Setelah beberapa hari tidak masuk kuliah, Dinar kembali ke kampus. Tak ada lagi sosok gadis imut yang berkaca mata, kali ini tampilannya sudah menjadi wanita sosialita. Ia mengendarai mobil mahal untuk berkendara ke kampus. Ketika aku, Ray dan Keyla melakukan ritual sebelum masuk kampus alias nongkrong di kantin, kami bertemu dengannya. Cukup drastis perubahan sikap Dinar, biasanya ia sosok yang selalu menasehati kami, sekarang hanya mengacuhkan kami. Aku sengaja tak menyebutkan kejadian yang terjadi di malam itu pada Keyla dan Ray, maksud hati ingin melihat bagaimana reaksi Dinar terhadap Ray dan Keyla. Cukup aku yang sedang perang dingin dengan Dinar, jangan sampai Ray dan Keyla turut serta dalam masalah kami. “Dinaaar? Tampilan lo …? Ah, kangen,” ucap Ray sambil memeluk Dinar. Seger

