Adrian dan Stella sudah kembali ke aktivitas sehari-hari mereka. Kini mereka berdua telah tinggal di apartement milik Adrian yang cukup besar. Mereka juga sudah memutuskan untuk pisah kamar dan melakukan perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama.
Pagi itu Stella bersenandung kecil sambil megeringkan rambutnya dengan hairdyer. Tubuhnya masih terbalut dengan handuk, bahkan dia bernyanyi sambil menggoyangkan tubuhnya ke sana kemari menikmati alunan musik yang berputar dari media player.
“Ck, kau sungguh gadis yang sangat berisik! Matikan musiknya,” tegur Adrian tetapi Stella tak mendengarnya dan tetap bernyanyi dan menari tanpa sadar kalau Adrian sudah memasuki kamarnya.
“Eh?”
Stella menoleh saat musiknya sudah mati. “Kau! Kenapa kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu, Dosen TMII? Apa kau tidak memiliki etika, sopan santun yang baik dimana kalau memasuki kamar terutama kamar seorang gadis harus mengetuk pintu dulu!” pekiknya dalam satu tarikan nafas membuat Adrian meringis.
“Kau memiliki nafas yang panjang,” ucapnya membuat Stella geram.
“Kau!”
“Cepat berpakaian, dan siapkan sarapan. Aku sudah terlambat ke rumah sakit. Dan bukankah kau juga kebagian shift pagi? jadi cepatlah bergegas, aku sedang malas menghukum mahasiswa koas yang terlambat.”
“Dan berhentilah menari seperti gadis alay, kau bisa membuat handukmu jatuh. Aku mungkin akan senang kalau itu terjadi,” ucap Adrian dengan senyuman menyebalkannya.
Stella langsung melingkarkan kedua tangannya di d**a dengan mata melotot. “Dasar kau Dosen m***m, hanya mikirin dalaman sempak! Keluar!” teriak Stella kesal dan melemparkan bantal ke arah Adrian yang langsung di tepis Adrian yang kini melenggang pergi keluar kamar.
“Dasar bodoh! Kenapa aku tidak mengunci pintu kamar!” gerutu Stella segera mengunci pintu dan bergegas menuju walk in closet untuk memakai pakaiannya.
Kini Stella dan Adrian menikmati sarapan roti dengan selai dalam diam, tak ada yang membuka suara. Stella roti dengan segelas susunya dan Adrian dengan segelas Coffee nya. Stella melirik ke arah Adrian yang begitu santai menikmati sarapannya tanpa merasa bersalah. Terkadang Stella berpikir, terbuat dari apa kepala dosennya itu. Apa yang selalu di pikirkan dosennya itu, kenapa dia begitu menyebalkan.
“Aku tau aku sangat tampan, jadi berhentilah menatapku dengan tatapan penuh pesona. Kau seperti ingin melahapku hidup-hidup.” Sindiran Adrian membuat Stella melongo dan mendengus kesal.
“Ck, kau perlu memeriksa kepalamu itu, aku penasaran apa isinya hanya kepercayaan dirimu dan dalaman sempak, dasar m***m!” gerutu Stella.
“Apa? Daleman Sempak? Apa kau ingin melihat isi di balik sempakku, Pendek?” tanya Adrian semakin menyebalkan.
“Kau sungguh menjijikan!” gerutu Stella segera menghabiskan susunya dan beranjak dengan menyandang tas selendangnya.
Stella masih menggerutu kesal sepanjang jalan menuju keluar apartement mewah itu. Ia mencari taxi tetapi tak menemukan. Alhasil ia berjalan menuju halte bus dengan masih menggerutu. Bagaimana bisa dia menikah dengan pria model Adrian.
Tiin tinnn
Awalnya Stella mengabaikan suara klakson itu hingga lama kelamaan suara itu mengganggu dirinya. Ia menoleh ke belakang dan tampak mobil sport mewah berada tak jauh di belakangnya. Stella masih diam di tempatnya hingga kaca mobil itu turun dan menampilkan sosok menyebalkan yang sedang ia beri sumpah serapah.
“Masuklah,” ucapnya.
“Tidak perlu!”
“Kau akan terlambat, dan aku tidak ingin menghukum mahasiswi yang terlambat!” ucapnya.
Stella menimbang-nimbang, ia juga sebenarnya malas berjalan menuju ke halte bus yang lumayan jauh. “Kau yang memaksa pak Dosen, bukan aku yang mau!” ucapnya saat sudah duduk di samping Adrian.
“Ya terserah padamu,” ucap Adrian seraya menjalankan mobilnya.
∞
“Hai pengantin baru, gimana belah durennya?” tanya Lenna saat mereka tengah berjaga di UGD.
“Apa sih loe Nong, baru ketemu bahas belah duren belah duren segala,” sungut Stella.
“Jadi loe belum belah belahan sama Dosen TMII loe itu?” tanya Lenna dengan tatapan penasaran.
“Memang harus belah-belahan? Gue gak mau di sentuh olehnya,” ucapnya tampak acuh tak acuh.
“Loe ih, mau jadi istri durhaka loe gak kasih kewajiban sama laki loe,” ucap Lenna.
“Astaga Nong, iya kali gue harus ngelakuin yang iya iya sama tuh Dosen super nyebelin. Gak minat gue,” ucapnya.
“Nyesel lho kalau sampai nanti dia di sentuh sentuh sama cewek lain.”
“Bodo amat, tangan gue bisa mendadak alergi menyentuh dia.” Lenna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
“Sudah jangan bahas lagi, kita harus kerja,” seru Stella yang di setujui Lenna.
Tak lama terdengar suara ribut-ribut di dekat pintu UGD, membuat mereka berdua bergegas menuju pintu dan terlihat ambulance datang dengan membawa beberapa pasien korban kecelakaan dalam blangkar. Stella dan Lenna segera bergegas di membantu Dokter yang jaga UGD. Hingga tak lama ia melihat Adrian masuk ke dalam ruangan dan ikut membantu pasien yang sedang di tangani Stella.
Stella memang sedikit kesulitan saat tadi melakukan pertolongan pertama pada pasien yang sekarat. Dan ini pertama kalinya Stella melihat Adrian menangani seorang pasien yang tengah sekarat. Gerakannya sungguh lihai dan terlatih layaknya seorang dokter yang sangat handal. Dan penampakan Adrian di hadapannya itu membuatnya sangat terpesona, dan tak bisa di pungkiri lagi oleh Stella. Lamunan Stella terganggu oleh seruan Adrian yang meminta sesuatu, dengan segera Stella membantunya mengambilkan sesuatu yang di butuhkan Adrian. Mereka sungguh kompak mengatasi pasien tersebut. Setelah akhirnya pasien dalam kondisi normal, Adrian menatap Stella yang juga tengah menatapnya.
“Bergegaslah saat melakukan pertolongan pertama pada pasien,” ucap Adrian sebelum akhirnya berlalu pergi memeriksa psien lainnya. Stella hanya diam melihat Adrian, hingga kesadarannya kembali. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan merasa bodoh karena telah mengagumi musuh bebuyutannya itu. Akhirnya Stella melakukan pemeriksaan ke pasien lainnya dan mendata nya ke berkas medis.
∞
Stella tampak asyik duduk di depan televisi yang sedang menayangkan drama korea kesukaannya. Tetapi kali ini fokusnya tidak pada televisi melainkan pada pintu apartement yang sama sekali tak terbuka. Ia kembali menyuapkan keripik kentang ke mulutnya dengan kesal. “Keluyuran kemana sih tuh Dosen TMII, perasaan tadi pulang duluan dari rumah sakit.”
Sejak tadi mereka sibuk di UGD karena pasien korban kecelakaan beruntun yang banyak. Dan Stella sama sekali tak melihat lagi Adrian setelah penanganan di UGD itu. Stella pikir Adrian sudah pulang, tetapi saat sampai di apartement, ternyata apartement masih kosong. Sejujurnya Stella benci kesendirian dan suasana sepi seperti ini, ia adalah tipikal wanita penakut.
“Satu jam lagi gak hadir, gue ganti password apartementnya, bodoamat dia gak bisa masuk juga,” gumam Stella seraya meraup keripik kentang cukup banyak ke dalam mulutnya.
TING
Terdengar suara pin di masukkan dan kunci terbuka, dengan segera Stella merapihkan duduknya dan menjadi fokus menatap layar persegi di depannya dan menikmati keripiknya dengan santai.
“Belum tidur?” tanya Adrian yang berjalan mendekati Stella dengan menjinjing jas abu miliknya.
“Apa Bapak gak lihat mata saya masih melek, jadi sudah jelas saya belum tidur,” jawab Stella melirik sedikit ke arah Adrian.
“Ya sudah, aku tidur duluan,” ucap Adrian berjalan menuju kamarnya.
“Dasar Dosen TMII berbadan gorilla, datang-datang langsung tidur. Nyesel gue udah nungguin daritadi,” gerutu Stella kembali meraup keripik kentanganya dengan cukup banyak.
Malam semakin larut, dan Adrian keluar dari kamarnya dengan setelan tidurnya, kaos putih polos dan tranning. Ia tampak sudah segar dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Saat tengah meneguk minumannya, tatapan matanya tertuju pada layar televisi yang masih menyala.
“Ck, bocah itu,” gumamnya berjalan mendekati televisi untuk mematikannya, saat ia berbalik setelah mematikan televisi ia melihat Stella terlelap di atas sofa dengan posisi duduk bersandar dan masih memeluk kaleng keripik kentangnya.
Adrian hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Stella. ia mengambil kaleng keripik dan menyimpannya di atas meja. Setelahnya ia langsung meraup tubuh kecil Stella ke dalam gendongannya, Stella bergerak kecil mencari posisi nyaman. Stella menyandarkan kepalanya ke d**a bidang Adrian yang begitu nyaman. Adrian membawa Stella ke dalam kamarnya.
Adrian merebahkan tubuh Stella di atas ranjang bermotif doraemon. Kadang Adrian sakit mata masuk ke dalam kamar Stella yang penuh dengan bentuk dan gambar wajah tokoh kartun asal Jepang itu. Adrian menyelimuti tubuh Stella hingga batas leher. Setelahnya ia beranjak pergi tetapi gerakannya terhenti saat Stella memegang pergelangan tangannya membuat Adrian kembali menoleh ke arah Stella yang terlelap.
“Doraemon jangan pergi, kabulkan keinginanku. Tolong rubah Dosen TMII itu menjadi pangeran Alex yang tampan nan rupawan.” Adrian melongo mendengar gumaman Stella.
‘Mimpi macam apa itu?’ batin Adrian.
Karena kesal, Adrian akhirnya menyentil kening Stella hingga ia terbangun dan mengaduh kesakitan.
“Dosen TMII?” pekik Stella langsung bangun dari rebahannya. “Ngapain kamu di sini? kamu mau mencoba menodaiku?” bentak Stella menyilangkan kedua tangannya di d**a.
“Memang kenapa kalau aku menodaimu? Bukankah aku berhak? Aku ini suamimu,” ucap Adrian menggoda Stella dengan mencondongkan tubuhnya mendekati Stella yang terus berangsur mundur hingga mentok menabrak kepala ranjang.
“Jangan macam-macam, atau aku akan berteriak!” ancam Stella.
“Teriak saja, paling tetangga kita memakluminya karena kita pengantin baru,” ucap Adrian dengan senyuman jahilnya.
“Dasar Dosen m***m!”
“Tapi kamu juga menyukainya, bukan?”
Stella semakin berdebar saat wajah Adrian semakin dekat dengan wajahnya. Tatapan mereka terpaut satu sama lainnya. Awalnya Adrian hanya ingin mengerjai Stella, tetapi entah kenapa semakin dekat, dia malah semakin terhanyut oleh tatapan polos Stella.
Cup
Stella membelalak lebar saat bibirnya menempel dengan bibir Adrian. Hanya menempel dan tak ada gerakan lain.
“Jangan meminta sosok pria lain untuk menggantikanku,” bisik Adrian sebelum akhirnya menjauhkan tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkan Stella yang masih mematung dongkol karena syock.
“Aaaaaaaa My first kiss!!!”
Adrian meringis mendengar jeritan dari dalam kamar Stella.
∞