Barisan Sakit Hati

1464 Kata
Seperti yang sudah Jovan bayangkan sebelumnya, begitu memutuskan untuk datang ke rumah Mario, itu sama saja memindahkan pesta ke rumah tersebut. Belum sampai matanya terpejam, padahal waktu sudah hampir subuh, Galang tiba di rumah itu lengkap dengan hodie dan sepatu olahraga. Dia hendak menyeret Jovan ke stadion untuk lari pagi. Lumayan pada hari Minggu seperti ini. Biasanya banyak pemandangan yang bisa dilihat selain sederet penjaja sarapan. “Gue belum tidur, Gal. Lo pergi sama Mario, gih.” Jovan membenamkan wajahnya ke bantal. Dia sudah memisahkan diri ke sofa supaya tidak diganggu Mario dengan pembicaraan absurd mengenai game terbaru yang akan segera dirilis. Pecinta Tomb Raider ini sudah cukup lama menanti game serupa. “Lo macam anak perawan saja butuh tidur di malam Minggu seperti ini.” Galang masih setia duduk di samping Jovan. “Tubuh gue butuh istirahat.” Jovan tetap menjawab walau suaranya terdengar lirih karena teredam bantal. “Bubur ayamnya enak banget yang di stadion itu.” Galang mulai menggerutu. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Semalaman dia tidak bisa tidur. Dia berusaha memejamkan mata, tapi perasaannya tidak enak. Begitu mendapatkan pesan dari Mario bahwa Jovan datang ke rumah hampir subuh, tanpa pikir panjang dia langsung memacu motornya ke rumah Mario. Security di pos komplek sampai meneliti penampilannya, sebelum dia menyebutkan alasan yang cukup masuk akal sebelum disangka perampok. Lagipula, mana ada perampok yang sopan sekali masuk lewat pintu depan? “Gue bukan bayi yang masih makan bubur.” Jovan mendengkus. Kapan Galang akan pergi sehingga dia bisa tidur dengan tenang? “Gue lagi kepengen ngamuk. Tapi tidak tahu kenapa?” Galang mendesah. Mau tidak mau Jovan bangun. Dia duduk dengan menguap lebar-lebar. Dia memang benar-benar butuh tidur sekarang. Tubuhnya sudah meremang. Jika dipaksakan, dia benar-benar akan demam. Betapa mahal harga tidur untuknya. “Lo lagi patah hati atau gimana, sih? Sama siapa? Siapa ceweknya? Mau gue comblangin?” Jovan mengucek matanya. Sekali lagi dia menguap. Dalam urusan cewek, salah satu teman terdekatnya ini memang payah. Berbeda dengan Mario yang sering gonta-ganti pacar. Sama seperti dirinya, Mario juga tidak membutuhkan waktu lama untuk berkomitmen dengan satu perempuan. Bedanya, Jovan tidak pernah menggunakan hati. Sedangkan Mario lebih sering patah hati. Itu mengapa Jovan menebak Galang sedang patah hati sekarang. Ciri-cirinya sama seperti Mario yang baru putus dengan ceweknya. Galang terdiam. Dia justru bertanya-tanya, apakah dia benaran patah hati? Apa melihat Flora di boncengan Jovan pada hari itu membuatnya kecewa? Flora bahkan tidak terlihat seperti perempuan yang hatinya telah dimenangkan oleh Jovan. Gadis itu cemberut. Dia bahkan tidak berpegangan pada Jovan di atas motor itu. Tas punggung yang biasa dia kenakan, pada saat itu beralih ke d**a. Otomatis ada jarak yang sengaja diciptakan supaya keduanya tidak melekat satu sama lain. Tentu saja ini berbeda dengan pemandangan sebelumnya. Biasanya, cewek-cewek yang dipacari Jovan dengan senang hati memeluk cowok itu dari belakang. Walau di sini justru Jovan yang memasang jarak dengan memakai tas punggungnya di belakang. “Tidak. Memangnya patah hati dengan siapa?” Galang segera mengelak. Dia bangun dari duduknya dan segera menghampiri Mario yang kini tertidur dengan lelap di ranjangnya yang super besar. Jovan kembali merebahkan diri. “Lo suka sama Flora, ya, Gal?” Jovan menyimpan mukanya ke bantal kembali. Dia bisa mendengar langkah kaki Galang yang berhenti. Selama ini Jovan hanya mengiranya semata. Melihat reaksi Galang yang tidak biasa untuk permainan mereka sekarang. Galang lebih sering menghindar. Lalu, dia akan tersenyum dengan paksa saat mereka menertawakan penolakan yang dialami Jovan. “Kenapa lo mikir begitu?” Jovan mendongak. Tatapan mereka bertemu. “Jika iya, gue bantuin lo, deh. Kalian jadian, kan, gue tetep dapat duitnya. Lagian tuh cewek alergi banget sama gue.” Jovan mengedikkan bahu. Ada perasaan tidak rela yang coba dia telaah. Apakah dia benar-benar dengan ucapannya tersebut? Apa dia mau melihat Galang bersama Flora? “Kalau sama lo saja dia alergi apalagi sama gue. Gue sama lo itu perbandingannya bumi dan langit. Kasta satria dengan sudra. Jauh banget.” Galang melanjutkan langkahnya. “Lo pikir dia peduli sama yang mereka bilang good looking itu? Reputasi gue yang suka gonta-ganti cewek sudah jelek di matanya. Dia tidak mau ikut bergabung dalam deretan gadis yang sekarang gue sebut mantan. Ya, walau mantan di sini berarti mantan taruhan. Sama saja, sih. Dia juga menjadi bahan taruhan kita. Kalau sama lo, dia tidak akan takut untuk mendapat status mantan dalam waktu dekat. Lo, kan, masih perawan dalam urusan percintaan.” Jovan