Episode 10

2651 Kata
          Amalfi Coast, Italia        Adrian dan Stella baru saja menginjakkan kaki mereka di salah satu Villa Treville. Villa yang berada tak jauh dari pesisir pantai, dan berada tepat di atas tebing pantai. Villa dengan 2 tingkat itu memiliki bangunan khas Italia dengan warna putih yang mendominasi.           Adrian dan Stella mendapatkan hadiah honeymoon spesial dari keluarga mereka, bahkan bukan hanya hotel yang di pesankan untuk mereka berdua melainkan sebuah Villa besar tetapi hanya memiliki satu kamar. Entah sudah di rencanakan sebelumnya atau memang villa ini khusus di rancang untuk pasangan pengantin baru.           Seorang pelayan dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu sudah bersiaga menyambut mereka dan membawakan barang-barang mereka menuju kamar utama. Villa ini sangat luas dan sangat sejuk. Memiliki satu kolam renang yang begitu luas dengan beberapa patung berbentuk anjing sebagai hiasan dimana air mancur keluar dari mulutnya. Di sekeliling villa di tumbuhi oleh pepohonan hijau dan Villa ini berada dalam dataran tinggi.           Di sini semua rumah, villa, hotel memang berada pada titik titik tertentu dan dalam posisi tidak sama karena berada pada dataran tinggi. Dari kejauhan bahkan dari atas balkon villa ini mereka bisa melihat bangunan yang bertingkat-tingkat posisinya.           “Wow!” gumam Stella tak menyangka akan ke sini setelah lama dia tak berlibur. Terakhir liburan, saat kelulusan SMA ke Tokyo bersama keluarganya dan sekarang dia harus kembali liburan tetapi dalam status yang berbeda dan dengan orang asing yang sudah di nobatkan sebagai musuh abadinya.           “Mereka berlebihan.” gumam Adrian melepaskan kacamata hitam yang menghiasi hidung mancungnya. Stella berjalan ke luar ruangan dimana kolam renang berada. Di sana terdapat beberapa kursi malas dengan payung cantik, dan juga kursi kayu beserta mejanya yang senada. Ia berjalan mencapai pembatas dan menatap ke bawah dimana lautan luas terhampar indah dengan batu karang yang tinggi dan kokoh dimana bangunan itu berpijak. Air laut tampak bergemuruh membentur kokohnya batu karang. Cukup lama Stella memandang ke bawah dan lama kelamaan ia bergidik ngeri membayangkan kalau dirinya jatuh ke bawah. Stella menoleh menatap sekelilingnya dan mencari keberadaan Adrian tetapi tak menemukannya. Kemana Dosen TMII itu. Pikirnya kembali berjalan masuk ke dalam rumah.           Adrian tampak tengah berbincang dengan pria tua tadi dalam bahasa Perancis yang tak di pahami Stella, setelahnya pria itu berpamitan dan sedikit menundukkan kepala pada Stella sebagai penghormatan membuat Stella melakukan hal yang sama.           “Kau lapar?” tanya Adrian menatap layar Smartphone nya.           “Hmm,”           “Kita ke restaurant bawah saja untuk makan,” ucapnya berlalu lebih dulu meninggalkan Stella.           Stella mendengus karena sejak tadi Adrian meninggalkannya begitu saja. Tetapi ia juga berpikir apa yang seharusnya Adrian lakukan? Apa dia harus merangkul atau menggandeng Stella layaknya pasangan pengantin baru yang romantis. Membayangkan itu Stella bergidik sendiri, mungkin seperti ini lebih baik. Terlihat seperti Om yang berlibur dengan keponakannya.           “Kenapa kau malah cengengesan?” Stella tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Adrian barusan membuat dia segera merubah raut wajahnya menjadi jutek.           “Bukan urusanmu,” jawabnya jutek.           “Sepertinya kau sangat bahagia bisa honeymoon denganku,” sindir Adrian berjalan mengikuti Stella berjalan menuruni undakan tangga.           “Hah? Oh ayolah pak TMII, aku bahkan tak menganggap anda ada di sini. Aku senang karena bisa berlibur tanpa memikirkan Khoas, berkat Papa Dhika, aku bisa terbebas dari koas yang melelahkan itu.” seru Stella dengan begitu bahagia      “Kau melupakan tugas yang aku berikan sebelum aku mengajukan cuti, hmm.”           “Oh sial!” gerutu Stella dan menoleh ke arah Adrian yang kini sudah berjalan di sampingnya. “Kau sunggu Dosen setan!”           “Dan kau Siswi Setan yang banyak mendumel dan mengeluh,” balas Adrian membuat Stella mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Adrian yang menggulum senyumannya. ∞           Setelah menikmati makan siang bersama, kini Stella berjalan menyusuri pantai dengan menggunakan tangtop kuning dan rok tipis yang bagian depannya terbuka hingga memperlihatkan celana hotpant yang ia gunakan, juga sandal jepitnya. Rambutnya ia biarkan terurai indah dan melambai-lambai karena terpaan angin. Banyak sekali orang di sana, sibuk dengan aktivitasnya sendiri. “Ahh banyak Roti sobek di sini,” gumamnya saat melihat beberapa pria yang baru selesai berenang dan memamerkan tubuh sixpacknya.           “Ahh ganteng banget,” gumamnya melihat pria bertubuh atletis itu dan wajah yang sangat bersih tanpa bulu. Pandangan Stella terus terarah mengikuti kemana pria tampan itu pergi.           “Oh No!” gerutunya bergidik saat pria tadi menyapa pria lain dan mengecup bibirnya. “Hah, kenapa kau selalu memilih type pria yang seperti itu,” ucap seseorang. “Sungguh mata istriku sangat jelalatan dan mata keranjang,” kekeh seseorang membuat Stella menoleh ke belakangnya dan melihat Adrian yang berdiri di sana dengan kemeja putih polos dan celana seatas lutut berwarna coklat.           “Kau mengikutiku?” tanya Stella.           “Tidak, aku penasaran sebenarnya apa yang membuat mata istriku hampir keluar dari tempatnya. Ternyata kau menyukai pria gay,” ejek Adrian dengan tawanya membuat Stella mendengus kesal.           “Dia,” gumam Adrian memperhatikan pria tadi. “No Bad!” ejeknya sekali lagi membuat Stella meradang. “Aduhh!”           “Kenapa menendangku?” pekik Adrian saat Stella menendang tulang keringnya.           “Tidak sopan mentertawakan dan mengejek seorang wanita,” ucap Stella melipat tangannya di d**a dan berjalan meninggalkan Adrian yang masih mengaduh kesakitan.           “Gadis itu sungguh bar bar,” gumam Adrian menahan kesakitannya. ∞           Adrian keluar dari kamar mandi dan melihat Stella sibuk membangun dinding kokoh dari bantal dan guling untuk menjadi pembatas tidur mereka di atas ranjang. Dengan jahil Adrian merebahkan tubuhnya dan mendorong dinding yang sudah di susun Stella dengan susah payah.           “HEI!”           Adrian tak menggubrisnya dan tetap tidur tengkurap dengan menindih dinding itu hingga hancur. “Kau melewati batasanmu, minggir!”           Stella mendorong tubuh besar Adrian dengan susah payah tetapi tak seinci pun tubuhnya bergeser. “Uh Sialan!” gerutunya.           “Kau sungguh tak sadar body, badan seperti gorilla begini main tidur sembarangan! Geser Dosen TMII!” Stella memukuli punggung Adrian yag masih tak bergeming.           “Huft!”                   Keluh Stella saat merasa lelah mencoba menggeserkan tubuh Adrian yang tak juga berpindah. Dengan sengaja ia tidur di atas punggung Adrian, dan mencari posisi nyaman.           “Ah keras semua,” gerutunya. Adrian menggulum senyum dalam tidurnya dan berusaha tak memperdulikan Stella.           “Aduh!” kali ini Adrian menjerit kecil saat daun telinganya di gigit Stella. “Kau sungguh tikus got yang nakal,” gerutunya mengusap telinganya seraya beranjak bangun.           Stella tersenyum penuh kemenangan dan merebahkan tubuhnya dengan sengaja merentangkan kedua tangan dan kakinya supaya Adrian tak memiliki tempat. Tetapi bukan Adrian namanya yang akan mengalah begitu saja. Adrian merebahkan kepalanya di lengan kanan Stella dan kedua tangannya langsung memeluk tubuh ramping Stella, bukan hanya itu, kakinya juga melingkar di kaki Stella. Layaknya anak yang bergelut manja pada Ibu nya.           “Hei! Kau sangat berat!” gerutu Stella sangat kesal sekali. Dia melakukan perlawanan untuk menyingkirkan tubuh Adrian darinya. Dan terjadilah perang di atas ranjang dengan saling dorong mendorong dan merangkul satu sama lain.           “KYAAAAAA!!!”           Keduanya jatuh ke lantai dengan posisi tubuh Stella berada di atas tubuh Adrian dan wajah mereka berjarak dengan sangat dekat. “Jangan bergerak,” ucap Adrian saat Stella hendak beranjak dari atas tubuhnya. Stella mengernyit bingung, dan Adrian menunjukkan ke bawah dengan matanya. Stella menunduk dan matanya melotot sempurna saat sadar kalau tangan Adrian masuk ke dalam pakaiannya tepat di bagian d**a.           “Ahhhhhhh DOSEN m***m!”           Teriaknya memukuli d**a Adrian dan menepis tangan Adrian darinya. Ia langsung berdiri dengan mencak-mencak seakan baru saja ada binatang menjijikan menyentuh kulitnya. “Kau Dosen m***m tak tau diri, Dasar TMII. Tengil, m***m, i***t, Ihhhh kesel!!!”           Adrian hanya terkekeh melihat tingkah Stella yang mencak-mencak. Dia sudah duduk di atas lantai dengan memeluk lututnya sendiri. “Naani.... cucu cantikmu ternodai!” ucapnya memasang wajah sedih.           “Ck, aku bahkan tak dapat menyentuh payudaramu. Aku malah curiga, payudaramu itu masih dalam masa pertumbuhan atau memang segitu adanya? Datar sekali,” ucapan Adrian semakin membuat Stella meradang. Ia mengambil bantal dan memukuli Adrian dengan bantal. Adrian segera menepisnya dan mengambil bantal lain. Terjadilah perang bantal di antara mereka hingga larut malam.           Matahari menerobos masuk ke celah jendela kamar. Suasana kamar sungguh berantakan bak kapal pecah. Semua bantal, guling dan selimut berserakan di lantai sedangkan di atas ranjang hanya ada dua manusia yang tampak serasi saling memeluk satu sama lainnya. ∞           Stella mengerjapkan matanya dan sedikit mengernyit saat menyadari sesuatu yang asing berada di hadapannya dan bagian pinggangnya terasa di rengkuh sesuatu. Dengan penasaran ia menekan sesuatu di depannya dan begitu keras. Ini seperti d**a manusia. Pikirnya.           Apa aku membawa boneka manusia ke sini? Tetapi ku pikir aku tidak memiliki boneka seperti itu. Pikirnya. Ia tersentak saat sesuatu di depannya itu bergerak kecil. Dengan rasa penasaran ia menengadahkan kepalanya dan tampak dagu tegas beserta wajah tampan milik seseorang berada tepat di kepalanya. Stella membelalak lebar saat kesadarannya sudah terkumpul 100 persen. Ia kembali menunduk dan mencari tau apa yang singgah di pinggang rampingnya dan ia semakin terpekik saat melihat tangan kekar milik pria itu bertandang di sana.           “OMG!!!!!” teriaknya langsung bangun seraya menyingkirkan lengan kekar itu dari tubuhnya. Ia langsung meloncat menjauh dari tubuh kekar milik Adrian.           “Ada apa sih?” tanya Adrian dengan suara seraknya seraya berguling menjadi tengkurap dan melanjutkan tidurnya.           “Naani, cucu kesayanganmu ternodai! Benar-benar predator dosen m***m ini!” gerutunya dan segera beranjak menuju ke kamar mandi. ∞           Setelah sarapan, Stella menghabiskan waktunya berjemur di bibir pantai, merebahkan dirinya di kursi malas tepat di sebuah gazebo kayu dengan kain putih sebagai pembatas yang melambai-lambai karena terpaan angin. Ia tampak memakai t-shirt longgar sebatas paha, dengan rambut yang di gelung asal ke atas. Kaca mata hitam bertengker di hidung mungilnya. Ia sibuk mengoleskan sunblock ke kaki dan tangannya juga lehernya.           “Sedang apa?” tanya Adrian yang baru saja datang dengan hanya memakai celana pendek seatas lutut dan memamerkan tubuh telanjangnya yang sixpack dan mempesona, kaca hitam tampak bertengker di hidung mancung. Untuk sesaat Stella terpesona oleh sosok Adrian di hadapannya yang begitu sempurna layaknya seorang dewa yunani yang agung dan memiliki segala kesempurnaannya. Stella bersyukur karena saat ini matanya terlindungi kacamata hitam hingga dosen TMII itu tidak akan kegeeran karena mengetahui Stella sempat terpesona padanya. Ingat hanya sempat dan itu hanya dalam waktu sekejap.           “Kau tidak lihat aku sedang apa,”jawabnya dengan nada sinis. Bayangan tadi pagi masih terngiang di kepala Stella, sebenarnya Stella tidak marah, dia malah merasa nyaman tidur seperti itu, tetapi sayangnya kenapa harus dengan musuh besarnya.           “Kalau begitu sekalian kau oleskan di tubuhku juga, aku ingin berenang,” ucap Adrian yang kini duduk di hadapan Stella.           “Kau punya tangan sendiri Pak Dosen!” jawab Stella dengan ketus.           “Kenapa, kau tidak mau mengoleskannya untukku? Apa kau takut terangsang karena menyentuh tubuh sempurnaku?” ucapan Adrian spontan membuat Stella melotot sempurna.           “Hanya dalam mimpimu! Kau pikir hanya kau yang memiliki tubuh kotak-kotak seperti itu!” sembur Stella dengan nada sangat kesal.           “Kalau begitu cepat oleskan juga di tubuhku, Pendek.” ucap Adrian yang kini memunggungi Stella dengan senyuman yang di kulum saat merasakan tangan mungil Stella akhirnya menyentuh kulitnya.           “Berhenti memanggilku Pendek!”           “Ck, tanganmu kasar sekali, kau ini mahasiswi apa kuli bangunan?” pertanyaan Adrian membuat Stella geram sendiri. “Aww!” pekiknya saat merasakan pedasnya cubitan Stella.           “Oleskan sendiri, dasar Dosen setan!” gerutu Stella melempar sunblock ke punggung Adrian dan ia kembali bersandar sambil membuka majalah fasionnya.           “Begitu saja marah, padahal kan hanya bertanya,” gerutu Adrian seraya mengoleskan sunblock ke tubuh bagian depannya.           “Aku akan berenang, kau mau ikut?” tanya Adrian yang kini sudah berdiri menghadap Stella seraya melepaskan kacamata juga menyimpan sunblocknya.           “No, Thank,”           Adrian hanya mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Stella yang masih asyik sendiri.           Stella menatap sekitarnya, hampir semua wanita memakai bikini cantik, bahkan ada yang berjemur dengan hanya memakai CD saja dan memamerkan p******a mereka. Ada juga yang sampai telanjang. “Mungkin tak ada salahnya,” gumamnya.           Ia melepaskan t-shirtnya hingga menampakkan biniki putih yang ia gunakan dan tampak seksi dan mempesona. Lalu ia merebahkan tubuhnya sendiri dengan kembali membaca majalahnya.           “Apa yang kau lakukan?” suara itu membuatnya menurunkan majalah dari depan wajahnya.           “Apa? Aku sedang membaca majalah,” jawabnya dengan polos.           Adrian melempar handuk yang awalnya ia gunakan untuk mengeringkan tubuhnya sehabis berenang hingga menutupi tubuh Stella.           “Kau percaya diri sekali dengan memamerkan tubuh datarmu itu,” ucap Adrian.           ‘”Apa maksudmu?” pekik Stella kembali naik darah karena Adrian. Yah, selalu dan selalu karena pria itu.           “Kau mempermalukan dirimu sendiri dengan memamerkan tubuh ratamu itu, kau ingin di tertawakan orang-orang? Cepat pakai T-shirtmu lagi!” ucap Adrian dengan nada perintah.           “Apa urusanmu, Pak Dosen? Aku tidak perduli!” ucap Stella melempar handuk dari atas tubuhnya.           “Dadamu sungguh rata dan bokongmu tampak tak ada daging atau lemaknya, tidak akan ada yang bernafsu melihatmu, jadi cepat gunakan kembali T-shirt mu!” perintah Adrian masih tak terbantahkan.           “Kau!” pekik Stella. “Kau ini seorang Dosen, tetapi kata-katamu sungguh tak berpendidikan!” pekiknya kesal seraya memakai kembali T-shirtnya dengan kesal. Stella beranjak dari duduk dengan membanting majalahnya ke kursi santai.           “Kau akan kemana?” tanya Adrian.           “Jangan mengikutiku dan mencampuri urusanku lagi! Dasar Dosen Setan!” umpatnya dan beranjak pergi dengan wajah kesal dan menghentakkan kakinya ke tanah meninggalkan Adrian yang menggulum senyumnya.           Entah kenapa dia suka sekali membuat Stella marah, dan sejujurnya tubuh Stella sangat seksi di matanya. Ia hanya tak rela, gadis itu mengumbar tubuhnya untuk para pria lapar. Cukup hanya untuk dirinya, bukankah dia suaminya dan berhak atas itu. Adrian dengan santai merebahkan tubuhnya di atas kursi santai dengan memakai kembali kacamatanya dan menjadikan kedua tangannya sebagai penyanggah kepalanya. ∞           “Dia pikir dia siapa? Dia pikir dia sempurna apa! Seenaknya menghina orang lain. Dasar Dosen setan, i***t, nyebelin, kejam, jahat!” umpat Stella di dalam kamar mandi menatap ke cermin dimana memantulkan bayangan dirinya. “Apa aku sejelek itu?” gumamnya tanpa sadar memperhatikan bentuk dadanya dan juga tubuhnya.           “Aishhh sialan!!! DOSEN SETAN!!!” umpatnya kesal, membuat beberapa orang di dalam toilet menatapnya dengan tatapan aneh karena Stella mengumpat dengan bahasa Indonesia.           Setelah beberapa saat menghabiskan waktu di dalam toilet untuk menenangkan diri, Stella berjalan keluar dari toilet dan berjalan menyusuri pantai yang tampak ramai pengunjung. Ia menatap hamparan lautan luas yang berwarna biru dan sangat indah, banyak orang melakukan beberapa permainan di lautan itu. Termasuk berenang di sana.           “Kau di sini ternyata,” seruan itu membuatnya menoleh.           “Ada apa? Aku bilang jangan mengikutiku!” sembur Stella masih kesal.           “Ck, kau sungguh pemarah,” ucap Adrian. “Ayo ikut aku.”           “Hey! Lepaskan tanganku!” seru Stella saat Adrian begitu saja menarik pergelangan tangannya. “Kau mau apa lagi? Kau mau menceburkanku ke dalam lautan? Atau mau mengumpankanku ke ikan hiu?”           “Ck, pemikiranmu mirip seorang psycopath,” seru Adrian dengan santai.           “Aku tidak ingin mengikutimu!”           “Tetapi sayangnya kau harus mengikutiku,” ucap Adrian.           Mereka berhenti di sisi pantai bagian lain, di sana ada seorang pria yang berjalan mendekati mereka dan menyerahkan sebuah kunci ke tangan Adrian.           “Ayo,” ucap Adrian kembali menarik Stella. Adrian menaiki motor boats berwarna merah hitam itu, mau tak mau Stella pun ikut menaikinya di belakang Adrian.           “Pegangan kalau kau tidak ingin jatuh dan jadi santapan ikan hiu,” ucap Adrian yang tak di indahkan oleh Stella. Adrian menyalakan motornya dan langsung menancapkan gasnya membuat Stella terpekik kaget karena hampir terjungkal ke belakang, tetapi kedua tangannya reflek memeluk tubuh Adrian yang masih bertelanjang d**a, hingga pipinya menempel dengan punggung lebar dan keras milik Adrian.           “Sudah ku beritahu untuk pegangan,” ucap Adrian dengan nada geli menahan tawanya, ia semakin menyukai menggoda Stella. Stella hanya mendengus dan memeluk Adrian dengan erat. Mereka menyusuri lautan dengan kecepatan cukup, angin berhembus menerpa mereka dan begitu menyegarkan. Air bercipratan menerpa tubuh mereka saat motor boat melaju cepat. Tak di pungkiri, Stella merasa senang dan sangat menikmatinya. ∞
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN