LXXXVII

1341 Kata

“Ma....” Fuji kaget begitu membuka pintu mobil dan mendapati Fatiah dengan nafas ngos-ngosan berdiri di depannya. “Kamu.... ?” Fuji menatap tajam putrinya itu. “Kamu ke sini malam-malam? Naik apa? Naik ojek? Kamu gak takut baha—“ Kalimat Fuji terhenti begitu tiba-tiba Fatiah memeluknya erat. “Mama...” lirih Fatiah. “Kamu kenapa?” Fuji mengernyit bingung dan tidak langsung merespon pelukan anaknya itu. “Kamu luka? Atau apa?” “Fatiah boleh peluk mama, kan?” Fatiah mengangkat kepalanya, menatap Fuji yang nampak heran. Namun Fuji mengangguk kaku atas pertanyaan Fatiah. “Fatiah sayang mama. Sayang mama....” “Kamu kenapa?” cemas Fuji. “Kamu baik-baik aja, kan?” Suara nada Fuji melembut tidak sedatar biasanya. Fatiah mengangguk sungguh-sungguh. “Mama, makasih buat cokelatnya.” Waja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN