Cahaya matahari menerobos melewati jendela kecil di sudut yang separuh tertutup gorden putih tipis. Tak ada apa pun dalam ruangan itu selain ranjang tinggi yang Sua duduki, kakinya menggantung diam. Rambutnya yang tergerai nyaris menutupi seluruh bagian wajahnya yang pucat. Lingkaran hitam melingkari matanya yang cekung. Bibirnya yang kering sama pucatnya dengan kulit wajahnya yang nampak mati. Sekilas seolah tak ada kehidupan dalam wajah itu. Tapi tidak ada yang penting. Setelah semua ini. Tidak ada lagi yang penting. Pada hari di mana Han pergi. Sua merasa jantungnya terkoyak bahkan ia tidak mampu bernapas tanpa merasakan luka sayat yang dalam pada dadanya. Ia sampai heran bagaimana ia masih tetap hidup setelah itu. Heran dan kecewa. Kalau bisa, ia ingin mati saja. Jika saja Tae-Oh tida

