Meskipun hampir tidak bisa tidur semalaman, Flo tetap terbangun pada pukul enam pagi. Seperti biasa saat hari sekolah. Dia bergegas mandi dan turun ke bawah untuk sarapan. Hal ini tentu saja mendapat tatapan bertanya dari papanya serta Miranda.
Miranda sadar betul bahwa Flora masih kesulitan untuk beradaptasi. Gadis remaja yang selama ini terpisah dari papanya ini lebih banyak diam saat mereka bersama. Untuk makan saja, Mira harus meminta tolong seorang asisten rumah tangga untuk memanggilnya ke kamar. Selain waktu makan dan ke sekolah, Flo hampir tidak pernah keluar dari kamarnya. Mira memang berharap bisa dekat dengan putri tirinya tersebut. Sama seperti hubungannya dengan David. Namun, sepertinya dia harus lebih banyak bersabar dalam hal ini.
Pagi ini Flo turun sendiri tanpa dipanggil. Dia sudah duduk manis di kursinya saat seorang ART sedang menata meja bersama Miranda.
“Flo mau Tante bikinkan apa?” Mira belum berani menyebut dirinya Mami seperti yang dia lakukan pada Tamara maupun David. Menurut Mira, Flo masih menganggapnya orang lain. Lagipula sudah sangat wajar bagi bule untuk memanggil orang dengan namanya saja, walau mereka memiliki hubungan kekerabatan. Kecuali panggilan untuk orang tua beserta kakek dan nenek mereka. Itu akan berbeda.
Flora memandang Miranda. Dia tidak tahu ingin makan apa. Selama ini yang dia lakukan memakan apa saja yang tersedia di meja. Tidak pernah komplen maupun mengeluh. Dia seperti robot yang sedang diisi daya. Hanya mengunyah dan menelan. Dia juga tidak pernah menunjukkan ekspresi sehingga orang lain bisa menilai, bahwa dia menyukai makanan tersebut atau tidak.
“Tante masak apa?” Ini pertama kalinya Flo mau memanggil Tante. Dia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Dia sudah berpikir masak-masak, mempertimbangkan bagaimana dia akan memanggil wanita ini jika di depan papanya. Apakah papanya akan keberatan dengan panggilan tersebut?
Mira tersenyum, hingga matanya berkaca-kaca. “Tante sedang membuat salad dan sandwich. Jika Flo menginginkan yang lain, Tante bisa bikinkan. Masih cukup waktu.” Mira melirik sekilas pada jam dinding, lalu tatapannya bertemu dengan suaminya yang baru keluar dari kamar.
“Saya mau sandwich saja.” Flo memutuskan mengakhiri perbincangan. Dari ekor mata, dia bisa melihat papanya sedang mendekat.
Adams mencium kening pipi isrinya sekilas sebelum Mira kembali ke dapur. Dia memutuskan duduk dengan tatapan mata lurus pada putrinya yang sedang duduk dengan gelisah.
“Ada yang mau kamu bicarakan dengan Papa?”
Flo menarik napas dalam. Dia tahu, dia tidak bisa berkelit di depan papanya. Papanya akan selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan. Terutama saat dia bangun terlalu pagi pada hari Minggu dan sudah berdandan rapi. Mungkin Miranda takkan menyadari baju apa yang dikenakan Flora pagi ini. Wanita itu terlalu bahagia dan terharu karena Flora menganggapnya ada. Selama ini Mira mengira dirinya tidak kasat mata di depan gadis itu. Jarang sekali Flora akan melihatnya secara langsung. Apalagi sampai bertemu pandang.
“Flo mau minta izin untuk ke rumah Mama.” Flo mengatakannya dengan cepat. Dalam satu tarikan napas hingga dia sendiri merasa asing dengan suara yang keluar dari mulut.
Adams terpaku. Dia bisa melihat usaha sebanyak apa yang telah dikerahkan oleh putrinya tersebut untuk mengatakan hal itu. Pastinya Flora sudah sangat menekan ego serta kebenciannya selama ini untuk mau duduk dengan ikhlas di meja makan seperti sekarang. Adams tidak tega menyakiti gadis itu dengan mengatakan tidak. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang akan Flora hadapi di sana.
“Bersama Kak David jika boleh.” Flora langsung menambahi begitu papanya tidak bersuara.
Adams menghela napas. Dia menoleh ke tangga tepat saat David turun dengan wajah segar. Biasanya David sudah menghabiskan paginya dengan berlari sebelum mandi dan sarapan. Tidak heran jika pagi-pagi seperti ini dia terlihat bugar.
Merasa diperhatikan, David turut duduk dengan memandang ayah dan adiknya bergantian. “What?”
“Flo memintamu mengantar pulang ke rumah Mama.” Adams berkata pelan.
David menghela napas. Dia langsung terlihat lelah, tapi senyumnya terbit dan mengangguk.
“Sore sudah harus di rumah.” Adams menujukan kalimat itu pada David yang langsung mendapatkan persetujuan.
Flora menunduk. Dia menarik napas dalam-dalam. Dia tidak sadar telah menahan napas selama menunggu jawaban dari papanya tersebut. Meskipun tidak akan mendapat izin untuk menginap, karena dia juga tidak berani mengutarakan niat tersebut, bisa bertemu dengan Mama sudah cukup untuk sekarang. Mereka semua butuh waktu untuk bisa menerima apa yang telah Mama lakukan.
*
David tidak bertanya apa-apa saat mereka berdua meluncur dengan mobil menuju kawasan tempat tinggal Mama. Keduanya sama-sama membisu. Tidak tahu harus mengatakan apa atau membahas apa supaya perjalanan ini tidak terlalu sepi. Hanya saja bibir Flo terasa kelu. Dia merasa bersalah. Seharusnya dia mengutarakan niatnya terlebih dahulu pada kakaknya sebelum meminta izin. Bisa jadi David memiliki acara lain pada akhir pekan seperti ini.
“Mau beli sesuatu untuk Mama?” David bertanya saat mereka berhenti di lampu merah.
“Kakak kalau ada acara lain, nanti tinggalkan Flo saja. Kakak bisa menjemput Flo sore nanti.” Flo meremas jemarinya sendiri. Dia sama sekali tidak berani menoleh ke samping.
“Kakak tidak ada acara.”
“Barangkali mau pacaran.” Flo mengingat foto cewek pada layar laptop kakaknya tersebut. Gadis itu terlihat familiar, walau Flo tidak bisa mengingatnya. Barangkali mereka kenal atau sudah pernah bertemu sebelumnya. Dia memang tidak mau mengurusi kehidupan pribadi kakaknya, terutama soal cewek.
“Kamu mungkin yang mau pacaran. Pagi-pagi sudah rapi seperti ini. Kakak tidak tahu, untuk bertemu Mama harus berpenampilan rapi dengan aroma yang juga sangat wangi. Bagaimana kalau kita membeli hortensia? Mama masih menyukai bunga tersebut, kan?” David tersenyum. Dia memperhatikan tangan Flo yang sudah mulai tenang. Gadis itu sudah tidak lagi gugup seperti sebelumnya.
“Belakangan Mama lebih menyukai mawar hitam.” Flo mendesah. Dia menyesalkan kesedihan yang ditanggung Mama. Mawar hitam identik dengan luka batin. Hanya saja selama ini dia enggan untuk berkomentar. Hidup mamanya sudah cukup berat tanpa ditambahi oleh pendapatnya.
“Bagaimana kalau kita bawakan tulip? Seingat Kakak, Mama juga pernah sangat menyukai bunga tersebut hingga memesan umbinya ke Belanda langsung.”
Flo menoleh. Random sekali yang dibicarakan oleh kakaknya. Mama menanam bunga itu karena papa sangat menyukai bunga tersebut. Flo rasa kakaknya juga tahu akan hal itu. Membelikan Mama tulip itu sama saja menabur garam pada luka di hati mamanya.
“Hortensia saja.” Akhirnya Flo memutuskan. Mereka tidak bisa sepakat dalam satu hal tanpa perdebatan panjang. Harus ada yang berinisiatif untuk mengakhiri semua ini sebelum mereka melewati banyak florist.
David mengangguk. Dia memandang sekeliling sebelum memutuskan untuk berhenti di depan toko bunga. Pada akhir pekan seperti sekarang bahu jalan lumayan sepi. Belakangan ini banyak orang menghabiskan waktu di rumah saat libur. Bermacam hiburan bisa kita nikmati walau tanpa keluar rumah sekarang ini. Kecanggihan tehnologi cukup mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Mereka memasuki toko bunga yang baru buka. Beberapa bunga terlihat segar dan disusun berdasarkan jenis. Kombinasi warnanya pun semarak, namun tetap indah dengan penataan cukup cerdas. Pemilik tentu saja memiliki selera seni yang cukup tinggi dalam hal ini.
“Kamu masih suka anggrek bulan?” David berbisik, saat keduanya memandang hamparan bunga cantik dengan berbagai pajangan menarik di dinding toko. Beberapa pot, pun pernak-pernik kayu tersedia di satu sisi dalam rak lumayan tinggi.
“Anggrek?” Flo bahkan lupa pernah menyukai bunga tersebut. Dia tidak ingat pernah khusus menyukai satu jenis bunga. Baginya, semua bunga itu cantik saat mekar.
“Apa karena Jovan menanam bunga itu di rumahnya dulu?”
Wajah Flo memerah. Kakaknya tahu.
David terkekeh. “Dia yang mengantarmu pulang beberapa hari lalu, kan?”
*