Hati-Hati

1388 Kata
Pukul setengah tiga pagi, akhirnya Jovan memutuskan keluar dari rumah. Meskipun sudah menyingkir ke rooftop dan meringkuk di sana dengan bantuan sleeping bed, tetap saja, teman-teman Mich selalu mampu membuatnya terjaga. Semenjak satu jam lalu, saat dirinya hampir benar-benar terlelap, dia bisa mendengar desahan panjang diikuti tawa, lalu u*****n kasar. Sepertinya ada yang nekat making love di tempat terbuka. Jovan langsung bangun, tanpa menoleh pada dua orang yang sudah telanjang tidak jauh dari bangku panjang yang dia gunakan untuk tidur. Saat turun ke bawah pun pemandangan tidak jauh berbeda. Bau alkohol, asap rokok dengan jajanan berserakan di meja menjadi hal biasa saat Mich berada di rumah. Lalu, seseorang yang sedang berciuman di tangga, atau sedang berpelukan di sofa juga tidak luput dari pandangan Jovan saat lewat begitu saja. Dia tidak menemukan kakaknya di antara orang-orang yang sedang teler dengan bendungan nafsu yang meledak tak tahu tempat itu. Jovan langsung menuju garasi dan mengeluarkan motornya. Dia tidak tahu akan ke mana. Yang penting keluar dulu dari rumah. Dia mulai menjalankan kendaraan berbodi besar tersebut. Walaupun pelan, suara knalpotnya tetap nyaring di malam yang masih sangat sunyi seperti sekarang. Jovan henya berputar-putar di dalam komplek. Beberapa kali dia berpapasan dengan satpam yang sedang keliling dengan sepeda motornya. Bukan hal baru jika Jovan akan berkeliling tanpa tujuan seperti sekarang jika rumahnya terlalu hingar-bingar. Lagipula Jovan bukan orang luar yang akan melakukan tindak kejahatan. Dia hanya berputar saja. Satpam tersebut berpikir, Jovan butuh udara segar. Motor Jovan berhenti di depan rumah Flora. Karena mengantar gadis itu pulang beberapa hari lalu, dia jadi tahu di mana rumah gadis itu. tatapan Jovan tertuju pada kamar di lantai dua dengan cahaya lampu yang masih menyala. Entah mengapa dia percaya itu kamar Flora. Hati kecilnya juga mengatakan bahwa gadis itu belum tidur. Tidak menjadi soal jika Flora memang begadang semalaman, mengingat mereka tidak akan sekolah besok. Jovan tersenyum. Dia mengira Flora sedang maraton menonton Drama Korea. Cewek-cewek sekarang lagi demam dengan drama-drama tersebut. “Kalian sudah jadian, ya?” Pertanyaan itu dilontarkan Mario keesokan hari setelah Jovan berhasil menculik Flora dari sekolah. Jovan menyebutnya demikian karena berhasil membawa gadis itu untuk makan. Dia bermaksud meminta nomor telepon Flora. Tentu saja Flora tidak bersedia memberitahunya walau dia sudah memasang wajah paling imut. Biasanya hal tersebut sangat berhasil untuk para gadis. Bahkan Michelle yang galaknya nggak ketulungan pun sering kalah debat sama Jovan jika cowok itu memutuskan untuk merayu. “Belum.” Jovan terkekeh. Meskipun tahu benar dia telah gagal, namun hatinya senang. Dia cukup terhibur dengan keberadaan seorang Cleonara Flora. Seumpama nantinya Mario memutuskan Jovan memiliki utang, dia tidak keberatan. Mengenal Flora ternyata cukup menyenangkan. “Sudah boncengan begitu?” Mario menegakkan tubuhnya. Mereka sedang duduk di lapangan setelah selesai latihan basket. Jovan memperhatikan Galang yang terlihat gelisah. Galang sepertinya tidak menyukai apa yang sedang mereka bahas sekarang. Jovan memang tidak berharap Galang akan antusias dengan permainan yang sering melibatkan cewek tersebut. Selama ini Galang hanya berperan sebagai penonton yang turut menyemangati saja. “Gue paksa. Terpaksa dia ikut. Lagipula sudah tidak ada bus sekolah pada jam segitu. Terus, lokasi sekolah kita cukup jauh dari jalan raya. Dia akan kesulitan mencari taxi. Taxi online juga takkan dibiarkan masuk oleh pihak security.” Jovan kembali terkekeh, mengingat bibir Flora yang cemberut. Flora tidak kesulitan untuk duduk di belakangnya. Postur gadis itu lumayan tinggi. Walau bukan bule tulen, dia mewarisi hampir tujuh puluh persen darah kaukasian dalam tubuhnya. Warna kulit, bentuk wajah, pun pupil matanya yang terang sudah cukup menjelaskan semua itu, walau ada jejak manis dari raut wajahnya saat tersenyum. Bisa jadi ini merupakan warisan atas darah pribumi dalam dirinya. “Susah, ya?” Mario tertawa. Dia meraih botol minum dan segera membuka tutupnya. Tidak butuh waktu lama sampai semua isi botol itu berpindah ke perutnya. “Bersiaplah untuk berpacaran dengan Cleonara Flora, Gal. Jovan akan bertindak sebagai mak comblang sekarang.” Galang hanya mendengkus. Kentara sekali dia tidak menyukai ide tersebut. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa. Semua akan baik-baik saja seperti biasanya. Gadis itu akan segera melupakan Jovan begitu keduanya berpisah. Lalu, Jovan sendiri akan kembali pada dunianya yang berburu hadiah taruhan. Galang percaya semua itu. Itu merupakan hukum wajib dalam dunia mereka. “Gue belum menyerah. Gue masih sangat penasaran sama tuh cewek. Ini pertama kalinya gue ditolak soalnya.” Kekehan Jovan sudah naik tingkat menjadi tawa. Galang memalingkan wajahnya. Dia menatap ring yang berhasil dia bobol beberapa angka dengan melakukan shot jarak jauh. Galang membayangkan apa yang dipikirkan Flora? Apakah gadis itu pada akhirnya akan luluh pada pesona seorang Jovan? “Semangat, Bro.” Mario menepuk bahu Jovan sebelum menyimpan botol minumnya dalam tas. Sekarang ini ibu-ibu lebih sayang pada botol minum daripada darah dagingnya sendiri. Meskipun ibu Mario takkan mempermasalahkan hal kecil semacam itu. Tatapan Jovan masih lurus pada kaca jendela yang tertutup rapat. Lalu, dia memicingkan mata begitu menyadari ada seseorang sedang duduk di balkon yang dibiarkan gelap. Orang tersebut sedang memandang langit. Mungkin dia sedang menghitung bintang atau sedang mengukur dimensi bulan sabit di atas sana. Malam ini langit lumayan terang. Seperti menyadari sedang diperhatikan oleh orang lain, Flora menoleh ke arah jalan. Dia mengerjap beberapa kali, meyakinkan diri bahwa motor sport berwarna merah itu memang terparkir di sana, beserta pengemudinya yang kini sedang tersenyum ramah. Jovan turun dari motornya dan berjalan melewati taman di samping rumah Flo. Tipe perumahan mereka memang cluster, sehingga tidak ada pagar pembatas antar rumah. Sebagai pemisah, ada lahan lumayan lebar yang dibiarkan terbuka dan dijadikan taman. “Ngapain lo?” Flora berbisik setelah Jovan tepat di bawah balkon. “Gue kangen sama lo.” Flora mencibir. Yang mengatakan kangen itu Jovan. Jika orang lain, maka dia takkan ragu untuk mengatakan terima kasih. Merasa tersanjung mungkin. Dirindukan seseorang itu merupakan sebuah kemewahan. Itu juga yang sejak tadi dia pikirkan. Pesan masuk dari mamanya yang meminta Flora untuk pulang di akhir pekan. Mamanya rindu. Walaupun berusaha menutup mata, nyatanya dia tidak mampu terlelap. Akhirnya Flo memilih keluar dari kamar. Berusaha merangkai kalimat yang akan dia ucapkan pada Papa. Dia ingin meminta izin untuk pulang. Hanya menginap sehari atau dua hari. Sayangnya Flo sadar benar bahwa itu akan sulit. Mengingat apa yang telah mamanya lakukan. “Lo pasti juga kangen sama gue sampai nggak bisa tidur begitu.” Flo mengerjap. “Lo sinting tahu, nggak?” “Gue kira lo lagi maraton nonton film. Ternyata lagi melamun.” Jovan melanjutkan tanpa peduli apa yang Flo katakan. Dia menyimpan kedua tangannya ke saku jaket. Udara malam memang lumayan dingin. “Lo bisa sakit keluyuran tengah malam begini.” Flora mendengkus. Melihat Jovan yang beberapa kali bergidik, dia tahu benar cowok itu kedinginan. Rasanya dia ingin melemparkan selimut yang sekarang membungkus tubuhnya tersebut. “Lo mikirin apa, sih? Serius banget. Lagi mikir utang negara, ya? kagak usah lo pikirin juga itu. Lo cukup pikirin gue saja.” Jovan nyengir, seolah apa yang dia katakan itu lucu dan pantas ditanggapi dengan senyum. Sayangnya isi kepala Flo sudah ruwet semenjak pesan itu masuk ke ponselnya selepas makan malam tadi. Dia tidak bisa mengenyahkan pesan singkat tersebut. Dia membacanya berulang kali. Dia sampai hafal di mana letak koma dan titiknya. Pun memakai logat Mama untuk membacanya. “Masuk sana. Mikirnya sambil rebahan di kasur saja. Kamu juga bisa sakit.” Nada suara Jovan terdengar khawatir. Sebenarnya dia memang benar-benar khawatir. Melihat Flora yang tenang dan cenderung sedih itu dia tidak tega menggoda gadis itu. Beberapa kali umpan yang dia lemparkan ternyata tidak mendapatkan tanggapan seperti biasa dari gadis itu. Hal tersebut membuatnya urung untuk melanjutkan. “Lo nggak akan pulang, kan?” Flo memandang busana yang dikenakan Jovan. Selain itu ada sebuah helm di atas tangki motor. Jovan seperti orang yang hendak bepergian. “Di rumah sedang ada pesta s*x. Gue mual. Gue butuh suaka untuk tidur. Kayaknya gue bakalan ke rumah Mario. Lo masuk sana.” “Pesta s*x?” Flora bergumam. “Kakak gue beserta teman-temannya.” “Itu kenapa lo butuh uang untuk keluar dari rumah?” Flo hanya menebak. “Lo tahu dari mana?” Flora mengedikkan bahu. Walau tidak yakin tebakannya benar, reaksi Jovan cukup menjelaskan bahwa itu memang benar. Kekagetan di mata Jovan tidak bisa dibuat-buat. Sangat berbeda dengan cara cowok itu memandangnya saat sedang jahil. “Hati-hati, jangan ngebut. Gue masuk dulu.” Flora membuka membuka pintu geser tanpa menoleh lagi pada Jovan yang masih mematung. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN