0. PROLOG
Macau, negara asia yang mendapat julukan "Las Vegas Kedua", sebuah wilayah yang dikenal luas sebagai pusat kasino dan hiburan kelas dunia. Lebih tepatnya surga dunia.
Di tengah gemerlap itu, Lisboa berdiri angkuh, tempat itu bukan sekadar kasino, melainkan monumen keserakahan, ambisi, dosa dan rahasia yang ditolerir selagi uang mengalir.
Di dalam sana, denyut kota terasa bersama suara denting koin, desir kartu, suara tawa dan sorot mata para penjudi yang memabukkan. Di sinilah Macau menunjukkan wajah aslinya: indah, megah, sekaligus gelap.
Satria Wiratama baru saja turun dari mobil dan menoleh sedikit ke belakang.
"Miss Aleta, could you help me?"
Aleta menoleh dan tersenyum ramah.
"Of course, Sir. What can i help you?"
Suara perempuan di pintu masuk, merdu dan fasih menggunakan bahasa Inggris. Ia berdiri di antara rombongan turis yang mengenakan seragam pemandu heritage tour.
Perempuan itu anggun, tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan hiasan fa zan giok, memperlihatkan garis leher yang jenjang. Ia mengenakan cheongsam merah marun, kainnya melekat sempurna pada lekuk tubuh, menampilkan keanggunan tradisional khas Tiongkok. Klasik, tapi sarat daya pikat.
Belahan di dua sisi gaun itu bergerak halus setiap kali ia melangkah, cukup berani untuk memancing perhatian. Namun, tetap menjaga martabat. Perpaduan klasik dan sensual menyatu alami, menghadirkan pesona yang tenang, dewasa, dan memikat tanpa perlu usaha berlebihan.
Suaranya yang tenang, jelas, tanpa basa-basi berlebihan. Cara bicaranya pun rapi dan itu membuat Satria merasa heran pada dirinya sendiri bahkan ketika tatapan mereka bertemu sekilas, Satria merasakan sesuatu yang tak biasa, ada yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Aleta. Nama yang cantik seperti orangnya, batin Satria dan melenggang masuk ke dalam gedung Lisboa.Lagi, ia menggeleng pelan untuk menolak halus ucapannya tadi.
Satria Wiratama, CEO muda berusia tiga puluh empat tahun dengan reputasi tinggi dan diakui oleh pebisnis Asia.
Pintu ruang VIP terbuka. Seorang pria bertubuh kekar menyambutnya, disusul dua petugas lain yang berdiri setengah langkah di belakang. Senyum yang diberikan sopan, tapi mata mereka penuh waspada.
“Selamat malam, Tuan.”
Mantelnya dibuka dengan gerakan halus, penuh hormat. Namun, tangan itu bergerak cepat menyusuri pinggang, punggung dan terakhir sisi dalam jas.
Pemeriksaan senjata yang dilakukan seolah bagian dari etiket.
Tidak ditemukan apa pun. Satria tidak pernah membawa masuk senjata karena ia tahu, di ruangan sangat aman. Nama besarnya mungkin dikenal sebagai pengusaha, dermawan, dan lelaki paling suci karena tidak pernah terlibat skandal di manapun.
Segelas demi segelas minuman keras mengalir tanpa jeda di meja VIP kasino. Ia berpindah dari satu permainan ke permainan lain, dari roulette, baccarat lalu poker, tapi bukan untuk menang, melainkan untuk menenggelamkan sesuatu yang terus berisik di kepalanya. Ia kecewa, marah, benci dan ingin rasanya membunuh semua perempuan yang ada di depan matanya.
Namun, satu wajah dengan senyuman hangat kembali muncul dan membuatnya menarik napas panjang. Aleta.
Malam beranjak sunyi. Namun, beberapa pasang mata tetap tegas menolak bahwa kalah dan menang itu manusiawi. Dua jam lebih enam belas menit, Satria terkurung di meja judi dan melangkah keluar setelah lembaran dollar ia menangkan.
"Apakah kita mau langsung pulang ke hotel, Tuan?"
"Hmmm."
Hanya gumaman dingin yang membawa langkah Satria dan ajudannya, Roberto.
Meskipun bangunan Lisboa seperti macan emas yang gagah, tapi dibalik keramaian itu ada sesuatu yang janggal terjadi. Tiba-tiba satu van hitam berhenti dan pintu digeser dan seorang perempuan berlari keluar, lalu dua lelaki mengejarnya.
Bertepatan dengan itu mobil mewah milik Satria berhenti. Pantulan lampu mobilnya tepat mengenai wajah perempuan tadi.
Aleta refleks menghentikan langkah. Cahaya itu membuatnya silau, sekaligus memberi harapan. Ia berbalik, tatapannya bertemu dengan kaca mobil yang gelap. Kesempatan itu hanya sepersekian detik sampai salah satu lelaki sudah ada di belakangnya.
Gerakannya cepat dan sebuah jarum menancap di leher belakang Aleta, tepat di bawah garis rambutnya. Tubuh Aleta langsung menegang, lalu melemah.
Namun, sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia memaksakan diri berlari tertatih mendekati mobil Satria.
" Gauming (Tolong) ...."
Tangannya menyentuh pintu mobil sebelum tubuhnya ambruk.
Dalam satu gerakan sigap, pintu mobil terbuka. Satria sudah berdiri di sana. Ia menangkap tubuh Aleta sebelum jatuh lalu membopongnya masuk ke dalam mobil.
“Bereskan.”
Perintahnya singkat.
Dua lelaki yang mengejar tadi bahkan tak sempat mundur. Ajudan Satria bergerak cepat menghantam, melumpuhkan, dan menjatuhkan mereka. Lalu, mobil itu melesat pergi.
"Mereka orang suruhan, Tuan."
"Hmmm, aku tahu. Jalan!"
Satria menjawab tegas, ia mengenali simbol tato di leher pria itu. Geng lokal yang tidak kenal negosiasi.
Mereka tiba di hotel tanpa banyak bicara, tubuh Aleta seperti tak bernyawa, hanya sesekali terdengar suara rintihan. Satria naik ke kamarnya dengan membopong tubuh semampai itu.
Padahal ia tahu, dengan menolongnya itu berarti bahaya lain mengikuti.
"Jika tidak ada perintah lain, saya permisi, Tuan."
"Hmmm."
Pintu pun tertutup sempurna.
Satria melepas mantel, hanya mengenakan kemeja putih yang beberapa kancingnya sudah terbuka. Bulu-bulu halus dibagian d**a terlihat jelas, menambah kesan penuh gairah.
Tiba-tiba tangan Aleta menarik lehernya. Napas itu terasa panas sampai ke telinganya yang seketika membuat sesuatu menegang. Ia sendiri heran, kenapa bisa seperti ini?
Satria menatap liar dari ujung kepala dan kaki. Belahan ceongsam itu menampakkan betapa mulusnya paha perempuan ini. Perlahan, ia menyusuri lekukan tubuh itu dan setiap tempat yang ia sentuh seperti mendapat respon istimewa.
Antara ragu dan waspada, Satria melepas kemejanya dan kancing baju Aleta. Begitu bagian leher ke bawah terdedah, ada yang berdesir aneh di dadanya. Jakunnya naik turun menahan gejolak.
Perlahan, ia menciumi leher dengan sesapan lembut, tapi kemudian tidak dapat ia tahan lagi. Gerakan tangannya tak terkendali dengan beberapa kali lidahnya mencoba masuk ke rongga mulut dan terus melilitnya, dengan napas yang memburu penuh nafsu.
Puas berciuman, daun telinga dan lehernya tidak lepas dari isapan panas dan beberapa gigitin tanda merah sengaja dibuat di area dadanya.
Suara Aleta melenguh panjang. Satria sendiri heran kenapa perempuan ini yang tadi terlihat sangat anggun, sekarang begitu agresif.
Aleta bisa mengimbangi permainan panas malam ini. Tubuhnya terasa ringan saat berada di atas lelaki yang baru dikenalnya tanpa tahu nama. Ia membiarkan Satria terlena dengan tubuhnya, juga beberapa area sensitif yang dijamah tanpa penolakan.
Semakin intim gerakan mereka, justru hawa panas semakin mengganggunya.
Sampai akhirnya, Satria membanting tubuh tadi ke atas sofa di dekat jendela dan tanpa menunggu ia membalikkan badannya dan menarik pelan rambut panjang itu. Gerakan panas dengan suara rintihan, lenguhan juga teriakan penuh hasrat, mampu memberikan klimak pada lelaki yang sudah tidak percaya lagi dengan perempuan.
Suara mereka memenuhi ruangan kamar mewah ini dengan napas yang panas dan tubuh yang menegang hebat.
Satria memeluk Aleta dari belakang dengan kedua tangan bermain di area depan. Kecupan hangat pun, runtuh pada setiap inci punggung mulus yang kemudian ia gendong lagi ke pembaringan.
Tatapan mereka beradu, cukup lama dan sama-sama tersenyum. Ruangan ber-AC pun mampu meneteskan keringat. Butirannya sebagai bukti malam panjang yang penuh kenikmatan. Dari dua manusia yang tidak saling kenal, tapi sama-sama membutuhkan.
Dan pagi harinya, kesadaran Satria datang perlahan, disertai rasa pahit di lidah. Kamar hotel itu sunyi, sangat berbeda dengan suara tadi malam. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya pagi Macau menyelinap masuk, jatuh di ranjang yang kini kosong di satu sisi.
Ia menoleh ke kanan-kiri bahkan matanya menyapu ke seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa.
Yang tersisa adalah seprai kusut dengan beberapa bantal yang berselerak, dan di atas kain putih itu terlihat noda merah dan satu benda asing yaitu fa zan giok.