بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Jangan pernah menunjukkan sikap aneh di depanku.
Sebab itu akan membuatku ambigu dan menimbulkan pertanyaan di benakku.
Apakah kamu menyimpan rasa yang sama denganku, atau tidak?
~ Sembunyi Rasa ~
@JisiQ
Aku lihat Arkan meminjam tipex untuk Dian. Dia menyimpan tulisan 'bareng Rumi' di buku panduan pada kotak kegiatan.
Ternyata itu ulah Dika.
Tadi pagi aku tidak sengaja mengintip buku panduan Arkan saat membersihkan ruangan, dan tulisan itu membuat aku terkejut. Tapi aku sadar, tulisannya beda.
Apakah sudah kodratnya tulisan lelaki itu jelek?
Dan benar saja, Dika yang telah memanipulasi.
"Jadi orang jangan suka mainin barang orang lain, deh!" tulisan Dika.
"Gue kan pengin jodohin lo sama Rumi. Kasian jomblo. Kalian kan sama-sama jomblo."
"Woy! Jomblo nggak berhasil dikasihanin. Gue nggak butuh rasa terima kasih dari lo. Awas lo mau sampai nulis yang aneh-aneh lagi di buku gue lagi." Arkan kelihatan berang.
"Kenapa emangnya?"
"Kalau lo main ke rumah gue, jangan harap gue terima kasih suguhan sama password wifi," ancam Arkan.
"Laah jangan gitu, lah. Nggak asik lo."
"Makannya diem. Di, nih tipex-nya." Arkano melemparkan ujung itu ke Arah Dian, Dian ditangkapnya dengan mulus. "Nuhun!"
"Sami-sami."
"Sensi amat lu, Ar!" sahut Dika.
"Gue nggak suka!"
"Kenapa?"
"Ya gue nggak suka aja!" Arkan melempar bukunya ke samping meja dengan wajah kesal.
"Ar, lo lagi PMS, ya?" Dika masih bisa dipindahkan. Fikri membungkam mulut Dika.
"Lo mau liat ngamuknya si Arkan?"
"Iya, iya gue berhenti!"
"Huuu dasar biwir awewe!" ledek Rika. "Si Rumi aja yang cewek diem. Lo cowok kok demen banget ngomong, ya?"
"Stttt ... Udah, malu sama yang berbaring."
Entah apa yang aku rasakan sekarang. Segitu tidak sukanya Arkan melihat namaku ada di bukunya.
Hari ini pak Bambang berbaik hati pada kami. Dia mengundang kami makan bakso di jam istirahat. Setelah melaksanakan salat Zuhur di Masjid terdekat, kami mengunjungi salah satu kedai bakso yang katanya rasa kuah dan baksonya mantap. Pasti mahal.
Salah satu pegawai, Pak Bambang, juga ikut. Kami pun cukup ramah karena dia baik, lungguh, dan lembut tutur katanya.
Pak Bambang berjalan paling depan, sambil kami di belakang sambil ngobrol dengan pak Yusep.
"Dahulu pak Bambang nggak pernah nraktir. Tapi semenjak ada kalian, dia sering beliin makanan kamu, kan? Apalagi sekarang bakso," kata pak Yusep berbisik. Tentu saja hal itu membuat kami terkejut dan menyenangkan.
"Masa sih, Pak?" tanya Rika kepo.
"Iya ...." Pak Yusep mengangguk. Aku yang berbicara langsung percaya, sebab anggukkan pak Yusep sangat meyakinkan. Kalau memang ini pertama kalinya pak Bambang memberikan traktiran, lalu apakah alasannya? Masa iya karena kami?
"Ah, udah nggak salah lagi ini mah, Pak. Dia pasti suka sama Rika," tukas Dika to the point. Si pemilik nama yang ia sebutkan langsung memukul bahunya. Aku bergidik, pasti rasanya sakit sekali.
"Eh bercinta sih lo main bercinta aja ?!" protes Dika sambil mengusap bahunya yang mungkin merah di dalam.
"Apaan maksud lo tadi ngomong gitu, hah? Si gendut itu suka sama gue ?!"
Mungkin karena suara Rika yang lumayan keras, kulihat Pak Bambang menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Kami serentak terdiam, tampak menatap satu per satu dari kami.
Namun tak lama kemudian, aku mengerti lega, ternyata Pak Bambang hanya menoleh dan masuk ke kedai bakso.
Aroma bakso yang sedang direbus menyeruak indera penciuman, karena tempat untuk memasak di depan. Perutku semakin lapar. Pasti enak. Gratis pula. Alhamdulillah . Apa pun maksud pak Bambang, niat dia sudah baik. Itu namanya sedekah. Aku tidak bisa berprasangka buruk.
Di siang hari seperti ini, kedai bakso penuh oleh pengunjung menyebabkan rasa gerah. Pasti karena ini jam istirahat para pekerja kantoran. Tapi beruntungnya masih ada tempat kosong.
Tapi, yaah, aku tidak suka tempat duduk. Dian mengajakku duduk di sebelahnya, sampai dia harus mepet. Dan kuyakin itu tak akan muat. Aku akan bertanya lagi. Toh, pesanan baksonya belum datang.
Mungkin saya harus menunggu salah satu pengunjung pulang.
Namun tiba-tiba Arkan bangkit dari duduknya. Dan dia menyuruhku untuk duduk di tempat.
"Nah gitu dong, Ar. Lelaki harus ngalah," kata Dika.
"Heeh harusnya elo juga ngalah!" ucap Rika sewot.
"Gue juga tadi mau ngalah, tapi keduluan sama si Arkan. Lo suudzon terus sih sama gue."
"Halah alesaaan!"
"Teresaaaahhhh ...."
"Eh kok jadi ribut gini, sih?" tanya Dian melerai.
"Tau tuh, mereka berdua emang kudu dijodohin," timpal Fikri.
"Amit-amit !!!"
Aku masih setia berdiri.
"Udah, lo duduk aja, biar gue yang berdiri," ucap Arkan yang sedang membuka ponselnya.
Aku pun duduk. Satu meja cukup dipakai enam orang. Tapi bangkunya hanya tersedia lima.
Pak Bambang dan Pak Yusep tempat pisah, mereka hanya berdua sambil ngobrol --- pasti tentang pekerjaan.
Rika berhadapan dengan Dian, Dika dengan Fikri. Aku sendiri.
Ternyata Arkan sudah mengambil bangku dari meja lain, dan duduk di hadapanku. Dan pada akhirnya, aku harus makan bakso di depan Arkan. Demi apa? Aku yakin, aku tidak akan bisa makan dengan rileks.
Aku ingin pindah saja ke tempat Rika. Tapi kapan aku pindah, sama saja aku mempermalukan diriku sendiri. Nanti ketahuan kalau aku berusaha menghindar. Aku yakin mereka pasti curiga.
"Lo kenapa, Di? Galau?" tanya Rika pada Dian yang cemberut.
"Iya nih, pacar gue gagal naik hari ini."
"Elo sih masa punya pacar adik kelas. Kan sibuk belajar."
"Serah gue dong mau pacaran sama siapa pun."
Beberapa jenak kemudian, pesanan bakso kami datang. Hidangan satu porsi di sini cukup banyak, segeralah mengepul dari setiap-tiap wadah, menyajikan aroma daging dan kuah gurih. Bakso, bihun, toge dan sayur adalah menu favoritku. Sementara yang lain memilih menunya masing-masing sesuai selera.
Aku hanya bisa memasukkan sambal saja. Aku suka bakso yang dibening, tidak dicampuri saus atau kecap.
"Untung ya ada si Rika, terus kita ditraktir terus," kata Dika di tengah kunyahannya saat dibawa mi. Dia memakan mi telor itu dengan lahap.
"Kalian enak gue yang menderita!"
Semuanya tertawa.
Yang lain ngobrol, aku diam, dan berhasil baksoku dengan tenang.
"Dasar lo, maunya gratisan terus, Dik," ucap Fikri.
"Iyalaah ... Gue mah nggak jaim. Kalau gratis pasti gue embat! Si Rika emang pembawa Keberuntungan."
"Enak aja! Gue kesulitan woooy !!"
"Udah, terimain aja napa. Lumayan."
"Ogah! Ogah!"
Aku sedikit mengintip bakso milik Arkan. Ternyata dia lebih parah dariku. Dia sama sekali tidak memakai bumbu apa-apa. Ternyata dari dulu seleranya tidak berubah. Arkan paling anti dengan yang disebut sambal, termasuk kecap dan sausnya.
Dulu aku tidak pernah masuk penjara, memasukkan setetes sambal ke bakso Arkan. Saat dia layaknya, dia langsung heboh layaknya orang kepanasan. Tapi karena ia tidak mau mengeluarkan makanan, ia menghabiskan semua airnya pada akhirnya harus minum beberapa gelas air putih. Aku jadi merasa bersalah saat itu. Mau itu setetes dua tetes, mau sambalnya pedas atau tidak, Arkan akan tetap heboh. Jika kata orang sunda bernama 'riweuh.'
"Lo laki bukan sih, Ar? Masa nggak suka sambel? Liat masa bening gitu?"
"Justru itu. Karena gue laki, makannya nggak suka pedes. Kan pedes itu kesukaannya cewek. Tuh ...."
"Gila, njirrrr !!!"
"Berapa sendok, Rik?"
"Lima sendok."
Lima sendok ?! Apa aku tidak salah dengar? Aku saja yang satu sendok makan sudah kepedesan dan takut sakit perut.
Rika mengaduk bakso yang berwarna merah efek sambal. Tak lupa dia juga menambahkan cuka. Aku memakan liur. Kalau aku sampai begitu, pasti aku langsung sariawan.
"Eeh udah-udah, mau lagi makan jangan banyak bicara. Tuh kayak Rumi dong, diem-diem ae ...." kata Dian bijak.
"Dulu dia bawel, lho." Itu suara Arkan. Apa katanya barusan? Aku yang memulai menunduk otomatis mengangkat kepala. Pemandangan kami bertemu, namun Arkan langsung melemparkan tatapannya ke objek lain.
"Abong tetanggaan," kata Rika.
"Tapi kok kayak tetangga tetangga nggak saling kenal gitu, ya? Berasa jauh." Dika mulai menilik-nilik kami berdua. "Gue juga kalau ke rumah Arkan nggak pernah liat kamu saling sapa atau apaa gitu."
Aku terdiam. Semoga saja Arkan bisa menjawab.
"Atau jangan-jangan, kalian mantan, ya?"
Uhuk !!! Aku tersedak. Aku langsung menyeruput minumanku. Sialnya, mereka membuat momen tersedaknya aku sebagai alasan penguat mereka yang mengira aku mantan Arkan.
"Tuh kan tuh kan. Jika jauh-jauhan pasti mantan." Dika mulai rusuh.
"Asli ??!" tanya Dian mulai tertarik dengan pembahasan ini.
Kalau mantan sahabat iya. Tapi kalau mantan pacar? Sama sekali bukan.
"Waah parah si Dika. Lo udah temenan sama Arkan berapa tahun?" tanya Fikri.
"Kurang-lebih tiga." Dia menunjukkan tiga jarinya.
"Emang lo pernah liat Arkan pacaran sama cewek? Makannya mikiiir."
"Ya belum, sih. Tapi kan bisa jadi mantan waktu SMP."
"Eh, betul juga, tuh."
"Heey kalian itu rempong banget, sih! Udah nggak mau ngomongin mereka. Bisa jadi mereka sekarang pacaran lagi diem-dieman. Nah lhooo !!!" Bukannya membuat suasana tenang, Ternyata Rika malah menambah keributan. Dan Dika semakin gencar dipilih kami. Aku pura-pura fokus makan bakso saja.
"Udaah, ngaku aja lo, Ar!" desak Dika.
