“Eh, Iah, ceritai dong...” Billa menjatuhkan dirinya di kasur Fatiah, mendekati Fatiah yang sedang memijat-mijat kepalanya, sebenarnya kepalanya tidak pusing, hanya Fatiah jadikan alibi karena hidungnya yang masih terasa sakit meski sudah ia tampal dengan daun sirih. Iya, sejak semalam hidungnya terus terasa perih meski darah tidak lagi keluar dari hidungnya. “Iah, ayo dong cerita, siapa yang nganter kamu pulang tadi? Om kamu ya? “ tanya Billa lagi, kali ini Fatiah menoleh namun tidak mengeluarkan suaranya, hanya dengusan pelan pertanda lelah. “Terus siapa cowok yang tadi? Kakak sepupu kamu ya ?” tanya Billa lagi. “Itu, Fauzan. Kakaknya Haikal,” sahut Rani yang baru masuk ke dalam kamar. Mata Billa membulat, mulutnya hampir setengah mengangga, lalu setelahnya Billa mengangguk-ngang

