Flora mendengkus begitu turun dari bus. Pasalnya Jov sudah memarkir motornya di dekat pos sekuriti. Jovan mengembangkan senyum, tapi hanya dilewati Flora begitu saja.
“Saya ditolak cewek, Pak.” Kekeh Jov pada Pak Adin, sekuriti berumur yang turut terkekeh.
Jov menjajari langkah Flora. Dia meninggalkan motornya begitu saja. Gadis itu tetap berjalan tanpa mengatakan apa-apa. Dengan begini Jov bisa mengukur tinggi badan Flo. Tidak terlalu tinggi untuk ukuran anak bule.
“Lo nggak usah buang-buang waktu buat ngedeketin gue. Gue nggak ada waktu buat main-main sama lo.” Akhirnya Flora berhenti. Dia tidak tahan untuk tetap abai pada sosok yang terus mengikuti langkahnya tersebut. Apalagi mereka sudah melewati rumah Jov.
Jovan tersenyum. Manis. Masih sama seperti sembilan tahun lalu. Flo tidak bisa memungkiri pesona cowok di depannya ini. Hanya saja dia sudah hafal urutannya. Jov akan bersikap manis padanya. Mereka jadian. Lalu dalam kurun waktu tertentu Jov akan memutuskannya dengan berbagai alasan. Karena waktu taruhan telah lewat. Bisa saja Flo mengikuti permainan tersebut. Dia ikut bermain agar semuanya cepat selesai. Dia akan terbebas dari Jov. Segampang itu. Karena Jov takkan pernah mengingat korbannya. Sama seperti dia tidak tahu siapa calon korbannya tersebut.
Hanya saja, Flo takut dia akan terlalu berharap. Flo takut dia menjadi serakah. Dia ingin memiliki Jov. Dia ingin mengubah cowok itu menjadi lebih baik. Yang Flo takutkan adalah dirinya sendiri. Sangat mudah untuk jatuh cinta pada cowok ini. Segala pesona yang dibutuhkan laki-laki ada padanya.
Jov tajir, itu pasti, lihat saja tunggangannya. Lalu kenapa dia butuh uang? Apa setiap taruhan memang tentang uang? Flora belum menemukan alasan yang tepat. Jov tampan, itu jelas. Untuk ukuran orang Indonesia, wajah Jov sangat menjual. Andai dia mau menjajal peran di pertelevisian, pasti laku keras. Wajah-wajah seperti dia sangat laris di pasaran. Dia tidak perlu repot-repot melakukan taruhan.
Jov tinggi. Itu pasti. Jov mewarisi darah Rusia dari ibunya. Postur tinggi, dengan kulit putih pucat serta kontur wajah tegas. Yang paling membuat semua gadis tergila-gila adalah sorot matanya yang memuja. Siapa gadis yang tidak jatuh hati pada sorot mata seromantis itu?
“Kenapa lo pikir gue sedang main-main?” Entah kenapa Jov menyukai reaksi gadis ini. Meledak-ledak dan tidak tertebak. Semenjak di meja kantin tadi dia sadar, dia sudah kalah dalam taruhan. Hanya saja jiwanya tergelitik, sejauh apa gadis ini akan mengelak?
Flo memijat pelipis. Jika dia bilang sudah paham betul dengan trik yang Jov lakukan selama ini, Jov pasti senang. Karena secara tidak langsung Flo mengakui telah mencari informasi tentang cowok tersebut. Sebenarnya Flo tidak pernah mencari. Hanya saja, jika mereka tidak sengaja berpapasan di gedung sekolah, Kala akan membahas cowok itu. Bukan hanya Jov, tapi mengenai Mario serta Galang. Karena ketiga cowok ini sangat populer di sekolah.
“Kalau begitu lo lagi apa? Apa alasan lo nyari gue?”
Jovan menggaruk kepalanya. Untuk pertama kalinya dia perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan remeh semacam itu. Jika yang bertanya gadis lain, dia akan langsung nembak. Tentu saja berhasil. Masalahnya gadis ini sedang melotot di depannya. Salah-salah Jov akan mendapat timpukan dari tas punggung yang dia pakai.
Flo memutuskan untuk meninggalkan Jovan saat cowok itu tak kunjung memberi jawaban. Flo berjalan cepat menyusuri trotoar di samping danau. Semilir angin membuat rambutnya meriap hingga ke wajah.
“Gue suka sama lo.”
Langkah Flo berhenti. Benar, kan, jantugnya tetap berdegub kencang walau dia sadar sedang dipermainkan oleh Jovan. Pipinya juga memanas. Flo buru-buru menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Dia memang harus menghindari cowok ini. Demi kewarasan organ tubuhnya yang di luar kendali.
Melihat Flo diam, Jovan mendekati gadis itu. Apa yang Jovan lihat sangat mengecewakan. Flo justru terlihat lelah. Seperti sudah bosan mendengar kata-kata semacam itu. Apa kalimatnya tadi kurang tulus? Jov bertanya-tanya.
“Gue juga harus bilang bahwa gue juga suka sama lo, gitu? Lalu selesai, kan? Tahapannya sampai mana? Kita jadian? Lalu putus. Berapa lama? Berapa duit?”
Jovan tertawa sambil bertepuk tangan. Flora terlalu cerdas untuk dia kadali. Benar kata Mario, sudah saatnya dia ditolak. Maka dia akan bilang prank, April Mop, atau apa pun itu. Sepertinya dia benar-benar akan memiliki hutang pada Mario tanpa memakai uang tersebut. Tahu begini dia mengajukan pinjaman saja sejak tadi. Lebih cepat.
“Gue penasaran, cewek seperti lo pernah ditembak cowok apa nggak? Lalu reaksi lo bagaimana?”
Flo menahan diri untuk tidak meninju Jovan. Dia memang sudah tahu sedang dipermainkan. Namun, dia tetap marah saat hal itu benaran terjadi. Apalagi Jov mengakuinya terang-terangan.
“Sekarang gue bisa pulang dengan tenang, kan? Lo nggak akan mengganggu hidup gue lagi, kan? Lo sudah tahu jawabannya.” Flo melangkah lagi. Dia berusaha bersikap datar. Dia tidak ingin terpancing. Cara paling mudah menaklukkan lawan yaitu buat dia marah. Saat marah semuanya tidak akan terkontrol. Flo bisa saja mengatakan sesuatu yang akan dia sesali nanti.
“Wait-wait.” Jovan meraih lengan Flo.
Seperti tersengat aliran listrik, Flo langsung mengibaskan lengannya. Jov terpana sesaat. Dia memeriksa telapak tangannya sendiri. Barangkali ada kotoran hingga membuat gadis di depannya jijik. Andai Jov mau memperhatikan perubahan mimik muka Flo. Dia akan tahu gadis itu baru saja blushing.
“Lo suka sesama cewek, ya?” Jovan berkata hati-hati. Dari yang dia lihat, kemungkinan Flo memang tidak menyukai lawan jenis.
Flo melotot. Dia menggigit bibir bawahnya supaya tidak mengeluarkan kata-k********r semacam sumpah serapah yang akhirnya akan membuat dia mengoceh tidak jelas. Kebiasaan buruk Flo saat marah. Lalu dia akan menyesal.
“Sorry. Gue pikir ....”
Flo menelan ludah sesaat sebelum memotong kata-kata Jovan. “Gue nggak normal? Anggap saja begitu. Kita sudah tidak ada urusan, bukan?” Flo melangkah lagi. Dia harus buru-buru sampai rumah. Tangan yang tadi dipegang Jovan, walau sesaat, meninggalkan jejak panas dan memacu kerja jantung. Dia ingin menangis melihat cara kerja tubuhnya yang di luar kontrol begini.
“Apa gue pernah berbuat salah pada lo? Kita pernah bertemu sebelumnya?”
Langkah Flo berhenti lagi. Meskipun setipis kulit ari, hati Flo berharap Jovan memang mengingatnya. Sembilan tahun lalu dia masih duduk di bangku kelas satu SD. Apa yang dia harapkan dari ingatan Jovan yang tidak mengenalinya sama sekali itu.
Flo menoleh. Dia melihat cowok jangkung tersebut menunggu jawaban dengan tatapan harap-harap cemas. Berulang kali Flo meyakinkan diri, ini adalah bagian dari rencana besar Jovan untuk menjeratnya. Flo tidak akan terkecoh.
“Gue rasa ini pertemuan ketiga kita. Jadi, tidak ada alasan buat lo ganggu gue, kan? Apalagi seperti yang lo bilang, lo suka sama gue. Itu nggak masuk akal.”
“Kalau gue bilang gue butuh pacaran sama lo, gimana?” Jovan tetap mengejar.
“Gue nggak tertarik untuk pacaran.”
Jovan tersenyum. Setidaknya cewek irit bicara ini tetap membalas ucapannya. “Kalau langsung menikah?”
Flo merasa percuma meladeni Jovan. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali.
“Cleonara Flora, jadi cewek gue, ya?” Jovan berteriak kencang.
Flo ternganga tidak percaya. Meskipun perumahan mereka sepi saat sore begini, tapi tetap saja, beberapa kepala terlihat mengintip dari jendela.
Flo langsung berlari menuju rumahnya. Jovan tertawa terpingkal-pingkal.
Dasar edan.
*