"Naiklah ke mobil!"
Seorang pria paruh baya tersenyum hangat seraya menepuk pelan bahu Elvan.
"Kenapa saya harus ikut?"
"Jangan khawatir, Tuan! Saya dan tiga bodyguard itu tidak akan berbuat macam-macam padamu, kecuali satu hal."
"Apa itu?"
"Melawan ibu mertua Anda, Retno Prameswari."
Elvan terkejut, akan tetapi ia memilih menyimpan rasa penasarannya, kemudian menuruti permintaan pria itu.
"Nama saya Hanif." Pria paruh baya itu memperkenalkan diri sesaat sebelum memerintahkan salah satu pengawal untuk menghidupkan mesin mobil.
"Saya menjemput Anda atas perintah Tuan Farouk. Kami sudah lama mencari Anda. Tiga puluh tahun kami mencari keberadaan orang tua Anda, akan tetapi mereka sudah meninggal."
"Maksud Anda, saya adalah bagian dari Tuan Farouk, begitukah?"
Hanif mengulas senyum lembut. "Benar sekali. Anda memang cerdas, persis kedua orang tua Anda."
Elvan memilih diam. Kedua netranya memperhatikan pemandangan sepanjang jalan yang didominasi warna hijau.
Mengenai silsilah keluarganya, Elvan memang tak tahu apa pun. Yang ia tahu, ia sudah berada di panti asuhan dan tumbuh besar bersama anak-anak yatim piatu lainnya hingga ia berusia tujuh belas tahun. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke salah satu universitas negeri ternama di Jakarta dengan jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa hingga lulus dan menjadi lulusan terbaik.
Ia bukan tak menyadari akan perbedaan antara ia dan orang lain dari segi fisik. Wajahnya terlihat lebih mirip dengan orang Turki karena warna mata serta hidung mancung yang ia miliki. Tak jarang sejak remaja ia digilai oleh para gadis.
Elvan adalah orang yang tak mudah mengekspresikan perasaannya. Mungkin saja karena ia tumbuh dewasa tanpa pengasuhan orang tua kandungnya. Seringkali ia berpikir siapa orang tua kandungnya dan alasan ia harus berada di panti asuhan.
"Setelah kita sampai, Anda akan mengetahui lebih jelas siapa keluarga Anda," kata Hanif.
***
"Sampai kapan kalian mendiamkan Oma?" tanya Retno kepada tiga cucunya.
Adam mendongakkan kepala sejenak, menatap wajah wanita yang baru ia ketahui adalah ibu kandung ibunya. Sungguh ia baru tahu bahwa sang ibu berasal dari keluarga berada.
"Jangan pernah memaksa anak-anakku menerima Mama!" Kali ini Zehra yang berbicara.
"Mereka itu cucu-cucuku, Zehra," sahut Retno.
Zehra menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa baru sekarang Mama mengakui mereka? Ke mana saja Mama selama ini? Bukankah Mama tidak pernah mengakui Mas Elvan sebagai menantu Mama?"
"Lebih baik kamu bercerai saja dengan Elvan. Mama sudah menyiapkan pria yang lebih baik darinya."
"Jangan mengatur hidupku, Ma!"
"Mama sudah membebaskanmu, Zehra, tapi ternyata apa? Hidupmu malah semakin susah," cibir Retno.
Retno menatap wajah Adam. Cucu laki-laki pertamanya itu terlihat tampan dengan wajah yang sangat mirip dengan Zehra. Ditatap seperti itu, Adam justru memalingkan wajahnya.
"Mama semakin egois sejak Baba meninggal," lirih Zehra.
Retno melotot. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Tak ada urusannya dengan ayahmu itu!"
"Kenapa? Karena hanya Baba yang merestuiku?" balas Zehra.
"Ayahmu itu tak tahu saja yang sebenarnya siapa Elvan."
"Memangnya apa yang Mama tahu? Dari pertemuanku pertama kali sampai saat ini, Elvan adalah laki-laki yang lurus dan tidak pernah mengkhianatiku."
"Dia hanya laki-laki miskin, Zehra!" Sorot mata Retno begitu tajam.
"Itu karena perbuatan jahat Mama!"
Adam menghela napas panjang, kemudian berdiri dan meminta adik-adiknya untuk kembali ke kamar.
"Kak, makananku belum habis," bisik Aira.
"Kita masuk dulu. Nggak baik lihat orang dewasa bertengkar," balas Adam.
Dua gadis kecil itu menuruti permintaan kakaknya. Mereka bergegas naik ke lantai dua, tepatnya di kamar sang ibu.
Sementara perdebatan Zehra dengan Retno masih berlanjut.
"Mama benar-benar zalim pada anak kandung Mama sendiri. Apa Mama bangga bisa menghancurkan rumah tanggaku? Apa Mama puas?"
"Iya, Mama sangat puas!" hardik Retno. "Mama tidak akan rida dengan Elvan! Jika Elvan harus mati agar kamu mau mendengarkan Mama, akan Mama bunuh lelaki b*****h itu. Seharusnya dia mati saja saat Mama membakar restoran itu!"
"Mama adalah penjahat paling kejam yang pernah ku temui! Sialnya, aku lahir dari rahim Mama!"
Zehra membelalakkan mata saat pipi kirinya terasa perih akibat tamparan dari Retno untuk kesekian kalinya sejak ia sampai di rumah mewah itu. Ia menatap wajah sang ibu sambil tersenyum sinis.
"Sejak aku kecil sampai saat ini, Mama memang nggak pernah mencintaiku. Kita lihat saja, apakah Mama bisa membuatku bercerai dengan Mas Elvan atau justru Mama akan menyerah dengan keegoisan Mama sendiri?"
***
"Apa? Kenapa saya harus kembali ke Turki? Keluarga saya ada di sini dan saya tidak bisa mengabaikan keselamatan mereka begitu saja."
"Harus, Elvan." Hanif merangkul pundak sang anak majikan yang sudah ia perlakukan seperti anak kandungnya sebelum insiden pelarian itu. "Kamu tidak akan sanggup melawan kekejaman ibu mertuamu dengan tangan kosong. Retno Prameswari adalah perempuan yang selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Kamu harus menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya agar Retno tak bersikap semena-mena padamu. Dia ingin menikahkan putrinya dengan lelaki kaya. Kamu mau tahu alasannya?"
Elvan menatap lekat wajah teduh Hanif, membuat pria paruh baya itu tertawa pelan.
"Retno sedang terlilit utang dengan salah satu rekan bisnis mendiang suaminya. Padahal selama Selim masih hidup, hidup mereka aman-aman saja tanpa terjerat masalah utang dengan siapa pun. Retno hendak menjodohkan Zehra dengan anak orang tersebut agar seluruh utangnya dianggap lunas."
"Apakah Anda tahu siapa orang tersebut?" tanya Elvan.
"Kamu kenal orangnya."
"Hah? Siapa?"
"Xavier."
"Sebentar ... jangan-jangan Xavier Augusto?" Elvan menyebutkan nama salah satu teman sekelas Zehra dulu saat kuliah.
"Betul sekali!" seru Hanif.
"Bagaimana bisa?" Elvan mengusap kasar wajahnya. Ia tahu benar siapa Xavier dan seperti apa sepak terjang pria itu semasa kuliah dulu.
"Ini masih perlu diselidiki lagi. Yang sekarang kita pikirkan adalah kamu harus kembali ke Turki, rebut kembali milikmu agar kamu kuat melawan mereka yang hendak merebut istri dan anak-anakmu."
"Saya harus ketemu dulu dengan Zehra," lirih Elvan.
"Retno tidak akan membunuh Zehra dan anak-anakmu. Percayalah padaku! Saya berjanji, selama kamu mengurus segalanya di Ankara, saya akan meminta beberapa orang untuk memantau rumah keluarga Zehra selama dua puluh empat jam dengan laporan aktivitas Zehra dan anak-anak setiap jam."
Elvan masih sulit percaya dengan perubahan keadaannya yang serba mendadak ini. Istri dan anak-anaknya diculik ibu mertuanya, ia yang tiba-tiba menjadi pewaris seluruh aset keluarga kandungnya yang ternyata berasal dari Turki, dan ia diminta harus kembali ke keluarganya agar ia memiliki power untuk menghadapi seorang Retno yang tak bisa merestui hubungannya dengan Zehra sampai saat ini.