"Apa yang harus gue akuin? Gue bukan mantannya Rumi. Lagian masa sih cewek sholeh kayak Rumi mau sama gue."
Gerakan saya yang sedang memotong bakso dengan sendok terhenti. Aku masih menunduk dengan debar jantung cepat. Untung sejak tadi aku diam. Jadi tidak ada yang melihat perubahan ekspresiku.
"Kode, tuh Rum dari Arkan!"
"Cieee cieee ...."
"Ekhemmm ekheeemmmmm ...."
"Hei kalian, Bapak pulang duluan, ya. Udah diterimain." Aku mendengar Pak Bambang berpamitan. Aku pun memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Pak Bambang dan Pak Yusep berjalan keluar meninggalkan kedai sambil bercapak-cakap. Tentu saja aku selamat, berkat pak Bambang mereka tidak membahas soal tadi lagi. Tapi malah aku yang jadi kepikiran atas ucapan Arkan.
Aku menggeleng. Kulihat Arkan kembali memakan baksonya yang tinggal sedikit. Kadang juga dia sedikit berbincang dengan Fikri yang duduk di sebelahnya.
“Gue nggak mau tau, Dian. Gue pokoknya mau pindah. Gue udah nggak mau prakerin di sini,” ungkap Rika saat baksonya sudah habis.
"Elo takut ya sama pak Bambang? Gimana kalau nanti dia tiba-tiba ngelamar lo dan dateng ke rumah tiba-tiba?" Dika mulai menakut-nakuti.
"Kiamat sugra !!!!" jerit Rika.
"Nggak pa-pa kali. Biar kita ditraktir terooosss !!"
"Enak di elo nggak enak di gue bego!"
"Nanti Pak Wahyu bakalan marah kalau kita pindah," ucap Dian.
"Ya, aja nggak ada kerjaan. Kesel tau ...."
"Terus maunya gimana?"
"Pindah, Di. Ke mana, kek. Yang masih nerima anak PKL."
"Iya sih, gue juga penginnya pindah."
Rika mengangguk-anggukkan kepala semangat.
"Lo lo mau pindah pindah nggak?" Rika bertanya pada kami berempat. Sebab dia dan Dian sudah memutuskan akan pindah.
"Gue enggak ah. Enak nggak kerja," celetuk Arkan.
"Gue juga mau santai, tapi nanti kan kita bakalan sidang. Masa di buku panduan cuma nulis beres, beres, ISHOMA, pulang. Gitu aja terus sampai nenek gue nikah lagi."
"Jangan bawa-bawa nenek lo!"
"Lo mau pindah, Rum?" tanya Dian.
"Aku ikut kalian aja." Aku mengangguk setuju.
"Jadi tinggal lo berdua." Lihat Rika tertuju pada Arkan dan Fikri. "Mau bertahan di sini sama si gendut?"
"Ya udah terserah, deh."
“Ya udah, sekarang kita ke sekolah. Laporan sama Pak Wahyu,” tegas Dian.
"Tapi gue nggak enak sama pak Bambang," kata Fikri bingung. Dia kenal dengan Pak Bambang sejak lama. Ayahnya dan pak Bambang, makannya dia bisa daftar prakerin di sini dan mengajak teman-teman. Fikri sendiri yang meminta pak Bambang agar mau menerima. Aku paham perasaannya sekarang. Pasti tidak enak
"Udah lah, jika masalah itu nggak usah dipikirin. Lagian siapa suruh nggak ngasih kerjaan?" kata Rika untuk meyakinkan.
"Ya udah, deh. Gimana nanti aja. Gue juga nggak betah, sih," putus Fikri.
"Okeee !!!"
Alhamdulillah .... Itu memang keinginanku untuk pindah tempat prakerin.
Semoga saja guru pihak sekolah mengizinkannya
Siap-siap bertemu karakter baru. Pokoknya dia saingan Arkan ...
Ikuti terus yaa ..
Jangan lupa komentarnya juga
Garut, Rabu 03 April 2019