Part 23 Teman Rasa Musuh

1703 Kata

Perjalanan tiga puluh menit tak terasa, sepanjang perjalanan kami saling bercanda. Ku Tarik nafas panjang ketika memasuki gedung tempat acara berlangsung. Maklum saja, ini adalah pertama kali aku hadir diacara formal seperti ini. “Jangan gugup, ada saya disini,” ucapnya sambil menggenggam tanganku. “Ok, Om ganteng,” ucapku sambil tersenyum. Aku melangkah dengan perasaan senang karena ada Om Arfan di sisiku. Gedung dengan nuansa putih gading itu telah ramai dengan orang-orang kaya yang berbicara masalah bisnis, sungguh tak kumengerti arah pembicaraan mereka. Om Arfan tak malu mengakui bahwa aku adalah istrinya, dan tentu saja hal ini membuatku bangga. “Ndeh, rancak urang rumah Pak Arfan lai, mirip Laudia Cintia Bella, sia namonyo Pak (aduh, cantiknya istri Pak Arfan, mirip Laudia Cintia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN