Seorang wanita yang seluruh tubuhnya tertutup mukena menghela napas panjang sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya. Ia tak bisa terlelap nyenyak sejak ia dan anak-anaknya diculik ke rumah mewah yang lebih layak ia sebut sebagai penjara. Sudah sebulan lamanya ia terpisah dari Elvan dan sampai saat ini ia tak tahu kabar pria itu.
Beberapa kali ia menghubungi warga desa tempat ia tinggal bersama Elvan yang ia kenal, akan tetapi salah satu warga mengatakan bahwa Elvan tak lagi terlihat di sana seminggu setelah ia dan anak-anaknya dibawa pergi oleh pengawal Retno. Tak ada satu pun warga desa yang mengetahui ke mana Elvan pergi.
Beberapa kali Adam dan adik-adiknya mengigau memanggil ayah mereka dalam tidurnya. Mereka sama khawatirnya dengan dirinya. Zehra berulang kali menangis dalam salatnya, memohon penjagaan Tuhan untuk sang suami yang entah ada di mana.
Zehra hendak menutup tirai jendela kamarnya, akan tetapi netranya menatap sosok pria yang membalas tatapannya dari balik pohon mangga yang tumbuh tinggi di kebun belakang rumahnya, tepat di bawah lampu. Ia seperti merasa familiar dengan sosok itu. Namun, dua menit kemudian sosok itu sudah menghilang.
"Siapa dia? Kayak kenal orangnya."
***
Seorang pria berlari kecil kembali masuk ke dalam mobil SUV hitam yang terparkir sekitar seratus meter dari sebuah rumah mewah berlantai tiga didominasi warna abu dan putih di salah satu kawasan perumahan elit di Jakarta. Dengan napas tersengal-sengal, ia meraih sebotol air mineral dari tangan kekar seorang pria berambut cokelat.
"Bagaimana perasaan Anda sekarang, Tuan?"
"Saya lega melihatnya baik-baik saja. Sayang sekali, anak-anak sudah tidur." Matanya berkaca-kaca, mengenang masa-masa indah sebelum insiden itu terjadi.
"Anda sedang dalam kondisi tidak aman, Tuan. Pihak sana tidak mungkin tinggal diam begitu mengetahui Anda masih hidup. Kami di Ankara masih memantau pergerakan mereka secara diam-diam, bahkan kami menduga ada pengkhianat di antara kami."
"Apa? Siapa yang berani berkhianat?"
"Kami masih selidiki, Tuan."
"Semoga saja bukan kamu, Mirza."
"Saya tidak berani melakukannya, Tuan. Karena kalau bukan bantuan Tuan Naim, saya tidak akan memiliki rumah. Saya akan tinggal di jalan, mengais sampah untuk makan sehari-hari, dan ibu saya akan meninggal begitu saja tanpa merasakan pengobatan terbaik di rumah sakit. Ayah Anda adalah malaikat bagi keluarga saya. Saya sangat sedih melihat beliau dan Nyonya meregang nyawa tanpa sempat memeluk Anda lebih lama. Tuan Naim sempat berpesan pada saya untuk setia pada Anda jika saya berhasil bertemu dengan Anda. Anda tak perlu khawatir akan kesetiaan saya."
Pria itu tersenyum tulus. Tangannya menepuk pelan bahu lelaki berusia tiga puluhan tahun bernama Mirza. Seperti kata Hanif, Mirza adalah bagian dari keluarga Naim meskipun tak sedarah dengannya dan akan selalu begitu, sampai kapan pun.
***
"Zehra semakin cantik saja, Tante."
"Anak Tante memang selalu cantik, hanya kurang terawat saja."
"Tenang saja, Tante. Skincare semahal apa pun akan Vier berikan padanya. Tante tak perlu khawatir, saya akan selalu memanjakan Zehra."
Zehra tak menanggapi satu pun dari mereka. Tatapannya hanya terpaku pada lantai ruang tengah rumah sang ibu. Sementara anak-anaknya sedang bermain di belakang rumah. Ia sendiri yang menyuruh mereka ke sana agar tak mendengarkan ibunya sedang "diperjualbelikan" oleh nenek mereka.
Berbeda dengan wanita itu, Xavier justru enggan melepaskan Zehra dari pandangannya. Zehra yang dari dulu ia kenal cantik semakin terlihat cantik menurutnya meskipun tanpa riasan apa pun. Sudah sejak lama ia menantikan Zehra, ia merasa inilah waktunya merebut perempuan idamannya. Bahkan dengan cara licik sekalipun.
Dengan memanfaatkan utang Retno yang menumpuk jumlahnya selama bertahun-tahun, ia gunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk sedikit menekan ibunda Zehra agar mau memaksa Zehra untuk bercerai dari Elvan. Tentu saja dengan meyakinkan Retno bahwa Elvan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya.
"Kenapa menunduk terus, Zehra? Apakah lantai itu lebih berkilau dibandingkan aku?" Xavier membetulkan posisi kacamata minusnya tanpa luput dari wajah Zehra.
"Saya tidak tertarik," jawab Zehra, tanpa ekspresi apa pun.
"Tak seharusnya kamu mengabaikanku, Zehra. Aku ini calon suamimu."
"Saya sudah menikah dan kamu tentu tahu siapa suamiku. Kamu lihat sendiri, kan? Saya sudah punya tiga orang anak!"
"Aku nggak peduli." Xavier berdiri, lalu berjalan mendekati Zehra. "Anak-anakmu bisa saya nafkahi dengan layak. Elvan bisa apa sih? Dia cuma bikin-"
"Jangan pernah menghina suami saya!" ucap Zehra, geram. "Laki-laki yang kamu remehkan itu adalah orang yang sering jadi tempat kamu minta tolong saat kuliah dulu! Kalau bukan karena dia yang bantu kamu selesaikan skripsi, kamu tidak akan punya segalanya sekarang!"
Xavier tersenyum remeh. "Dia yang terlalu naif jadi orang. Mau saja dimanfaatkan sama aku!"
"Apa-apaan kamu, Zehra!" sela Retno. "Sudah bagus kamu dilamar laki-laki kaya raya!"
"Ini bukan lamaran, Mama!" balas Zehra. "Kalau Mama ngerti ajaran agama, tidak ada lamaran atas perempuan yang sudah bersuami!"
"Kalau begitu, kamu gugat cerai saja Elvan itu!" Retno melemparkan sebuah amplop coklat. "Baca itu! Mama sudah membuat gugatan cerai atas namamu!"
"Mama benar-benar keterlaluan!" sentak Zehra. "Mama yang punya utang, tapi kenapa aku yang jadi korban! Mama nggak pantas disebut ibu!"
"Anak durhaka kamu!" Retno melayangkan tamparan di pipi kiri Zehra.
Zehra mengusap pipinya yang memerah. Tatapannya menyiratkan amarah yang sudah ia simpan bertahun-tahun. Sementara Xavier tersentak kaget. Tentu saja ia baru tahu bahwa sudah lama pasangan ibu dan anak itu tak baik hubungannya.
"Aku muak sama Mama," desis Zehra.
Zehra bergegas naik ke lantai dua, lalu membanting pintu kamarnya dengan keras.
Retno menoleh ke arah Xavier dengan canggung. "Maaf, Nak, Zehra memang keras kepala."
"Tak masalah, Tante. Nanti Zehra juga akan luluh."
***
"Istirahat dulu, Tuan." Mirza meletakkan segelas air putih hangat di atas meja.
"Ini belum selesai, Za. Tunggu sebentar."
"Tidak, Tuan." Mirza mengambil dokumen dari tangan sang atasan. "Jika Anda sakit, Anda tidak akan bisa mengurus semuanya."
"Oke, saya santai dulu." Ia meminum perlahan air putih yang Mirza berikan. "Teşekkür ederim."
"Ingat istirahat selalu, Tuan. Sejak Anda tiba di Ankara, Anda selalu saja sibuk."
"Sengaja saya lakukan, Za. Saya tidak mau mengulur waktu untuk membawa pulang istri dan anak-anak. Saya merindukan mereka, sangat. Kalau kamu sudah menikah, kamu pasti akan tahu rasanya. Mereka adalah keluarga saya sejak saya keluar dari panti asuhan."
"Tapi, Tuan, saya dengar kabar buruk soal istri Anda."
"Apa itu?"
"Mertua Anda sudah membuat gugatan cerai tanpa sepengetahuan istri Anda."