Letakkan Di Depan

1420 Kata
Tugas mendokumentasikan biji kacang hijau menjadi kecambah sudah dilakukan seminggu terakhir. Flora memasang sebuah kamera di depan wadah tempat dia menyiram biji-biji tersebut. Rencananya, video selama tujuh hari penuh itu akan dibuat timelapse dengan durasi tak lebih dari lima menit. Untuk itulah dia dan Kala tidak langsung pulang begitu bel berbunyi. Keduanya memilih duduk di sudut kantin yang lumayan sepi untuk mendiskusikan hal tersebut. “Aku download musiknya dulu, ya?” Kala langsung membuka layar ponselnya begitu Flo menekan tombol power pada Macbook yang berhasil dia pinjam dari Kak David pagi tadi sebelum berangkat sekolah. Flo tidak memiliki laptop sendiri, itu kenyataannya. Dulu, waktu masih SMP, dia biasa meminjam milik Mama saat mengerjakan tugas. Kerutan di kening David membuatnya was-was. Apa kira-kira yang akan ditanyakan oleh kakaknya tersebut. Alih-alih bertanya, David langsung menyerahkan laptopnya dan mengantar Flo untuk berangkat sekolah. “Cakep. Pacar kakak kamu, ya?” Flo memandang wallpaper pada layar laptop. David sedang tersenyum di samping seorang gadis yang juga sama tersenyum. Keduanya duduk rapat beralas rumput. Sebuah topi rajut menutupi kepala gadis tersebut. Mata Flo memicing. Meyakinkan diri bahwa dia melihat salju di sana. Di mana mereka mengambil gambar tersebut? Pertanyaan itu hanya menggumpal di kepala. “Mungkin.” Flo langsung mencari aplikasi untuk mengedit video. David sudah menjelaskan folder apa saja yang perlu Flora buka untuk sampai ke aplikasi tersebut. Flo langsung berkata butuh laptop untuk mengedit video begitu David bergeming. Kakak lelakinya tersebut sempat mematung sejenak sambil memegang gagang pintu begitu Flo mengutarakan niatnya. Kala kembali menekuni layar ponselnya. Dia sesekali mendekatkan gawainya tersebut ke telinga. Dia memang tidak menaikkan volume suara. Walaupun kondisi kantin lumayan sepi, mengganggu orang lain bukan hal yang mereka berdua inginkan saat ini. “Balkon kamar kamu view-nya bagus.” Kala kembali berkomentar. Flo hanya tersenyum. Selama ini dia kurang memperhatikan pemandangan di luar kamarnya. Dia bahkan tidak pernah berdiri di sana. Kecuali seminggu ini. Itu juga dia kerjakan karena ada kecambah yang harus dirawat. Setelah memastikan tanamannya baik-baik saja, dia akan kembali ke kamar. “Bagaimana dengan yang ini?” Kala menaikkan volume suara ponselnya sedikit. Sehingga Flora perlu membungkuk karena gadget tersebut berada di meja. Flora mengangguk setuju. Instrumental berupa dentingan piano yang lembut seperti itu memang cocok untuk mengiringi pemandangan yang ternyata benar-benar bagus. Sepertinya mulai sekarang Flora akan sering keluar dari kamarnya dan duduk di balkon tersebut. Dia tidak memiliki tempat lain selain kamar selama ini. “Halo, Pacar.” Flora mendongak, pun Kala yang tadinya turut menurunkan kepalanya hingga mendekati layar ponsel. Jovan sudah duduk di depan mereka berdua dengan senyum tanpa dosa. Flora langsung menghela napas. Dia tidak menyangka Jov akan sangat keras kepala. “Kalian pacaran?” Kala menoleh pada Flora. Dia segera menghentikan lagu yang masih mengalun merdu. “Apa nama instrumental tadi, biar aku download di sini.” Flora membuka tab baru. Dia memandang Kala yang masih terpaku. Kala segera membuka ponselnya kembali. Dia menyerahkan ponsel tersebut pada Flora. “Kalian benaran pacaran?” “Benar dong.” Jovan terkekeh. Flora enggan menanggapi. Dia sadar betul akan permainan yang diciptakan Jovan bersama teman-temannya. Dia tidak mau terlibat. Bukan urusannya juga mengenai siapa yang akan menang atau kalah. Ini hanya sebatas permainan. Masalahnya, Flo tidak yakin akan mampu mengimbangi permainan tersebut. Jovan bisa saja menggunakan akal supaya menang. Namun, Flo bisa dipastikan akan menggunakan hati. Tidak usah ditebak lagi, pada akhirnya dia yang akan terluka. Jovan bisa melenggang pergi tanpa beban. Lalu, bagaimana dengan hati Flora? Tidak akan ada yang peduli. Untuk itu, lebih baik dia tidak terlibat. “Wah, siap-siap Flo. Kehidupanmu yang tenang akan berantakan mulai sekarang.” Wajah Kala terlihat prihatin. Sangat kontras dengan raut bahagia yang ditampilkan Jovan. Kening Jovan langsung berkerut. Sama halnya dengan Flora yang tidak mengerti kenapa Kala berkata demikian. Selama ini padahal Kala yang teramat rajin menceritakan tiga cowok yang paling diminati di sekolah ini. Namun, dia sama sekali tidak antusias saat mengetahui salah satu dari mereka mendekati Flora. Mungkin karena Kala sama sadarnya seperti Flora, ini semua tak lebih dari permainan. “Kamu bisa diserang sama fans brutal Kak Jovan. Memangnya mereka bisa terima begitu saja.” Tatapan Kala lurus pada Flora yang langsung mengembuskan napas. Flo pikir tadi akan mendengar kejutan. Hal seperti itu juga sudah dia pikirkan. Mengingat Jovan sudah sering melakukan hal ini dan banyak barisan sakit hati karenanya. Untuk itu Flora tidak berminat untuk bergabung di dalamnya. “Lo nakutin Flora, tahu, nggak? Nama lo siapa, sih?” Jovan memandang lurus pada Kala. Selama ini bukannya dia buta dan tuli. Dia tahu benar nasib sial gadis-gadis yang akhirnya menjadi bahan taruhan. Mereka bisa saja mendapatkan perundungan jika tidak bisa menjaga diri. Karena Jovan tidak peduli dengan yang mereka hadapi. Setelah terdengar kabar keduanya putus biasanya perundungan tersebut akan berhenti. “Kak Jovan nggak ada urusan dengan saya. Jadi, nggak usah tahu nama saya juga. Palingan keluar dari kantin ini Kakak akan lupa siapa saya.” Kala mengedikkan bahu dan menyimpan ponselnya ke dalam tas. Mau tidak mau Flo tersenyum mendengar jawaban Kala tersebut. Dia memilih fokus pada layar laptop dan mulai mempercepat video. Ada beberapa bagian yang dia potong, terutama saat malam hari. Karena kecambah tidak terlihat jelas dengan bantuan sinar lampu. “Lo kalau senyum gitu cakep juga. Gue bisa jatuh cinta benaran ini.” Flora langsung cemberut. Jatuh cinta benaran? Cowok ini benar-benar paling jago mematahkan hati orang. Flora jelas-jelas sedang disuguhi situasi bahwa Jovan ingin bermain-main dengannya. “Mau lo apa, sih?” Flora mendongak. Tatapan keduanya terkunci. Untuk beberapa saat waktu seakan terhenti. Baik Jovan maupun Flora menahan napas tanpa sadar. “Dia kan mau macarin kamu, Flo.” Kala bergumam. Hal tersebut mengembalikan kesadaran Flora. Dia segera menarik napas dalam. Mengutuk dadanya yang berdebar-debar. Jovan juga melakukan hal yang sama. Dia turut meraup oksigen sebanyak mungkin, lalu tersenyum sendiri saat menyadari, betapa sorot mata seorang Flora mampu menghentikan dunianya walau sejenak. Gadis ini memang istimewa. Dia berbeda. Tentu saja berbeda. Gadis kebanyakan tidak perlu ditawari dua kali untuk setuju berpacaran. “Kalau nggak berhasil macarin gue, kena denda, ya?” Jovan tersenyum lagi. Flora langsung mengutuk matanya karena menikmati senyum tersebut. Bagaimana caranya dia menjaga hati kalau cowok ini terus-terusan berusaha mendekatinya? Tanpa basi-basi Jovan mengatakan mereka harus pacaran. Flora menganggap ini sebuah keharusan mengingat betapa gigihnya cowok itu. “Ya. Semacam itu. Dan gue nggak punya uang untuk bayar dendanya.” Jovan mengedikkan bahu. Flora mendengkus. Lagian bukan urusannya juga. Kenapa dia harus ikut memikirkan imbas dari permainan yang mereka ciptakan? Jovan tertawa. “Gue tahu. Lo pasti mau bilang bukan urusan gue, begitu, kan? Memang bukan urusan lo, sih. Masalahnya gue seneng saja dekat-dekat sama lo.” Flo berkedip. Sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban semacam itu. Kala tiba-tiba bertepuk tangan tanpa suara. “Saya akui, usaha Kakak memang jempolan untuk menakhlukkan Flora. Pasti taruhannya besar sekali. Kamu sangat berharga Flo.” Kala menoleh pada Flora yang justru mendapatkan dengkusan. Jovan kembali terkekeh. Dia merasa mulai menyukai teman Flora ini. Gadis dengan warna kulit gelap tersebut cukup menyenangkan untuk diajak berteman. Tidak heran jika Flora merasa cukup dengan satu orang saja di sisinya. Sepengetahuan Jovan, Flora jarang berinteraksi dengan teman yang lain. “Nah, done. Ayo kita pulang. Sudah aku email-kan ke kamu hasilnya. Tinggal kita kumpulkan.” Flora mematikan laptop dan segera menyimpannya ke dalam tas. “Mau pulang sekarang, ya?” Jovan memandang keduanya bergantian. Kala langsung mengangguk dan memeriksa jam di pergelangan tangan. “Mama sudah menunggu di depan. Mau kami antar pulang Flo?” Dia menoleh pada Flora yang masih menata isi tasnya. Flora menggeleng. “Tidak usah. Aku naik taksi saja karena bus sekolah sudah pasti tidak ada.” “Kita makan dulu, ya, Sayang.” Tangan Flora berhenti. Sayang? Dari pacar sekarang sayang. Dan bodohnya tubuhnya mendadak tremor. “Saya duluan kalau begitu.” Kala memeluk Flora sekilas sebelum melangkah keluar. “Gue bisa pulang sendiri.” Flo segera bergegas. Sayangnya dengan mudah Jovan menjajari langkahnya. “Kita tinggal dalam komplek yang sama. Kenapa harus pulang sendiri-sendiri?” “Gue nggak bisa duduk di motor lo yang tinggi dan besar itu.” Flora beralasan. Tentu saja dia tidak bisa. Karena duduk di sana sama saja menyerahkan tubuhnya untuk menempel pada punggung cowok itu. “Pagi tadi lo naik motor besar juga. Apa bedanya?” Flora menoleh dan mendapatkan senyum tertahan Jovan. “Letakkan tas ke depan kalau takut nempel sama gue.” Senyum Jovan sudah berubah menjadi cengiran. Flo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya menggerutu sambil mengikuti langkah cowok itu. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN