Ayo Kita Pacaran

1134 Kata
Flo memijat keningnya perlahan. Dia menjadi pusing akan janjinya sendiri, pun pada penolakan yang terang-terangan diucapkan David. Papanya juga tidak memberi izin jika Flo pergi ke sana sendiri. Sedangkan ingkar janji itu sama saja menciptakan lubang baru bernama luka di hati mamanya. David memiliki alasan kuat, dia sedang mengerjakan skripsi. Jadi, apabila dospemnya memberi masukan yang harus dia kerjakan atau memintanya untuk revisi, atau melakukan pertemuan untuk membahas sesuatu, David tidak bisa mengelak dengan mengatakan sedang berkunjung ke rumah Mama. Itu sama saja sedang menelanjangi kehidupan keluarga mereka yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Terutama yang berhubungan dengan Camila. “Kamu sakit? Mau istirahat dulu?” Flora mendongak. Di depannya duduk Kala yang memegang tabung kimia. Mereka berdua berada di ruang lab untuk melakukan percobaan. Beberapa teman yang lain, yang kebetulan harus sekelompok dengan mereka, langsung menoleh. Flo menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja.” Dia berkata pelan. Satu per satu dari teman sekelompok kembali fokus pada tabung masing-masing. Wajah mereka tertutup masker, sehingga sulit bagi Flora untuk mengetahui, kira-kira apa yang dipikirkan oleh teman-temannya. “Benaran nggak apa-apa?” Kala kembali mengulang tanya. “Kalau sakit ke klinik saja, Flo. Bahaya mengerjakan ini tanpa konsentrasi. Campuran hati dengan hidrogen peroksida ini sangat berbahaya jika terkena kulit kita.” Andrea, sebagai pemimpin kelompok langsung menyarankan hal tersebut. Sejak tadi dia mengamati setiap tabung setelah dicampur dengan cairan lalu diberi nyala api. Tangannya sibuk mencatat semua reaksi yang keluar dari perpaduan tersebut. Apakah enzim katalase bekerja secara maksimal atau tidak jika ph diturunkan atau pun sebaliknya. “Iya, aku akan mengerjakan bagianmu.” Kala mengangguk. Padahal di tangannya sendiri terdapat ekstrak jantung yang akan dipanaskan sebelum ditambah dengan H2O2. “Kamu bisa sendiri, kan, Flo?” Perhatian Andrea langsung tertuju pada Flora yang mematung. Flora mengangguk. “Hati-hati.” Andrea menambahi. Kali ini dia sudah kembali fokus pada tabung yang dipegang oleh teman Flo yang lain. Flora berjalan pelan keluar laboratorium. Beberapa temannya sempat menoleh, tapi tak satu pun bertanya. Mereka kembali fokus pada tugas masing-masing walau tidak ada guru yang mengawasi. Siswa sekolah ini memang terlalu mandiri menurut Flora. Mereka cenderung lebih aktif. Selain itu ada kesadaran massal, bahwa sekolah memang tujuan utamanya untuk menuntut ilmu, bukan mencari kehidupan sosial. Flo membuang masker serta sarung tangan latex ke tempat sampah yang tersedia di depan laborat. Sampah-sampah di sana cenderung yang berhubungan dengan bahan kimia. Itu mengapa bak sampahnya memiliki warna paling mencolok dibanding dengan yang lainnya. Flo menarik napas panjang sebelum berjalan menuju klinik. Dia tidak merasa sakit. Dia hanya sedang berpikir keras. Bagimana caranya supaya semua pihak tidak ada yang kecewa dan terluka. Terutama Mama dan papanya. “Lo sakit?” Flora melonjak kaget. Sejak tadi dia memang berjalan dengan menunduk dalam. Lagipula saat jam pelajaran sedang berlangsung seperti ini, jarang orang akan berkeliaran di koridor. Jovan memandang Flora yang menuju arah klinik. Dia baru saja membeli bolpoin di koperasi. Langkahnya terhenti saat menyadari kehadiran Flora yang berjalan gontai. Seperti manusia sekarat yang hidup segan mati tak mau. “Nggak.” Flora melanjutkan langkah. “Muka lo pucet.” Flo berhenti, dia menoleh sekilas pada Jovan sebelum kembali berjalan. Hal tersebut membuat Jovan segera menjajari langkah Flo yang tanpa tenaga. Jovan sedang berjaga-jaga, barangkali gadis ini pingsan sebelum mencapai lantai klinik. “Lo nggak ada kelas apa? Kok ngikutin gue.” “Gue bukannya mengikuti lo. Tapi, gue menjajari langkah kaki lo. Jelas banget, kan, bedanya?” Jovan terkekeh. Merasa takjub akan kalimatnya sendiri. “Lo nggak ada kelas?” Flo mendongak. Mereka berdua sudah sampai di depan klinik. Kali ini nada bicara Flo lebih lembut. “Ada.” “Kenapa ngikutin gue kalau ada kelas?” Mata Flo menyipit. Jovan tertawa. “Kalau gue bilang kangen sama lo, boleh, nggak?” “Ini masih terlalu pagi untuk bicara ngaco seperti itu.” Flo mendorong pintu klinik. Seorang dokter jaga langsung berdiri dari duduknya yang menghadap pintu begitu Flo masuk. “Ada keluhan?” “Pusing, Dok.” Flora segera duduk di depan meja. “Mau aspirin?” “Saya butuh tidur sepertinya, Dok.” Dokter muda tersebut tersenyum dan mengangguk. Flora segera beranjak dari duduknya dan mendekati deretan dipan kosong dan tertata rapi. Berarti memang tidak ada yang sakit pada hari ini. Flora yang hampir menutup tirai untuk salah satu dipan langsung menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar. Jovan dengan santainya masuk. “Kamu sakit?” “Saya mengantuk, Dok.” Dokter muda tersebut menoleh pada Flora, lalu mengembuskan napas. “Kalian kalau mau bicara, jangan ditutup tirainya.” Dokter tersebut bergegas keluar setelah melihat pergelangan tangannya. “Thank you, Dok.” Jovan tersenyum manis, tapi tidak begitu ditanggapi oleh dokter tersebut. Jovan langsung menghampiri Flora. Dia menenteng satu kantong plastik berisi air mineral dan dua bungkus roti. “Kayaknya lo belum makan.” Dia menyerahkan kantong tersebut pada Flora. “Lo bolos?” Flora menerima kantong tersebut walau hanya dia simpan di samping pahanya. Dia duduk di salah satu ranjang dan Jovan juga melakukan hal yang sama. Keduanya duduk berhadapan. “Lagi ada masalah, ya?” Kening Flora berkerut. Dia tidak tahu jika Jovan memilliki sisi ingin tahu urusan orang lain seperti ini. “Lo kesambet demit koperasi apa gimana, sih?” Jovan terkekeh. “Buka rotinya. Atau lo mau makan yang lain? Gue pesenin mau?” “Lo baik banget sama gue pasti ada udang dibalik bakwan.” Jovan kembali tertawa. Tidak menyangka bakalan menemukan Flora yang lancar berbicara seperti sekarang. Biasanya gadis itu lebih setia pada kebisuan dan berteman sepi. “Gue mau macarin lo.” Flora mengembuskan napas dalam. “Berapa taruhannya, sih?” Jovan menelengkan kepalanya. “Lo benar-benar berpikir ini taruhan?” “Lo sudah mengakui itu. Nggak usah muter-muter macam odong-odong, deh.” Flora berdecak. Malam saat keduanya berbincang di balkon itu sudah menjelaskan semuanya. Hanya saja Flo penasaran, ke mana orang tua Jovan sehingga kakaknya bisa seperti itu? “Lo kentara banget kalau sedang memikirkan sesuatu.” Jovan menunjuk kening Flora. “Gue mikir dari hari itu, nyokap lo ke mana memangnya?” Jovan menghela napas. Tidak ada yang bertanya soal ini sebelumnya. Tapi, Flora adalah adiknya David. Mereka pernah bertetangga di komplek lama. Walau sampai detik ini Jovan kesulitan untuk mengingat Flora dalam tubuh yang lebih mungil. Apa mereka sekolah di tempat yang berbeda saat itu? “Nyokap ikut suaminya ke Hawai.” Flora mengangguk. Mulai paham kehidupan seperti apa yang dijalani Jovan. Tidak jauh berbeda dengan hidupnya. “Lo butuh uangnya untuk ngekos?” “Ya.” “Nyokap lo tahu kelakuan kakak lo begitu?” Jovan mengedikkan bahu. Dia merasa tidak harus menjelaskan secara detail tentang hubungan keluarganya. “Ayo kita pacaran. Tapi, ada satu syarat. Permintaan lebih tepatnya.” Jovan langsung tersenyum. “Apa?” “Setiap dua minggu sekali antarin gue ke rumah Mama.” *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN