Tidak ada yang berubah dari tempat tinggal mereka dulu. Perabot yang sama, wangi lavender yang sama juga, pun beberapa cat yang mengelupas di beberapa sisi. Flora seperti sedang berharap akan menemukan keajaiban di apartemen ini. Sayangnya setelah tiga bulan berlalu, semua masih sama saja.
“Mama kira kamu akan datang sendirian.” Camila memeluk Flora begitu pintu terbuka dan menemukan gadis itu berdiri bersama David.
Pelukan tersebut juga diberikan pada David, walau keduanya sadar tidak ada kehangatan di sana. Camila tadinya meminta David untuk tinggal bersamanya. Namun, David memilih pergi. Flora yang dia sangka akan pergi bersama papanya malah memilih tinggal. Sejak saat itu Camila sadar, dia sama sekali tidak mengenal dua anak yang lahir dari rahimnya tersebut.
“Mama sendirian?” Flora memandang ke segala arah. Dia tidak menemukan orang lain di tempat ini. Seseorang yang dulu dia panggil Om. Karena mamanya meminta untuk memanggil demikian. Walau orang tersebut tinggal dan berbagi kamar dengan Camila.
“Kalian sudah makan?”
Flo menoleh pada David yang terlihat tegang. Kakak lelakinya tersebut telah menyimpan sebuket mawar putih ke dalam gelas yang biasa digunakan untuk minum jus. Gelas tersebut cukup tinggi sehingga mampu menahan batang mawar supaya tidak roboh. Camila memang tidak memiliki vas bunga. Sudah sangat lama dia melupakan kesukaannya terhadap tanaman.
Hidupnya memang berantakan semenjak memutuskan untuk berpisah dengan Adams. Sebenarnya jauh sebelum keputusan tersebut dia ambil dan paksakan pada Adams untuk menerima. Alasannya sepele, dia merasa tidak bahagia hidup bersama laki-laki yang terlalu disiplin serta mengagungkan kebersihan tersebut. Camila menyebut Adams seorang OCD, walau akhirnya dia yang justru harus ditangani oleh seorang psikiater karena mengalami depresi.
“Mama membuat pasta kesukaan kamu lho.” Camila berjalan ke arah dapur. Di sebelah dapur mungil tersebut terdapat meja makan dengan empat kursi. Walau sebenarnya Flo lebih sering makan sendirian di sana. Mamanya jarang berada di rumah.
Flora sekali lagi memandang kakaknya. Di meja tersebut hanya terdapat dua piring pasta. Sepertinya mamanya memang benar-benar tidak berharap akan dikunjungi David.
“Kita makan sepiring berdua, ya, Kak.” Flo mulai duduk. Dia melirik pergelangan tangan mamanya. Ada bekas luka di sana. Tiga bulan lalu perempuan yang telah melahirkannya tersebut mencoba bunuh diri dan dilarikan ke rumah sakit.
Setahu Flo, malam sebelum mamanya ditemukan tidak sadarkan diri oleh asisten rumah tangga yang hanya datang seminggu dua kali tersebut, mereka bertengkar. Ya, mamanya dengan Om tersebut. Flo sampai harus menutup telinga dengan bantal untuk menghindari mendengar kata-k********r yang berlomba dengan nyaring. Seakan siapa yang lebih tinggi suaranya dia akan keluar sebagai pemenang. Malam itu juga si Om pergi dari rumah. Sejak saat itu Flo tidak pernah melihatnya lagi.
“Kalian makan saja, Mama bisa membuatnya lagi.” Camila berdiri di depan wastafel untuk mengisi air.
Flo mulai menyantap pastanya tanpa berkata-kata. Dia benar-benar menyaring kalimat yang hendak dia ucapkan supaya tidak menyinggung mamanya. Flo tahu benar, mamanya masih menjalani perawatan intensif. Perubahan mood bisa terjadi tiba-tiba. Itu mengapa David langsung mengangkut Flo untuk pindah tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. David takut, suatu hari Flo yang bisa terluka. Untung saja mamanya cukup kooperatif begitu mengetahui Flora sudah pindah tempat tinggal.
“Mama kemarin ketemu Renata di supermarket bawah. Dia bertanya tentang kabarmu. Apa kalian tidak memiliki kontak masing-masing?” Camila menyalakan kompor dengan mata tertuju pada Flora yang terlihat menikmati pastanya. Dia tersenyum.
Flo tidak begitu dekat dengan Renata meskipun mereka tinggal di apartemen yang sama, pun sekolah di tempat yang sama. Renata tertutup. Gadis itu justru seperti menghindari Flora walau tidak mengatakannya secara langsung. Dia tidak mau memberitahu siapa pun di mana tempat tinggalnya. Menurut security di bawah, Rena tinggal bersama kakak perempuannya yang bekerja di club malam. Flo tidak pernah menghakimi kehidupan orang lain. Pun tidak ingin ikut campur.
“Tidak. Kami tidak begitu akrab. Lagipula kami tidak pernah sekelas.” Flo beralasan. Dua kali dia sekelas dengan Renata dan mamanya tidak tahu itu. Biasanya yang datang mengambil rapotnya ke sekolah itu Kak David. Mama terlalu sibuk dengan dua salon yang terus beroperasi.
Sejak berpisah dengan Adams, Camila memang menggunakan uang gono-gini untuk mendirikan salon. Dia tidak suka bekerja dengan orang lain. Pada intinya dia tidak mau diatur, dia yang ingin mengatur. Usaha tersebut cukup sukses karena kehidupan sosialnya yang cukup baik. Dia memiliki banyak teman yang memiliki hobi yang sama. Dulu dia mengikuti komunitas berkebun. Lalu, tak lama kemudian, dia mulai belajar tentang make-up dan skincare. Ternyata ilmu yang dia dapatkan cukup bermanfaat untuk membuka usaha.
“Dia bertanya kamu pindah ke mana.”
“Mama memberitahunya?”
“Tentu saja, Mama pikir kalian berteman.” Camila mengedikkan bahu.
Flo hanya mengangguk dan melanjutkan makan kembali. Dia melihat piring David yang berkurang sedikit. David memang tidak begitu menyukai segala jenis mi.
Tak lama kemudian mamanya turut bergabung di meja makan. Senyumnya perlahan pudar. “Kamu tidak suka pasta?”
David berusaha tersenyum. “Sudah kenyang, Ma. Tadi sudah makan.”
Pandangan Camila beralih pada Flo. “Kamu juga sudah makan?”
“Hanya sepotong sandwich. Flo masih sanggup menghabiskan ini. Karena ini makanan favorit Flo.” Dia menyantap lagi walau sudah sangat kenyang. Dia tidak mau mamanya kecewa, itu saja. Mamanya bahkan tidak tahu apa yang Flo sukai. Mama hanya bisa masak satu jenis makanan, yaitu pasta. Mau tidak mau dia memang harus menyukai makanan tersebut.
“Kamu memangnya makan berapa potong sandwich sebelum kemari?” Walau tidak menatap David, mereka sama-sama tahu, pertanyaan tersebut untuk David yang sekarang memandang Flo dengan memohon. David memang selalu kehabisan kata-kata jika bertemu dengan ibunya. Selama ini Mama sering memaksakan kehendak. Jika tidak dituruti bisa sangat marah walau itu masalah yang teramat sepele.
“Kak David makan sepiring nasi goreng, Ma. Mana bisa perutnya hanya diisi sandwich.” Flo berbohong lagi. Di rumah ini dia memang harus fasih melakukan itu. Demi kedamaian dunia dan akherat.
“Pasti istri papamu lebih jago masak dibanding Mama.” Camila langsung terlihat lesu.
David membuang muka dan mengembuskan napas perlahan. Mamanya sudah masuk dalam mode drama. Semua orang harus mengerti akan kondisinya.
“Mama juga jago masak kok. Ini pastanya enak.” Flo menggeleng samar pada kakaknya tersebut.
David memaksa diri untuk terus menyendok. Dia merasa kasihan dengan Flora yang selalu berusaha tersenyum. Flora ingin terlihat bahagia serta baik-baik saja di depan Camila. Padahal kenyataannya, gadis itu sangat tertekan. Flo bisa benar-benar menjadi diri sendiri saat di rumah papanya. Dia akan berdiam tanpa berkata apa-apa ketika di kamar. Dia tidak harus berperan menjadi orang lain. Dia tidak harus pura-pura bahagia. Dia benar-benar akan menjadi seorang anak yang butuh perhatian. Bukan sebaliknya.
“Bagaimana dengan sekolahmu? Kamu tidak kesulitan bergaul dengan mereka, kan?” Perhatian Camila kembali pada Flora.
Flo mengangguk dengan antusias. Selama mereka tinggal bersama, mamanya sama sekali tidak pernah bertanya soal sekolah. Yang penting gadis itu naik kelas, itu sudah cukup. Camila tidak mementingkan nilai, pun tidak memasukkan Flora dalam kegiatan bimbel yang dilakukan orang tua lain pada anaknya. Hal tersebut akan mengingatkan Camila pada Adams. Laki-laki tersebut sudah memiliki rencana matang untuk pendidikan David dan Flora. Termasuk kebutuhan apa yang harus dipenuhi untuk menunjang rencana tersebut. Salah satunya les tambahan.
“Syukurlah. Mama khawatir kamu tidak bisa bergaul dengan mereka. Bumi Sentosa merupakan kawasan elit.” Camila mulai menyantap pastanya. Dia hanya bergumam, tidak sedang memberikan pernyataan untuk ditanggapi.
“Flo baik-baik saja, Ma. Mama juga harus baik-baik saja di rumah. Jangan terlalu capek bekerja.” Flora berdiri dan berjalan ke dapur untuk mencuci piringnya sendiri. Selama ini dia memang telah merawat dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Asisten yang datang ke rumah hanya mencuci baju dan menyetrika. Lalu, dia akan melakukan deep cleaning pada seisi apartemen yang tidak terlalu luas.
Pertama yang akan dilakukan Bibik adalah menyapu, lalu menyalakan vacum cleaner sebelum mengepel lantai. Setiap hari Selasa dia akan mengganti sprei. Lalu hari Jumat dia akan mengganti bantal sofa. Sebulan sekali dia akan mengganti korden. Tidak terlalu banyak perabot di rumah ini. Terutama kamar Flo yang hanya berisi dipan single dan meja belajar. Baju Flo tersimpan dalam laci-laci di bawah kasur. Sedangkan seragam sekolah dia gantung di belakang pintu. Bibik tidak membersihkan kamar Mama. Mamanya akan melakukan hal tersebut sendiri. Setahu Flora, kamar Mama banyak terdapat printilan aksesoris.
“Mama sering di rumah sekarang. Kata dokter mama tidak boleh terlalu stres. Mungkin Mama sebentar lagi akan menjadi gila.” Camila terkekeh. Dia terus menyuap pastanya.
Flora dan David saling pandang. Seharusnya memang ada seseorang yang menemani Camila. Terutama saat pemulihan seperti ini. Terlalu bahaya meninggalkan Camila seorang diri. Hanya saja Flora tidak berani meminta hal tersebut pada David, apalagi pada papanya.
“Mama akan baik-baik saja asal tidak lupa minum obat dan rajin kontrol. Bagaimana kalau kita berkebun? Kita gunakan balkon dan area sekitar jendela.”
“Kita?” Camila langsung menoleh dengan senyum antusias. David juga melakukan hal yang sama, bedanya dia sama sekali tidak tersenyum.
“Iya kita bertiga. Flo dan Kak David akan mengunjungi Mama sebulan dua kali. Bagaimana? Kalau setiap minggu, Flo tidak bisa. Ada kegiatan sekolah yang harus Flo ikuti.” Sekali lagi dia berbohong. Untuk mendapatkan izin sebulan sekali mengunjungi mamanya saja belum tentu dia dapatkan apalagi setiap minggu? Flo juga tidak mungkin menyabotase semua waktu kakaknya pada akhir pekan. David pasti butuh waktu untuk pacaran misalnya. Atau mengerjakan tugas kuliah.
“Deal.” Camila tertawa senang.
Kini tinggal Flora yang pusing mengajukan proposal tersebut pada papanya.
*