بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Andai aku bisa masuk ke dimensi masa lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.
"Jangan lupakan aku."
~ Sembunyi Rasa ~
@JisiQ
Sesuai kesepakatan kemarin, hari ini kami tidak berangkat ke Dispora. Entahlah, aku hanya ikut-ikutan saja. Sementara buku panduan masih ada di sana. Tapi mereka sudah enggan lagi untuk meninjakkan kaki di sana. Terutama Rika. Dia tidak mau bertemu pak Bambang. Ditambah, Dika selalu menakut-nakutinya jika lelaki bertubuh gempal itu akan datang ke rumah untuk melamar.
Kami sudah berada di sekolah.
Mungkin karena ini jam pelajaran, jadi jam sekolah sepi. Yang terdengar hanya suara para siswa dari setiap-kelas. Ada segelintir siswa yang lulus-lalang juga di koridor.
Aku jadi rindu sekolah dan belajar di kelas. Dulu akulah yang melihat kakak kelas memakai almamater. Sekarang ganti aku yang memakai almamater ini. Sekarang akulah kakak kelas mereka.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah ruangan Pak Wahyu.
Yang masuk ke dalam hanya Arkan dan Fikri. Yang lainnya menunggu di depan ruangan.
"Duuh semoga bisa, deh," ucap Rika menggigit kukunya.
"Berdoa aja, yuk," ucapku.
Rika menganggukkan kepala.
Pintu terbuka, jadi kami bisa mendengarkan mereka walau tidak terlalu jelas.
"Kenapa pindah?" Mimik wajah Pak Wahyu tidak bersahabat.
"Nggak ada kerjaan, Pak. Di sana cuma santai-santai."
"Ya itu berisiko kalian. Kerja di sana emang gitu, nggak selamanya dikasih kerjaan."
"Tapi kan, Pak ---"
"Enggak, pokoknya Bapak nggak setuju. Ini disetujui masa nanti. Kalian terima aja apa pun selamat. Mau diem atau sibuk, selamat aja. Soalnya kalau kalian pindah, nama baik sekolah ini akan tercoreng. Nih ya Bapak jelasin. Kalau kamu mau pindah, nanti pesta Dispora akan tersinggung dan mereka nggak akan menerima lagi siswa dari sekolah ini di prakerin tahun depan. " Pak Wahyu bersandar di kursi. "Kasian adik kelas kalian nanti."
"Ooh gitu ya, Pak." Wajah Fikri kelihatan pasrah.
"Membebaskan kalian punya alasan kuat atau apalah. Kalau nggak kerjaan nggak bisa dijadikan alasan kalian pindah," lanjut pak Wahyu lagi. "Kalau nggak ada alasan lain, udah, selamat aja. Bukannya enak ya kalau santai-santai?"
"Tapi kan kita disuruh ngisi buku panduan."
"Ya udah isi aja siapa kamu lakuin. Kalau emang nggak ada kerjaan, kan kan emang nggak kerja kan kan dari sananya? Apa susahnya? Pokoknya Bapak nggak bakal ngizinin."
Fikri melemparkan pandangan ke Rika, menyuruhnya untuk masuk dan berbicara. Aku mengerti apa maksudnya. Tapi Rika kelihatan ragu untuk mengemukakan keluhannya.
Fikri melotot, disetujui Rika.
Mau tak mau, mungkin demi keselamatan sendiri, Rika pun dapat meja pak Wahyu.
Rika sudah bergabung dengan Arkan dan Fikri.
"Emm jadi gini, Pak. Ada alasan lain mengapa kita pengin pindah," ucap Fikri garuk-garuk kepala.
"Apa?"
Lagi-lagi Fikri memberikan isyarat pada Rika agar dia lekas bicara.
"Emm gini, Pak. Jujur saya nggak betah kerja di sana." Pada akhirnya Rika bersuara.
"Apa yang bikin kamu nggak betah?"
"Jadi gini, itu Pak Bambang, pembimbing kami di kantor, itu selalu gangguin aku, Pak."
"Pak Bambang?" Kening Pak Wahyu mengernyit.
Rika mengangguk.
"Gangguin gimana?"
"Pas awal masuk dia selalu ngeliatin saya. Terus akhir-akhir ini dia sering nanyain alamat rumah. Pokoknya ke saya itu pengolahannya berbeda."
Pak Wahyu masih menyimak.
"Bahkan kemarin Pak, dia nraktir kita makan bakso di tempat mahal. Terus kata salah satu pegawainya, Pak Bambang dulu nggak pernah nraktir. Matanya juga genit-genit gitu."
Pak Wahyu tertawa mendengar cerita Rika. "Waah dia kayaknya naksir sama kamu."
Di sini kami ikut tertawa. Terutama Dika.
"Nah iya, Pak. Saya takutnya gitu. Makannya kita pengin pindah. Saya takut dia beneran mau ke rumah. Saya risi, Pak. Diliatin terus setiap hari, nraktir lah apa saja. Iiih, nggak nyadar berumur!"
Pak Wahyu mengangguk-anggukkan kepala, masih diiringi senyum orang kebingungan.
"Jadi gimana, Pak?"
Pak Wahyu masih berpikir untuk mengambil keputusan.
Arkan keluar, sepertinya dia menerima telepon. Di sana Rika menyetujui membujuk Pak Wahyu. Aku juga ingin tertawa melihat dia senang seperti itu.
"Rikaa, Rikaa ...." Dian geleng-geleng kepala.
"Kasian gue liatnya," sambung Dika.
Setelah menutup teleponnya, Arkan bergabung dengan kami. Di dalam tinggal ada Rika dan Fikri.
Rika masih meminta persetujuan Pak Wahyu itu benar dan benar. Pak Soni --- selaku kepala sekolah --- masuk ke ruangan, mungkin dia keheranan melihat anak kelas tiga ada di lingkungan sekolah.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Begini, Pak. Pembimbing di tempat pindah naksir, jadi mau pindah."
"Oooh ya udah pindah saja."
"Tuh, Pak. Katanya boleh pindah," sahut Rika lumayan keras. Fikri tertawa lebar.
Pak Wahyu masih menimang-nimang, memainkan dagunya dengan jemari.
"Eh, Rum. Gue ke luar dulu, ya? Mau ketemu sama Zaki, perbaiki dia lagi olahraga, hehe ...." pamit Dian yang kelihatan buru-buru buru.
"Iya, Di." Aku mengangguk. Zaki itu nama pacarnya yang masih kelas 11 Multimedia.
"Eh, Dian! Tunggu! Gue juga perlu. Tunggu keles gue ikut!" teriak Dika rusuh. Kulihat Dian menoyor bahu Dika gemas.
Allah, mengapa aku harus berada dalam situasi seperti ini lagi?
"Eleh-eleh, si Aa jeng si eneng, naha hente PKL?"
Tiba-tiba ada suara bariton dari belakang. Aku berbalik, dan menemukan Pak Salim, di balik ada sebungkus kopi s**u. Arkan menyalami tangan Pak Salim, sedang aku hanya tersenyum. Pak Salim ini guru pelajaran agama. Diucapkan ada peci, dan cara sederhananya sederhana.
"Kenapa ada di sini?" tanyanya.
"Ada Kebutuhan, Pak. Mau pindah tempat prakerin," jawab Arkan.
Pak Salim mengangguk-anggukkan kepala. "Kok pindah?"
"Ada sesuatu."
"Ooooh .... Rumii ...." Panggilnya dengan suara khas. Dia menaik-turunkan alisnya. Aku rasa, dia akan menyuruhku sesuatu.
Dari kelas sepuluh dia guru agamaku. Tapi di kelas tiga, guru agama kelas multimedia sudah diganti. Pak Salim mengenalku berawal dari nama saat proses pengabsenan.
Dia selalu memujiku karena namaku yang menurutmya bagus. Cocok dengan wajahku yang katanya 'manis'. Kalau mau dibuatkan kopi, dia mau mau aku yang mau, katanya mau enak dan harum, sesuai dengan namaku 'Harumi.' Ada-ada saja dia.
"Tolong buatin bapak kopi, ya? Bapak kangen, lho," lanjutnya dengan nada manis.
"Iya, Pak. Boleh."
Dia tersenyum.
Saya mengambil sebungkus kopi yang ada di tangan Pak Salim. Aku pun pamit pergi.
Di perjalanan aku melarikan diri, untung ada Pak Salim. Jika tidak, aku tidak tahu.
Aku sedikit menoleh ke belakang, Pak Salim mulai mengajak ngobrol Arkan. Ternyata lebih tinggi Arkan. Sudah tinggi badan Sudah lama sampai segitu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Sebab dulu dia sepantar denganku.
Ruangan Pak Wahyu dekat dengan ruangan guru. Setelah mengambil gelas ke dapur dekat lab komputer, aku minta udara panas ke ruang guru karena dispenser diletakkan di situ.
Setelah kopinya jadi, aku kembali ke depan ruangan Pak Wahyu. Ternyata sudah ada Dian dan Dika.
"Rumi, tadi Bapak nanya ke Arkan. Rumi manis, ya? Rumi manis, ya? Dia nggak mau ngaku. Terus bertanya lagi, suka nggak sama cewek kayak Rumi, nggak jawab," kata pak sera seraya sambil segelas kopi di tanganku sambil menendang . "Cowoknya lempeng. Liat cewek itu kayaknya biasa aja. Eeh tapi bagus. Dia setuju dengan pandangannya."
Aku mendadak salah tingkah. Kalau masalah itu, aku tahu. Arkan memang seperti itu.
Rika dan Fikri sudah keluar dari ruangan Pak Wahyu dengan wajah berseri.
"Oh iya, kalian pindah?" tanya Pak Salim pada kami.
"Iya, Pak," jawab Fikri.
"Alasannya?"
"Ada yang ngegoda Rika," jawab Fikri lagi.
"Iya, Pak." Rika cemberut.
"Ngegoda gimana maksudnya?"
"Yaaa gitu, ngeliatin terus terus aneh gituu, deh!" jelas Rika dengan wajah memberengut dan memegang enek.
"Haha. Kamu ini. Gimana dia nggak kegoda kalau penampilan kamu suka ini? Mungkin dia liat bulu mata kamu tuh, lentik. Sama bibir warna beureum kamu. Kamu liat Rumi sama Dian, mereka biasa aja. Jadinya nggak digoda," jelas Pak Salim menggebu-gebu.
"Iih Bapak !!!" rengek Rika.
"Rumi sama Dian nggak digoda, kan?"
Aku dan Dian menggeleng serempak. "Alhamdulillah enggak lah, Pak." Dian tambahkan.
Rika manyun.
"Jadinya pindah ke mana?" tanya Pak Salim lagi.
"Senin kita mau nyari lagi."
"Ooh iya .... Semoga segera dapet yang cocok."
"Aamiin ...."
"Ya sudah, Bapak ngajar dulu, ya."
Kami semua menyalami Pak Salim kecuali aku. Untung saja dia mengerti, jadi aku tidak perlu merasa tidak enak kalau tidak salam.
"Terus sekarang kita ke mana?" tanya Fikri.
"Pulang, lah. Gue ada keperluan," jawab Arkan paling pertama.
"Kok pulang? Maen dulu, lah!"
"Jum'atan maneh !! Main mulu kerjaannya," timpal Rika.
"Tete gue tadi nelepon, nitip seblak yang ada di depan sekolah. Kasian, lagi ngidam," lanjut Arkan.
"Eaa, Arkan siap sedia .... Udah cocok niih ...."
"Cocok apaaa?"
"Ya cocok itu laah ...."
"Sekali lagi lo ngomong gue cocok jadi bapak, gue pecat lo jadi temen!"
"Mantep!"
"Jangan gitu, dong. Kalau dipecat jadi temen, nanti akan naik gunung sama siapa?"
"Sama nenek lo!" jawab Arkan ngasal, lalu dia pergi begitu saja. "Gue balik duluan ...."
"Nggak asik, lo. Main cabut aja."
Arkan tidak menghiraukan, dan terus berjalan sambil membetulkan letak ransel yang tersampir di sebelah bahunya.
Mendengar ucapan Pak Salim tadi, aku bisa mengulas sesuatu. Mungkin ini hanya persepsiku saja. Mata lelaki itu jelalatan, mereka sulit dilihat, walau sudah dibuka. Itu terjadi karena mereka tak memiliki iman. Ternyata tidak sepenuhnya salah kaum adam. Tapi perempuan pun terkadang ikut salah, karena mereka sengaja berdandan agar terlihat menawan dan cantik. Tanpa mereka sadari, hal itu membuat lawan jenisnya tertarik dan terpicu nafsu.
Kesalahan wanita zaman sekarang ya itu. Selalu memamerkan kecantikan bahkan mempercantik diri agar terlihat kekinian. Sementara kompilasi wanita keluar rumah, maka setan menghiasinya. Dan wanita sekarang seakan membantu para setan untuk memuaskan kerja kerasnya, yaitu menarik fitnah.
Itulah alasannya Mengapa Islam menyuruh wanita untuk tidak bersolek dan tabarruj kompilasi keluar rumah.
Tujuannya hanya satu: Melindungi wanita itu sendiri.
Aku pulang pukul satu siang, ternyata di teras rumah ada teman-teman ibu.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumussalam ...."
"Aduh, anak gadis Bu Fatma udah pulang."
"Makin cantik, ya."
"Siapa yang sebelumnya mengizinkan."
Mereka tertawa.
"Kok cepet pulangnya, Rum?"
"Kan tadi Rumi udah bilang, hari ini ke sekolah karena mau pindah tempat prakerin," jawabku sambil menyalami satu per satu ibu-ibu tetangga yang memang sering main dan bergabung. Mereka semua ramah.
"Oh iya, Arkan juga katanya mau pindah. Satu tempat kan sama kamu?" tanya bu Meli.
Aku mengangguk.
"Itu kenapa bisa pindah gitu, ada masalah sama pihak sananya?"
"Iya, sedikit, Bu, hehe ...."
"Oooh. Ada-ada aja, ya." Bu Meli mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah itu saya izin masuk.
Baru selangkah, saya mulai suara Teh Fitri meneriaki bu Meli.
"Mamah !!"
"Ada apa, Fit?"
"Arkan ...."
"Ada apa sama Arkan?"
"Sesak Breath dia ...."
"Lho? Kenapa, Bu?" tanya ibuku ikut panik.
"Nggak tau, akhir-akhir ini dia sering sesek. Sebentar ya, Bu."
Aku menarik kepalaku ke belakang, melihat bu Meli sudah akan meninggalkan halaman rumah. "Si Ade mah ah, susah dibilangin." Sayup-sayup aku mendengar dia bergumam demikian.
"Meni kaget saya," tambah Bu Sinta dengan suara khas orang Jawa.
"Sekarang mah penyakit apa aja bisa muncul tiba-tiba, ya."
Benakku mulai bertanya, ada apa dengan Arkan? Apa dia sedang sakit?
Tapi Arkan yang selama ini aku lihat selalu terlihat baik-baik saja.
Sudah lama dan diperluas ini bukan yang utama, pasti banyak sekali yang belum saya ketahui.
Semoga dia baik-baik saja.
Aku hanya bisa mendoakannya dari sini.
Walau sekarang aku selalu bisa mengobrol, tapi kalau tidak saling bicara? Rasanya masih terasa jauh.
Aku pernah mendengar salah satu ustaz. Dan sekarang aku membenarkan ucapannya. Obat rindu bukan bertemu, disetujui komunikasi.
Bertemu tanpa komunikasi?
Seumpama mata dan telinga. Dekat. Tapi tidak bisa saling melihat.
Inilah alasan diciptakannya doa. Saat mulut tak mampu bersuara, maka hati-lah yang bertugas. Berdialog pada Sang pemilik hati.
Diam-diam menerima.
Diam-diam mendoakan.
Garut, Jum'at 05 April 2019