Antariksa berkali-kali mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kamar ibunya, tetapi selalu urung saat ragu dan juga takut itu hadir di benaknya. Membayangkan raut kecewa sang ibu, dan juga omelan yang akan terjadi setelahnya, tentu saja bukan hal yang menyenangkan. Namun, bukankah ini konsekuensi dari sebuah kejujuran yang terungkap setelah melakukan kebohongan? Setelah mengembus napas pendek, dan sekali lagi meyakinkan diri jika inilah yang benar, maka laki-laki yang mengenakan kaos pendek dengan warna abu itu mengetuk pintu kamar ibunya yang tertutup. Jam masih menunjuk angka delapan malam, dan laki-laki itu yakin jika sang ibu belum tidur. Ayahnya tidur di kamar sebelah, maka dari itu dirinya berani mendatangi kamar ibunya. Orang tuanya memang sudah lama tidur terpisah. Antariksa tidak

