masih sama seperti ia kecil dulu. Ingatannya kembali pada saat dirinya susah sekali makan, maka ibu dan ayahnya akan mengajaknya ke restauran ini. Itu karena David begitu menyukai ayam goreng yang ada di tempat ini.
"Dave mau pesan apa?"
"Seperti biasa."
"Oh, ada yang rindu rupanya."
David hanya terkekeh mendengar perkataan sang ibu. Entah, David merasa ada sesuatu yang cukup aneh dari ibunya setelah ia menyerahkan tugas yang sebenarnya tidak ibunya tanyakan itu.
"Jangan terlalu banyak melamun."
"Ha?"
"Kamu, Dave. Jangan terlalu banyak melamun."
"Tidak. Dave hanya tengah memikirkan sesuatu yang tidak penting. By the way, terima kasih, Ma."
"Sama-sama. Mama juga senang Dave mau keluar seperti sekarang ini. Maaf ya kalau Mama terlalu keras padamu. Mama hanya tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu."
David mengangguk paham. Obrolannya dengan sang ibu terpaksa harus terpotong karena seseorang menyenggol bahunya cukup keras dan berlari begitu saja. Ibunya hampir saja emosi kalah tidak David tahan dan yakinkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Sudah, Ma."
"Sembarangan sekali! Mama tidak suka dengan orang-orang seperti itu. Tak ada sopan santunnya! Memangnya, dia siapa? Bahkan, minta maaf pun tidak!"
Sampai makan malam mereka sampai, David mencoba menenangkan sang ibu yang masih begitu emosi dengan orang yang menabrak David dan pergi begitu saja.