4. Aku Mencintainya

1954 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Dulu dia begitu terbuka. Mengatakan banyak hal dan curhat tentang masalah perasaan. Tapi sekarang, di mata aku orang asing. Haruskah kusalahkan waktu? Karena dia yang telah membuatku jauh darinya ~ Sembunyi Rasa ~ JaisiQ Kami sudah sampai di kantor Dispora. Dan sekarang, kami sedang menunggu-tanya oleh kepala bendahara. Ya, kami ditempatkan di bagian keuangan. Kami berenam duduk di kursi yang ada di ruangan itu, menghadap pembimbing dari pihak penyelenggara. Baru masuk, kok aku sudah tidak betah begini, ya? Habisnya, Pak Bambang --- selaku kepala bendahara --- punya wajah yang cukup menyeramkan. Kumisnya tebal, badannya gemuk, dan tatapan lutut menusuk. Rasanya aku ingin masa prakerin ini segera berakhir. Lebih baik sekolah. Ah, aku sudah rindu teman-temanku. Aku tidak tahu apakah aku akan tahan praktik di sini di bawah naungan, pak Bambang yang kelihatan garang atau tidak. Saya ingin ikut teman-temanku saja. Pertanyaan pertama yang dilempar pada pak Bambang adalah nama. Dia menanyai satu per satu dari kami. Dan kini pindah Arkan. "Nama kamu siapa?" "Arkan Sastra Kusuma, Pak." "Sastra itu diambil dari mana?" Bolehkah saya menyebut pak Bambang ini kepo? "Keluarga saya semuanya pakai nama itu, Pak. Dari mulai ayah saya, dan kakak-kakak saya." "Bungsu?" Arkan menangguk. "Biasanya anak bungsu itu manja. Kamu manja, ya?" Kok jadi bertanya hal pribadi? Tapi Arkan masih terlihat santai. "Arkan Sastra Kusuma ...." Pak Bambang angguk-angguk kepala. Rika menaikkan sebelah bibirnya, kulihat dia tidak suka dengan guru pembimbingnya itu. Alasan tadi juga ia membahas tentang hal pribadi. Bahkan sampai masalah keluarga. Pak Bambang bertanya apakah sudah menikah lagi atau belum. Ya, Rika itu anak yatim. "Bukan Sastra Sunda, ya?" tanya pak Bambang pada Arkan. Kami mengobrol tertawa mendengarnya. Terutama aku, aku mendukung untuk tidak tersenyum. Buat pertanyaan, pertanyaan itu terdengar lucu dan buat aku ingat dengan sesuatu. Dulu Arkan tidak pernah curhat Arkan. Namanya diledek oleh teman-peserta. Mereka melihat judul buku bahasa Sunda yaitu 'Sastra Sunda'. Kebetulan Arkan sedang bersama mereka. Mereka pun memanggil Arkan dengan sebutan 'Arkan Sastra Sunda'. Aku menasehati Arkan untuk tidak menerima ejekan itu, tapi Arkan tetap marah dan tidak terima. Dia tidak mau namanya diejek-ejek seperti itu. Alasannya adalah pemberian dari orang tua. "Bukan, Pak," jawab Arkan. Pak Bambang mengangguk-anggukkan kepala. Setelah berkenalan, kami diperintah untuk mengisi buku panduan prakerin. Sampai akhirnya guru pembimbing dari pihak sekolah datang. Dia hanya mampir sebentar untuk basa-basi, menitipkan anak-anak didiknya kepada sang kepala bagian. Setelah itu dia memberi pesan pada kami agar kami bisa bekerja sama dengan betah dan baik, kemudian Pak Tata pamit pergi, meninggalkan kami. Kami hanya duduk-duduk saja di sana tanpa bekerja. Tentu saja hal itu membuatku jenuh. Aku mengetuk-ngetukkan jari di meja. Bagaimana ini? Bagaimana jika setiap hari kami diam seperti ini? Ah, mungkin karena ini awal baru, jadi belum ada pekerjaan. Sementara Rika dan Dika masih saja sibuk adu mulut. Diam sibuk ngobrol dengan pacarnya, mungkin? "Aku mau lupa nggak bawa s**u di rumah!" gerutu Rika. "Bukannya udah bawa, ya?" "Hah?" "Itu, ada dua," lanjut Dika seraya menunjuk bagian d**a Rika. "Dugong lo! Dasar! Jorang iih! Ajig!" Dika terbahak. "Kata orang kalau itunya gede itu artinya suka dimainin sama pacarnya." "Kalau iya emang kenapa ?!" "Buset, dah! Parah lo! Pakek ngaku lagi." "Ya gue apa adanya, dong. Nggak munafik!" "Sttttt ...." Dian memperingati mereka untuk diam. Tapi sepertinya mereka tidak bisa diam. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi dua orang berbeda itu. Sebenarnya aku kurang nyaman mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan Rika. Tidak difilter. Sedikit ingat telingaku yang sedang menunggu dijaga agar tidak mendengar hal yang tidak diterima Allah. Tapi Masa iya aku menyuruh Rika untuk diam? Nanti dia tersinggung. Aku tidak berani menegur karena kami bukan teman dekat. Tapi kalau tidak ditegur, aku juga salah karena pergi. Saya sering menemukan orang seperti Rika ini. Mulutnya tidak bisa dijaga, sering melontarkan nama hewan, penampilannya juga seperti anak nakal. Pakai kerudung, tapi bibirnya merah, bulu tudung lentik. Aku juga pernah menemukan dia melepaskan kerudungnya tanpa melihat keadaan. Sangat disayangkan, padahal dia baik menurutku. Orangnya ramah. Sewaktu MOS pun aku ditemani olehnya, karena saat ini aku tidak memiliki teman yang sama sekali. Untung saja ada Rika yang senang hati mengajakku, padahal aku tidak bicara apa-apa karena malu. Jadi aku tidak mau lagi. Dulu sebelum hijrah aku suka orang semacam Rika yang nakal tapi baik hati. Karena mereka tidak munafik. Pacaran, merokok, dan mengumbar aib secara terang-terangan tanpa sedikit pun merahasiakan. Dan aku tidak suka pada mereka yang terlihat sopan di depan guru dan orang-orang, berkerudung rapi, bertutur kata lembut, tapi nyatanya pacaran penuh tertutup. Kupikir orang-orang itu munafik. Namun pemikiranku ternyata salah. Salah besar. Aib adalah sesuatu yang harus diputar. Sesuai sabda Rasulullah: " Setiap umatku dimaafkan sebelum orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia bertanya: wahai fulan, kemarin aku minta tolong ini dan itu - Padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi hari ia telah dibuka tutupan Allah atas dirinya. " (HR Bukhori Muslim). Sekarang aku paham. Tidak ada yang namanya 'nakal sekalian'. Salat tapi pacaran itu bukan munafik. Berjilbab tapi pacaran itu bukan munafik. Beramal tapi masih suka melakukan dosa itu bukan munafik. Mau sebesar apa pun kita bermohon atau mengambil salah, salat dan berkerudung (bagi perempuan) tetap saja diminta. Tidak ada dalil yang menjelaskan tentang orang yang sering maksiat tidak perlu melalukan dianggap sebagai umat Muslim. Pandai bermaksiat bukan alasan kita untuk tidak menjalankan perintah Allah. Yang terpenting agama kita masih Islam. Hanya saja, jika salat sambil pacaran, itu akan berlaku pada pahala. Pahala dari salat itu akan terkikis gara-gara dosa pacaran. Siapa yang rugi? Kita sendiri. Kalau berkerudung tapi pacaran, artinya perempuan itu hanya akan mendapat dosa atas pacarannya saja. Tentang auratnya, berarti masih tetap dari dosa. Sekarang jika kita tidak salat dan malah sibuk pacaran karena perlu tanggung jawab untuk menjadi nakal? Lantas? Apa yang akan kita dapatkan selama hidup di dunia? Hanya dosa saja, kah? Lalu, jika tidak sengaja memakai jilbab karena memuaskan diri sendiri karena pacaran, berarti kita akan meminta dua jenis dosa. Dosa Buka aurat dan pacaran. Naudzubillahimindzalik. Salat saja walau masih pacaran. Karena lama kelamaan kita akan merasa malu pada Allah. Salat akan melembutkan hati yang keras. Salat akan mencegah kita untuk melakukan maksiat dan kemunkaran. Begitu pun dengan berjilbab. Berjilbablah walau menyenangkan. Karena dengan berjilbab akan memberikan dorongan pada kita untuk senantiasa terhindar dari dosa. Jika kita akan bermaksiat, kita akan merasa malu pada jilbab yang seharusnya kita pakai dua kali. Maka dari itu, kita berharap untuk tidak bisa membiarkan yang paling benar. Merasa paling benar hanya akan membuat hati kita tertutup dan hidayah sulit masuk. Dika dan Rika masih ngobrol hal tak berfaedah Arkan dan Fikri sibuk dengan ponselnya, pasti main game, sebab posisi ponselnya dibalik. Saat aku tahu itu Arkan betah dengan status jomblonya, aku bahagia. Itu artinya dia sedang tidak menghargai siapa-siapa. Dia juga bisa menjaga dirinya dari perilaku zina. Meski aku tidak tahu, apa alasannya menjomblo. "Kalian berdua berisik banget, sih! Nggak malu, ya?" protes Arkan kepada Dika dan Rika yang masih setia berkelahi mulut. "Jodoh itu bernama. Nama mereka juga mirip," lanjut Fikri. Dikaaikkan sebelah alis, ganti memberengut. Seakan mempertanyakan memang apa yang harus mereka lakukan sekarang? Jadinya dia memilih ngobrol dari bengong, mungkin. Arkan balas mengedikkan bahu, dan kembali main game. Selain suka naik gunung, game utama hobi Arkan. Sejak kecil dia sudah memainkan permainan. Dia juga selalu membantu saya main game di komputer. The Sim. Kalian tahu The Sim? Kalau tahu, kalian pasti mengerti betapa serunya bermain game itu. Arkan selalu membantuku membuatkan persetujuan. Dia pandai menata, walau terkesan aneh. Seleranya berbeda denganku. Hal itu yang membuat kami bertengkar. Sampai akhirnya aku marah dan memutuskan untuk pulang. Tapi tak lama kemudian, Arkan selalu datang ke rumahku untuk meminta maaf dan memintaku lagi. Selanjutnya kami akan saling mengaitkan jari kelingking. "Rum, lo tau nggak? Si Haikal?" tanya Dian. Kebetulan dia duduk satu meja denganku. "Temen sekelas kita?" "Iya. Denger-denger bilang dia naksir sama lo?" "Sama aku?" tanyaku sedikit terkejut. Dian menganggukkan kepala. "Katanya lo beda dari yang lain. Makannya dia suka." "Ah masa sih," kataku tak percaya. "Iih, asli, Rum! Dia sukanya baru-baru ini." "Hmm ...." "Gimana?" "Gimana apa?" "Diterima nggak?" "Apanya?" "Cintanya." "Jangan asal nyimpulin ...." "Gue nggak asal nyimpulin." Aku meminta terlalu banyak. Haikal itu anak rohis. Mana mungkin dia menyukaiku? Aku dan dia beda hasta. Wajahku pas-pasan, di kelas pun aku terkenal pendiam. Waktu mulai pukul sebelas, Pak Bambang sudah kembali membuka kamar setelah dia izin keluar untuk mengatur sesuatu. Dia memandang kami dengan senyum yang aku sendiri tidak tahu apa maknanya. Aku juga melihat mata pak Bambang jelalatan, melirik Rika. "Kesel?" tanyanya. "Iya, Pak!" jawab Rika lantang. "Ya udah, sekarang kalian boleh pulang. Besok datengnya harus tepat waktu, ya. Awas kalau telat." Pulang? "Berhubung ini hari pertama, jadi kalian pulang lebih awal." Alhamdulillah. Kudengar Rika berbisik kegirangan. Kami pun siap pulang dan keluar dari barisan meja satu per satu. Semuanya salam untuk pegawai yang sibuk dengan pekerjaannya, kecuali aku. Aku diam di tempat. Aku paling tidak suka berada di bawah ini. Takut dilihat buruk karena enggan bersalaman, mana tidak ada pegawai wanita. "Maaf, Pak." Aku menyatukan kedua tanganku di depan pak Bambang. Aku takut dengan wajah sangarnya, tapi aku harus lebih takut dengan Allah. Ini perintah Allah, dan aku harus mematuhinya. Bismillah .... Semoga dia mengerti. "Kenapa nggak salam? Tanganku bersih, kok. Kamu ini ...." "Bukan mahram, Pak," sahut seseorang di belakangku. Lantas dia menyalami tangan pak Bambang, mengusirku dengan halus. Aku menenangkan lega. Ternyata Arkan yang sudah membantuku. Dia melewati melewatiku, keluar duluan mendahului yang lain. Kami sudah berada di luar. "Ciee ciee pulang bareng. Kalian kan sama-sama tinggal di komplek yang sama. Cie cieee ...." goda Dika yang membuatku sedikit risi. "Ekhem, ekhem ...." "Main cie-cie aja lo ah!" hardik Rika. "Suka-suka gue, dong. Mulut-mulut gue!" "Iya gue tau itu mulut lo bukan mulut domba!" "Kalian ini ribut terus deh perasaan," komentar Dian dengan nada jengkel. "Eh, kayaknya gue mau ke sekolah dulu, deh, ada keperluan." Arkan membenarkan ranselnya. "Kalian pulang aja." "Ngapain, Ar?" tanya Fikri. "Ada yang ketinggalan. Sampai jumpa! Gue duluan!" Arkan pergi begitu saja meninggalkan kami setelah berkata demikian. "Eh, Arkan! Tunggu!" Arkan berhenti dan menoleh, Dian mengejar Arkan. "Kebetulan gue juga mau ke sekolah dulu. Bareng aja, yuk." "Modus lo! Modus!" ucap Rika. Dian menjulurkan lidah. Mereka pun berjalan beriringan. Aku terpegun melihat kepergian Arkan. Apa dia memang ingin sekolah dulu? Atau dia sengaja menghindar? Kenapa hatiku rasanya sakit? Segitunya kah Arkan sampai pulang bareng denganku saja tidak mau? Apa dia sengaja menghindar? Apa yang dia benci? Apa dia tidak suka dekat denganku? Apa aku pernah melakukan kesalahan? Sampai akhirnya Arkan menjauh. Dulu kompilasi dia sendiri, dia selalu ingin bersamaku. Tapi sekarang, semuanya sudah berubah. Mau sepi atau sibuk, dia tetap menjauh. Kulihat Arkan yang sudah naik ke angkot. Astagfirullah .... Aku tidak boleh suudzon. Kenapa aku parnoan suka ini? Seharusnya aku sadar. Arkan hanya menganggapku orang lain. Mungkin Arkan memang ingin ke sekolah. Aku mengedip-ngedipkan mata. Berusaha menetralkan perasaan yang mulai tak keruan. Di sepanjang perjalanan pulang aku melamun. Kenapa aku harus galau seperti ini? Aku tinggal lega. Karena kalau aku pulang bersama Arkan, aku akan mati kutu. Sudah tahu itu mencintai itu hanya akan berujung luka. Tapi hatiku tak pernah jera untuk selalu mencinta dan berharap akan satu kesempatan kendati dia yang kucinta tak pernah menunjukkan tanda-tanda menyimpan rasa yang sama. Aku seakan tak mau tahu. Seakan yang kuat untuk mendengar kabar buruk yang mungkin akan membuat hatiku remuk. Ya Allah, aku gagal mengenakan hatiku. Penyebab dia sudah jatuh yang aku punya belum tahu apakah itu tempat yang benar atau tidak. Ternyata sudah melampaui ini. Ya, aku mencintainya. Aku Rumi, yang memuji Arkan, sejak hubungan persahabatan kami renggang. Sebab aku merasakan kalah. Bersamanya aku mengalami kenyamanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN