1. Prolog
“Ta!” Panggilan tersebut membuat laki-laki yang mengenakan kaos putih dilapisi kemeja kotak berwarna biru itu menghentikan langkah.
"Iya, Ibu! Kenapa?" Laki-laki itu pun menghampiri sang ibu yang terlihat berjalan tergesa ke arahnya.
"Nanti kamu antar Ibu ke rumah Pak Dahri, ya?"
Alis laki-laki berusia tiga puluh tahun itu bertaut, ada tatapan curiga yang menaungi wajahnya. Ia takut maksud dari acara antar-mengantar ini adalah jebakan. Jebakan perjodohan yang sering ibunya lakukan.
"Mau ngapain?" tanya laki-laki itu dengan nada malas yang coba ia sembunyikan.
"Tadi istrinya Pak Dahri pesan ayam. Buat acara kenduri katanya."
"Kenapa nggak suruh Joko aja, si, Bu? Anta ada janji sama orang sore ini."
"Joko nggak masuk. Cuman ada si Lili di toko."
Laki-laki yang biasa dipanggil Anta itu pun hanya bisa menggaruk kepalanya dengan wajah kesal. Kalau ibunya sudah bertitah, itu artinya tidak ada bantahan. Ia pun tidak memiliki pilihan lain. Mudah-mudahan saja acara antar-mengantar itu tidak diselubungi maksud lain, dan berjalan cepat hingga ia tidak perlu membatalkan janji.
*
Bagi sebagian orang, bekerja di perkantoran dengan gaji tetap mungkin adalah hal yang sangat menggiurkan. Namun, itu tidak berlaku untuk seorang Regi Antariksa. Dia lebih senang bekerja dengan jam kerja yang bisa ia tentukan sendiri. Tidak menjadi bawahan siapa pun karena dia memang bukan tipe orang yang senang diatur.
Awalnya, keputusan yang ia ambil tentu saja menimbulkan pro-kontra dari pihak keluarga. Belum lagi gunjingan orang yang menyayangkan gelar sarjana yang ia raih. Katanya, apa gunanya kuliah kalau ujung-ujungnya kerja luntang-lantung tidak jelas? Padahal, yang sering dibilang tidak jelas itu membuahkan hasil yang tidak sedikit. Contohnya, ia bisa membiayai kuliahnya sendiri dari hasil penjualan berbagai barang yang selama ini ia tekuni.
Awal kuliah Anta sering menjual barang apa saja yang bisa menghasilkan uang. Contohnya saja ia membeli sepatu bekas bermerek milik temannya, lalu menjualnya ke teman yang lain. Atau, kadang ia menjual motor bekas dari satu teman ke teman yang lain. Hasilnya lumayan karena setiap bulannya pasti selalu ada orang yang meminta tolong Anta untuk menjualkan barangnya.
Anta selalu berpikir, asal apa yang ia kerjakan halal, tidak masalah mau menjadi gunjingan atau apa pun itu. Sementara untuk saat ini, dia sedang fokus ke penjualan sepeda motor dan juga mobil bekas. Hasilnya uang yang ia dapat nyatanya tidak jauh berbeda dengan yang Argan dapatkan, kakak kembar yang selama ini selalu diidam-idamkan karena berhasil memiliki jabatan di sebuah perusahaan yang cukup ternama. Anta mencoba tidak peduli dengan keberhasilan orang. Toh, dia sangat nyaman dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Dan yang terpenting, dia tidak merugikan siapa pun.
Lain hal jika urusan jodoh juga mulai menjadi perbandingan, kadang Anta merasa jengah juga. Apalagi Argan sudah memiliki satu putri yang sangat cantik. Belum lagi istrinya yang katanya idaman itu. Bukan katanya sebenarnya, tetapi Karina memang wanita idaman. Dulu Antariksa juga sangat mengidamkan wanita itu untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, sayang Tuhan sudah menjodohkan wanita itu dengan Argan. Ya sudah, tidak ada yang perlu disesali, dan tidak perlu juga ada permusuhan. Hubungannya dengan Argan juga masih baik-baik saja, meski tidak lagi sedekat dulu.
"Ta, anaknya Pak Dahri itu katanya cantik, loh." Antariksa mendesah pasrah jika ibunya sudah mulai berbicara seperti ini. Ia hanya bergumam, lalu pura-pura sibuk dengan kemudinya. Mencoba tidak memasukkan obrolan ini ke dalam telinga.
"Udah banyak yang ngelamar katanya, tapi anaknya belum mau."
Tipe pemilih. Anta berdecak malas, tetapi tentu saja hanya dalam hati. Kalau tidak, telinga sebelah kirinya bisa jadi sasaran tangan gemas sang ibu.
"Nanti Ibu pengin kenalan sama anaknya."
"Mau ngapain?" tanya Antariksa cepat dengan tatapan horor. Bukannya menjawab, ibunya malah hanya tersenyum penuh misteri. Membuat Anta hanya bisa mendesah pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah Kanjeng Ratu dengan segala rencananya.
Tidak lebih dari seperempat jam, Avanza hitam itu pun berbelok ke sebuah rumah dengan pagar berwarna cokelat tua. Sepertinya kedatangan mereka sudah ditunggu karena pemilik rumah terlihat berdiri di teras.
"Emang mau ada acara ya, Bu?" tanya Anta sembari memarkir kendaraan beroda empat itu.
"Mau seribuan ibunya Pak Dahri katanya."
Anta hanya mengangguk, lalu segera turun, membuka bagasi belakang dan menurunkan ayam potong yang dipesan. Sementara sang ibu terlihat berbasa-basi dengan sang tuan rumah. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi pria itu berharap ibunya tidak sedang memiliki maksud terselubung.
"Duduk dulu, Ta!" Itu perintah yang jelas-jelas tidak boleh dibantah. Anta pun tidak memberikan protesan dalam bentuk apa pun. Ia rasa, dengan menuruti kemauan sang ibu, semuanya akan berjalan cepat. Laki-laki itu pun memilih duduk setelah menyalami sepasang suami istri yang kini duduk di bangku seberang mereka.
"Nah itu anaknya!" Perkataan Pak Dahri mau tidak mau membuat Anta ikut menoleh ke arah, di mana semua mata kini tengah memperhatikan seorang wanita, yang tengah membawa sebuah nampan berisi empat cangkir teh.
"Cantik anaknya, Pak," puji ibu Anta. Nyaris saja pria itu memutar bola matanya malas, kalau saja tidak ingat kesopanan.
Sementara yang dipuji hanya tersenyum malu-malu. Anta terpaksa memberikan senyum tipis saat keduanya bersalaman. Hanya sebentuk senyum basa-basi. Yah, Anta akui wanita ini cantik, tetapi entah mengapa hatinya tidak bergetar. Selanjutnya obrolan berlangsung antara orang tua. Anta hanya berharap waktu berputar cepat dan segera membawa mereka pulang.
*
“Udah lama Mbak kerja di WO?” tanya Antariksa pada wanita di depannya. Ia tidak menyangka jika persetujuan setengah hatinya untuk mengantar Fandi akan berakhir semenyenangkan ini.
Wanita yang sejak tadi diam-diam Antariksa perhatikan karena kecantikannya itu mendongak, lalu memberikan senyum yang mampu membuat hati Antariksa membeku saat itu juga. Jujur, tidak kepada semua wanita Antariksa bisa langsung terpikat seperti ini. Sepanjang sejarah, mungkin baru Karina, dan sekarang wanita bernama Viona ini. Antariksa tahu namanya karena tadi wanita ini memperkenalkan nama itu saat mereka bertemu. Tentu saja kedatangan Antariksa di salah satu Wedding Organizer ini bukan untuk mengurus pernikahannya. Ia hanya mengantar Fandi, teman kuliah yang sebentar lagi akan menikah. Ada sesuatu yang harus temannya urus, dan Antariksa memilih untuk tidak terlalu kepo dengan kepentingan Fandi karena tugasnya memang hanya mengantar.
“Udah tiga tahunan lah. Ngomong-nomong panggil Viona aja, nggak usah panggil, Mbak,” jawab wanita itu kembali menunjukkan senyum manis yang sepertinya akan menjadi favorit Antariksa mulai saat ini.
“Mas mau konsul soal wedding juga?” tanya wanita itu dengan suara yang terdengar begitu menyenangkan di telinga Antariksa. Entah Anta yang terlalu berlebihan, atau memang Viona adalah tipe orang yang mudah memikat lawan jenisnya.
Antariksa memberikan kekehan lirih, lalu menjawab, “Calon aja belum ada, gimana mau konsul? Ini cuman nemenin Fandi.”
Selanjutnya obrolan berjalan ringan dan begitu menyenangkan. Namun, kesenangan itu terpaksa terputus karena Fandi sudah selesai dengan urusannya. Kedua laki-laki itu pun pamit dengan senyum lega yang muncul di bibir masing-masing. Fandi karena urusannya yang sudah beres, dan Antariksa karena sudah mengantongi nomor w******p milik Viona.
*
“Kenapa nggak ngomong dari tadi, si?” decak Antariksa sembari melirik arloji yang melingkar di tangannya. Ia segera meninggalkan kedai kopi tempatnya menemui calon pembeli motor bekas yang baru ia posting di laman media sosialnya semalam. Beruntung transaksi sudah selesai jadi sekarang ia bisa melesat ke sekolah Zea, anak Argan dan Karina.
“Aku nggak tahu kalau bakalan ketahan lama di sini. Mas Argan juga nggak bisa ditelpon.” Terdengar suara cemas di seberang. Mendengar itu, Antariksa tidak tega juga untuk mengomeli wanita yang kini menjadi iparnya itu.
“Ya udah, ini gue langsung ke sekolah Zea. Kamu bilang sama gurunya Zea buat nungguin.” Setelah mendapat balasan ‘iya’ dari seberang, Antariksa segera berlari untuk mencari taksi. Namun, karena tidak terlalu memperhatikan langkah, ia tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang kini jatuh terduduk dengan beberapa barang tampak berserakan.
“Mbak, maaf-maaf, saya nggak sengaja.” Antariksa membantu wanita yang tengah memunguti barang-barangnya itu. Sebagian besar yang tumpah adalah makanan, jadi Antariksa hanya bisa meringis tidak enak karena tentu semuanya tidak lagi bisa diselamatkan.
“Saya sungguh minta maaf, beneran nggak senagaja tadi,” ujar laki-laki itu lagi seraya menatap wajah wanita yang tampak pucat itu.
“Nggak papa, Mas, saya juga salah karena nggak merhatiin jalan.” Wanita itu menjawab tanpa mau menatap wajah Antariksa, dia hanya terlihat menyelipkan rambut panjangnya dengan aura gugup.
“Saya boleh minta nomor wa, Mbak?” Pertanyaan itu sontak membuat wanita di depannya mengernyit waspada.
“Saya mau tanggung jawab soal ini.” Antariksa menunjuk kekacauan yang ia sebabkan. “Tapi nggak bisa sekarang, soalnya lagi genting banget. Jadi saya minta nomor Mbak untuk mengurus semuanya nanti.”
Awalnya wanita itu terlihat ragu, tetapi selanjutnya menyebutkan sederet nomor yang segera Antariksa catat di ponselnya.
“Oke, Mbak Marisha, saya tinggal dulu.” Antariksa pun segera bangkit untuk menjemput Zea yang mungkin sudah menangis karena menunggu terlalu lama.
*
Zea sudah memasang wajah bosan saat akhirnya Antariksa sampai di TK tempat Zea sekolah itu. Beruntung anak berusia lima tahun itu tidak menangis histeris karena memang Zea bukanlah anak cengeng yang suka merajuk.
“Maaf banget, ya, Bu. Jadi nungguin lama.” Antariksa mengatur napasnya seraya mengulurkan tangan pada Zea yang segera beringsut ke arahnya.
“Tidak apa-apa, Pak. Zea pinter kok anaknya. Putri Bapak ini manis sekali.” Wanita dengan kaca mata yang membingkai wajahnya itu tersenyum seraya mengusap rambut Zea. Antariksa mengernyit saat merasa panggilan bu rasanya kurang cocok tersemat untuk wanita dengan rambut sebahu ini. Wajahnya masih tampak muda di mata Antariksa.
“Om lama banget, si,” gumam Zea dengan nada protes.
“Oh, omnya Zea? Maaf, saya kira tadi papanya.” Sang guru langsung memasang wajah merasa bersalah.
Antariksa terkekeh lirih, “Iya, saya omnya, Regi, bukan bapak-bapak,” ujar Antariksa sembari mengulurkan tangan.
“Kalau begitu saya juga bukan ibu-ibu, panggil saja Marsya.”
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Antariksa memilih untuk pamit. Hari ini sungguh melelahkan, dan tanpa sadar ia berurusan dengan tiga wanita yang tidak pernah Anta bayangkan akan menjadi sesuatu yang penting untuk perjalanan hidupnya ke depan.