9. Diamku

1917 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Satu hari tanpa dia Terasa ada yang berbeda Mungkinkah aku terlalu peka pada perasaanku sendiri, yang selalu ingin ada di kesenangan? Meski tidak saling berbicara, tapi aku tahu, dia baik-baik saja. ~ Sembunyi Rasa ~ @JisiQ Ini hari Senin. Alhamdulillah , aku bisa menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis. Semoga lancar sampai waktu Magrib. Aku selalu berharap istiqamah agar bisa menjalankannya setiap minggu, tapi selalu gagal. Tapi kalau aku mau mencoba, aku pasti bisa. Aku pernah mendengar kajian ustaz Adi Hidayat. Dia mengatakan, ada cara mudah agar bisa masuk Surga dengan mengamalkan amalan ringan. Dulu pernah ada seorang Arab Baduy bertanya pada Rasulullah. Tentang amalan apa saja yang bisa dikerjakan dan itu mampu dan cukup untuk dimasukkan ke dalam Surga. Maka Rasulullah menjawab, menjalankan sunnah-sunnahnya. Tapi dia berkata tidak mau. Dia hanya ingin mengamalkan yang fardu-fardunya saja. Dan Rasulullah pun menjawab, dia bisa masuk Surga hanya dengan amalan fardu asal bisa pulang maksiat. Jadi kesimpulannya, jika hanya ingin mengerjakan yang fardu saja, kita harus meninggalkan maksiat. Tapi kalau kita masih sering melakukan maksiat, maka tutuplah dengan amalan-amalan sunnah. Tinggalkan kejelekan-kejelekan itu secara perlahan. Karena itu, aku selalu ingin mengerjakan amalan sunnah. Karena aku masih melakukan hal yang harus dihindari Allah. Aku masih sering berdosa, baik yang disengaja atau tidak disengaja. Astagfirullah. Aku perlu banyak-banyak beristigfar. Aku baru akan keluar, dan keluar dari halaman rumah. Tiba-tiba bu Meli menghampiriku. Aku merasakan suasana yang tidak enak. "Rumi, tunggu. Mau berangkat prakerin, ya?" "Iya, Bu." Aku mengangguk dan sedikit menyungging senyum. Aku merapatkan tanganku, ini cukup dingin. Telapak tanganku pun ikut dingin. "Katanya mau daftar ke tempat lain? Tolong daftarin Arkan juga, ya?" katanya dengan wajah sedih. "Emangnya kenapa, Bu?" "Arkan lagi sakit. Jadi dia nggak bisa ikut daftar. Boleh, kan?" Arkan sakit? Kenapa Aku ingin bertanya, tapi aku kesulitan. Seperti ada yang menumpuku untuk tetap diam. Jujur aku terkejut mendengar kabar ini. Karena Jum'at kemarin aku mendengar kalau Arkan sempat sesak napas. Semalaman aku kepikiran. Lantara dulu kalau Arkan sakit pasti suka sampai masuk ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari. Tak urung aku selalu ikut membesuk dan menyemangati Arkan supaya sehat kembali dan bisa main lagi. "Kamu inget dulu Arkan pernah sakit bronitis?" Jelas, aku ingat itu. Apa penyakitnya kambuh? Hmm, lagi-lagi aku bertanya dalam hati. "Kemarin sesek napas, kayaknya gejala asma. Niatnya pas hari Sabtu atau Ahad mau periksa ke dokter. Tapi dia nggak mau, katanya baik-baik aja dan pas hari Sabtu dia malah kena hujan, sampai bersin-bersin. Sekarang Ibu mau paksa dia ke dokter, biar ketauan apa penyakitnya. Bantuin ya, Rum." Aku kaget lagi dalam diamku. Asma? Itu penyakit yang menurutku lumayan parah. Apalagi sekarang, aku melihat wajah bu Meli cemas. Tapi wajar, setiap ibu pasti mengkhawatirkan kondisi anaknya meski hanya sakit panas biasa. Kasih sayang ibu itu tak ternilai harganya. Mau anaknya sakit ringan atau parah, wanita yang melahirkannya akan merasa sedih dan berharap penyakit anaknya berpindah padanya. "Iya, Bu. Pasti Rumi daftarin." Pandanganku tak sengaja tertuju pada jemuran milik Bu Meli yang ada di depan rumahnya. Di sana ada almamater milik Arkan yang tergantung, basah, airnya bertetesan, barangkali baru dicuci. Hanya dengan melihat pakaiannya, aku seperti melihat pemiliknya. Ternyata benar, hari ini aku tidak akan bertemu dengannya. Dia sedang sakit. Semoga Arkan cepat sembuh, doaku di pagi yang lumayan mendung ini. "Makasih, Rumi." "Sama-sama, Bu. Semoga Arkan cepet sembuh dan kembali sehat lagi, ya." "Aamiin...." "Ya udah, Rumi pamit, dulu. Assalamualaikum...." Aku berbalik setelah sebelumnya tersenyum. "Waalaikumussalam...." Aku berjalan tak bersemangat. Hari ini ada yang beda. Serasa ada yang hilang. Aku sadar, sedang mengkhawatirkan seseorang. Tapi sikap kakuku seakan menunjukkan bahwa aku tak peduli. Banyak yang ingin aku tanyakan. Tapi diamku membentengi semuanya. Menyendat suara guna mengeluarkan kata. Diamku menyembunyikan banyak hal. Diamku memilki makna yang tidak akan diketahui oleh satu orang pun. Biarlah semua rasa kupendam sendiri. Biarkan aku seperti ini. Bersikap biasa saja. Layaknya orang yang tak menaruh rasa. Kemarin kami janjian di w******p agar berkumpul dulu di sekolah supaya nantinya tidak berpencar. Ternyata akulah yang datang paling terakhir. Di luar gerbang sekolah sudah ada Dika, Fikri, Dian, dan Rika. Mereka terlibat percakapan, dan kedatanganku menginterupsi perbincangan mereka. "Tinggal nunggu si Arkan, nih," sahut Dika. "Tumben telat tu anak. Biasanya paling nyubuh." "Lho? Kalian nggak tau, ya?" tanyaku heran. Aku pikir Arkan sudah memberi kabar pada teman-temannya. "Nggak tau apa?" "Arkan nggak bisa ikut. Dia lagi sakit," jawabku. "Sakit?" Dika mengangkat sebelah alis. "Kok nggak hubungin, ya?" tanya Fikri. "Ngabarin atau apa, kek." "Iya, w******p-nya juga nggak aktif. Tadi gue chat masih ceklis satu," tambah Dika. "Gitu ya kodratnya orang ganteng? Jarang aktif WA apalagi bikin status?" "Emangnya elo? Jelek-jelek selfie mulu!" sambar Rika tanpa filter. "Apa-apa update, apa-apa update! Alay!" "Gue eksis keleeuus. Si Arkan mantengnya di game!" Rika memasang wajah ingin muntah. "Iya, tadi ibunya bilang kalau Arkan sakit dan nyuruh kita untuk daftarin Arkan." "Si Arkan ya, mentang-mentang punya tetangga deket, kita diabaikan," celetuk Dika. "Ya udah deh kalau gitu. Kita berangkat sekatang aja," usul Dian seraya melirik jam tangannya. "Tadi gue udah telepon Melan di Capil, katanya kita ke sana aja. Siapa tau banyak lowongan. " "Oke. Bagus, deh." "Terus masalah buku panduan gimana?" tanya Dian. "Niatnya mau gue ambil sama si Arkan. Tapi karena sekarang dia nggak bisa masuk, besok-besok aja, deh," jawab Fikri. "Kenapa nggak sama si Rika aja?" Giliran Dika yang bertanya dengan polos. Rika langsung memasang wajah garang. "OGAH! Mau lo bayar berapa pun gue ogah dateng ke sana. Iiiihhh...." Rika bergidik ngeri. "Najis mugalazdoh!" Kami sudah sampai di halaman Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil)---tempat pembuatan akta kelahiran, surat pindah dan lain-lain----. Tempat ini tak pernah sepi kecuali hari libur. Ada beberapa orang berlalu-lalang. Motor-motor juga terparkir di halaman gedung. Bahkan aku melihat salah seorang yang memakai almamater yang sama denganku. Dan pastinya, dia siswa yang sedang prakerin di sini. Wajahnya familiar, tapi aku tidak tahu namanya siapa. Kami berlima berdiri di sekitar halaman. Dian meneleponi Melan yang katanya sedang praktek di bagian pelayanan. "Hadeuuh, jadi luntang-lantung gini ya kita," keluh Rika. "Gara-gara si gendut!" "Kayaknya Pak Bambang bakalan kangen deh sama lo." Dika mulai memanas-manasi. "Dia bakal nyariin lo! Halig siah!" "Anjir amit-amitttt!!! Gue bakalan kabur." "Kayaknya dia kehilangan dan sedih, deh," lanjut Dika lagi. Tak lama kemudian, teman Dian dari kelas Akutansi itu menghampiri kami. Dan itu membuat Rika gagal menghabisi Dika yang dari tadi mengganggunya. "Melaan...." seru Dian bahagia. "Dian." Mereka berpelukan seperti sepasang teman yang lama tak berjumpa. "Gimana? Boleh nggak, Mel?" tanya Dian memelas begitu pelukan mereka terlepas. "Kok bisa pindah gitu, sih?" tanya balik Melan. "Biasa, ada masalah. Sekarang gue bingung mah cari ke mana selain ke sini. Ayolah, bantuin kita." "Coba aja daftar. Masuk ke dalam." Melan menunjuk salah satu gedung yang tak jauh dari tempat kami berdiri. "Tapi kayaknya cuma butuh tiga orang, deh. Kalian berlima, kan?" "Berenam." "Sama?" "Arkan dari kelas TKJ." "Aku nggak yakin bisa keterima semuanya, sih. Tapi coba dulu aja. Dua orang masuk," lanjut Melan lagi. "Ya udah, coba aja, yuk," putus Dian penasaran. Dian memutuskan masuk bersama Fikri. Aku, Rika dan Dika menunggu di luar dengan harapan-harapan. Mereka berdua diantar Melan masuk ke dalam. "Rum, kalau enggak bisa kita daftar ke tempat lain aja, yuk!" ajak Rika pasrah. "Iya. Tapi semoga aja mereka mau nerima semuanya," jawabku sambil melafalkan bismillah. Dika fokus main hape. Aku berdoa semoga saja tempat ini mau menerimaku untuk menjalankan praktek kerja lapangan. Sebelumnya aku sempat menghubungi Nisa, bertanya apakah di tempatnya praktek masih menerima siswa dari SMK, tapi katanya tidak ada. Aku gagal prakerin bersama teman-teman dekatku itu. Sedikit sedih, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin Allah memiliki rencana lain. "Si Arkan masuk rumah sakit ternyata," sahut Dika tiba-tiba. Tanpa sengaja aku menelan liurku impulsif. Arkan? Masuk rumah sakit? "Wah?!" Coba gue liat," pinta Rika kepo. Dika memamerkan ponselnya pada kami. Di situ tertera nama 'Kembaran Gus Azmi' Astagfirullah. Kok lucu ya nama kontak Arkan di w******p Dika? Iya sih, kalau aku lihat-lihat juga dia mirip dengan anak lelaki yang suka selawatan dan diidolakan banyak kaum hawa itu. Tapi wajah Arkan lebih dewasa dan ... entahlah. Aku tidak mau memberitahu. Arkan mengirim foto suasana rumah sakit dan foto selfie berukuran close up. Terbayang tidak? Betapa dekatnya jarak wajahnya dengan kamera? Roman Arkan tak secerah biasanya. Tak lupa ia juga menyisipkan caption di bawahnya. 'Tuh! Gue beneran sakit. Buat apa gue bohong? Siapa pun yang ada di sana, jangan kangen sama gue, ya.' Dika menarik ponselnya lagi. "Pede banget ni anak. Okeey, gue bales." "Pasti kecapean, tuh! Naik gunung terus, sih!" ucap Rika menyimpulkan. "Heey! Di mana-mana yang naik gunung itu olahraga! Biar badan sehat!" Dika membela hobi kebanggaannya. "Ooooooooh...." Aku menggeleng, mereka tak pernah mau akur. Tapi menurutku, itu pemandangan lucu. Menit berikutnya, Dika tertawa ngakak. Rika meliriknya sebal, sebelah bibirnya naik ke atas, sorot matanya menajam, hidungnya mengembang, lucu sekali ekspresinya itu. Aku tersenyum kebingungan. Dika ini kenapa, sih? Kerasukan, kah? Eh astagfirullaladzim. Habisnya dia aneh. "Rumi! Liat, deh." Dika memperlihatkan kembali ponselnya padaku. Dia masih saja cekikikan. Mirip orang yang sedang menonton acara komedi di net TV. 'Ada, nih si Rumi yang diem-diem ini rindu sama lo katanya.' 'Jangan rindu, gue bukan Dilan.' Kakiku gemetaran. "Iiih kok aku?!" Wajahku pasti sudah merah bak kepiting rebus. Sumpah, aku tidak ridho. "Kamu kok...." Dika terbahak keras. Rika mengernyit. Melihat wajahku yang kesel, Rika langsung merebut ponsel Dika secara paksa. Dia pun membacanya dengan serius. Bibirnya bergerak tapi tak bersuara. Dika mengambil ponselnya lagi dengan kasar. "Maksa banget si lo, Ka! Kepo anjayy!" "Eh elo! Anak orang difitnah. Dasar maneh! Karunya, ih. Orang dia nggak ngomong kangen." "Suka-suka gue, dong." Dika menjulurkan lidah. "Lagian Rumi emang beneran kangen, kan?" tanya Dika padaku, aku terhenyak. Mengapa dia bisa-bisanya berpikir sejauh itu? Apa jangan-jangan dia punya indera ke-5? "Bener, kaan?? Ngaku aja, deeeh...." "Ih, enggak, kok," elakku. Jantungku masih berdebar. Aku hanya takut Arkan percaya. "Aaa bohong." Wajahku membersut. "Udahlah, Rum. Lo nggak usah ngelak lagi. Gue tau lo sama Arkan itu lagi saling memendam cinta." "Ehh so tau banget si lo!" kata Rika mencubit lengan Dika sampai lelaki itu mengerang. "Tenang, Rum. Gue bisa jadi tangan lo untuk ngelawan si Dika ini. Dasar lo ya! Dika! Dika manakeun, dika ucingkeun!" Apa? Apa tadi? Rika mengatai nama Dika? Dika manakeun? Dika ucingkeun? Kok aku jadi ingin tertawa, ya? Ada-ada saja mereka. "Eh, Ka, main ganti nama orang aja! Nama gue Dika Mahendra! Keren! Kok jadi ucing, enak gajah! Si Rumi aja nggak protes kok elo yang marah-marah ke gue, sih?!" "Bukannya nggak protes, tapi dia nggak tega marahin lo. Dia nggak berani ngelawan. Ya udah gue aja. Ya kan, Rum?" tanya Rika padaku. "Biar gue yang lawan! Tenang aja!" Sumpah aku pusing melihatnya. "Lo kalau suka sama Rumi ngomong aja! Nggak usah so jodoh-jodohin sama Arkan!" "Sotoyy loo!! Gue nggak akan mungkin mengkhianati pacar gue." "Gaya lo mengkhianati! Kayak yang punya pacar aja!" Aku tersenyum ngeri, sebab Rika sedang menyiksa Dika, sepertinya. Mulut mereka tidak mau dilipat. "Eh udah, udah, ka---" "Heeey!!!" Rika menghentikan penyiksaannya, kompak kami mengalihkan pandangan pada asal suara. Ternyata Dian. "Sini!! Kita semuanya keterima." Benarkah? "Serius lo?!" tanya Rika. "Iya, katanya semuanya masukin. Soalnya emang lagi butuh." "Asyiikkkk !!!" Rika bersorak gembira. " Alhamdulillah ...." ucap syukurku. Kami bertiga pun masuk, masuk Dian. Rika dan Dika masih melibatkan cekcok di depanku. Dan aku sendiri? Aku masih kepikiran soal tadi. Harusnya aku marah pada Dika. Tapi aku tidak bisa. Ya sudahlah. Semoga Arkan tidak memedulikan obrolan Dika tadi. Maaf jika ada kata-kata kasar. Karakter mereka begitu. Lanjut? Garut, Selasa, 09 April 2019
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN