6. Sebungkus Tisu

1534 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Robot yang kehilangan baterai. Tak perlu daya untuk bicara, minta, minta memintanya untuk ganti hatiku yang sudah jatuh. ~ Sembunyi Rasa ~ @JisiQ Ini hari ke-7 aku prakerin. Setelah apel pagi, semua pegawai kembali kantor, termasuk para peserta prakerin. Bukan hanya dari sekolah, kami hanya menjalankan prakerin di sini, tetapi juga ada dari sekolah lain. Dan pastinya mereka sudah jadi senior karena sudah lebih dulu jadi peserta. Bagiku Kegiatan di sini monoton. Aku tidak mendapatkan pengalaman apa-apa. Padahal sudah satu ahad. Bisa dibilang, aku tidak bisa betah. Jika boleh, aku ingin pindah saja. Tapi mana mungkin? Kutelan saja pahit-manisnya. "Kamu, Bapak mau nyuruh." Pak Bambang yang duduk di meja sambil menunjuk ke arahku. "Nyuruh apa, Pak?" "Beli gorengan sana, buat sarapan kalian." Aku mengangguk, lalu berdiri untuk menghampirinya. Pak Bambang mengeluarkan uang, dan memberikannya diserahkan. Aku menerima uang itu seraya bertanya. "Gorengan apa aja, Pak?" "Terserah kamu. Buat sarapan kamu. Bebas aja pilih." Aku mengangguk lagi. Meskipun berwajah garang, pak Bambang ini baik. Tapi ada beberapa pertimbangan yang jujur. Aku mengucap salam dan melangkah keluar. "Hei Sastra! Daripada diem, Antarundang." Sastra? Arkan maksudnya? Karena tadi yang bukan kerjaan adalah aku dan Arkan. Rika, Dian, Fikri dan Dika sudah ada kerjaan. Menyalin data ke laptop dan membantu salah satu pegawai menulis. "Eh iya, Pak. Siap." Di luar ruangan aku memicingkan mata. Kenapa harus dengan Arkan? Ya Allah? Gimana ini? Kalau begini lebih baik aku sendiri. Kutipan kembali wajahku dapat dilihat biasa saja. Aku berjalan setelah mengalami Arkan sudah di belakang. Aku terus melangkah tanpa melihat kanan-kiri ditempatkan belakang. Kata pak Bambang, tukang gorengannya ada di seberang. Aku pura-pura tidak tahu kalau Arkan mengikutiku. Tiba-tiba tanganku ditarik ke belakang. Astagfirullah .... Nyaris saja aku jatuh. Dan, apa yang terjadi? "Lo mau bunuh diri, Rum?" Masih dengan wajah kaget, kulihat tangan kuciku berada dalam genggaman Arkan. Tatapan Arkan juga cukup tajam. Baru kali ini kami bersentuhan lagi, dan ini cukup membuatku tersengat lebih banyak dari lebah. Mengherankan! "Kenapa buru-buru?" Aku masih menatap tanganku. Dia bertanya Mengapa aku buru-buru? Karena aku tidak mau dekat-dekat. Aku takut. Aku takut dia tahu tentang rahasia hatiku. Jadi lebih baik menghindar. "Maaf, nggak sengaja. Tadi lo hampir keserempet motor." Arkan melepas tanganku kemudian mengangkat kedua disetujui seolah salah. "Nggak papa, Ar. Makasih." Jantungku mulai bergetar tak normal. Kutelan liur yang terasa keras. Setelah itu Arkan mulai membantah menyeberang. Jalanan di sini cukup padat, kendaraan melaju dengan kecepatan lumayan. Jika tidak bersama Arkan, maka aku tidak bisa melewati jalan raya ini. Kalaupun bisa, aku harus menunggu berjam-jam sampai jalan kosong. Memang hiperbolis, tapi benar, aku tidak bisa menyeberang. Kami pun sampai di tempat. "Mana uangnya? Biar gue yang beli." Kuberikan selembar uang warna ungu untuk Arkan. Arkano roda dan mengucek hidung mancungnya. Udara Kota Bandung di pagi hari ini lumayan dingin sehabis diguyur hujan. "Mang, gorengannya campur. Sepuluh ribu." Aku menunggu tak jauh dari tempat roda keluar, dan melihat Arkano Banana goreng dengan lahap. Pasti dia lapar. Dia juga ngobrol dengan tukang gorengan itu. Masyaa Allah, Bagaimana dia tampan sekali? Senyumnya manis. Astagfirullah. Ini namanya zina mata. Aku menunduk. Aku berharap Arkan memang tidak mendengar percakapanku dengan kakaknya waktu itu. Satu tempat prakerin dengan Arkan, harus aku sebut apa? Musibah atau anugerah? Aku tidak tahu Dia menawarkan pisang ditangannya, aku menggeleng. Ya, saya sekaku ini di pilihan. Lidahku kelu. Seperti ada gembok yang mengendalikan kedua bibirku dengan kuat. Setelah gorengan dibungkus, Arkan memberikannya dipersiapkan. "Mau duluan atau nunggu?" "Kamu mau ke mana?" "Ke warung. Beli minum." "Ya udah, aku nunggu di sini." "Lo mau nitip?" "Hmm?" "Nitip?" Suara Arkan naik satu oktaf. "Oh iya. Aku nitip tisu," jawabku spontan. Aku menggerutu dalam hati. Semoga Arkan tidak sadar bahwa aku gugup. "Okeey." Arkanuk, dan berjalan mencari warung terdekat. Kujangkau kepergiannya Aku beristigfar dalam hati, memejamkan mata, menetralkan degup jantung yang pagi ini membuatku tersiksa. Aku rasa keningku berkeringat. "Lagi prakerin ya, Neng?" tanya si mang tukang gorengan tadi. "Iya, Mang." "Tadi pacarnya?" "Eh? Bukan. Cuma temen." "Ooooh .... Padahal cocok, lho." Aku hanya tersenyum dipaksakan. Apa sekarang setiap lelaki dan perempuan yang jalan bersama mempertimbangkan menjalin hubungan haram bernamakan pacaran? Namun, aku tak pernah berharap menjadi pacarnya. Jika aku menyukai lelaki, aku hanya mengharapkan satu, semoga dia jodohku. Sekarang pacaran dianggap biasa, ya? Padahal itu termasuk dosa besar. Tetapi orang-orang tidak menyadari itu karena banyaknya orang yang memilih jalur pacaran demi dekat dengan sang calon pasangan daripada yang langsung menikah. Setelah waktu berselang beberapa menit, Arkan sudah kembali sambil membawa satu botol minuman. "Bisakah kamu bawa minum?" tanyaku. "Ketinggalan." Salah satu sifat Arkan ya itu. Teledor. Pernah sekali bu Meli bercerita siapakah kalau Arkan pernah tertangkap badai di puncak gunung, dan senternya tertinggal di rumah. Dia berhasil membuat itu khawatir dan kalang-kabut. Tapi alhamdulillah, Arkan selamat. "Ini tisunya." Diberikannya sebungkus tisu yang dipersiapkan. Aku masih tidak percaya, sekarang Arkan berdiri di depanku sembari memberikan sesuatu. "Berapa?" "Gratis." "Hah?" "Iya, gratis. Nggak perlu bayar. Udah, ambil aja." Aku mengambil tisu itu dari diambil. Dia pun mengajakku untuk pindahang lagi, padahal aku belum sempat menyetujui terima kasih. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Ini adalah pagi yang indah. Seindah mentari yang menaungi bumi. Setelah melewati tahun tanpa bertapa, sekarang momen lima tahun lalu terulang lagi. Aku ingin menyambutnya dengan ucapan syukur tiada henti. Meski di menit-menit bersamanya membuatku kikuk. Jika aku tahu pagi ini dapat berbicara, aku ingin berbicaranya untuk diabadikan. Sebab itu hal langka. Kapan terulang lagi? Aku tidak tahu Dan sebungkus tisu di tanganku ini adalah saksi, itu di pagi ini kami bertatap muka dan melempar kata. Sebungkus tisu ini adalah aplikasi Arkan. Mungkin dia menganggap biasa. Tapi menurutku ini istimewa. Aku bahagia, walau aku tahu Arkan tidak bahagia yang sama. Ya aku bodoh Membiarkan rasa yang tumbuh berkembang kian besar gunung yang menimbulkan yang kapan saja-kapan saja menimpa diri sendiri. "Rum, ngobrol, dong. Diem aja." Aku hanya tersenyum kecil dan kembali memainkan ponselku. Topik yang mereka bicarakan tidak cocok denganku. Aku tidak tahu cara bergabung. Aku susah ikut nimbrung, karena aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Jadi diam adalah pilihan terbaik. "Heey, Rik. Lo tau nggak kalau diam itu emas? Emangnya elo? Nyerocos mulu. Bibir lo kudu dikaput!" sambar Dika. "Gue mah nggak bisa diem. Udah dari sananya gini. Kalau nggak ngomong itu rasanya ada yang kurang." "Aku takut kalau bicara, yang aku keluarin adalah omongan yang nggak berguna," ucapku. "Wiih betul banget. Jangan kayak gue ya, Rum," ucap Rika tertawa, mungkin dia sadar selama ini ucapan yang dilontarkan tak berfaedah. "Bener, Rumi!" lanjut Dika. Aku tidak setuju menyinggung. Hanya saja, aku ingin mengatakan itu nyata sehingga banyak bicara itu tidak baik. Jika tidak ada hal penting, lebih baik diam. Aku bersyukur menjadi orang introvert yang tidak suka banyak bicara. Awalnya aku ragu, apakah diamku ini salah? Apakah saya tidak asyik? Tapi setelah memperdalam ajaran islam, islam membantah kita untuk tidak sembarang bicara. Penyebab perkataan pun akan dihisab. Namun orang-orang yang tidak paham menilai aku tungi dan kuper. Aku senang, sebab Islam lebih menyenangi orang yang lebih diam. Jadi saya harus mencoba untuk tidak membatalkan. Mengambil apa kata orang hanya akan membuat hidupku tertekan. "Kan di situ suruh ditulisin kegiatan apa yang kalian lakuin selama prakerin, tulisin aja Jadi cuma disuruh menyalin." Aku ingat ucapan pak Bambang di hari ke-2 masa prakerin. Ya sudah, aku tulis saja di buku petunjukku pada pukul pagi, Rabu, tanggal 15 Agustus 2018, aku .... Beli gorengan .... "Emmmm ...." Bersama Arkan? Kulirik Arkan yang sedang menulis juga di bukunya dengan serius. Kata 'Bersama Arkan' hanya kuucapkan dalam hati dan disimpan di sudut kepala. Mana mungkin saya menulis juga di buku? Itu berarti aku cari mati. Aku menggelengkan kepala. Setelah itu kami mengumpulkan buku kami di meja pak Bambang dan bersiap untuk pulang. "Gue mah mau pindah, ah," ucap Rika setelah kami sampai di halaman kantor. "Lho? Kenapa pindah?" tanya Dian. "Nggak betah, Di. Kerjaan kita apa? Mati terus. Kerjanya cuma beberapa menit. Mana gue nggak suka sama si gendut itu." "Sttttt !!!" "Sebel gue. Gue tuh ngerasa diliatin terus. Mana dia terus nanya-nanya alamat gue. Jijik gue!" "Jangan jangan, dia naksir sama lo?" "Iih amit-amit tujuh turunan. Iihhhh ...." Rika memasang wajah ingin melemp. Dika terkikih hebat. "Hahaha .... Cieee ditaksir sama bapak-bapak." Rika mendelik tajam. Di hari ke-5 prakerin Rika tidak pernah bolos dengan alasan sakit. Besoknya dia ngaku kalau dia belok ke Disdukcapil untuk bertemu dengan yang prakerin di sana. Dan kami ceritakan itu, Bambang, minta alamat rumah karena ingin datang menjenguk. Di situ Rika langsung marah-marah karena pak Bambang genit. Selain itu, setiap hari pak Bambang juga selalu menggodanya. Pasti hal itu membuat Rika risi. Aku juga berfikir demikian. Tidak ditutup. Karena zaman sekarang bapak-bapak yang kurang beriman gampang menyukai wanita yang lebih muda. Ternyata Arkan sudah naik ke motornya, dan berhenti di depan kami, dia membonceng Fikri. "Gue duluan, ya?" "Woy, Ar! Lo nggak berperikewanitaan banget, sih! Masa yang cewek ditinggalin, dan yang cowok pacaran pulang bareng ?! Nih, harusnya si Rumi yang lo ajak. Bukannya kalian satu komplek? Wah wah wah, parah nih si Arkan." Dika geleng-geleng kepala sangat kecewa. "Bukan mahrom, Dik! Gue duluan," teriak Arkan, menutup helmnya dan melanjutkan motornya. Hanya yang dia katakan. Tanpa basa-basi persiapan? Oh iya, memang aku siapanya? Berapa jauh ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN