Sua tak habis pikir kenapa Yuta begitu memedulikannya. Padahal ia tidak pernah terlalu memerhatikan laki-laki itu. Seperti biasa, Sua duduk di ranjang dengan kaki menggantung terayun pelan. Memandang melewati celah jendela, pikirannya menerawang jauh. Ada beberapa hal cukup serius yang ia pikirkan akhir-akhir ini. Termasuk sebongkah rasa bersalah pada Han yang rasanya tak akan bisa ditebus. Sua menghela napas tanpa suara dan mengeluh. Ia mengangkat sebelah tangan menekan d**a, tepat pada jantungnya yang berdetak lemah. Tak ada lagi pengharapan di sana. Tidak ada apa pun yang tersisa darinya. Rasa kehilangan itu jauh begitu besar menyayat keutuhan jiwanya. Sua merasa, dirinya tak lagi sesuatu yang utuh. Seolah ia hanya sekeping bagian dari kehancuran yang tak akan pernah menyembuh. Han. P

