5. Teman Rahasia

1980 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Bukannya tak mau bersama. Hanya saja, aku takut dia amnesia. Memangnya aku siapa? Status apa yang saya harapkan setelah lepas dari status persahabatan? Dunia, aku ingin bertanya padamu. Apakah status mantan juga berlaku untuk teman? ~ Sembunyi Rasa ~ @JisiQ Angkot berhenti di seberang komplek yang ada di kota Bandung. Arkan turun dari angkot, membayar uang. Setelah angkot melaju kembali, dia melihat Rumi yang sedang berjalan memasuki area komplek. Diamatinya langkah Rumi yang pelan dengan saksama, meski terkadang lalu-lalang kendaraan yang menghalang. Tatapan Arkan begitu dalam dan menyimpan sesuatu yang dipendam. Lelaki itu terdiam di sana dengan pandangan lurus. Walau jalan sempat lengang, dia tidak lolos. Barangkali dia menunggu wanita yang menunggu lebih lama lagi. Dia tidak benar-benar ke sekolah. Perkataannya itu hanya ia jadikan sebagai alibi. Agar tidak pulang bersama Rumi. Hanya dia yang tahu apa alasannya. Kalian tahu pengguna aplikasi w******p yang paling tidak sopan itu seperti apa? Apakah dia yang tidak dapat membaca pesan padahal obrolannya belum selesai Pesannya tidak dibuka sama sekali padahal dia online. Itu yang tidak saya sukai dari teman-temanku, tidak semuanya, sih. Itu juga alasan kenapa aku jarang curhat ke orang lain walau dia teman dekat. Apalagi jika di w******p. Percakapan kami belum selesai, tapi dia belum membalas pesanku bahkan dibuka belum. Aku malas mengobrol dengan orang jika ujungnya membuatku memiliki prasangka buruk. Sekarang ini saya sedang belajar perasaan orang di sekitar. Aku tidak berani menunggu pesan masuk tanpa dibalas. Mau itu penting atau tidak boleh saya buka dan balas. Aku lebih baik memilih orang lain dulu yang diundang. Lebih jika jumlah orang yang nyasar. Aku bisa saja hanya membacanya. Aku juga sedang meminta jempolku untuk tidak asal pijit. Pertama, saya mulai pilih-pilih postingan yang disetujui jempolku tidak salah disetujui. Sebab kelak di akhirat jempol kita juga akan dihisab. Jadi aku harus hati-hati gunakan. Memberi tanggapan suka foto wanita yang tidak menutup auratnya, pasangan yang belum halal, dan hal yang dikeluarkan dan melenceng dari agama pun akan dipertanggungjawabkan. Maka jangan pernah menyepelekan hal kecil. Karena bisa saja hal itu memberatkan kita di akhirat. Salah satu kiriman di i********: menyadarkanku perihal itu. "Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba di hari Kiamat sampai dia disetujui (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, dengan ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, juga dapat digunakan untuk apa yang digunakannya." ( HR. At-Tirmidzi no. 2417l) Dulu aku masih suka dengan selebgram --- selebgram alim --- yang tampannya masyaa Allah. Tapi sekarang aku sadar, mau selebgram itu shaleh atau tidak, tetap saja, aku tidak boleh sefanatik itu. Kalau fanatik, apa bedanya kita dengan mereka yang mengidolakan artis-artis luar negeri? Karena itu, kita bisa menolak Rasulullah Shalllalahu 'alaihi wa sallam. Suka boleh. Asal jangan berlebihan sampai saya-suka semua postingan malah memberikan komentar berupa pujian dan wujud kecintaan. Apakah Allah mengizinkan wanita untuk senantiasa menyetujui pandangan? Anjuran bukan hanya berlaku untuk lelaki, tapi perempuan juga. Jika kita menginginkan jodoh yang bisa meminta pandangan, maka kita pun harus bisa, termasuk di media sosial. Jangan asal suka , jangan asal komentar, jangan asal ikuti . Bijaklah dalam menggunakan media sosial. Seperti biasa, aku mengasuh Isya di teras rumah. Kutinggalkan ponsel di kamar. Saya harus bisa melepaskan ponsel beberapa jam. Benda tipis itu benar-benar membuatku lalai. Apalagi kalau sudah keasyikan baca w*****d. Entah berapa lama nanti Allah akan menghisab ponsel yang sering kugunakan itu. Tiba-tiba dua bocah lelaki masuk ke halaman rumahku sambil berlarian memegang raket. Yang hanya anak tetangga ibuku, sendirian lagi cucu bu Meli. Namanya Danis. Dia keponakan Arkan. Dua anak itu memang sering datang ke rumahku, karena mereka sering bermain dengan adik keduaku yang sekarang duduk di bangku SD kelas enam. Adik pertamaku itu suka anak kecil, jadi mereka nempel. Tapi sekarang dia sedang tidak ada di rumah. "Teh Harum, teh Sifa mana?" tanya Danis polos. Umurnya lima tahun. Kulitnya putih sekali, karena kedua orang tuanya memiliki kulit putih bersih, yang dimiliki. Emang dasar Danis. Masa panggil namaku dengan sebutan teh harum? "Teh Rumi, Danis. Bukan teh harum. Kamu ini ngerusak nama, ya," protesku dengan nada bercanda. "Kata om Arkan juga teh harum." "Hah ?!" "Heey !!! Ayo main lagi, ih Adit!" teriak Danis untuk Adit yang saat ini sedang mengundang kakakku utama. Memang dasar Adit ini, kecil tapi kecil jadi perhatian. Adit ini lumayan bule menurutku, dia anak yang tampan dan lucu. Danis dan Adit bermain bulu tangkis di depan rumahku sambil teriak-teriak. Kawasan rumahku memang sangat ramai karena banyak anak kecil. Wilayah ini tak pernah sepi. Tahun 2007-2013 diramaikan oleh anak-anak seusiaku. Sekarang berganti generasi. Tapi menurutku, masih menyenangkan zaman dulu. Sebab dulu belum ada yang namanya gadget dan game online. Cara utama mereka membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal. Raketnya saja sudah berjumlah orangnya. Mereka kesulitan melempar kok. Bukannya bermain dengan tenang, malah malah ribut lantaran kok selalu salah sasaran. "Yang bener atuhh, kakak Danis!" teriak Adit kesal. "Iih bener ogeee ...." Dulu aku suka bulu tangkis bersama Arkan di depan rumah kami. Tentu saja aku lebih sering kalah karena Arkan maunya enak terus. Dia selalu ingin ada di tempat yang kena angin. Sudah tenaganya jauh lebih besar dariku, bisa bantuan angin, ya aku malah semakin kalah. Dan dia selalu menang jika menang, berhasil menang di Asian Games. Aku pernah jatuh saat bulu utama sampai lututku terluka. Dan saat itu Arkan siap siaga membelikan plester. Dia langsung pergi ke rumah untuk mengambil uang, dan melepaskan kilat ke warung. Setelah itu, dia memasangkan plester di lututku di teras rumah. Belum terpasang menempel, Arkan sudah lari ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku tercenung melihat tingkah Arkan yang impulsif dan aneh. Oh, ternyata ada Zidan --- teman sekelas kami yang melewati rumahku. Karena Arkan kabur, jadinya Zidan hanya melihatku hanya sambil bertanya. Aku tahu, Arkan tidak suka kedekatan kami melihat orang lain. Karena jika ada salah satu dari mereka melihat kebersamaan kami, dia akan membahas berita hoax di sekolah. Seperti ini: "Heey kamari abi ningali si Rumi jeng Arkan ameng duaan siaah !!!" Dan Arkan tidak suka itu. Aku sudah suka menjadi teman rahasianya. Setiap hari kami berangkat sekolah bersama diantar ayah Arkan pakai motor. Tapi saat membuka halaman sekolah, Arkan selalu menyuruhku berjalan duluan. Pokoknya kami tidak boleh kelihatan pergi bareng. Bodohnya, aku selalu menuruti apa yang diperintah Arkan. Aku mirip teman rahasia. "Arkan, keluar. Zidannya udah nggak ada." Detik berikutnya, Arkan pun kembali Buka pintu dan keluar. Aku sudah menutup lukaku dengan plester secara sempurna. Setelah itu Arkan pamit pulang ke rumah. Saat kecil perasaanku biasa saja, tapi sekarang aku kompilasi mengingat, aku sadar, itulah persiapan Pinterest yang membuatku merasa teristimewa. Hmm, aku jadi kepikiran mengucapkan Danis. Apa Arkan pernah mengutip nama ejekan buatannya khusus untukku di depan Danis? Dulu saat Arkan masih suka mengatai namaku, Danis belum lahir. Masa iya Arkan masih ingat dengan ejekannya? Arkan, Arkan, kompilasi teman-teman mengejek nama kepanjangannya, dia marah dan tidak terima. Eh, ternyata dia juga senang mengejek namaku dengan memanggil pucuk harum atau harum manis yang suka dijual di pasar malam, hanya karena namaku Harumi Inayah Putri. Menyebalkan. Tapi jujur aku rindu diejek olehnya. Karena mengkompilasi seseorang memiliki nama khusus, itu berarti kita adalah orang yang benar-benar dekat dan istimewa di balik itu. Meski nama panggilannya buruk, tapi kita tak akan marah. Kupandangi baju yang melekat di tubuh Danis. Kemeja kotak-kotak lengan pendek. Apa itu baju Arkan? Sambil sering main dengan Arkan, aku masih hafal baju yang sering dipakai Arkan. Arkan pernah dinilai, apakah dia paling suka dengan bajunya itu. Bu Meli pun pernah curhat pada ibuku kalau Arkan pernah nangis gara-gara bajunya hilang. Padahal bukan begitu cerita sebenarnya, bu Meli sendiri yang sengaja dihinggapi. Dan beli baju baru, tapi Arkan tidak mau. Melihat Danis seperti melihat Arkan Saat kecil. Teh Fitri --- ibu dari Danis --- keluar, menyuruh Danis untuk segera mandi. Tapi Danis malah kabur membawa raketnya. Memang khas ya, anak kecil itu susah diajak mandi. Teh Fitri tidak tinggal di rumah bu Meli, tapi Wisma tetap di komplek yang sama. Dan dia sering main ke sini bersama Danis. "Teh, itu baju Arkan, ya?" tanyaku kompilasi teh Fitri memilih masuk ke halaman rumahku dan ikut duduk di teras. Aku akrab sekali dengan anggota keluarga Arkan. Karena kami sudah lama menjadi tetangga. "Iya, Rum. Baju kesayangan Arkan. Awalnya dia nggak mau ngasihin, lho." "Kenapa?" "Katanya buatlah nanti." Teh Fitri menggeleng. "Emang dasar, bawa cewek ke rumah aja belum pernah tapi pikirnya udah jauh. Tapi Teteh harus diperbaiki dikasiin ke Danis walau sempet ribut." Aku berbicara tentang alasan yang tidak mau mewariskan baju kesayangannya pada sang keponakan. Segitu ditolak kb ia dengan bajunya? "Teteh serius, nih? Nggak pernah liat Arkan bawa perempuan?" "Serius .... Cuma kamu cewek yang dia bawa ke rumah." "Masa, sih." "Teteh menantang sumpah, Rumi." "Itu kan pas kecil." "Kok teteh lagi liat kamu bareng lagi sama Arkan? Padahal pas nempel banget kayak perangko kecil. Apa-apa berdua. Sekarang malu, ya? Udah pada dewasa, sih. Kalau terus berjalan baruan nanti disangka pacaran." "Iyalah, Teh. Kan nggak bisa deket-deket sama yang bukan mahrom." Sebut aku munafik. Bukan itu yang menjadi alasan aku dan Arkan tak seakrab dulu. Jika hanya masalah kemahraman, jarang dan aku tidak suka ini. "Terus akhirnya gimana, Teh? Terima kasih bajunya kan buat Danis?" tanyaku mengalihkan topik. "Iya sih, aku juga dulu suka banget liat Arkan pakek baju itu." "Alasannya?" "Ganteng." "Iih ngaku .... Teteh itu ah ke si Adek." "Iih Teteh !!! Jangan ...." "Iya, Rum. Teteh ngerti gimana bisa jadi perempuan. Waktu nggak ada orangnya yang berjuang ganteng, tapi kalau ada orangnya nggak berani." "Fitrah, Teh." Aku tertawa. "Kan nanti Danis juga akan tumbuh besar, jika Arkan punya anak ya tetap kembali ke dia lagi," ucap teh Fitri menjawab pertanyaanku yang sebelumnya. Aku terkekeh lagi. "Oh ya, Teh. Denger-denger Teteh udah isi lagi, ya?" tanyaku untuk memastikan. Aku tahu kabar ini dari ibu. "Hehe iya, Rum. Danis akan punya adek." "Waah, selamat ya, Teh. Itu artinya Arkan akan berhasil nambah ponakan, dong?" "Itu betul. Siap-siap aja direcokin sama ponakan-ponakannya." Teh Fitri tersenyum, seakan dia tak sabar melihat adiknya diganggu anak-sayap. Karena yang kutahu, Danis dekat sekali dengan Arkan. "Ibu kamu ke mana?" "Lagi masak, Teh. Buat Ayah nanti." Teh Fitri mengangguk-anggukkan kepala. "Eeeh Danis, ayo mandi dulu. Udah sakit," seru Teh Fitri dengan pandangan ke arah Danis yang masih asyik bulu tangkis utama dengan Adit yang pada pergantian mereka dengan kunjung bisa membuka permainan itu. "Danis ...." "Mau dimandiinnya sama om Arkan," jawab Danis. "Ehhh ??" "Om! Mandiin, Om!" Danis melihat ke halaman rumah bu Meli. "Nggak mau ...." "Lagi ngapain kamu, Dek?" tanya teh Fitri dengan intonasi sedikit tinggi. "Lagi cuci motor, Teh! Sini, aku mandi di sini si Danis-nya." "Nanti lanjut lagi nyucinya. Itung-itung latihan nanti kalau istri kamu kerepotan, kan kamu bisa tuh mandiin anak kamu." "Si Teteh, nya, ngomongnya terlalu jauh." "Eh kamu duluan Dek, itu dinilai kalau baju kamu mau diwarisin ke anak kamu. Itu artinya kamu udah niat nikah. Wleeee !!!" Arkan tertawa. "Kerja dulu, lah. Baru nikah." Hanya dengan mendengarkan suaranya saja, aku langsung diam tak berkutik. Semua anggotaku seakan dikunci serentak. Ternyata di luar rumah bu Meli ada Arkan. Jantungku berdentum. Bagaimana kalau dia berbicara dengan saya? Sebelumnya tadi aku memujinya abis-abisan. Jadi, sedari tadi dia ada di luar? Ya Allah, aku malu. Tempat bertemu saya di tempat prakerin. Mau taruh di mana mukaku ini? Rumahku dan rumah Arkan hanya dapat digunakan dengan tembok. Terima kasih Arkan. Ah, aku ini terlalu kegeeran. Arkan Pasti Fokus mencuci motornya, mana yang dia dengar ucapanku. Ya Allah, semoga dia tidak mendengar apa-apa. Sumpah aku jengah. "Hei Danis! Kalau mau sama Om di sini mandinya. Sama motor," lanjut Arkan lagi setengah diterima. Aku semakin tak keruan. Bibirku terkatup rapat. "Jangan, ah! Sebaliknya Nanti udara utama." Teh Fitri bangkit setelah sebelumnya mencubit pipi Isya yang masih sibuk dengan mainannya hewan bohongan. Anteng sekali adik kesayanganku itu. "Ya udah, Rum. Kayaknya Danis harus dipindahkan." "Iya, Teh," jawabku pelan. Jujur aku masih syok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN