Flo mengembuskan napasnya saat menyimpan sepatu di rak. Pemandangan seperti ini yang beberapa hari ini membuat hatinya teriris. Kak David sedang menyuapi Tamara. Gadis kecil itu sedang bermain lego. Sedangkan Kak David dengan telaten bergerak mengikuti ke mana gadis itu berpindah. Memangnya di mana ibunya? Atau di mana suster yang biasa menjaga Tamara? Flo mendengkus tanpa sadar.
“Eh, sudah pulang. Naik bus, ya? Tahu begitu tadi Kakak jemput.” David menyimpan mangkuk ke meja dan segera mendekati Flo yang masih membungkuk di depan rak sepatu.
Flo tersenyum. Setidaknya Kak David tidak benar-benar melupakan keberadaannya di rumah ini. Kakak laki-lakinya tersebut memberi pelukan ringan seolah dia masih SD.
“Kak Flo, Ala mau peluk.” Tamara sudah berdiri di belakang David.
David melepaskan pelukannya. Dia tertawa pada Tamara. Flo benci harus mengakui telah cemburu pada Tamara. Tapi, kenyataannya memang begitu. Dia mendengkus dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua.
David segera menoleh saat menyadari Flora telah pergi. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi urung.
“Peluk Kak David saja, ya. Kak Flo capek.” David menggendong Tamara dan mendapatkan kekehan gadis itu.
“Kak Flo nggak suka sama Ala, ya, Kak?” Mata gadis kecil itu terlihat sedih.
“Suka.” David segera mencium Tamara. Pipi gempilnya membuat siapa pun yang melihatnya menjadi gemas. Kecuali Flora tentu saja. David sadar betul kalau adiknya belum bisa berbaur secara leluasa dengan keluarga ini. Flo lebih sering menghindar jika berpapasan dengan siapa pun penghuni rumah, tak terkecuali papa mereka. Saat makan bersama pun Flo lebih banyak diam. Dia bicara jika ada yang bertanya. Selebihnya dia hanya makan dengan tenang sampai selesai.
“Nggak mau Ala peluk tapi.” Tamara cemberut.
“Kak Flo biar mandi dulu. Kalau sudah harum nanti pasti mau peluk Ara.”
Mata Tamara berbinar. Dia langsung meminta turun untuk kembali menyusun lego. Dia sedang membuat kastil untuk boneka barbie.
David langsung menyusul ke kamar Flo.
Kamar Flo tidak terkunci. Sejak kecil anak itu memang cenderung ceroboh. Itu mengapa David ngotot menjemput Flo ke apartemen dan dia bawa ke rumah ini saat mamanya dirawat di rumah sakit. Selama ini David selalu khawatir pada Flo jika Mama bekerja dan meninggalkan gadis itu sendirian.
“Sudah makan memangnya?” David bersandar pada daun pintu yang terbuka. Dia bersedekap sambil memandang punggung Flora. Gadis itu sedang duduk di meja belajarnya. Dia merapikan buku beserta alat tulis lain yang baru saja dikeluarkan dari tas.
“Sudah,” jawab Flo sekenanya. Kalau yang dimaksud kakaknya adalah makan siang, dia sudah melakukan itu jam istirahat kedua tadi. Meskipun sekarang sudah terasa lapar lagi, dia tidak ingin duduk sendirian di meja makan.
“Mau ikut Kakak ke bengkel, nanti sekalian makan di luar. Kakak hendak ganti oli.”
Flo langsung berbalik. Dia tersenyum dan mengangguk. Tentu saja dia mau. Tidak berada di dalam rumah merupakan hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.
David tersenyum. “Kakak tunggu di bawah, ya?”
Flo mengangguk lagi. Dia segera menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Dari balik pintu kamar Flo yang sudah tertutup David menghela napas berat. Apakah yang dia lakukan salah? Membuat Flo tertekan di rumah ini? Dia mengembuskan napasnya dengan mulut. Dadanya terasa sesak. Meskipun bisa melihat Flo setiap hari, namun gadis itu sama sekali tidak terlihat bahagia.
*
David sengaja membawa Flo keliling komplek sebelum bergabung di jalan raya. Dia ingin melihat Flo tersenyum seperti dulu. Sangat sulit mendengar tawa lepas Flora. Sudah bertahun-tahun sejak perpisahan orang tua mereka sebenarnya. Flo menjadi pendiam dan tertutup. Bahkan saat David berkunjung ke apartemen, Flo tidak terlihat antusias.
“Mau makan dulu?” David menoleh ke belakang. Kaca helmnya dia naikkan. Meskipun dia membawa motor dengan pelan, tetap saja deru mesinnya cukup nyaring. Belum lagi mereka sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan.
“Sudah makan.” Flo memilih bertahan dengan kebohongannya. Dia tidak mau dicap manja oleh kakaknya. Sikapnya bisa disebut merajuk jika dia meminta makan sekarang.
“Jadi, langsung ke bengkel ini? Nggak apa-apa?”
Flora mengangguk.
David segera menambah kecepatan motornya. Dia tahu sekali kalau adiknya lapar. Dia pernah sekolah. Pulang sekolah itu memang waktunya mengisi energi yang sudah terkuras. Biar kata sudah makan siang, makanan kantin takkan cukup men-suply kebutuhan tubuh setelah digunakan untuk menyerap pelajaran di jam-jam kritis di atas pukul dua belas siang. Jam ngantuk yang sangat menyiksa.
Tak butuh waktu lama sampai David memarkir motornya di sebuah bengkel yang lumayan elit kalau Flora bilang. Sangat berbeda dengan bengkel-bengkel motor yang pernah dia lihat selama ini. Bengkel ini cenderung bersih dan memiliki karyawan dengan seragam rapi. Bukan setelan kantor juga, biar bagaimanapun mereka adalah montir.
Flora duduk pada salah satu bangku. Dia masih terus memandang sekeliling. Rata-rata pengunjung bengkel ini cowok. Tentu saja. Bukan itu saja, motor yang kebanyakan sedang ditangani adalah tipe-tipe dengan bodi besar. Semacam motor sport. Flora masih mengedarkan pandangannya sampai matanya bertemu dengan motor merah yang pagi tadi hampir menabraknya.
“Oh, tidak.” Flora bergumam. “Dia di sini?” Flora menoleh kanan dan kiri. Berharap motor itu bukan milik Jovan. Lagipula motor besar dengan warna merah tidak diproduksi secara terbatas. Pasti banyak orang lain yang memilikinya juga.
“Hai, Pacar? Ngapain di sini?”
Jantung Flo hampir copot. Orang yang sedang dia pikirkan sudah duduk di samping. Entah dari mana dia muncul? Flo bahkan yakin sudah memeriksa ruangan ini dan tidak menemukan Jovan. Cowok itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Berarti dia belum pulang ke rumahnya? Flora mendengkus dan membuang napas lelah.
“Lapar, ya? Mau makan?”
Flo menyesal kenapa tidak turut kakaknya masuk ke dalam tadi. Kenapa dia justru memilih duduk di luar dan terjebak dengan Jovan seperti sekarang.
“Lo pucat. Lapar apa sakit? Lo sama siapa, sih?” Jovan mengedarkan pandangan.
“Lo duduk jauhan sana. Masih lebar juga. Heran.” Flora beringsut untuk menyelamatkan diri. Detak jantungnya sudah mulai tidak karuan.
Jovan terkekeh. “Duduk sama pacar kudu dekat-dekat.”
“Sejak kapan kita pacaran memangnya?”
“Sejak hari ini.” Jovan menjawab cepat.
Flo membuang muka. Hal tersebut membuat Jovan terkekeh. Respon Flora atas semua ucapannya sungguh menyenangkan untuk dilihat. Gadis ini terlihat sangat tersiksa jika berada di dekatnya. Tapi, bukannya menjauh, Jovan malah dibuat penasaran. Dia ingin tahu apa yang gadis ini pikirkan.
Flora hendak mengatakan sesuatu saat terdengar panggilan masuk dari ponsel Jovan. Cowok tersebut segera berdiri setelah melihat siapa yang menelpon, lalu berjalan menjauh. Tak lama kemudian dia berlari dan mendekati motornya. Tanpa melihat Flora sama sekali dia langsung menyalakan mesin motor dan bergabung dengan kendaraan lain di jalan.
Flora mengerjap saat menyadari telah memperhatikan cowok itu hingga tidak terlihat lagi dari pandangan.
“Apa itu tadi?” tanyanya tanpa sadar.
“Apanya?”
Flora menoleh, David sudah duduk di sebelahnya. Kakaknya membawa sekaleng minuman dingin yang sudah dibuka tutupnya. Flora memandang gambarnya sekilas sebelum meneguk isinya. Sekaleng jus jambu merah yang cukup mampu mengganjal perutnya sejenak sebelum mereka memutuskan untuk makan malam.
“Bukan apa-apa.” Flora menjawab setelah sadar kakaknya masih menunggu.
“Kamu mau makan apa? Kakak belikan.”
“Apa saja boleh?” Mata Flora berbinar. Hal-hal semacam ini yang sering dia rindukan. Memiliki seseorang yang bisa dia mintai apa saja. Seseorang yang takkan mengatakan tidak untuknya.
“Sushi.”
David tercenung sebelum mengangguk dan berusaha tersenyum. Dia mengambil napas dalam dengan memalingkan wajah. Dadanya kembali terasa sesak. Flora telah meminta masa lalu mereka. Dulu mereka sering makan di restoran Jepang saat ada momen spesial. Mereka berempat, saat orang tuanya belum berpisah.
*