terkekeh, merasa lucu dengan istilah yang dia gunakan untuk menyebut Galang. “Lo benaran sudah nembak dia dan dia tidak mau?” Galang berhenti lagi. Dia menoleh. “Berkali-kali.” Jovan tertawa. “Gue suka saja melihatnya mencak-mencak. Cewek pertama yang menolak gue. Lucu, sih.” Jovan terkekeh dan kembali membenamkan wajahnya ke bantal. Dia benar-benar butuh tidur sekarang. * “Dia adiknya David, ya?” Mario membuka percakapan setelah Jovan mandi. Mereka sedang duduk di teras belakang sambil memandang kolam renang. Kalau boleh jujur, Mario bahkan belum tahu seperti apa David. Dia hanya mendengar sepintas lalu dari Jovan. Tentang seorang tetangga yang tergabung dalam club motor. Yang membuat nama David istimewa adalah, David dengan pemimpin club tersebut. Hari sudah lewat tengah hari dan Jovan baru sarapan sepiring sandwich dan segelas jus yang disediakan oleh pembantu Mario. Hari Minggu ini kedua orang tua cowok itu sedang berada di Kanada. Ada salah seorang kerabat mereka yang sedang melakukan pesta pertunangan, disamping pekerjaan yang harus dikerjakan Daddy Mario di sana. “Lo tahu?” Padahal Jovan belum mengatakan bahwa dia mengantar Flora ke rumah David saat itu. Itu mengapa dia menjadi sedikit ragu untuk melanjutkan permainan ini. Dia memang butuh uang, tapi bermain dengan adik David itu sama saja menjejalkan diri ke mulut macan. “Lo masih mau maju?” Mario bertanya ragu. Dia paham betul hubungan macam apa yang dimiliki Jovan dengan David. Jovan mengedikkan bahu. Dia menyeruput isi gelas perlahan. Entah apa yang dimasukkan ke dalam gelas tersebut sehingga warnanya menjadi hijau pekat seperti ini. Tapi, rasanya lumayan bisa diterima oleh mulut Jovan. Selama ini Jov jarang sekali mengonsumsi makanan sehat. Semenjak ibunya pindah, dia lebih sering menyantap makanan cepat saji. Mungkin kalau pola makannya diatur dengan benar, dia takkan mudah jatuh sakit. “Lo pakai saja uangnya. Kapan-kapan lo balikin tidak apa-apa. Melihat lo kayak gelandangan pagi-pagi buta untuk mencari tempat supaya bisa tidur, gue khawatir. Michelle memang tidak bisa benar-benar diandalkan.” Mario berkata dengan nada lumayan suram. Jovan terkekeh. “Gue nggak mau berutang budi sama lo. Bisa-bisa gue jadi kacung lo karena uang tersebut.” Dia tertawa lagi, membayangkan dirinya akan disuruh-suruh oleh Mario yang kadang mood-nya jelek sekali saat sedang patah hati. “Gue comblangin dia dengan Galang saja. Mungkin dia mau. Lebih masuk akal, kan?” Mario mengedikkan bahu. “Gue, sih, nggak yakin. Kalau Galang mau, dia bisa maju lebih dulu sebelum ide untuk bermain seperti ini muncul di kepala gue. Dia santai-santai saja. Gue justru takut, dia naksir satu di antara kita.” Mario bergidik dan itu cukup mampu mengundang tawa Jovan. Jovan tahu benar orientasi seksual Galang. Dia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Sebagai laki-laki, Galang itu sangat normal. Dia masih menoleh saat ada cewek lewat. Dia juga bisa berkomentar bahwa cewek tersebut cantik, jika kenyataannya memang benar cantik. Hanya saja, belum ada yang bisa membuat hatinya tergerak. Sepertinya itu yang dialami Galang. “Gue pikir, dia tertarik pada Flora.” Jovan mengingat perakapan sekilas dengan Galang pagi tadi. “Kenapa lo mikir begitu?” Mario bertanya was-was. Apa Jovan juga menyadari hal tersebut? Selama ini Galang memang memantau Flora secara diam-diam. Belum ada tindakan yang bisa dikategorikan bahwa dia sedang berusaha mendekati cewek itu. Semua perhatian dilakukan dari jauh dan sama sekali tidak kentara. Andai Mario tidak melihat secara langsung bahwa Galang menyimpan pita ungu gadis itu, dia juga takkan yakin bahwa Galang menyukai Flora. Pada saat selesai MPLS, Galang pernah membahas perihal pita ungu seorang junior. Pada saat itu Mario hanya menganggapnya percakapan biasa, sampai dia melihat siapa gadis itu. Cleonara Flora sama sekali tidak menonjol sebagai seorang siswa baru. Dia memang blesteran. Komposisi wajah, postur tubuh, pun warna rambut hampir seragam dengan cewek-cewek lain di sekolah ini. Selain itu, gadis tersebut cenderung menghindari yang namanya ajang popularitas. Dia tidak bergabung dalam club-club yang mampu mendongkrak nama seorang cewek. Club cheerleader salah satunya. Bahkan Mario yakin, Flora sama sekali tidak ikut club mana pun. Walaupun itu sekadar olahraga otak semacam catur. Club yang paling sedikit diminati oleh penghuni sekolah mereka. “Gue hanya menebak.” Jovan melanjutkan makannya. “Kalau benar, apa yang akan lo lakukan?” “Ya serahin Flora ke Galang. Memangnya apalagi?” Jovan menjawab tanpa berpikir. Mario mengangguk. Dia juga menyetujui usul tersebut. Daripada menempatkan gadis itu pada barisan sakit hati Jovan, mending Flora bersanding dengan Galang yang jelas-jelas menyukainya. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN